تسجيل الدخولSinar terang serta gambar penuh warna memenuhi layar, bunyi bising yang ditimbulkan berhasil memenuhi seluruh ruang. Kedua gadis itu terlihat begitu khidmat menatap acara show sembari menikmati makanan di piring masing masing,
"The.."
"Hm?" Mengangkat alis dengan raut penuh tanda tanya,
"Terus, tadi nenekmu tahu kalau kau kabur?"
"Enggak! nenek kira aku ga dateng, soalnya pria itu ga ngeliat gadis baju kuning." sahutnya santai memasukkan sesuap makanan ke dalam mulut,
"Terus aku juga belum sempet bilang. Tiba tiba aku matiin telpon nenek, saking kagetnya." ucap Thea sambil menikmati rasa yang menjalar di setiap kunyahan,
"Lah terus---sekarang gimana? Kalo nenek tanya, kamu bakal jawab apa?"
"Ga tau, kayaknya aku ga mau pulang dulu. Aku numpang ya?" celetuk Thea memasang raut polos dengan sorot penuh harap,
"Gampang. Tinggal aja selama yang kau mau, gratis kok!"
"Hehe, makasih!" ujarnya tersenyum lebar, merasa lega karena telah berhasil mengatasi satu beban dalam hidup.
Setelah selesai menghabiskan makan malam, mereka berdua gadis bergegas pergi ke dalam kamar. Seperti biasa, membiarkan sampah serta perabotan kotor memenuhi meja dan lebih memilih membereskan itu semua selepas fajar.
Membaringkan diri ke atas ranjang berukuran besar di dalam kamar Manda. Saling menatap langit sembari mengumpulkan rasa kantuk,
"Tapi ya Thea, kalau emang bener. Apa coba alasan nenek mau jodohin kamu sama pria tua tadi?" sontak Manda tanpa menoleh,
"Itu juga yang aku pikirin dari tadi! Emangnya aku sehina itu, sampe dijodohin sama kakek kakek.." Menekuk bibir,
"........" Tanpa sadar benak mereka tengah memikirkan hal yang sama, mencari alasan dibalik kejadian tadi. Hingga memunculkan secuil spekulasi yang membuat Thea terbelalak, segera menundukkan diri.
"Ada apa?" tanya Manda melirik punggung gadis itu,
"Gimana kalo tebakanku benar? Jangan jangan sebenarnya aku sama nenek adalah orang miskin! T-terus selama ini, uang yang kami pake adalah hasil utang ke pria tua tadi!" lugasnya menoleh dengan raut cemas.
Membuat Manda tertegun merasa jengkel dengan jalan pikiran temannya yang terkesan berlebihan dan terlalu penuh khayalan. Begitu segan untuk segera beranjak duduk demi memukul kening Thea dengan sangat keras,
"Aw. Sakit! kok malah dipukul sih?" Berulang kali mengusap bagian tubuhnya yang terasa nyeri,
"Lagian kamu ngomong ga jelas! Ga usah halu jadi oranh miskin. Sejak kapan ada cerita keluarga Briella yang punya perusahaan, harus ngutang ke kakek kakek?" bantah Manda merasa kesal,
"Iya juga sih.." cicitnya menekuk bibir,
"Ya udah! Mending sekarang kamu mikir gimana cara jelasin ke nenek. Aku takut nanti kamu diusir dari rumah karena dikira jadi cucu durhaka," tegas Manda berusaha membujuk.
"Tenang aja! Aku itu cucu kesayangan nenek. Nenek pasti khawatir kalo tau aku ga pulang! Pasti besok langsung nelfon terus bilang----Thea cepet pulang, nenek janji ga bakal maksa kamu buat ikut perjodohan."
Gadis itu begitu antusias menyahuti kekhawatiran Manda sambil memperagakan logat khas neneknya.
******Keesokan hari.
Waktu berlalu begitu cepat meski harus dilalui dengan cara membosankan. Sebagai mahasiswa nyaris lulus, serta seorang pengangguran dia harus menghabiskan harinya di dalam ruang luas sembari menunggu kedatangan Manda yang telah memiliki kesibukan dalam kehidupan kerja.
Bak penjaga rumah, Thea hanya bisa berduduk santai menikmati tontonan juga makanan yang telah disediakan pemilik tempat hingga malam tiba.
Ceklek...
Sorot matanya sigap menatap ke arah lain, setelah mendengar suara pembatas. Tanpa lama mendapati sosok gadis menenteng tas baru saja pulang setelah menjalani beberapa pemotretan.
Kantong plastik putih transparan terlihat menggantung di sela jari, begitu mudah bagi Thea mendapati bungkus makanan di dalamnya.
