MasukPonsel gue berdering pukul enam lewat dua belas, waktu satu kaki gue masih di dalam sepatu dan kaki satunya belum.Dapur sudah berbau mentega. Ibu memasukkan loyang kedua ke oven tiga rak, dan Bapak duduk di teras dengan koran yang belum dibuka. Dua hari lalu, butir seratus empat puluh tujuh terunggah pukul sebelas malam. Gue tidur sembilan jam, dan bangun seperti orang yang baru melunasi semua cicilan.Layarnya menulis satu nama.Gibran.Gue mengangkat sambil berdiri dengan satu sepatu. "Halo, Gib...""Temuan nomor empat," potongnya. "Kategori: integritas pelaporan. Gue bacain."Tidak ada Nar. Tidak ada urutan sopan. Di belakang suaranya cuma ada dengung pendingin ruangan, dan ketukan papan ketik yang jauh. Pukul tujuh lewat dua belas di Singapura. Kantor yang tidak pernah tidur."Direktur Keuangan PT Algoritma Patah Hati Nusantara, pada bulan Maret tahun berjalan, dengan sengaja mengirimkan laporan berisi angka tidak benar kepada dua penerima di pihak investor. Hal ini diakui oleh y
Printer bekas kos Raka mencetak satu halaman per menit, dengan tinta biru yang tersisa sejak Juni.Daftar itu sebelas halaman. Bima menunggui setiap lembarnya keluar tanpa bicara, lalu menyambungnya dengan selotip bening sampai panjangnya hampir dua meter. Kertas itu menjuntai dari tangannya seperti struk belanja bulanan orang kaya.Dia berjalan ke dinding belakang garasi.Benang merah Ibu masih di sana. Sembilan kartu, sembilan simpul, semuanya bertemu di satu kartu putih paling tinggi dengan tulisan tangan gue. SANJAYA WIRANATA. Di sebelahnya, foto cetakan dari berita daring yang Nita tempel bulan Juli. Sanjaya di depan logo oranye SERASI, tersenyum ke kamera seperti orang yang tidak pernah kehilangan apa pun.Bima mengangkat ujung atas daftar itu dan menekannya dengan empat paku payung. Tepat di atas foto itu. Tepat di atas senyumnya.Dia mundur selangkah."Dinding baru," katanya. Lalu, lebih pelan. "Musuh baru."Tidak ada yang tertawa. Raka berhenti mengunyah kerupuk Bu Darmi.Gue
Kemeja putih itu masih punya kancing cadangan yang dijahit Ibu di balik kerahnya.Empat puluh lima ribu, Pasar Atom, tiga tahun lalu. Gue memakainya untuk ujian, wawancara beasiswa, dan hari-hari ketika gue tidak mau dibaca siapa pun. Jumat malam itu, gue memakainya untuk alasan keempat. Gue belum menemukan nama untuk alasan itu.Ibu melongok dari dapur, memandangi kemeja gue, lalu kembali mengaduk adonan tanpa bilang apa-apa. Sendoknya berdenting sedikit lebih riang dari biasanya.Di depan cermin lemari, otak gue menghitung tanpa diminta.Setiap kencan kami selama setahun ini tercatat di buku kas. Rapat direksi, konsumsi. Bukan karena gue curang. Setiap kencan memang selalu berakhir dengan membahas server, jadi secara hukum itu rapat.Malam ini lain. Stasiun televisi membayar uang transport Elang, satu juta dua ratus ribu, dan gue sendiri yang memutuskan uang itu masuk rekening pribadinya. Dia tampil sebagai orang, bukan sebagai perusahaan.Jadi ini kencan pertama kami yang tidak dib
Sebelum September, papan tulis garasi tidak pernah dipakai untuk jadwal.Dulu isinya grafik retensi, tagihan yang dilingkari tiga lapis, dan dua kata TIDAK DIJUAL yang sekarang sudah pudar jadi abu-abu. Rabu pagi itu, separuh kanannya penuh tulisan Nita. Spidol biru, dengan bintang-bintang kecil yang tidak perlu.Rabu 21.00. Televisi lokal, Cangkruk Malam. Siaran langsung.Kamis 07.00. Podcast Ruang Rintis.Jumat 09.00. Televisi nasional, biro Surabaya.Senin depan. Kuliah umum, satu kampus di ibu kota. Berangkat subuh, pulang malam.Gue berdiri di depannya dengan pulpen merah dan jadwal kuliah Elang, yang gue minta dari ketua kelasnya.Gue mulai dari atas.Rabu malam aman. Tidak ada kuliah pukul sembilan malam, karena dosen juga manusia. Gue mencoretnya dengan satu garis.Kamis pukul tujuh, Kalkulus III. Seratus menit. Gue menulis angkanya di samping, lalu mencoret.Jumat pukul sembilan, Struktur Data. Seratus dua puluh menit. Coret.Senin, Kalkulus III lagi, ditambah Basis Data. Dua
Folder itu masih ada di urutan paling bawah, di bawah Tagihan, Pengguna, dan Kalpataru. Satu-satunya folder di akun direksi yang namanya ditulis huruf kapital.TIDAK DIJUAL (1)Gue membukanya Jumat pagi pukul tujuh, sebelum Bima datang, sebelum Raka menyalakan dispenser, sebelum ada orang yang bisa melihat wajah gue waktu membukanya.Satu email. Penawaran Akuisisi yang Diperbarui: Rp20.000.000.000. Dikirim dua belas hari lalu, pukul dua siang.Satu lampiran. Lembar_Ketentuan_APH_v2.pdf.412 kilobita.Gue memandangi angka itu lama. Empat ratus dua belas kilobita. Kira-kira sebesar foto ulang tahun yang diambil dengan ponsel murah. Sebesar satu lagu yang dikompres. Tidak cukup besar untuk menyimpan apa pun yang berbahaya, kalau dilihat dari ukurannya saja.Tapi Bapak juga cuma menandatangani satu lembar surat pengantar."Dia nggak ketawa karena kalah," kata gue.Elang datang pukul tujuh lewat dua puluh, dengan dua gelas es teh plastik dan rambut yang masih basah. Dia duduk di seberang g
Tanda tangan elektronik pertama dalam hidup gue jelek sekali.Gue menggambarnya dengan ujung telunjuk di layar ponsel, di kotak kuning kecil di bawah halaman empat, Kamis pukul sembilan pagi. Huruf N-nya miring seperti pagar yang ditabrak motor. Huruf A terakhirnya keluar dari kotak. Kalau Bu Prawita melihatnya, beliau pasti mengira ini tanda tangan anak TK yang sedang belajar menulis nama.Elang menyusul di bawahnya. Huruf E besar dan miring, satu tarikan, rapi. Bahkan dengan jari, tanda tangannya lebih bagus dari gue."Udah," katanya. "Sah.""Belum." Gue menyambungkan ponsel ke printer Raka di pojok garasi. "Belum ada di map."Printer itu printer bekas kos-kosan Raka, yang tiga dari empat tintanya sudah habis sejak bulan Juni. Hasilnya keluar pelan, berderit, satu halaman per menit. Semuanya biru. Huruf biru, garis tabel biru, logo Selat Capital biru. Tanda tangan jelek gue juga biru, dan di kertas, kelihatan lebih jelek lagi.Gue melubanginya, memasukkannya ke map arsip, dan menuli







