Home / Romansa / Asisten Tuan Angkuh / 06. Tawaran kerja

Share

06. Tawaran kerja

last update publish date: 2021-09-12 19:50:41

Pukul 20.00

Di tempat yang sama, sofa panjang itu terisi dua gadis dengan kesibukan masing masing. Thea terlihat begitu antusias menatap iklan melalui layar televisi sedangkan Manda sedang sibuk mengokak atik benda dalam pangkuannya,

"Oh ya. Kamu lulusan administrasi bisnis kan?"

"He.em," gumam Thea mengangguk sambil mengunyah sisa snack yang ada di dalam mulut,

"Kenapa emangnya?"

"Mm, gimana kalo kamu kerja di kantor pamanku! Dia lagi butuh asisten pribadi." tawar Manda,

"Asisten pribadi? Mm, emangnya harus lulusan administrasi bisnis?"

"Ya enggak sih. Tapi setidaknya kamu ga terlalu sulit buat belajar jadi asisten pribadi." sahut Manda menjelaskan.

"Bener juga sih. Kayaknya cocok, berapa gajinya?" Sedikit menaruh antusias pada harapan yang akan melepaskan sebagian beban hidup.

"10 juta per bulan," 

"Lumayan--" angguk Thea menekuk bibir,

"Lumayan jidatmu! Kalo di dunia kantor, gaji segitu udah gede banget. Sulit nemuin perusahaan yang berani gaji segitu,"  

"Oh, kalo gitu oke deh! Aku mau," lugas Thea menyetujui tawaran tadi tanpa berpikir dua kali.

"Yaudah aku bakal hubungi paman. Kebetulan besok dia baru kembali dari luar negeri setelah perjalanan dinas---jadi besok kamu langsung ke kantor ya?!"

"Yah kok besok sih! mendadak banget,"

"Ye, masih mending ga usah apa apa udah dapet kerja! Mau apa gak? Kalo ga mau ya udah. Banyak kandidat lain," tegas Manda sedikit kesal,

"Iya deh, mau mau. Tapi besok aku masih harus ngurusin wisuda---gjmana dong?"

"Itu gampang. Kamu hadir sebentar terus izin pulang,"

*****

Perusahaan Galaksi merupakan sebuah gedung bertingkat sekaligus perusahaan pengembang game yang baru saja berdiri sekitar 7 tahun lalu. Meski terkesan baru untuk berkecimpung dalam kerajaan bisnis, perusahaan ini telah mampu menciptakan banyak sekali video game serta aplikasi yang berhasil melejit di kalangan masyarakat,

Bahkan mulai tahun pertama hingga tahun berikutnya, perusahaan Galaksi berhasil masuk urutan tertinggi dan dengan cepat melejit hingga menempati peringkat pertama sebagai perusahaan dengan penghasilan terbanyak di negara Y.

Kualitan sekaligus kuantitas, meski selalu menjadi incaran oleh semua sarjana perusahaan ini tak mudah untuk dimasuki.  Dengan alasan, tempat berpredikat tinggi hanya merekrut setiap karyawan yang berkualitas lalu memberi imbalan besar bagi mereka berhpa gaji tinggi setiap bulannya,

Namun meski berbagai kesulitan yang tertabur di dalamnya, karena suatu keberuntungan Thea dapat menjadi salah satu anggota perusahaan terbesar bahkan berhasil mengisi tempat di samping petinggi.

Pukul 07.00

Kemeja peach lengan panjang serta rok hitam di atas lutut menjadi setelam pertama yang menemaninya. Dengan berat hati gadis itu terpaksa datang ke kantor setelah menikmati pelayanan jasa antar sebuah angkutan umum, dan semua ini dilakukan berdasarkan saran Manda supaya berpenampilan sederhana dengan kata lain tidak memberi kesan mencolok pada karyawan lain.

Semalam ia menghabiskan berjam jam hanya untuk mendengar nasehat serta banyak sekali pelajaran yang harus  diingat tentang kehidupan pekerjaan dan juga cara beradaptasi dengan beberapa macam rekan kerja yang pasti akan gadis itu temui.

Namun entah bagaimana, seluruh persiapan tadi justru membuat hati Thea khawatir sekaligus gugup. Karena telah bekerja keras sampai malam dan berusaha untuk mempelajari setiap tugas dari perannya, 

Alhasil Thea justru bangun terlalu siang hingga memutuskan untuk tidak menghadiri acara wisuda dan lebih mementingkan kehidupan kerjanya lalu bersiap pergi ke kantor.