"Wih. Bawa apaan tuh?" celetuknya datar, masih tenggelam dalam suasana paling membosankan dalam hidupnya.
"Nih, makan.." Meletakkan kantong yang diawa ke atas meja,
"Makasih..." gumam Thea dengan raut lesu,
Tubuh ramping itu merosot hingga menuruni kursi, membuatnya nyaris tergeletak di atas lantai. Perlahan membenarkan posisi sembari mengeluarkan makanan dalam kantong plastik tadi,
Ekspresi tanpa semangat di wajah Thea semakin mengundang rasa penasaran di hati Manda. Begitu jarang melihat raut tak berdaya yang mengisyaratkan rasa kecewa,
"Kamu kenapa? Pasti nenek belum nelpon kan?"
"Ng..." menganggukkan kepala sambil menekuk bibir bawah,
"Ya udah, cepat telpon dulu."
"Ga mau! Aku yakin nenek sekarang sedang menangis tersedu sedu." tolak Thea dengan pasti,
"Benarkah?" Mengangkat alis,
"Iya! Nenek pasti sengaja jual mahal." seru Thea bersikukuh,
_________________2 hari kemudian.
Drt..
Drt..Drt..Terdengar dering suara yang berhasil masuk ke telinga Thea. Meski belum menyelesaikan panggilan alam, dengan rasa panik dia bergegas keluar dari dalam kamar mandi hanya demi menerima panggilan tadi.
Begitu cepat menghentakkan kaki, berlari keluar hingga mendapati Manda sedang menata makanan di atas meja.
"Manda! Telfonnya udah kamu angkat? Nenek bilang apa?" celetuknya begitu antusias menanti kalimat yang telah dilontarkan wanita tua tadi.
"Nenek apanya?" sahut Manda mengerutkan alis, tak dapat memahami awal perbincangan mereka.
"Tadi--bunyi telfon! Gak kamu angkat?"
"Oh. Udah! Telpon dari petugas antar makanan," lugasnya singkat,
"Hah! Pengantar makanan? Jadi bukan nenek yang nelpon?" ucap Thea berusaha memastikan,
"Ng..." Menggelengkan kepala,
Begitu sedih, merasakan sakit berkat sebuah tombak kebenaran yang menghancurkan harapan. Dengan raut lesu dia melangkah pergi,
"Mau kemana? Ayo makan!" celetuk Manda menoleh, berusaha menghentikan langkah kaki temannya,
"Aku mau ganti celana dulu," sahut Thea lesu,
5 menit kemudian,
"Kamu yakin ga mau nelpon dulu?" tawar Manda melirik gadis yang baru saja duduk,
"Engga. Aku yakin kalo nenek masih nyari cara buat bujuk aku pulang,"
________________
3 hari kemudian
Doeng!
Nyaris sepekan berlalu sudah, tanpa sebuah pesan atau satu panggilan telpon. Siapa sangka wanita tua itu begitu mudah mencampakkan Thea, apakah selama ini kasih sayangnya hanyalah kepalsuan ataukah Barsha menjadikan perjodohan sebagai alasan untuk mengusir Thea dari rumah? Karena dia tahu cucunya tidak mungkin tahan dengan semua itu,
"Aaa!!" pekik Thea berhasil membuat temannya berlari keluar kamar denngan sebuah masker kecantikan yang tengah dipakai.
Begitu panik segera mendekat bahkan tak menghiraukan waktu yang sengaja diluangkan untuk bersantai. "Ada apa, ada apa?!"
Menatap penuh cemas gadis yang sedang bersandar sambil memejamkan mata.
"Hiks. Manda!!" seru Thea menunjukkan matanya yang berkaca kaca,
"Ada apa? Kamu ga enak badan---pusing? Mau ku belikan sesuatu.." Segera menyodorkan telapak tangan demi mengecek suhu tubuh Thea,
"Kayaknya aku diusir beneran. Buktinya nenek ga nelpon, padahal ini udah 6 hari aku ga pulang ke rumah!"
Plak.
Tanpa ragu ditepuknya dengan keras pipi kanan Thea hingga membuat gadis itu merintih kesakitan, mengusap cepat pipi yang meninggalkan bekas merah.
"Aduh, kok di pukul sih!" cicit Thea menekuk bibir bawah,
"Lagian kamu! Dari kemarin kemarin, udah aku bilangin kan? Thea, telpon dulu---telpon nenek terus jelasin. Aku bilang gitu kan dari kemarin.."
"Udah sana, cepetan telpon!"
"Ga mau. Nanti aku dipaksa nikah sama pria tua! Emangnya kamu tega biarin aku dijodohin sama kakek kakek," sanggah Thea dengan raut sedih
"Yah terus, kamu mau gimana? Pasrah karena udah diusir?"
