Share

Bab 4

Penulis: Serena
"Kuberi kamu waktu 10 menit. Kalau nggak, aku benar-benar akan marah."

Seolah takut aku tidak menurut, Rangga kembali menambahkan ancaman itu sebelum menutup telepon.

Dulu setiap kali Rangga bilang dia marah, aku pasti langsung menurutinya. Namun, sepertinya dia tidak pernah tahu bahwa aku bukan takut dia marah. Aku hanya merasa dia sudah lelah mengurus perusahaan, jadi aku tidak ingin menambah beban pikirannya.

Sekarang baru aku mengerti, aku mati-matian ingin meringankan bebannya, padahal semua masalah itu selalu dia ciptakan sendiri. Kalau begitu, untuk apa lagi aku ikut campur?

[ Kalau kamu nggak bawa kartu, kamu bisa minta ke sekretaris atau ke Wina. Toh, perjalanan dinas kali ini memang untuk proyeknya. Nggak ada yang salah kalau dia yang membayar dulu. ]

Setelah mengirim pesan itu, aku mematikan ponsel dan langsung menyetir pulang untuk membereskan barang-barang.

Rumah itu kubeli tunai. Tipe dan lantainya sesuai dengan yang dia suka. Dulu aku sempat ingin mencantumkan namanya di sertifikat, tapi entah kenapa sebuah pikiran melintas dan akhirnya aku tetap menuliskannya atas namaku sendiri.

Sekarang kupikir-pikir, aku bersyukur dulu menyisakan jalan untuk diriku sendiri.

Setelah membereskan barang, aku langsung memasang rumah itu melalui agen properti.

Keesokan harinya aku pergi ke pengadilan negeri dan menyerahkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani.

Saat dulu memintanya menandatangani, aku masih memikirkan bagaimana harus menjelaskan pada Rangga. Namun, waktu itu dia sedang terburu-buru membawa koper hendak pergi. Tanpa melihat isinya, dia langsung membuka halaman terakhir dan menandatangani namanya.

"Kamu lihat dulu isinya," kataku waktu itu karena masih menyimpan sedikit harapan.

"Nggak perlu. Kamu istriku. Apa aku nggak percaya sama kamu?"

Aku tersenyum getir.

Kepercayaannya padaku bahkan dulu tidak sebanding dengan kepercayaannya pada Wina.

Kepercayaan itu bukan karena dia benar-benar percaya, melainkan karena ingin cepat-cepat menyingkirkanku, terburu-buru mengejar penerbangan, dan ingin segera menemani Wina pergi bulan madu.

Aku menyerahkan berkas itu, tapi petugas mengatakan mereka tetap harus memastikan kedua belah pihak memang sepakat bahwa hubungan sudah benar-benar retak, barulah proses perceraian bisa dilanjutkan.

Aku menunjukkan foto-foto manis Rangga dan Wina yang pernah mereka ambil bersama. Aku juga menunjukkan foto bingkai pernikahan kami yang dia hancurkan demi Wina.

Namun, petugas itu tetap menggelengkan kepala.

"Harus yang bersangkutan sendiri yang mengakuinya secara langsung."

Aku tidak punya pilihan selain menyalakan ponsel.

Begitu ponsel aktif, langsung muncul banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Rangga.

Karena aku tidak membuka blokir kartu, dia sudah membujuk, mengancam, sampai berkata kasar. Pesan terakhirnya memarahiku habis-habisan dan mengatakan ingin menceraikanku.

Aku menunjukkan pesan itu kepada petugas.

Petugas masih menggeleng. Aku tidak punya cara lain selain meneleponnya. Setelah lama berdering, akhirnya diangkat.

"Rangga, hubungan kita ...."

"Hubungan apa? Siapa yang punya hubungan sama kamu? Kamu mau ngomong apa pun sekarang nggak akan ada gunanya. Selama kamu nggak minta maaf sama Wina, kali ini aku benar-benar akan menceraikanmu!"

Rangga mengira aku menelepon untuk membujuknya seperti biasanya. Dia memotong ucapanku dengan dingin, lalu langsung menutup telepon.

