LOGIN"Bagaimana kondisi ayahku, Dokter?" Arman langsung siaga begitu dokter selesai memeriksa Darmawan. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di rumah sakit. "Pak Darmawan mengalami syok ringan dan tekanan darahnya sempat naik tadi, tapi saat ini, kondisinya sudah stabil. Ada otot yang tertarik di bagian kakinya, mungkin akan terasa tidak nyaman, tapi sejauh ini tidak ada kondisi yang berbahaya."Semua orang langsung bernapas lega mendengarnya. "Syukurlah kalau begitu, Dokter. Apa ayahku bisa langsung pulang?" "Kami sarankan opname dulu setidaknya dua hari untuk memantau kondisinya, Pak. Kakinya belum boleh banyak bergerak." "Ah, baiklah, tidak masalah." "Tapi perlu diketahui, umur Pak Darmawan sudah tidak muda dan ada riwayat jantung, kondisi seperti panik berlebihan atau tekanan emosional berat bisa memicu hal yang lebih serius ke depannya. Jadi tolong dijaga agar jangan sampai terulang lagi." "Kami mengerti, Dokter. Terima kasih!" Sang dokter mengangguk, sebelum pergi dari sana.
"Kak Eddy!" Susan dan Hilda sama-sama panik mendengar alarm tadi. Mereka juga ngos-ngosan saat melarikan diri. Dan begitu melihat Eddy yang sudah berkumpul di parkiran, Susan tidak bisa menahan perasaannya. Susan berlari dan memeluk Eddy begitu saja. Tubuh Susan menempel erat pada Eddy, tangannya melingkar di pinggang pria itu seolah takut kehilangan. Bahkan setelah beberapa detik berlalu, pelukan itu tidak juga lepas."Aku takut sekali tadi. Aku pikir akan terjadi sesuatu padamu, Kak." Suara Susan terdengar gemetar. Wajahnya pucat seperti benar-benar ketakutan.Eddy sendiri sempat membeku sebelum perlahan melepas tangan Susan dari tubuhnya."Aku tidak apa-apa," jawab Eddy pelan. "Tapi jangan begini, Susan."Susan yang didorong pelan langsung menggerutu tidak suka. "Mengapa kau mendorongku, Kak Eddy?" "Ada banyak orang di sini, Susan!" geram Eddy sambil mendesis agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Hilda sendiri langsung menyapa Arman dan Darmawan. "Arman, Ayah, syuku
Leo melangkah cepat masuk ke ruangan Eddy. Sebagai asisten yang baik, tentu saja ia harus mengutamakan keselamatan bosnya. Dan saat ia masuk ke sana, Eddy sudah terlihat panik sendiri. "Pak Eddy, kita harus segera evakuasi!" "Leo, aku tahu! Tapi untung kau di sini! Laptopku! Aku membelinya mahal sekali! Bantu aku membereskannya dan membawanya keluar dari sini!" Saat mendengar suara alarm kebakaran meraung-raung, dalam pikirannya hanya satu, menyelamatkan dirinya sendiri. Persetan dengan istri, mertua, apalagi selingkuhannya. Leo pun langsung mengangguk dan membantu Eddy berkemas dengan cepat, tapi saat Eddy sudah melangkah keluar, Leo memanggilnya. "Bu Elisa, Pak!" Eddy langsung berdecak. "Kau saja yang membawanya keluar! Aku duluan!" Eddy melangkah tanpa menoleh lagi, ia menerobos kerumunan dan memarahi siapa pun yang menghalangi jalannya. Leo yang melihatnya sampai tertawa kesal. Bahkan saat harus dihadapkan pada hidup dan mati, Eddy lebih memilih menyelamatkan dirinya sendi
Seorang pria berbaju teknisi sedang berdiri sambil mengenakan masker di ruang panel listrik kecil dekat area gudang arsip lantai dua. Bukan teknisi biasa karena pria itu merupakan orang suruhan Leo. Saat Leo masuk ke Wijaya Group, ia tidak sendiri, tapi ia membawa dua anak buahnya, yang satu di bagian finance untuk mencari celah menghancurkan perusahaan itu. Dan satu lagi, di bagian teknisi karena teknisi selalu punya akses yang lebih luas ke semua divisi saat diperlukan. Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya, lalu membuka kaleng kecil berisi alat simulasi asap untuk pengujian detektor kebakaran.Biasa dipakai teknisi, tidak berbahaya, dan tidak menghasilkan api sungguhan. Hanya asap pekat khusus untuk mengetes sensor.Pria itu mengarahkan sedikit asap ke detektor. Tanpa menunggu lama, lampu merah berkedip dan alarm aktif.Tit tit tit.Misi sukses. Pria itu langsung merapikan peralatannya dengan tenang, seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan seperti biasa. Tidak ada kors
Elisa duduk di ruang kerjanya sambil menggelengkan kepalanya, menyingkirkan pikiran absurd yang selalu muncul tidak terduga. Kalau memang ibunya akan mengirim teman, pasti teman yang lain dan bukan Leo. Elisa pun masih menggeleng sejenak, sebelum ia teringat ucapan Leo. "Kadang sesuatu yang hilang, punya caranya sendiri untuk kembali."Elisa kembali terdiam dan menerawang. "Benarkah itu? Lalu bagaimana cara lukisan itu akan kembali padaku?" lirih Elisa penasaran, tapi penuh harap. Di sisi lain, mobil Darmawan sedang melaju ke Wijaya Group menjelang siang itu dan Wira yang menyetir mobilnya. Darmawan sudah terlalu lama hanya mendengar perkembangan perusahaan dari Arman tanpa melihatnya langsung. Kali ini, ia ingin melihat semuanya langsung, terutama semua yang berkaitan dengan Hartono Group. Darmawan memicingkan mata sambil membaca data tentang Hartono Group di tabletnya. "Jadi pusat perusahaan ini ada di Singapore?" tanyanya pada Wira. "Benar. Perusahaannya besar. Fokus di inv
"Kau sudah tidak apa, Arman?" tanya Hilda saat keluarganya sudah berkumpul di ruang makan pagi itu. Hilda pulang begitu larut dan Arman sudah tertidur lelap saat ia pulang. "Aku tidak apa, hanya kelelahan kemarin," sahut Arman dengan ketenangan seperti biasanya. Di depan orang lain, Arman tidak pernah menunjukkan kelemahannya. "Oh, syukurlah, aku cemas sekali mendengarmu tidak enak badan. Tapi makanlah sayur lebih banyak agar kau makin kuat." Hilda mengambilkan lauk untuk suaminya dan untuk mertuanya. "Ini untuk Ayah juga." Darmawan hanya melirik dalam diam. Ia tidak pernah menyukai Hilda karena kemunculan Hilda membuat keluarga Wijaya sempat gonjang ganjing. Darmawan bertengkar hebat dengan Arman waktu mengetahui Arman berselingkuh dengan Hilda sampai Hilda hamil. Ya, mereka memang selingkuh dan Darmawan tahu itu, tapi ia menutupinya. Bahkan demi menjaga nama baik Arman, Darmawan menyuruh menggugurkan kandungan Hilda. Hilda patuh demi mengambil hati Darmawan. Lalu tidak lama