Drap…

Drap….

Drap….

Telapak beralas heels itu secepat mungkin berlari memasuki gerbang perusahaan. 

"Hah, hampir aja telat!" seru Thea berusaha mengatur nafas,

Perlahan mengembalikan stamina agar mampu bertahan dan bersikap dengan tenang. Segera melangkah masuk ke dalam kantor sambil membawa map berisi beberapa dokumen yang telah disiapkan temannya,

"Wah, gede banget!" Takjub menatap langit gedung yang begitu jauh dari jangkauan mata.

"Aku ga pernah masuk ke perusahaan keluarga, jadi ini pertama kalinya aku masuk perusahaan besar!" pikir Thea tertegun menatap ruangan, merasa takjub dengan kemegahan itu.

Perlahan menoleh demi melihat ke sekeliling ruangan, tengah sibuk mencari tempat yang harus ia datangi.  Hingga terhenti pada meja resepsionis, mendapati karyawan wanita yang tak lelah menerbitkan senyum.

Segera melangkah semakin mendekat, "Mm--selamat pagi," sapa Thea merendahkan suara

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"

"Saya asisten baru CEO." ucap Thea dengan nada ramah,

"Oh. Thea Briella?"

"Iya…" sahutnya mengangguk pelan,

"Silahkan masuk ke dalam lift karyawan, ada di sebelah sana. Ruangan Pak Nathan ada di lantai 12,"

"Oh, baik. Terima kasih.." ujar Thea tersenyum cerah.

Segera kakinya berbalik menatap ke arah lift yang tadi ditunjukkan, tanpa ragu berjalan masuk dan menekan salah satu tombol angka yang akan membawanya ke lantai lain.

Tring.

Pintu lift terbuka, membuat Thea melihat beberapa karyawan tengah berjalan dan tidak sengaja berpapasannya. Gadis itu tersenyum menurut standar keramahan namun tak ada satupun balasan, seluruh karyawan bersikap tak acuh sambil memasang raut datar.

"Huh. Kayaknya karyawan disini, pada cuek!" pikir Thea menghela nafas,

"Tapi, dimana ruangannya?" Tak menghentikan langkah sambil menoleh dan membaca satu persatu papan yang tergantung di atas pintu setiap ruangan.

"Nah itu dia!" seru Thea,

"Ingat! Pamanku adalah orang yang gila kebersihan. "Jangan sampe buat kesalahan, atau kamu bakal tanggung akibat nya."

Beberapa kalimat baru saja terbesit dan membuat gadis itu berusaha mengingat kembali semua ucapan temannya demi mencegah kesalahan. Walau gugup dia tetap memberanikan diri untuk membuka pintu,

Seketika terbelalak mendapati ada pria lain yang sudah masuk mendahuluinya. Melihat bahwa sosok itu tengah membawa setumpuk berkas yang akan ditaruh ke atas meja,

"Hei!" sontak Thea, bergegas berlari.

Merebut setumpuk dokumen tadi sambil mengerutkan alis, entah kenapa dia merasa kesal dengan tingkah pria itu. Sebenarnya gadis itu tidak ingin jika ada orang lain yang membuat hari pertama kerjanya berantakan,

"Biarkan aku saja!" seru Thea dengan tatapan tajam

"Aku harus pastikan ga ada debu sedikit pun. Jangan sampe pria ini ceroboh dan bikin masalah buatku," pikirnya memberikan tatapan sinis.

"Siapa kau?" tanya pria itu memasang raut datar, perlahan memijakkan telapak tangan ke atas meja. Bersikap seakan pemilik seluruh gedung,

"Hei! Turunkan tanganmu!" teriak Thea antusias,

"Ayo cepat---turunkan!"

"Apa gadis ini tidak waras, siapa yang membiarkannya masuk!" gumam pria tadi, berdecak kesal.

"Kau itu yang siapa? Aku adalah asisten pribadi CEO! Jadi tidak akan aku biarkan ada orang yang mengotori tempat ini!"

"Benarkah? Jadi kau asisten baru?" ucapnya sedikit tak acuh,

"Iya. Kau tidak tahu kan?! Sepertinya kau juga karyawan baru, pantas saja tidak tahu aturan."

"A-apa? tidak tahu aturan?" gertaknya merasa kesal nyaris membulatkan mata.

"Iya, kau tidak tahu aturan. Pak Nathan itu sangat suka kebersihan, jadi jangan pegang apapun! Sudah sana. Aku mau bersih bersih."

