Se connecterBagaimana ya menjelaskannya... batin Riana menganalisis kejiwaan setan ini. Siska sedari kecil tumbuh terisolasi di keluarga kampung yang sangat menjunjung tinggi anak laki-laki dan merendahkan martabat anak perempuan. Pada dasarnya, jiwa Siska adalah wanita yang sangat kehausan kasih sayang orang tua. Dan biasanya secara psikologis, orang yang haus kasih sayang sejak kecil akan berusaha mencari 'pengakuan' dan eksistensi diri melalui jalur pengorbanan diri yang ekstrem. Ajaran adat patriarki beracun dari keluarga asalnya sudah tertanam dan mendarah daging di alam bawah sadarnya. Seberapa banyak pun Bagas atau Riana menasihatinya dengan fakta, semuanya hanya akan masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Otaknya sudah membentuk benteng penolakan (Denial). "Besok jam sembilan pagi itu jadwal pemakamanmu, kan?" putus Riana dingin, melihat catatan waktu kematian rohnya. "Besok pagi, aku bakal bawa rohmu ke sana secara paksa buat ngelihat pakai matamu sendiri. Gimana aslinya sika
Riana menatap roh Siska yang menangis tersedu-sedu di lantai karpet Sisil. Alih-alih merasa iba, Riana justru merasa muak dengan logika terbalik wanita itu. "Kamu denger baik-baik," desis Riana, suaranya sedingin es batu. "Adikmu itu murni darah daging bapak dan ibumu, tanggungan mereka. Tapi kamu malah tanpa malu diam-diam nyolong uang hasil keringat darah suamimu sendiri buat ngurusin dia? Terus, setelah suamimu nolak ngasih hartanya, kamu punya muka buat ngatain suamimu yang anak tunggal itu egois? Sebenernya kamu ini punya otak sama urat malu apa nggak sih?!" Hantu Siska mendongak, matanya yang pucat terbelalak kaget karena dimaki. "Adikmu itu ibarat lumpur hidup yang bau!" lanjut Riana tak memberi ampun. "Kamu ngebakar dirimu sendiri sampai habis jadi abu demi ngidupin dia, tapi apa lumpur itu bisa diangkat buat ngebangun tembok masa depan? Nggak kan?! Dia cuma benalu parasit!" Riana melipat tangan di dada, auranya menekan hantu itu. "Dengerin, Mbak Setan. Kamu mau berb
Setelah adiknya sah memulai hidup baru bergaya bak pangeran dengan istri barunya, Siska dengan santai berdandan cantik, berencana menemui Bagas di tempat tinggal barunya untuk menjalankan 'Rencana Rujuk' dengan senyum manis. Namun nahas beribu nahas. Karma menghantamnya lebih cepat dari dugaannya. Bagas sama sekali tidak membukakan pintu untuknya. Pria itu menolaknya dengan sangat dingin, tegas, jijik, dan tanpa ruang negosiasi sedikit pun. Tatapan Bagas padanya seolah menatap sampah busuk di pinggir jalan. Rencana rujuk Siska hancur berantakan. Demi bisa kembali mengontrol kelemahan Bagas, Siska menggunakan taktik kotor menjengkelkan. Setiap siang, ia diam-diam menyelinap menjemput Beby dari TK dan menyandera anak itu pulang ke kamar kos-kosan sempit jelek yang kini ia sewa. Mau tidak mau, demi putrinya yang ketakutan di tempat kumuh itu, setiap pulang kerja Bagas terpaksa harus datang menemuinya ke kos Siska untuk menjemput paksa Beby pulang. Siska mengira dengan seringnya b
Di dalam kamar yang temaram itu, suasana mendadak senyap. Riana berdiri tegak, mata rusanya. Jari telunjuk dan jari tengah kanannya menyatu, menekan perlahan titik di antara kedua alisnya. Melalui Mata Batin-nya yang terbuka lebar di dimensi spiritual, Riana tidak hanya mendengarkan ocehan sepihak hantu wanita di depannya, tetapi ia langsung menarik paksa, menyelam, dan membedah seluruh akar memori masa lalu yang tersembunyi di dalam jiwa roh bernama Siska itu. Sebagai seorang Master, Riana memposisikan dirinya sebagai hakim agung yang melihat kebenaran tanpa filter. Dan apa yang ia lihat dari kepingan masa lalu hantu ini... sungguh membuat darahnya mendidih karena jijik. Dari kilasan memori itu, Riana melihat masa kecil Siska. Siska adalah seorang wanita malang yang sejak lahir dicetak menjadi 'mesin ATM berjalan' bagi keluarganya. Ia lahir di sebuah desa terpencil di pesisir, di mana orang tuanya seumur hidup bekerja sebagai buruh tani kasar di ladang orang. Meskipun keluarga me
"Loh? Master Riana, kok kamu malah tiba-tiba ngomong sejahat dan sejudes itu nyerang dia?!" protes Sisil bingung, ia justru maju membela si hantu. "Dia ini kasihan banget tau! Sebelum meninggal karena sakit, dia udah rela nggak potong rambut dan ngerawat rambut panjangnya mati-matian demi menuhin satu impian kecil anaknya yang kanker buat jadi princess. Dia masih muda, yatim piatu, dicerai pula sama suaminya karena miskin, terus anaknya sakit parah dan dia mati mendadak ninggalin anaknya. Bukannya hidupnya dia itu tragis dan kasihan banget?!" Riana melipat tangannya dan mendengus sinis, senyumnya menyebarkan hawa dingin. "Kasihan? Kamu cuma dengar cerita dari satu pihak pembohong," cibir Riana menunjuk arwah wanita itu. "Asal kamu tahu ya, Mbak Setan... Mahkota rambut panjangmu yang sangat berharga dan mau kamu kasih ke anakmu ini, setelah kamu mati, justru dipotong kasar dan diam-diam dijual secara ilegal ke tangan Toni si hairstylist salon demi nyari duit receh, oleh adik kand
Bruk! Hantu wanita berambut cepak botak itu mendadak jatuh berlutut di atas karpet mahal kamar Sisil. Tubuhnya bergetar, aura gaibnya melemah drastis setelah dihantam telak oleh jimat Riana. "Ampun... aku bukan hantu jahat pembunuh! Kumohon, Master spiritual, jangan bakar jiwaku! Jangan bunuh aku pakai jimat itu lagi!" ratap hantu wanita itu memelas, menutupi wajahnya yang pucat pasi dengan kedua tangannya. Riana melipat tangannya di dada, menyipitkan mata rusanya menatap sosok transparan di lantai itu dengan tajam. "Kamu bilang kamu bukan hantu jahat," cibir Riana dingin, "tapi nyatanya... tiap malam kerjaanmu neror, merasuki mimpi, nyekik, dan nyobek rambut Sisil hidup-hidup? Kalau aku nggak dateng malam ini dobrak pintu, cewek ini pasti udah mati kehabisan napas di tanganmu, kan?" Hantu wanita itu menunduk, lalu perlahan mengangkat tangannya. Ia mengusap sisa-sisa rambut aslinya sendiri yang dipotong sangat kasar, acak-acakan berdarah, dan menempel di kulit kepalanya ya