"Ya enggak gitu juga. Aku udah memutuskan hal lain,"
"Mulai hari ini aku bakal hidup mandiri. Jadi kamu harus bantu aku! Ya?"
"Mandiri kok minta bantuan," cibir Manda lirih sambil mengalihkan muka,
"Ih, kok gitu sih! Bantuin dong.."
"Yaudah iya. Aku bantuin, mau minta bantu apa?" tegasnya berusaha sabar,
"Kan kartu atm ku pasti diblokir sama nenek! jadi aku ga punya uang--"
"Itu gampang. Pake uang aku kan bisa!" timpal Manda segera menempatkan tubuhnya ke atas sofa. Berusaha kembali tenang sambil menepuk pelan area wajah,
"Engga engga! mendingan kamu bantuin aku cari kerja."
"Kerja---hah! Kerja?" sontaknya terbelalak ingin memastikan permintaan gadis itu,
"Iya. Besok kan aku wisuda, setelah itu lulus dapet gelar sarjana! Udah waktu yang tepat dong, buat nyari kerja."
"Dasar! Kamu baru nyadar? Kemana aja kemarin waktu teman yang lain pada kerja---kenapa baru mikirin itu sekarang."
"Kayaknya bagus juga nenek jodohin kamu! Kalo ga gitu, kamu ga akan kabur terus ga akan pernah mikir buat kerja." ketus Manda,
"Aduh, jangan ungkit itu dong! Jadi sekarang kamu mau bantuin ga?"
"Iya mau…" ujar Manda dengan logat malas,
"Yeay!!"
***Bersambung."Apa ada informasi?" Menggenggam erat telfon di tangannya."Ya, setelah lama mencari akhirnya ada petunjuk tentang kecelakaan itu. Tapi sebelumnya, ada yang ingin ayah tanyakan.." sahut Zen terdengar serius berhasil membuat Nathan penasaran."Dimana kamu saat kecelakaan terjadi?""Romi bilang pada ayah kalau kamu ada urusan bisnis. Tapi setelah ayah telusuri, perusahaanmu sedang sibuk mengurus peluncuran produk baru dan tidak mungkin pimpinan perusahaan pergi meninggalkannya begitu saja." "Mm, aku sedang ada urusan lain." ucap Nathan terdengar ragu,"Apakah kamu bertemu dengan Rena?" Kedua manik Nathan membulat sempurna setelah ditodong dengan pertanyaan tadi. Tidak menyangka kalau ayahnya bisa menebak dengan tepat,"Dia terdiam?" batin Zen menggertak geram"Jadi benar, dugaanku---kamu masih berhubungan dengan gadis itu.""Aku hanya menerima undangan dari teman lama, dan datang ke pameran seninya." lugas Nathan membela diri,"Apa kamu lupa apa yang terjadi dulu? Bisa-bisanya kalian
"Berhubungan---sepertinya tidak salah kalau dicoba, aku akan membicarakannya dengan Thea." Pria itu bergumam sambil melangkah ke depan pintu kamar yang tertutup rapat."Apa yang Bapak lakukan disini?" Celetuk Thea terkejut mendengar suara di ujung kamar. "Aku hanya ingin mengunjungi kamarmu," sahutnya menatap gadis yang tengah berdiri di depan cermin."Buat apa?" menjawab dengan ketus,"Memastikan agar kamu nyaman disini," mengamati sekeliling. "Tapi ruangan ini lebih luas dari milikku. Pasti tidak nyaman,""Tidak, saya menikmatinya. Jadi tidak perlu berpikir berlebihan," imbuh Thea dengan raut datar.Walau bukan kamar utama, tapi ruangan itu memiliki luas paling besar karena baru saja direnovasi dan sejak lama sengaja dibuat sebagai kamar keluarga Adelard beserta anak anaknya."Apa kamu masih marah karena masalah kemarin?""Masalah apa? Saya tidak ingat apapun." ungkap Thea penuh lantang."Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu. Hanya saja, kamu gadis pertama yang menyatakan cinta
Srash....Rintikan hujan terus berjatuhan membasahi taman, membuat ribuan lahan hijau berhias bunga itu bergoyang lirih. Terlihat Thea tengah berdiri berpangku tangan di depan pintu memandangi suasana disekitar, bola matanya mematung tak menghiraukan percikan air yang sesekali menyentuh kulitnya."Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nathan yang baru saja sampai menghampiri istrinya.Sedari tadi dia sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang sempat tertinggal hingga baru menyadari jika gadis itu tidak berada di kamarnya,"......" Thea terdiam membelakangi pria yang masih berdiri tegak menatap punggungnya.Nathan melirik ke arah pelayan yang berada tidak jauh dari mereka, seakan meminta penjelasan atas kebungkaman Thea."Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha mengajak Nyonta masuk.." sahut pelayan muda dengan kepala tertunduk,Pria itu menghela nafas lalu berkata, "Ya sudah, kau boleh pergi. Siapkan baju ganti, biarkan saya yang mengurusnya."Pelayan itu mengangguk sebelum pergi menin
