เข้าสู่ระบบSudah satu minggu berlalu, seorang gadis masih terbaring di ranjang rumah sakit. Telunjuknya bergerak, perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat. Setelah matanya terbuka, ia melihat atap rumah sakit dengan wajah bingung.
Selama satu minggu ini, entah ada apa dengan isi otaknya, yang pasti ada ingatan seorang gadis yang tidak dirinya kenal. Tatapan matanya jatuh kepada sebuah benda seperti robot sedang tidur di sofa. Tanpa belas kasihan, gadis itu melempar pisau buah ke arahnya. “Aaaaargh!” Robot itu terkejut, terbangun dan menghampiri Ratu Azzura dengan antusias. "Halo tuan! Selamat datang di dunia novel Anjani." "Siapa?" tanya Ratu datar. Beranjak duduk dari tidurnya, ia merentangkan tangan guna menghilangkan rasa pegal pada tubuhnya. "Aku sistem, yang akan menemanimu di dunia novel ini!" seru robot itu, Ratu terkekeh sinis. "Siapa yang menyuruh lo datang ke sini?" tanya Ratu dingin. Sekarang ia sudah tahu semuanya, ternyata dunia ini bukanlah neraka, melainkan dunia novel dan ia bertransmigrasi menjadi tokoh buatan ibunya sendiri. Namanya Shaqueena Moonstone, umur 18 tahun. Antagonis dari novel Anjani yang sering ibunya suruh untuk membaca. Ditambah lagi, sepertinya ingatan itu tentang gadis yang bernama Queen. "Tentu saja atasanku." "Bilang sama atasan lo, gue nggak butuh sistem kayak lo." Setelah mengatakan itu Ratu melepas selang infus di tangannya tanpa rasa sakit sedikit pun lalu berdiri berjalan keluar. "Nggak bisa seperti itu, ini tugasku!" seru sistem itu panik. Apakah dia membuat kesalahan? Baru pertama datang sudah ditolak saja. "Nggak peduli, pergi! Gue bisa sendiri." "Ratu..." "Gue bilang pergi, sialan!!" sentak Ratu kesal. Sekarang ini, ia sedang kesal kepada siapapun yang mengganggu. Bagaimana tidak kesal, ia mengira akan benar-benar mati. Nyatanya, ia malah di hidupkan kembali dan masuk ke dunia novel. Benar-benar gila! "Baru juga datang udah diusir lagi aja," gumam sistem kesal. Sistem menghela nafasnya pasrah. "Baiklah, jika butuh bantuan panggil aku sistem sebanyak tiga kali, maka aku akan datang segera." Setelah mengatakan itu, sistem menghilang dengan wajah sendu meninggalkan Ratu yang menatap kepergiannya datar. "Gue nggak butuh siapapun di hidup gue. Lagian, gue udah terbiasa sendiri," ucap Ratu. Membuka pintu, tapi kalah cepat oleh seseorang yang sudah membuka pintu dari luar. "PRINCESS!" seru seorang pria paruh baya menerjangnya dengan pelukan erat, Ratu yang tidak suka disentuh orang mendorong pria paruh baya itu. "Jangan sentuh gue!" "Princess, ada apa denganmu? Ini Daddy." Pria paruh baya yang bilang dia daddynya tubuh ini, menatap anaknya khawatir. Ratu menatap Pria paruh baya itu tajam, ingatan terus menerus datang padanya dan benar pria di hadapannya memang daddy pemilik tubuh yang sangat-sangat menyayangi melebihi nyawanya sendiri. Namanya Frederick Moonstone, pria yang selalu menuruti permintaan anaknya sekalipun tidak masuk akal. Sosok yang membesarkan pemilik tubuh ini sendirian, ibunya Queen sudah meninggal saat melahirkannya. Frederick seorang CEO terkenal di novel ini, meskipun keluarga Moonstone terkenal tapi masih ada yang lebih tinggi kedudukannya dari keluarga Moonstone. Biasanya di novel-novel lain jika ibunya meninggal karena melahirkan anaknya, maka mereka akan membencinya. Berbeda dengan Frederick yang malah sangat menyayangi anaknya, karena itu adalah amanah istri tercinta. "Princess, apa kamu melupakan, Daddy?" tanya Frederick sendu. Saat tahu anaknya terjatuh dari ketinggian lantai tiga, dia langsung berlari ke rumah sakit tanpa berpamitan pada orang-orang yang sedang