Beranda / Romansa / Asisten Tuan Angkuh / 07. Salah mengenali.

Share

07. Salah mengenali.

Penulis: Eljanes Crocus
last update Tanggal publikasi: 2021-09-12 20:03:59

"Huh, untung sama sama karyawan baru. Kalo ngga! Udah aku pukul pake ini," gerutu Thea dalam hati, mencengkram erat setumpuk dokumen serta map tadi lalu diletakkannya ke atas meja.

"Cepat keluar! aku mau membuat kopi. Awas saja, kalo kamu belum pergi saat aku kembali!" seru Thea memberi tatapan sinis.

Dengan cepat melangkah keluar lalu bergegas mencari ruangan yang bisa ia gunakan untuk membuat secangkir minuman serta menyiapkan sepiring kudapan sesuai anjuran Manda.

Namun langkah Thea berhenti setelah berpapasan dengan karyawan wanita, segera menoleh dan menatap lekat nampan berisi hidangan di atasnya. "Tunggu, kau mau kemana?" 

Siapa sangka satu pertanyaab berhasil menghentikan langkah karyawan tadi, perlahan Thea melangkah mendekat dan menatap sekilas secangkir kopi hitam serta piring kecil berisi kue kering.

"Siapa kau---kenapa menghentikanku? Apa kau tidak lihat kalau aku sedang menyiapkan ini semua untuk Pak Nathan," ketusnya telah memastikan bahwa Thea bukanlah pemimpin atau orang dengan pangkat lebih tinggi darinya.

Tentu saja karyawan tadi tak merasa ragu untuk melangkah pergi,

"E-eh. Tunggu tunggu! biar aku saja yang bawa." tegas Thea berhasil merebut paksa nampan dari tangan wanita itu,

"Apa apaan sih!" sontaknya merasa kesal,

"E-eh santai dong, aku cuma mau bantuin. Kenalin, aku asisten barunya Pak Nathan---Udah tugasku buat nyiapin ini semua, jadi jangan merebut pekerjaan orang lain atau kau akan dihukum." ucap Thea tersenyum lebar, baru saja memberikan ancaman berkedok nasehat.

"Ck…" Wanita itu berdecak kesal merasa takut sekaligus enggan untuk berdebat, memilih untuk segera berbalik dan melangkah pergi.

"Wah, ternyata mudah juga. Ga kayak pria tadi!  Susah banget dibilangin,"

"Terima kasih, kopinya!" teriak Thea menatap punggung yang semakin menjauh dari pandangan.

"Beruntung banget! kalo gini ga usah capek capek buatin lagi."

Gadis itu menerbitkan lengkung bibir semourna sambil berjalan membawa nampan, kembali melangkah masuk ke dalam ruangan. Siapa sangka senyuman tadi tak bertahan lama, kembali merasa kesal setelah melihat sosok yang masih belum beranjak dari tempat itu. 

"Hei, berhenti!" sontak Thea mencegah pria yang ingin menyentuh kursi milik CEO.

"Dibilangin ngeyel banget sih!" Dengan cepat melangkah maju, sekilas beralih demi menata cangkir serta piring ke atas meja lalu kembali menatap sinis pria yang berdiri di depannya.

"Ayo, cepet keluar!" tegas Thea sekali lagi, namun mendapat perlakuan tak acuh dari pria yang masih terdiam dengan raut datar,

"Ayo--"

Ceklek.

Suara langkah kaki yang baru saja masuk ke dalam ruangan membuat ucapan Thea berhenti. Dia berbalik menatap karyawan lain baru saja masuk dengan sebuah berkas di tangannya,

"Permisi, selamat pagi.." Menyapa dengan senyum ramah,

"Selamat pagi," ucap keduanya secara serentak,

"Ck. Ngapain sih, ikut ikut!" ketus Thea lirih, melirik tajam pria di belakang.

"Saya bawa berkas yang harus di tanda tangani,"

"Tanda tangan? perasaan tadi malam Manda ga pernah bilang kalo ada tugas ginian. Masa aku harus tanda tangan berkas?" pikir Thea merasa bingung,

Menatap karyawan yang sedang berjalan melewati dan lebih memilih untuk diam berdiri setelah menyodorkan map berisi kertas ke hadapan pria tadi.