Kali ini petugas akhirnya percaya. Tatapannya padaku penuh simpati. Dia menerima berkas-berkasku dan mengatakan satu bulan lagi surat cerai bisa diterbitkan.

Aku tahu kata-kata cerai dari Rangga bukanlah ketulusan, melainkan ancaman.

Dulu setiap kali dia tidak senang, dia sering mengucapkannya. Selama itu, aku yang selalu merasa tidak tega. Aku yang merayu dan meminta maaf, menyetujui semua keinginannya, hanya demi membatalkan niatnya untuk bercerai.

Rangga terlalu yakin aku tidak ingin berpisah, sehingga ancaman cerai itu menjadi senjata terakhirnya. Dia pikir dengan menakutiku dengan perceraian, dia akan mendapatkan apa pun yang dia mau.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 12

    Namun, di belakangku terdengar tangisan keras yang memilukan. Dalam tangisan itu ada penyesalan dan keputusasaan. Akan tetapi aku tahu, itu bukan karena dia benar-benar menyesal. Dia hanya tidak menyangka akan menerima konsekuensi seperti ini.Sekalipun waktu diputar ulang, dia tetap akan memilih jalan yang sama.Sesuai dugaan, gugatan Rangga akhirnya kalah. Pihak lawan menuntut ganti rugi tiga kali lipat dari uang muka, totalnya hampir miliaran.Dana perusahaan tidak mencukupi. Rangga mengeluarkan seluruh tabungannya dan menjual semua barang berharga, tetapi masih kurang ratusan juta. Terpaksa dia memutuskan menjual rumah kecil yang dulu diam-diam dibelinya.Namun saat hendak menjualnya, dia baru sadar bahwa nama di sertifikat sudah berganti.Tertulis atas nama Wina Putri.Saat kabar itu diketahui, tidak ada yang benar-benar terkejut. Dulu Rangga begitu memercayainya. Mengurus balik nama rumah tentu bukan hal sulit."Kak Rangga, dulu kamu sendiri yang bilang rumah ini mau kamu berikan

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 11

    Saat menerima surat panggilan pengadilan, Rangga kembali datang mencariku untuk meminta bantuan.Hujan turun deras. Dia berdiri di bawah hujan, berteriak dan menangis sampai suaranya pecah. Dia terus meminta maaf, memohon agar aku memberinya satu kesempatan lagi dan bersumpah tidak akan pernah mengulangi kesalahan seperti ini.Aku menutup tirai dan memakai penutup telinga, lalu berbaring di atas kasur empuk.Aku tidak merasa iba sedikit pun. Dia hanya kehujanan satu malam. Sedangkan lima tahun pernikahanku ini adalah musim hujan yang panjang tanpa henti.Kupikir jika aku tidak keluar, dia akan malu sendiri dan pergi. Namun sampai fajar menyingsing keesokan harinya, Rangga masih berdiri di luar pagar.Rambutnya yang basah menempel di pipi. Wajahnya pucat pasi.Aku belum pernah melihatnya seterpuruk itu. Aku sebenarnya tidak ingin menemuinya, tapi aku tetap harus berangkat kerja. Seperti yang kuduga, begitu aku melangkah keluar, Rangga langsung berjalan cepat ke hadapanku. Matanya menata

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 10

    Akhirnya Rangga menemukan catatan pengunduran diriku. Saat melihat namaku tertera sebagai pemohon, matanya membelalak dan dia mundur dua langkah dengan terhuyung. Dia mengumpat pelan."Siapa yang menyetujui pengunduran dirimu? Mereka nggak tahu hubunganmu denganku?"Rangga langsung menelepon perusahaan seperti orang kehilangan kendali.Telepon tersambung. Tanpa memberi kesempatan lawan bicara berbicara, dia langsung memaki, "Soal pengunduran diri Nabila, kamu pernah konfirmasi ke aku? Siapa yang suruh kamu ambil keputusan sendiri?""Tapi, Pak Rangga, sebelumnya Anda sendiri yang bilang ....""Aku bilang apa? Aku pernah bilang suruh kamu pecat dia? Dia istriku, kamu nggak tahu? Kamu kerja pakai otak nggak? Sudah nggak tahu siapa atasanmu, ya!""Keluar dari perusahaan sekarang juga. Jangan sampai aku melihatmu lagi!"Rangga memarahi orang itu habis-habisan, lalu berbalik menatapku dengan ekspresi seolah ingin menyanjung, "Nabila, aku benar-benar nggak menyangka dia berani memperlakukanmu