bersamanya. Padahal Frederick sedang melaksanakan meeting bersama orang-orang berkuasa, bahkan Frederick meninggalkan orang berpengaruh di novel ini hanya untuk anaknya tercinta. Frederick tidak peduli mereka tidak jadi bekerjasama dengannya, yang dia pikirkan adalah takut kehilangan anaknya seperti dia yang kehilangan istri tercinta. Frederick kembali memeluk anaknya, sehingga Ratu mematung karena baru pertama kali merasakan pelukan hangat seorang ayah. "Princess, Daddy mohon jangan tinggalkan Daddy. Dad nggak bisa kehilangan kamu, Dad sungguh khawatir mengetahui kamu berniat bunuh diri. Maafkan Dad jika selama ini nggak berada di sampingmu. Tolong, Princess, jangan lakukan hal nekat seperti itu lagi hanya untuk seorang pria yang nggak peduli sama kamu." Frederick berucap dengan suara bergetar karena takut anaknya meninggalkannya. Ratu tidak berkutik saat dipeluk pria paruh baya di hadapannya sangat erat. Bahkan, Ratu mendengar tangisannya yang sangat dekat dengan telinganya. Wajah Ratu tetap datar, ia tidak pernah diajarkan untuk berekspresi oleh orang tuanya. Meskipun Ratu memiliki orang tua yang utuh, tapi ia tidak pernah diperhatikan karena mereka selalu sibuk dengan urusan mafia. Kening ratu mengerut mendengar perkataan pria yang memeluknya. 'Bunuh diri? Bukannya ada yang mendorong pemilik tubuh ini dan demi pria? Najis!' batin Ratu. Ratu menghela nafas, jika boleh jujur Ratu tidak nyaman dipeluk seperti ini. Ia sangat ingin mendorongnya kembali, tetapi karena tubuh yang ia tempati milik anaknya, maka untuk sekarang Ratu akan memaklumi. "Sepuluh detik, lepas!" titah Ratu yang sudah tidak nyaman. Frederick melepaskan pelukannya, terkejut melihat tangan anaknya yang tidak terpasang selang infus. "ASTAGA PRINCESS, KENAPA KAMU LEPAS!" seru Frederick. Mencekal tangan anaknya dan ingin membawa masuk ke ruangannya lagi, tapi Ratu menyentak. Mengorek kupingnya yang terasa berdengung mendengar teriakannya. "Berisik! Gu-Queen mau pulang," jawab Ratu datar. Tidak peduli dikira tidak sopan, anggap saja dirinya belum terbiasa. "Princess, kamu masih sakit. Di sini dulu ya, sampai luka kamu sembuh." Frederick berucap lembut, dia merasa lega mengetahui anaknya masih hidup dan baik-baik saja, tapi kenapa sikapnya sangat berbeda dengan biasanya? "Queen bilang, Queen mau pulang." Ratu harus menahan emosinya, bagaimanapun orang di depannya ini adalah daddy pemilik tubuh yang ia tempati. "Princess..." "Tunjukkan jalannya." Ratu berjalan duluan keluar, meninggalkan Frederick yang menatap punggung anaknya tajam. "Siapa kamu?" tanya Frederick dingin. Ratu berhenti berjalan, tersenyum miring, Ratu membalikkan badan menghadap Frederick dengan wajah polos yang ia tunjukkan. "Anak Daddy, mungkin?" ujar Ratu dengan wajah di imutkan. Meskipun ia susah mengekspresikan diri, tetapi jika untuk drama dirinya sangat ahli karena Ratu adalah mafia yang selalu melakukan misi dan harus menjadi pribadi yang berbeda. Frederick menghela nafas lalu tersenyum. "Ya, kamu anak Daddy. Ayo, Dad tunjukkan jalannya." Frederick menarik tangan anaknya lembut, takut menyakiti dan keduanya berjalan. Wajah Ratu yang tadi di imutkan, berubah dingin menatap tangan yang menariknya, tapi kenapa ada perasaan hangat? Apakah ini perasaan pemilik tubuh asli, karena jika dirinya itu tidak mungkin terjadi. ********* Ratu sudah sampai di mansion Moonstone. Keningnya mengerut melihat mansion yang terasa sangat hidup dengan penerangan yang sangat terang, berbeda dengan mansionnya dulu yang sangat gelap seperti kehidupannya. Ratu melirik pelayan dan bodyguard yang berbaris rapi dengan bingung, kenapa