Sedangkan kedua manik Thea masih tenang mengamati sosok yang baru saja menduduki kursi kerja lalu menyematkan goresan tinta ke atas kertas, 

"Terima kasih, Pak Nathan.." Sekilas menunjuk sebagai tanda pamit sebelum berjalan keluar ruangan

Nathan Adelard merupakan CEO sekaligus pendiri dari Perusahaan Galaksi. Merupakan putra bungsu keluarga Adelard, pemilik Perusahaan Sun yang bergerak dalam bidang pengoperasian jaringan department store. Salah satu perusahan terbesar di 5 negara,

Nathan Adelard menolak menjadi pewaris perusahaan karena lebih memilih untuk membangun kerajaan bisnis miliknya sendiri. Sebuah perusahaan yang dirintis menggunakan semua jerih payahnya.

"P-pak Nathan?" gumam Thea tertegun dengan kedua manik membulat sempurna,

Gadis itu tengah berusaha memahami situasi yang baru saja terjadi. Hingga selang beberapa detik berhasil tersadar dari lamunan lalu menyadari sebuah kesalahan yang telah ia perbuat,

"Mampus. Dia--Pak CEO? Yang aku bentak dari tadi, pamannya Manda! Mana aku tahu kalo dia orangnya,"

"Manda bilang ini perusahaan pamannya tapi paman dari mananya kalo masih muda begini? Aku ga melihat satupun kerutan di wajah itu," gerutu Thea dalam hati,

"Jadi Nona Thea Briella. Silahkan ucapkan sesuatu," tegas Nathan menatap gadis yang masih berdiri terpaku dengan tatapan kosong.

"........" Thea tersadar lalu bergegas menundukkan kepala,

"Maaf Pak! Seharusnya saya lebih teliti lagi dan mengingat wajah atasan saya," sahut Thea merendahkan suara,

"Hhh, apa kamu bawa berkas data diri dan yang lainnya?"

"Bawa! s-sebentar saya ambil dulu."

Gadis itu melangkah ke samping meja, berusaha mengambil map miliknya yang ada di baris paling bawah di antara tumpukan berkas milik Nathan.

Brak.

Karena begitu tergesa gesa tanpa memikirkan akibat, ditariknya paksa map tadi dan secara tidak langsung membuat seluruh berkas terjatuh berserakan memenuhi lantai.

Hela nafas berat baru saja muncul sebagai usaha Nathan yang sedang menagan rasa kesal atas kecerobohan gadis itu. Menoleh ambang Thea yang sedang berdiri dengan raut penuh penyesalan sambil menggenggam erat ujung sebuah map,

Dengan cepat mengalihkan pandangan pada semua berkas yang jatuh ke atas lantai, berulang kali berkedip berusaha memberanikan diri menatap pria yang masih sigap mengawasinya dengan tatapan tajam.

"Ini, silahkan dilihat! T-tenang saja. S-saya, akan bereskan semuanya.." seru Thea segera menyodorkan map ke atas meja,

Sesuai janji untuk melaksanakan tanggung jawab, gadis itu menunduk sambil berjongkok demi mengutip satu persatu dokumen yang ada di atas lantai dan mengumpulkannya kembali seperti tadi.

"Aduh Thea---bisa ga sih, jangan bikin masalah? sehari aja!" oceh Thea dalam hati, tengah menggerutui sikapnya yang sedari tadi hanya mampu membuat kesalahan.

Beruntung dia mampu mengembalikan semua dalam waktu singkat, segera berdiri dan meletakkan kembali tumpukan dokumen ke atas meja.

"Semuanya sudah beres.." ucap Thea tersenyum lebar,

Melirik sekilas ke arah lain sebelum menutup berkas berisi data yang dibawa gadis tadi. Segera beralih menatap sosok di sampingnya,

"Apa aja yang kamu tahu?"

"Ha?" sontak Thea merasa bingung dengan pertanyaan yang baru saja ia dengar.

"Apa saja, yang sudah kamu pelajari?"

"P-pelajari? Eh ng, saya sudah belajar tentang tugas tugas seorang asisten pribadi!" ujar Thea dengan raut antusias.

"Sebutkan…"

"Apanya?" tanya Thea dengan raut polos, hal yang wajar jika bertanya saat mengalami kesulitan. Terlebih lagi pria itu terkesan sedang menyulitkan Thea dengan kalimat penuh teka teki,

"Sebutkan tugas seorang asisten pribadi,"

"Oh baik. Tugas asisten pribadi adalah,"

"Yang pertama! Memantau email yang masuk tentang laporan kerja dan memberi respon jika diperlukan."

