تسجيل الدخولSatu Minggu sudah berlalu, dan selama itu juga Queen tidak bertemu dengan Ala. Entah kenapa ia menjadi cemas sendiri, terakhir kali ia melihat Ala yang di kejar oleh orang lain.
'Nggak, Queen. Lo apaan sih! Kenapa jadi mikirin cowok itu? Ingat, cowok itu bukan siapa-siapa lo' pikir Queen. Sekarang ia sedang sekolah, tapi pikirannya selalu teringat tentang Ala. "Gue berharap lo gapapa," lirih Queen. Ia tidak jatuh cinta, hanya saja hatinya merasa cemas.<"Dan di sini saya ingin memperkenalkan kepada kalian seseorang yang sangat berarti untuk saya, seseorang yang akan menjadi Nyonya Carlitos. Dia adalah.... Shaqueena Moonstone dan saya peringatkan kepada kalian semua tidak ada yang boleh mengganggunya ataupun keluarganya. Jika tidak, maka kalian akan berurusan dengan saya," seru Ala dingin. Dia sengaja berbicara seperti itu agar seluruh dunia tahu kalo Queen adalah miliknya seorang.Queen tersenyum manis mendengarnya, begitupun keluarga Ala dan Frederick yang merasa terharu menyaksikan keduanya bahagia.Bahkan, Ala membiarkan para wartawan masuk untuk meliputi acara ini, biasanya saat kepala keluarga Charleston adalah Ricard maka wartawan tidak boleh datang ke acara itu karena privasi, tapi tidak untuk Ala yang malah sengaja mengundang mereka datang dan benar saja berita hari ini gempar dan membuat orang-orang terkejut."Silahkan menikmati acaranya," lanjut Ala lagi, lalu turun dari atas panggung menuju tun
"Ala, bukannya aku sudah bilang kalo aku masih sekolah?" ujar Queen kikuk, bigutupun Ala yang cengengesan. "Hehe... typo Sayang, ini buat kamu," ujar Ala menyengir sambil menyerahkan bunga dan boneka. Apalagi saat tatapan matanya menatap calon mertuanya yang menatapnya datar dan tajam, membuat Ala salah tingkah. Ala mendekati Queen yang memegang bunga dan boneka dan menatapnya memuja, Queen pun membalas menatap Ala dengan mata berbinar karena memang dari dulu Queen memimpikan adegan romantis seperti ini. "Sayang, sebelumnya terima kasih sudah menerima aku menjadi bagian hidup kamu. Aku senang banget mengenal kamu karena denganmu aku bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini aku inginkan. Bahkan, kamu yang menjadi penenang hidupku. Entah bagaimana jika aku nggak bertemu kamu, mungkin saja aku akan menyerah." Ala berucap tulus dari dalam lubuk hati yang terdalam, Queen menganggukkan kepalanya menatap sang kekasih terharu karena dirinya pun sama seperti Ala. "Harusnya aku yang berte
Pagi harinya, Queen sudah pulang di antar sang kekasih, ia tidak menyangka kemarin kekasihnya berucap seperti itu padahal dirinya sudah bilang kalo ia masih sekolah. "Sayang, boleh tinggalkan kami berdua?" ujar Ala lembut, Queen menatap kekasihnya dan Daddy-nya secara bergantian. "Mau ngapain?" tanya balik Queeen memicingkan matanya. "Ada urusan bisnis." "Dad bohong, kalo tentang bisnis kenapa Queen nggak boleh tahu?" tanya Queen semakin curiga, Ala yang gemas mencubit kedua pipi kekasihnya. "Nurut apa kata Daddy sama calon suami, Sayang," ucap Ala lembut, Queen yang mendengar itu wajahnya memerah. Hey, bisa-bisanya ia malu mendengar ucapan Ala yang mengucapkan kata calon suami, ia menyentak tangan Ala dan menatapnya dengan wajah memerah malu. "Dasar nggak tahu tempat." Setelah mengatakan itu, Queen berlari masuk ke kamarnya karena malu. Frederick menggelengkan kepalanya melihat kebucinan keduanya, tapi hatinya merasa senang melihat anaknya bahagia kembali tidak seperti