wajah mereka melihatnya sendu? Bukankah jika tubuh ini antagonis, maka akan banyak yang membenci seperti di kehidupannya dulu? Tapi, kenapa wajah mereka mengatakan jika mereka mengkhawatirkannya. "Princess, ini kamar kamu." Frederick menatap anaknya prihatin, sebelum pulang Frederick menyempatkan bertanya kepada dokter tentang keadaan anaknya. Mereka mengatakan kalo Queen hilang ingatan membuat dia merasa sedih, pantas saja sikap anaknya sangat berbeda dengan biasanya yang ceria, sedangkan sekarang sangat dingin. "Hmm." "Kamu harus banyak Istirahat. Dad merasa bahagia kamu melupakan pria bajingan itu, meskipun kamu juga melupakan Dad. Satu yang harus kamu ingat princess, Dad akan selalu bersama kamu. Jangan merasa sendiri lagi, ya?" Frederick mengusap pucuk kepala anaknya dengan sayang, mengecup keningnya lalu meninggalkan Ratu yang kembali mematung, menatap Frederick dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ratu masuk ke kamar, dan tebak apa yang Ratu lihat? Cat warna pink yang sangat tidak ia sukai, feminim sekali. Tanpa melihat sekitar atau wajahnya dulu seperti novel-novel lainnya Ratu berjalan menghampiri jendela yang menampilkan pemandangan perkotaan, tidak ada ekspresi apapun di wajahnya selain datar. "Shaqueena Moonstone, benar-benar menarik," cibir Ratu. Ia masih tidak menyangka masuk ke dalam novel sebagai antagonis yang dirinya tidak suka karena bodoh. Anjani, adalah sebuah novel remaja yang dibuat oleh Daisy. Ibunya menginginkan anak tersayangnya bahagia, dan kalian tahu definisi bahagia seperti apa? Ibunya membuat dua karakter, protagonis diperankan oleh kakaknya, sedangkan yang antagonis diperankan oleh Ratu yang ibunya pikir ia bodoh. Menceritakan kisah protagonis wanita yang selalu dicintai oleh orang-orang terdekat, begitupun protagonis pria yang tergila-gila pada protagonis wanita pada pandangan pertama. Tidak lupa juga ada antagonis wanita yang tak lain adalah dirinya yang sangat dibenci oleh orang-orang karena selalu berbuat onar, bahkan berusaha menghancurkan hubungan keduanya dan merebut protagonis pria hanya untuknya karena Queen Sangat mencintai protagonis pria yang dulu pernah menjadi pacarnya. Mungkin segitu dulu penjelasan tentang novel Anjani, dan ia mengerti sekarang kenapa ibunya membuat Novel itu. Anjani, seperti judulnya. Ibunya ingin Anjani yang tak lain adalah kakaknya menjadi pusat perhatian karena di kehidupan nyata Ratu yang selalu menjadi pusat perhatian karena kehebatan yang ia lakukan. Tapi di novel ini, ibunya menjadikan dirinya antagonis lantaran ingin melihatnya hancur, benar-benar wanita biadab yang tidak mempunyai empati sedikit pun pada anaknya. "Daisy gila! Mana ada seorang ibu yang menginginkan anaknya hancur. Bahkan, hewan pun masih lebih baik dari Daisy," gumam Ratu. Tidak ada ekspresi sakit hati di wajahnya karena Ratu sudah terbiasa. "Baiklah, Daisy, jika lo ingin anak kesayangan lo bahagia. Maka jangan salahkan gue yang menghancurkan harapan lo lagi, karena di dunia nyata maupun novel. Gue yang akan menjadi pemenangnya, bukan Anjani yang mempunyai penyakit aneh yaitu menyukai sesama jenis. Apakah di dunia novel ini akan sama seperti Anjani di kehidupan nyata?" Ratu tersenyum miring, ia akan membuat ibunya menyesal menciptakan tokoh yang tidak berguna dan bodoh karena cinta. "Dan jika ingin menjadi pemenang, maka kita harus membuat drama. Yaitu merubah antagonis bodoh menjadi antagonis yang nggak mudah ditindas, Ratu... menjadi Queen." "Mulai sekarang, panggil gue Queen dan lo tenang aja Queen bodoh! Gue akan bantu lo buat cari tahu siapa dalang dibalik kematian lo dan untuk lo