"Oh---atau kau pergi saja dan membantuku untuk membuatkan kopi? Pasti Pak Nathan akan datang sebentar lagi,"

"Jangan berani menyuruhku." tegasnya datar,

Seketika nada ketus serta sorot dinginnya memunculkan aura aneh yang berhasil membuat Thea bergidik ngeri. "Apaan sih! gitu aja marah. Kalo ga mau kan bisa bilang baik baik,"

***Bersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Asisten Tuan Angkuh   132. Ajakan kencan

    "Apa ada informasi?" Menggenggam erat telfon di tangannya."Ya, setelah lama mencari akhirnya ada petunjuk tentang kecelakaan itu. Tapi sebelumnya, ada yang ingin ayah tanyakan.." sahut Zen terdengar serius berhasil membuat Nathan penasaran."Dimana kamu saat kecelakaan terjadi?""Romi bilang pada ayah kalau kamu ada urusan bisnis. Tapi setelah ayah telusuri, perusahaanmu sedang sibuk mengurus peluncuran produk baru dan tidak mungkin pimpinan perusahaan pergi meninggalkannya begitu saja." "Mm, aku sedang ada urusan lain." ucap Nathan terdengar ragu,"Apakah kamu bertemu dengan Rena?" Kedua manik Nathan membulat sempurna setelah ditodong dengan pertanyaan tadi. Tidak menyangka kalau ayahnya bisa menebak dengan tepat,"Dia terdiam?" batin Zen menggertak geram"Jadi benar, dugaanku---kamu masih berhubungan dengan gadis itu.""Aku hanya menerima undangan dari teman lama, dan datang ke pameran seninya." lugas Nathan membela diri,"Apa kamu lupa apa yang terjadi dulu? Bisa-bisanya kalian

  • Asisten Tuan Angkuh   131. Pertama kali

    "Berhubungan---sepertinya tidak salah kalau dicoba, aku akan membicarakannya dengan Thea." Pria itu bergumam sambil melangkah ke depan pintu kamar yang tertutup rapat."Apa yang Bapak lakukan disini?" Celetuk Thea terkejut mendengar suara di ujung kamar. "Aku hanya ingin mengunjungi kamarmu," sahutnya menatap gadis yang tengah berdiri di depan cermin."Buat apa?" menjawab dengan ketus,"Memastikan agar kamu nyaman disini," mengamati sekeliling. "Tapi ruangan ini lebih luas dari milikku. Pasti tidak nyaman,""Tidak, saya menikmatinya. Jadi tidak perlu berpikir berlebihan," imbuh Thea dengan raut datar.Walau bukan kamar utama, tapi ruangan itu memiliki luas paling besar karena baru saja direnovasi dan sejak lama sengaja dibuat sebagai kamar keluarga Adelard beserta anak anaknya."Apa kamu masih marah karena masalah kemarin?""Masalah apa? Saya tidak ingat apapun." ungkap Thea penuh lantang."Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu. Hanya saja, kamu gadis pertama yang menyatakan cinta

  • Asisten Tuan Angkuh   130. Rencana kehamilan

    Srash....Rintikan hujan terus berjatuhan membasahi taman, membuat ribuan lahan hijau berhias bunga itu bergoyang lirih. Terlihat Thea tengah berdiri berpangku tangan di depan pintu memandangi suasana disekitar, bola matanya mematung tak menghiraukan percikan air yang sesekali menyentuh kulitnya."Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nathan yang baru saja sampai menghampiri istrinya.Sedari tadi dia sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang sempat tertinggal hingga baru menyadari jika gadis itu tidak berada di kamarnya,"......" Thea terdiam membelakangi pria yang masih berdiri tegak menatap punggungnya.Nathan melirik ke arah pelayan yang berada tidak jauh dari mereka, seakan meminta penjelasan atas kebungkaman Thea."Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha mengajak Nyonta masuk.." sahut pelayan muda dengan kepala tertunduk,Pria itu menghela nafas lalu berkata, "Ya sudah, kau boleh pergi. Siapkan baju ganti, biarkan saya yang mengurusnya."Pelayan itu mengangguk sebelum pergi menin