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 9

    Sepertinya dia juga teringat.Dulu setelah Rangga merebut proposal itu dariku dan menyerahkannya pada Wina, aku selalu merasa tidak tenang. Setiap kali aku diam-diam memperbaiki kesalahan yang penuh celah sampai proposal benar-benar selesai.Namun, setiap kali pula Rangga tersenyum dan menyalahkanku karena ikut campur, serta berkata Wina bisa menyelesaikannya sendiri. Ketika muncul masalah, dia tetap melempar kesalahan kepadaku, menyalahkanku karena tidak memeriksa dengan teliti, bahkan kesalahan yang begitu jelas pun katanya tidak kulihat.Jadi kali ini, aku bahkan tidak meliriknya. Dia bilang Wina bisa menyelesaikan sendiri, maka aku beri dia kesempatan itu untuk berprestasi."Nggak," jawabku sambil menggeleng.Alis Rangga langsung berkerut.Melihat dia hampir marah, aku berkata dengan tenang, "Itu pekerjaan Wina, bukan tanggung jawabku. Aku memang nggak punya hak dan nggak punya kewajiban untuk ikut campur.""Tapi kamu istriku.""Lalu kenapa?"Aku tertawa sinis. "Karena aku istrimu,

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 8

    "Urusan kami belum sampai giliranmu ikut campur. Kalau nggak ada urusan lagi, kamu pulang dulu."Wina tidak mau. "Kak Rangga, kamu lupa? Rumah yang aku sewa sekarang nggak bisa ditempati ....""Kalau nggak bisa ditempati, pergi saja ke hotel. Kamu sudah dewasa, masa menyelesaikan masalah sendiri saja nggak bisa? Atau kamu mau aku tiba-tiba menyulap satu rumah untukmu?" Nada bicara Rangga terdengar dingin dan tanpa perasaan.Namun, aku melihat sesuatu. Dia diam-diam memberi Wina sebuah isyarat dengan tatapan mata. Dia pikir itu cukup tersembunyi, tapi dia tidak tahu aku memang sudah tahu dari dulu. Tanpa sepengetahuanku, dia membeli sebuah rumah kecil di pinggiran kota.Wina jelas memahami maksudnya. Dia berpura-pura cemberut kecewa, lalu diam-diam mengambil kunci dari saku mantel Rangga yang tergantung di rak, kemudian keluar dari rumah.Aku tidak membongkar sandiwara mereka.Aku sudah tidak peduli lagi pada mereka. Lagi pula, membongkarnya juga tidak ada gunanya. Secara hukum rumah it

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 7

    Senyum di sudut bibir Rangga membeku."Apa maksudmu? Kamu mau menceraikanku?"Wajahnya tidak terlihat senang seperti yang dulu pernah kubayangkan. Di luar dugaan, dia malah terlihat sedikit marah.Wina hanya tertegun sesaat. Di matanya terlintas kegembiraan sesaat. Namun, nadanya pura-pura menegur, "Kak Nabila, kenapa kamu nggak peka, sih? Kak Rangga tadi bilang cerai itu cuma supaya kamu membujuk dia, bukan benar-benar mau cerai.""Cepat tarik kembali surat cerainya. Jangan bikin masalah. Kak Rangga sudah capek kerja dan baru pulang, jangan buat dia marah."Seolah membelaku, tapi aku tahu dia sengaja memancing emosi Rangga.Cara seperti ini sudah sering dia pakai dan selalu berhasil. Dulu karena kesal, Rangga pernah mencabut jabatanku, bahkan pernah memotong gajiku dua bulan. Kupikir kali ini dia juga akan menerima perceraian hanya karena gengsi.Namun tak kusangka, ekspresinya malah menjadi tegang.Beberapa saat kemudian dia berkata pelan, "Aku nggak akan ceraikan kamu. Nabila, sekar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status