pria bajingan! Gue akan balas lo," lanjut Ratu dengan tatapan tajam menatap keluar jendela yang sekarang sedang turun hujan."Dan di sini saya ingin memperkenalkan kepada kalian seseorang yang sangat berarti untuk saya, seseorang yang akan menjadi Nyonya Carlitos. Dia adalah.... Shaqueena Moonstone dan saya peringatkan kepada kalian semua tidak ada yang boleh mengganggunya ataupun keluarganya. Jika tidak, maka kalian akan berurusan dengan saya," seru Ala dingin. Dia sengaja berbicara seperti itu agar seluruh dunia tahu kalo Queen adalah miliknya seorang.Queen tersenyum manis mendengarnya, begitupun keluarga Ala dan Frederick yang merasa terharu menyaksikan keduanya bahagia.Bahkan, Ala membiarkan para wartawan masuk untuk meliputi acara ini, biasanya saat kepala keluarga Charleston adalah Ricard maka wartawan tidak boleh datang ke acara itu karena privasi, tapi tidak untuk Ala yang malah sengaja mengundang mereka datang dan benar saja berita hari ini gempar dan membuat orang-orang terkejut."Silahkan menikmati acaranya," lanjut Ala lagi, lalu turun dari atas panggung menuju tun
"Ala, bukannya aku sudah bilang kalo aku masih sekolah?" ujar Queen kikuk, bigutupun Ala yang cengengesan. "Hehe... typo Sayang, ini buat kamu," ujar Ala menyengir sambil menyerahkan bunga dan boneka. Apalagi saat tatapan matanya menatap calon mertuanya yang menatapnya datar dan tajam, membuat Ala salah tingkah. Ala mendekati Queen yang memegang bunga dan boneka dan menatapnya memuja, Queen pun membalas menatap Ala dengan mata berbinar karena memang dari dulu Queen memimpikan adegan romantis seperti ini. "Sayang, sebelumnya terima kasih sudah menerima aku menjadi bagian hidup kamu. Aku senang banget mengenal kamu karena denganmu aku bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini aku inginkan. Bahkan, kamu yang menjadi penenang hidupku. Entah bagaimana jika aku nggak bertemu kamu, mungkin saja aku akan menyerah." Ala berucap tulus dari dalam lubuk hati yang terdalam, Queen menganggukkan kepalanya menatap sang kekasih terharu karena dirinya pun sama seperti Ala. "Harusnya aku yang berte
Pagi harinya, Queen sudah pulang di antar sang kekasih, ia tidak menyangka kemarin kekasihnya berucap seperti itu padahal dirinya sudah bilang kalo ia masih sekolah. "Sayang, boleh tinggalkan kami berdua?" ujar Ala lembut, Queen menatap kekasihnya dan Daddy-nya secara bergantian. "Mau ngapain?" tanya balik Queeen memicingkan matanya. "Ada urusan bisnis." "Dad bohong, kalo tentang bisnis kenapa Queen nggak boleh tahu?" tanya Queen semakin curiga, Ala yang gemas mencubit kedua pipi kekasihnya. "Nurut apa kata Daddy sama calon suami, Sayang," ucap Ala lembut, Queen yang mendengar itu wajahnya memerah. Hey, bisa-bisanya ia malu mendengar ucapan Ala yang mengucapkan kata calon suami, ia menyentak tangan Ala dan menatapnya dengan wajah memerah malu. "Dasar nggak tahu tempat." Setelah mengatakan itu, Queen berlari masuk ke kamarnya karena malu. Frederick menggelengkan kepalanya melihat kebucinan keduanya, tapi hatinya merasa senang melihat anaknya bahagia kembali tidak seperti
"Lo mukul dia lagi, gue tembak kaki lo," ujar seseorang yang baru datang. Queen melihat orangnya, ia penasaran siapa yang berani mengganggu kesenangannya dan ternyata ada Anne di sana sedang menodongkan pistol ke arahnya. Bukannya merasa takut, Queen malah tersenyum sinis kepada Anne. Ia bahkan ikut mengeluarkan pistol di saku jaketnya, dan menodongkannya ke kepala Atarik. "Silahkan tembak gue, maka suami lo akan mati," sahut Queen santai, sedangkan Ala hanya diam saja menyaksikan mereka. Bukan karena tidak peduli, tapi Ala sudah memperkiraan semuanya akan terjadi. Anne dan mereka terkejut melihat Queen mengeluarkan pistol, apalagi cara Queen memegang pistol sangatlah profesional seperti sudah terbiasa. "Master, kenapa lo biarin Queen menghabisi suami gue?" tanya Anne bingung, tapi tidak ada kemarahan sedikit pun. "Dia pantas menerimanya." Itulah jawaban Ala sambil menatap kekasihnya yang memegang pistol dengan tatapan memuja, gadisnya sangat keren jika seperti ini. "Istri, bant