"Lo mukul dia lagi, gue tembak kaki lo," ujar seseorang yang baru datang. Queen melihat orangnya, ia penasaran siapa yang berani mengganggu kesenangannya dan ternyata ada Anne di sana sedang menodongkan pistol ke arahnya. Bukannya merasa takut, Queen malah tersenyum sinis kepada Anne. Ia bahkan ikut mengeluarkan pistol di saku jaketnya, dan menodongkannya ke kepala Atarik. "Silahkan tembak gue, maka suami lo akan mati," sahut Queen santai, sedangkan Ala hanya diam saja menyaksikan mereka. Bukan karena tidak peduli, tapi Ala sudah memperkiraan semuanya akan terjadi. Anne dan mereka terkejut melihat Queen mengeluarkan pistol, apalagi cara Queen memegang pistol sangatlah profesional seperti sudah terbiasa. "Master, kenapa lo biarin Queen menghabisi suami gue?" tanya Anne bingung, tapi tidak ada kemarahan sedikit pun. "Dia pantas menerimanya." Itulah jawaban Ala sambil menatap kekasihnya yang memegang pistol dengan tatapan memuja, gadisnya sangat keren jika seperti ini. "Istri, bant
"Apa yang terjadi?" lirih Queen. Ala membuka matanya dan menatap Queen dengan wajah lelah. "Rindu kamu," lirih Ala membuat Queen linglung. "Hah! Jangan bilang kamu melakukan semua ini karena aku?" tanya Queen terkejut. Setau dirinya, Ala tidak akan mudah terluka, sedangkan penyebab utama Ala sering terluka adalah Ricard yang sudah dia tangkap. "Ala?" panggil Queen karena Ala tak kunjung menjawab malah memalingkan wajahnya, itu berarti tebakannya benar kalo Ala melukai dirinya sendiri. "Jangan gila, Ala! Stop melakukan hal bodoh lagi!" seru Queen kesal sedangkan Ala menunduk pasrah, seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. "Jangan pedulikan aku, bukannya kamu datang ke sini hanya ingin bertemu pembunuh itu? Bukan karena aku?" ujar Ala merajuk. Bukannya mendengarkan, Queen melihat sekelilingnya. "Di mana p3k?" tanya Queen. Ala mengerucutkan bibirnya kesal karena diabaikan, tapi tangannya menunjuk dimana letak barang yang kekasihnya cari. Ia sudah mengambilnya, lalu duduk d
Queen sudah sampai di rumah sakit, saat ia menuju ruangan Anjani ia tidak sengaja bertemu Zayn dkk di koridor rumah sakit. Tanpa repot-repot berbalik atau berhenti, Queen melewati mereka. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan Zayn dkk, tapi langkahnya terhenti karena seseorang berbicara sesuatu padanya. "Gue yakin penyebab kecelakaan Anjani lo sengaja," ujar Zayn dingin, rasa yang dulu Zayn simpan kepada Queen sudah hilang sepenuhnya. Queen berbalik menatap Zayn dkk dingin. "Menurut lo, apakah gue sebego itu mencelakai Anjani dan melukai diri gue sendiri?" Tepat sasaran, ucapan Queen membungkam Zayn yang terus menyudutkan dirinya atas kecelakaan keduanya. "Zayn sudah, bukannya Om Doni juga sudah memberikan bukti kalo memang Anjani yang ingin ikut ke mobil Queen," sahut Lingga yang merasa sahabatnya sudah keterlaluan, apalagi Queen baru sembuh dari kecelakaan itu. "Cih, tapi gue tetap nggak mempe
Dengan malas Queen mencatat materi di hadapannya dengan wajah kesal, bagaimana tidak? Di dunia nyata, ia sudah 23 tahun dan sudah lulus kuliah juga, tapi sekarang ia harus kembali bersekolah karena di novel Queen berumur 18 tahun membuat ia kesal karena harus mengulang sekolah. Queen melihat seor
Ratu yang sekarang kita panggil Queen sedang menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan aneh. Bagaimana tidak? Wajah pemilik asli memang cantik bahkan sangat. Hanya saja, Queen tidak suka dengan penampilan pemilik asli yang kesannya feminim dan imut. Queen menatap wajahnya yang tersenyum
Sudah satu minggu berlalu, seorang gadis masih terbaring di ranjang rumah sakit. Telunjuknya bergerak, perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat. Setelah matanya terbuka, ia melihat atap rumah sakit dengan wajah bingung. Selama satu minggu ini, entah ada apa dengan isi otaknya, yang pasti
"Argggh, SIALAN!" Maki seorang gadis dengan nafas terengah-engah. Sepasang kakinya terus dipaksa berlari, menghindari kejaran belasan pria bersenjata di belakangnya. Di gendongannya, seorang anak kecil memeluk lehernya sangat erat. Tubuh mungil itu gemetar karena ketakutan. Banyak luka di tubuh