"Yang kedua! Menjawab panggilan telepon."

"Ketiga, mengatur rencana perjalanan."

***Bersambung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Asisten Tuan Angkuh   132. Ajakan kencan

    "Apa ada informasi?" Menggenggam erat telfon di tangannya."Ya, setelah lama mencari akhirnya ada petunjuk tentang kecelakaan itu. Tapi sebelumnya, ada yang ingin ayah tanyakan.." sahut Zen terdengar serius berhasil membuat Nathan penasaran."Dimana kamu saat kecelakaan terjadi?""Romi bilang pada ayah kalau kamu ada urusan bisnis. Tapi setelah ayah telusuri, perusahaanmu sedang sibuk mengurus peluncuran produk baru dan tidak mungkin pimpinan perusahaan pergi meninggalkannya begitu saja." "Mm, aku sedang ada urusan lain." ucap Nathan terdengar ragu,"Apakah kamu bertemu dengan Rena?" Kedua manik Nathan membulat sempurna setelah ditodong dengan pertanyaan tadi. Tidak menyangka kalau ayahnya bisa menebak dengan tepat,"Dia terdiam?" batin Zen menggertak geram"Jadi benar, dugaanku---kamu masih berhubungan dengan gadis itu.""Aku hanya menerima undangan dari teman lama, dan datang ke pameran seninya." lugas Nathan membela diri,"Apa kamu lupa apa yang terjadi dulu? Bisa-bisanya kalian

  • Asisten Tuan Angkuh   131. Pertama kali

    "Berhubungan---sepertinya tidak salah kalau dicoba, aku akan membicarakannya dengan Thea." Pria itu bergumam sambil melangkah ke depan pintu kamar yang tertutup rapat."Apa yang Bapak lakukan disini?" Celetuk Thea terkejut mendengar suara di ujung kamar. "Aku hanya ingin mengunjungi kamarmu," sahutnya menatap gadis yang tengah berdiri di depan cermin."Buat apa?" menjawab dengan ketus,"Memastikan agar kamu nyaman disini," mengamati sekeliling. "Tapi ruangan ini lebih luas dari milikku. Pasti tidak nyaman,""Tidak, saya menikmatinya. Jadi tidak perlu berpikir berlebihan," imbuh Thea dengan raut datar.Walau bukan kamar utama, tapi ruangan itu memiliki luas paling besar karena baru saja direnovasi dan sejak lama sengaja dibuat sebagai kamar keluarga Adelard beserta anak anaknya."Apa kamu masih marah karena masalah kemarin?""Masalah apa? Saya tidak ingat apapun." ungkap Thea penuh lantang."Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu. Hanya saja, kamu gadis pertama yang menyatakan cinta

  • Asisten Tuan Angkuh   130. Rencana kehamilan

    Srash....Rintikan hujan terus berjatuhan membasahi taman, membuat ribuan lahan hijau berhias bunga itu bergoyang lirih. Terlihat Thea tengah berdiri berpangku tangan di depan pintu memandangi suasana disekitar, bola matanya mematung tak menghiraukan percikan air yang sesekali menyentuh kulitnya."Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nathan yang baru saja sampai menghampiri istrinya.Sedari tadi dia sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang sempat tertinggal hingga baru menyadari jika gadis itu tidak berada di kamarnya,"......" Thea terdiam membelakangi pria yang masih berdiri tegak menatap punggungnya.Nathan melirik ke arah pelayan yang berada tidak jauh dari mereka, seakan meminta penjelasan atas kebungkaman Thea."Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha mengajak Nyonta masuk.." sahut pelayan muda dengan kepala tertunduk,Pria itu menghela nafas lalu berkata, "Ya sudah, kau boleh pergi. Siapkan baju ganti, biarkan saya yang mengurusnya."Pelayan itu mengangguk sebelum pergi menin