"Apa yang terjadi?" lirih Queen. Ala membuka matanya dan menatap Queen dengan wajah lelah. "Rindu kamu," lirih Ala membuat Queen linglung. "Hah! Jangan bilang kamu melakukan semua ini karena aku?" tanya Queen terkejut. Setau dirinya, Ala tidak akan mudah terluka, sedangkan penyebab utama Ala sering terluka adalah Ricard yang sudah dia tangkap. "Ala?" panggil Queen karena Ala tak kunjung menjawab malah memalingkan wajahnya, itu berarti tebakannya benar kalo Ala melukai dirinya sendiri. "Jangan gila, Ala! Stop melakukan hal bodoh lagi!" seru Queen kesal sedangkan Ala menunduk pasrah, seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. "Jangan pedulikan aku, bukannya kamu datang ke sini hanya ingin bertemu pembunuh itu? Bukan karena aku?" ujar Ala merajuk. Bukannya mendengarkan, Queen melihat sekelilingnya. "Di mana p3k?" tanya Queen. Ala mengerucutkan bibirnya kesal karena diabaikan, tapi tangannya menunjuk dimana letak barang yang kekasihnya cari. Ia sudah mengambilnya, lalu duduk d
Queen sudah sampai di rumah sakit, saat ia menuju ruangan Anjani ia tidak sengaja bertemu Zayn dkk di koridor rumah sakit. Tanpa repot-repot berbalik atau berhenti, Queen melewati mereka. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan Zayn dkk, tapi langkahnya terhenti karena seseorang berbicara sesuatu padanya. "Gue yakin penyebab kecelakaan Anjani lo sengaja," ujar Zayn dingin, rasa yang dulu Zayn simpan kepada Queen sudah hilang sepenuhnya. Queen berbalik menatap Zayn dkk dingin. "Menurut lo, apakah gue sebego itu mencelakai Anjani dan melukai diri gue sendiri?" Tepat sasaran, ucapan Queen membungkam Zayn yang terus menyudutkan dirinya atas kecelakaan keduanya. "Zayn sudah, bukannya Om Doni juga sudah memberikan bukti kalo memang Anjani yang ingin ikut ke mobil Queen," sahut Lingga yang merasa sahabatnya sudah keterlaluan, apalagi Queen baru sembuh dari kecelakaan itu. "Cih, tapi gue tetap nggak mempe
Sepanjang jalan menuju kelas, Queen termenung memikirkan pria yang katanya bernama Ala. Setelah mengatakan namanya, pria itu lagi-lagi meninggalkannya. Saat melewati lapangan ternyata di sana masih ada Zayn dkk, tapi tidak ada Anjani dan juga Atarik. Melihat sekeliling lapangan, ia tidak menemuka
Dengan malas Queen mencatat materi di hadapannya dengan wajah kesal, bagaimana tidak? Di dunia nyata, ia sudah 23 tahun dan sudah lulus kuliah juga, tapi sekarang ia harus kembali bersekolah karena di novel Queen berumur 18 tahun membuat ia kesal karena harus mengulang sekolah. Queen melihat seor
Ratu yang sekarang kita panggil Queen sedang menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan aneh. Bagaimana tidak? Wajah pemilik asli memang cantik bahkan sangat. Hanya saja, Queen tidak suka dengan penampilan pemilik asli yang kesannya feminim dan imut. Queen menatap wajahnya yang tersenyum
"Argggh, SIALAN!" Maki seorang gadis dengan nafas terengah-engah. Sepasang kakinya terus dipaksa berlari, menghindari kejaran belasan pria bersenjata di belakangnya. Di gendongannya, seorang anak kecil memeluk lehernya sangat erat. Tubuh mungil itu gemetar karena ketakutan. Banyak luka di tubuh