  • Asisten Tuan Angkuh   129. Sebutkan keinginanmu

    "Sepertinya, Nyonya masih lelah karena terlalu lama berenang. Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan anda?""Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat," tolak Thea bersikap tak acuh,"Tidak enak badan? Apa itu parah--kalau kau sakit, kenapa tadi keluar?" sontak Nathan merasa cemas,Bahkan nafsu makannya seketika menghilang setelah mengetahui keadaan gadis tadi, ingin rasanya memanggil seluruh staf rumah sakit guna memeriksa keadaan Thea."Saya pikir itu akan membantu, ternyata saya salah." sahutnya menghela nafas, masih menghindari kontak mata."Tentu saja salah. Sejak kapan lari pagi bisa menyembuhkan orang sakit?" timpal Nathan merasa geram, tak lagi mendapat sahutan.Seketika membuat pria itu sedikit mengoreksi kesalahan yang dilakukan, menganggap kalau orang sakit tidak bisa menerima perkataan kasar. Berusaha menahan juga bersikap lebih lembut, "Hh, sudahlah. Apa ada hal lain yang kau minta? Aku akan menurutinya,""Tidak ada," tegas Thea singkat,"M

  • Asisten Tuan Angkuh   128. Khawatir

    "Itu tidak perlu," tolaknya dengan pasti, Jika dia setuju maka hal ini hanya akan menambah beban dalam hati, Thea memutuskan untuk tidak lagi berharap atau memupuk perasaan yang seharusnya tidak muncul dalam hubungan palsu. "Apa kau tidak tahu betapa bahayanya diluar?" "Kenapa Bapak berlebihan, lupakan masalah tadi. Yang penting saya sudah kembali dan dalam keadaan baik-baik saja," seru Thea seakan menepis simpati yang didapat, "Kau selalu membangkang. Ini semua kulakukan untuk melindungimu," lugas Nathan begitu malas menjelaskan setiap tindakan yang diambil, "Hh, apa sebenarnya yang dia maksud? Melindungi dari siapa," benak Thea menghela nafas, Melirik sekilas paras tampan yang bisa membuat hatinya goyah, namun dengan cepat Thea berbalik berusaha meyakinkan diri untuk tidak lagi berdekatan. Berusaha untuk mengubur perasaan sekaligus menutup harapan, Bergegas melangkah pergi meninggalkan pria yang masih terdiam menatap punggungnya, "Tunggu! Kenapa kau pergi begitu saja. A

  • Asisten Tuan Angkuh   127. Menghilang

    "Srup---ah!" celetuk suara puas dari bibir ranum yang baru saja menikmati beberapa teguk minuman.Cap..Cap..Cap..Berulang kali mengecap demi mengingat rasa manis yang tersisa di langit-langit mulut, lengkung sempurna perlahan muncul saat melihat sosok dengan setelan hitam putih tengah berjalan menghampiri.Sepoi angin siap menerpa rambut legam terkuncir tinggi bak ekor kuda, terasa begitu sejuk saat kutikula tubuh serta leher jenjangnya tertiup udara."Kenapa kau berikan padaku?" ucap Thea menegur wanita yang sedang berdiri sambil menyodorkan sebuah kelapa. Begitu bingung padahal dirinya sendiri juga telah memangku s

  • Asisten Tuan Angkuh   120. Mendapat izin

    "Hah?! K-kenapa!"Tentu saja gadis itu terkejut tak mampu berkutik mendengar saran aneh dari mulut Zen. Bukannya mendukung dan membiarkan Thea membantu karena pasti mengerti tentang emosi yang dirasakan, dia justru menggunakan ide aneh Nathan untuk mengusir mereka."Tu--"

  • Asisten Tuan Angkuh   119. Meminta izin

    Karena gadis yang masih bersikeras mengajak Nathan ke suatu tempat, mau tidak mau setelah berganti pakaian mereka berdua pergi menaiki mobil yang dibawa oleh Romi.Kedatangan pria itu juga menyelesaikan kesalahpahaman yang beberapa saat lalu terjadi. "Thea, kenapa kau memintaku membaw

  • Asisten Tuan Angkuh   118. Kita akan berlibur..

    Waktu berlalu dengan cukup lambat, apalagi bagi Thea yang tengah duduk di dekat kedua pria tadi. Entah bagaimana bisa ruang tempat berkumpul keluarga yang seharusnya diperol

  • Asisten Tuan Angkuh   117. Mendapat hukuman

    Tok..Tok..Tok..Bising ketukan pintu dari luar kamar berhasil memecah keheningan ketika mereka berdua terdiam dengan ego masing masing.Di satu sisi gadis yang telah menggerutui diri sendiri karena terlalu mudah masuk ke dalam rencana dan dipermainkan o

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status