  • Asisten Tuan Angkuh   129. Sebutkan keinginanmu

    "Sepertinya, Nyonya masih lelah karena terlalu lama berenang. Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan anda?""Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat," tolak Thea bersikap tak acuh,"Tidak enak badan? Apa itu parah--kalau kau sakit, kenapa tadi keluar?" sontak Nathan merasa cemas,Bahkan nafsu makannya seketika menghilang setelah mengetahui keadaan gadis tadi, ingin rasanya memanggil seluruh staf rumah sakit guna memeriksa keadaan Thea."Saya pikir itu akan membantu, ternyata saya salah." sahutnya menghela nafas, masih menghindari kontak mata."Tentu saja salah. Sejak kapan lari pagi bisa menyembuhkan orang sakit?" timpal Nathan merasa geram, tak lagi mendapat sahutan.Seketika membuat pria itu sedikit mengoreksi kesalahan yang dilakukan, menganggap kalau orang sakit tidak bisa menerima perkataan kasar. Berusaha menahan juga bersikap lebih lembut, "Hh, sudahlah. Apa ada hal lain yang kau minta? Aku akan menurutinya,""Tidak ada," tegas Thea singkat,"M

  • Asisten Tuan Angkuh   128. Khawatir

    "Itu tidak perlu," tolaknya dengan pasti, Jika dia setuju maka hal ini hanya akan menambah beban dalam hati, Thea memutuskan untuk tidak lagi berharap atau memupuk perasaan yang seharusnya tidak muncul dalam hubungan palsu. "Apa kau tidak tahu betapa bahayanya diluar?" "Kenapa Bapak berlebihan, lupakan masalah tadi. Yang penting saya sudah kembali dan dalam keadaan baik-baik saja," seru Thea seakan menepis simpati yang didapat, "Kau selalu membangkang. Ini semua kulakukan untuk melindungimu," lugas Nathan begitu malas menjelaskan setiap tindakan yang diambil, "Hh, apa sebenarnya yang dia maksud? Melindungi dari siapa," benak Thea menghela nafas, Melirik sekilas paras tampan yang bisa membuat hatinya goyah, namun dengan cepat Thea berbalik berusaha meyakinkan diri untuk tidak lagi berdekatan. Berusaha untuk mengubur perasaan sekaligus menutup harapan, Bergegas melangkah pergi meninggalkan pria yang masih terdiam menatap punggungnya, "Tunggu! Kenapa kau pergi begitu saja. A

  • Asisten Tuan Angkuh   127. Menghilang

    "Srup---ah!" celetuk suara puas dari bibir ranum yang baru saja menikmati beberapa teguk minuman.Cap..Cap..Cap..Berulang kali mengecap demi mengingat rasa manis yang tersisa di langit-langit mulut, lengkung sempurna perlahan muncul saat melihat sosok dengan setelan hitam putih tengah berjalan menghampiri.Sepoi angin siap menerpa rambut legam terkuncir tinggi bak ekor kuda, terasa begitu sejuk saat kutikula tubuh serta leher jenjangnya tertiup udara."Kenapa kau berikan padaku?" ucap Thea menegur wanita yang sedang berdiri sambil menyodorkan sebuah kelapa. Begitu bingung padahal dirinya sendiri juga telah memangku s

  • Asisten Tuan Angkuh   116. Menilai ulang

    "I-iya benar." sahut Thea tersenyum berusaha mengusir emosi aneh di hatinya,"Kalau begitu, aku pergi!" segera melangkah demi menghindari perbincangan lain.Beruntung gadis tadi tidak mencegah ataupun bertanya tentang kegugupan Thea. Hingga membuatnya merasa lega melewati

  • Asisten Tuan Angkuh   114. Tanpa busana

    Cahaya fajar mulai menyingsing ditemani alunan melodi berkat kicauan burung yang sedang bertengger ria pada ranting pohon. Mengepakkan sayap sambil berputar seakan menari untuk mengawali hari,Udara sejuk menerpa bulir embun yang berpijak pada daun hijau, perlahan menetes hingga terse

  • Asisten Tuan Angkuh   113. Buku catatan

    "Biarkan tanganmu seperti ini---kamarnya sangat panas dan tanganmu cukup dingin," lugas Nathan merendahkan suara,Sayang sekali kedua maniknya tak sempat melihat raut wajah Thea yang berubah semerah tomat berkat ucapan tak berarti. Entah bagaimana bisa, dia begitu lemah dengan s

  • Asisten Tuan Angkuh   112. Teman tidur

    Padahal selama perjalanan dia telah mendapat banyak siraman pelajaran untuk mencoba sopan juga berlembut kata demi menjalankan aksinya. Namun siapa sangka seluruh informasi tadi lupa pria itu gunakan saat kesan pertama,"Maksud saya, biarkan saya menjemput Thea." u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status