"Sepertinya, Nyonya masih lelah karena terlalu lama berenang. Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan anda?""Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat," tolak Thea bersikap tak acuh,"Tidak enak badan? Apa itu parah--kalau kau sakit, kenapa tadi keluar?" sontak Nathan merasa cemas,Bahkan nafsu makannya seketika menghilang setelah mengetahui keadaan gadis tadi, ingin rasanya memanggil seluruh staf rumah sakit guna memeriksa keadaan Thea."Saya pikir itu akan membantu, ternyata saya salah." sahutnya menghela nafas, masih menghindari kontak mata."Tentu saja salah. Sejak kapan lari pagi bisa menyembuhkan orang sakit?" timpal Nathan merasa geram, tak lagi mendapat sahutan.Seketika membuat pria itu sedikit mengoreksi kesalahan yang dilakukan, menganggap kalau orang sakit tidak bisa menerima perkataan kasar. Berusaha menahan juga bersikap lebih lembut, "Hh, sudahlah. Apa ada hal lain yang kau minta? Aku akan menurutinya,""Tidak ada," tegas Thea singkat,"M
"Itu tidak perlu," tolaknya dengan pasti, Jika dia setuju maka hal ini hanya akan menambah beban dalam hati, Thea memutuskan untuk tidak lagi berharap atau memupuk perasaan yang seharusnya tidak muncul dalam hubungan palsu. "Apa kau tidak tahu betapa bahayanya diluar?" "Kenapa Bapak berlebihan, lupakan masalah tadi. Yang penting saya sudah kembali dan dalam keadaan baik-baik saja," seru Thea seakan menepis simpati yang didapat, "Kau selalu membangkang. Ini semua kulakukan untuk melindungimu," lugas Nathan begitu malas menjelaskan setiap tindakan yang diambil, "Hh, apa sebenarnya yang dia maksud? Melindungi dari siapa," benak Thea menghela nafas, Melirik sekilas paras tampan yang bisa membuat hatinya goyah, namun dengan cepat Thea berbalik berusaha meyakinkan diri untuk tidak lagi berdekatan. Berusaha untuk mengubur perasaan sekaligus menutup harapan, Bergegas melangkah pergi meninggalkan pria yang masih terdiam menatap punggungnya, "Tunggu! Kenapa kau pergi begitu saja. A
"Srup---ah!" celetuk suara puas dari bibir ranum yang baru saja menikmati beberapa teguk minuman.Cap..Cap..Cap..Berulang kali mengecap demi mengingat rasa manis yang tersisa di langit-langit mulut, lengkung sempurna perlahan muncul saat melihat sosok dengan setelan hitam putih tengah berjalan menghampiri.Sepoi angin siap menerpa rambut legam terkuncir tinggi bak ekor kuda, terasa begitu sejuk saat kutikula tubuh serta leher jenjangnya tertiup udara."Kenapa kau berikan padaku?" ucap Thea menegur wanita yang sedang berdiri sambil menyodorkan sebuah kelapa. Begitu bingung padahal dirinya sendiri juga telah memangku s
Meski merasa terpaksa, gadis itu tetap melangkah maju hingga mendapati beberapa pelayan datang dengan meja dorong berisi berbagai macam hidangan.Seketika rasa kesal dalam hati Thea terganti dengan rasa lapa
Aroma bunga lily yang masih melekat pada urai legam pria itu mampu membuat Thea mengernyit, sedikit bingung bagaimana bisa hidungnya dengan jelas menghirup wangi tersebut.Entah kenapa tanpa sadar dia terlelap sebelum menghabiskan setengah perjalanan, mungkin saja energi dalam tubuh T
"Hah?! K-kenapa!"Tentu saja gadis itu terkejut tak mampu berkutik mendengar saran aneh dari mulut Zen. Bukannya mendukung dan membiarkan Thea membantu karena pasti mengerti tentang emosi yang dirasakan, dia justru menggunakan ide aneh Nathan untuk mengusir mereka."Tu--"
Karena gadis yang masih bersikeras mengajak Nathan ke suatu tempat, mau tidak mau setelah berganti pakaian mereka berdua pergi menaiki mobil yang dibawa oleh Romi.Kedatangan pria itu juga menyelesaikan kesalahpahaman yang beberapa saat lalu terjadi. "Thea, kenapa kau memintaku membaw







