LOGIN“Sial!” keluh Nathan menundukkan kepalanya. Hatinya sakit bukan main.
Sudah tidak hari lamanya, dia memberikan waktu pada Rachel, berharap wanita itu berhenti marah dan mau pulang, tetapi kenyataannya dia tetap menolak permintaan Nathan.
Pria itu menatap layar ponselnya yang di mana sebuah pesan singkat dari Rachel yang membalas semua pesan panjangnya.
“Kita lebih baik bercerai saja, Nathan. Aku merasa, sudah tidak ada harapan lagi bersamamu. Aku lelah, aku benar-benar sangat lelah… “
Itulah pesan yang semakin menyesakkan dadanya. Tidak pernah sekalipun, Nathan merasakan perasaaan sesak seperti ini. Rachel yang begitu egois dan tetap mengutamakan egonya, ataukah Nathan yang terlalu egois dan tidak pernah menghargai keberadaan Rachel selama ini.
Nathan meremas ponselnya, jari-jarinya bergetar menahan emosi yang semakin menyesakkan dada. Pesan dari Rachel terasa seperti belati yang menusuk tepat di jantungnya.
"Aku lelah, aku benar-benar sangat lelah…"
Nathan mengembuskan napas kasar, kepalanya tertunduk. Selama ini, dia berpikir bahwa Rachel hanya butuh waktu, bahwa amarah dan kecewanya akan mereda dengan sendirinya. Tapi nyatanya, waktu justru semakin menjauhkan mereka.
Rachel benar-benar ingin berpisah darinya.
Tangan Nathan mengepal. Hatinya menolak menerima kenyataan ini. Tidak mungkin Rachel menyerah begitu saja. Tidak mungkin dia akan membiarkan semuanya berakhir seperti ini.
Dia bangkit berdiri, menatap layar ponselnya sekali lagi. Ingin membalas pesan itu, ingin menelepon, ingin mendengar suaranya. Tapi, apa yang bisa dia katakan?
"Jangan pergi?" "Aku janji akan berubah?" "Aku butuh kamu, Rachel?"
Semua itu terdengar seperti kebohongan yang terlambat diucapkan.
Nathan menekan pelipisnya, merasa frustrasi. Dia berjalan ke arah jendela, menatap langit malam yang gelap.
"Aku tidak mau kehilanganmu, Hel," gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Matanya memerah, tapi dia menolak menangis. Entah sejak kapan air matanya mengering, sama seperti hubungan mereka yang perlahan kehilangan warnanya.
Dia harus melakukan sesuatu.
Nathan meraih jaketnya dan mengambil kunci mobil. Jika Rachel pikir ini sudah berakhir, maka dia akan membuktikan bahwa dia tidak akan menyerah secepat itu.
Tidak, sebelum dia melakukan segalanya untuk mempertahankannya.
Nathan menyalakan mesin mobilnya dengan gerakan kasar, dadanya masih terasa sesak. Hujan gerimis mulai turun, menambah hawa dingin di malam yang terasa semakin kelam. Tapi tidak ada yang lebih dingin dari hatinya saat ini.
Dia menginjak pedal gas, melaju menuju rumah Laela, tempat di mana Rachel bersembunyi darinya.
Pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan. Bagaimana jika Rachel menolak menemuinya? Bagaimana jika dia malah semakin menjauh? Atau yang lebih buruk, bagaimana jika Rachel benar-benar sudah berhenti mencintainya?
Nathan menggeleng cepat. Tidak. Dia tidak akan membiarkan ketakutan menguasainya.
Setelah berkendara selama lima belas menit, dia sampai di depan rumah Laela. Cahaya dari dalam rumah masih menyala, menandakan bahwa penghuninya belum tidur.
Nathan menghela napas, mencoba menenangkan diri sebelum mengetuk pintu. Tapi sebelum tangannya sempat bergerak, pintu terbuka lebih dulu.
Rachel berdiri di sana.
Wanita itu tampak terkejut melihatnya, tapi hanya sebentar. Wajahnya kembali dingin, seolah sudah siap menghadapi Nathan dengan segala konsekuensinya.
"Nathan?" tanyanya, suaranya terdengar datar.
Nathan menelan ludah, menatap lekat wajah istrinya yang begitu dikenalnya. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Mata Rachel tak lagi berbinar seperti dulu.
Dia benar-benar sudah lelah.
"Kita perlu bicara," ujar Nathan akhirnya.
Rachel menghela napas panjang sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya. "Aku rasa, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
"Jangan bicara seperti itu," suara Nathan sedikit bergetar. "Aku tahu aku salah, aku tahu aku banyak mengabaikanmu. Tapi kita bisa memperbaikinya, Rachel. Aku bersedia melakukan apa pun."
Rachel tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di sana. Hanya kepahitan.
"Sekarang kamu bilang ingin memperbaiki semuanya? Setelah aku hampir hancur menunggu kamu sadar? Nathan, aku tidak punya energi lagi untuk berharap."
Nathan terdiam. Kata-kata Rachel menusuk lebih dalam daripada yang dia bayangkan.
"Aku tidak ingin kehilanganmu," suaranya terdengar lebih lirih, lebih putus asa.
Rachel menatapnya, mata mereka saling bertaut dalam keheningan yang menyakitkan. Untuk pertama kalinya, Nathan melihat betapa dalam luka yang telah ia sebabkan.
"Sayangnya, Nathan," Rachel berbisik, "Kamu sudah kehilangan aku sejak lama."
Hatinya mencelos.
Hujan semakin deras. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan dari kenyataan bahwa mungkin… dia benar-benar sudah terlambat.
“Tolong jangan egois, Rachel. Kita pulang, ya. Kita sudah berpisah selama tiga hari, aku kangen kamu. Aku tidak berniat bercerai denganmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu, Rachel!” ucap Nathan dengan tegas.
“Kamu selalu egois dan semaunya, ya?” ujar Rachel menahan tangisnya di sana.
“Ayo, program hamil. Kamu menginginkan seorang anak, bukan? Ayo kita program,” ujar Nathan dengan tegas dan terlihat ekspresi Rachel terkejut di sana.
***
Keesokan paginya, sinar matahari yang menerobos celah gorden tidak membuat suasana hati di kamar itu menjadi lebih terang.Rachel terbangun dengan mata yang sangat sembab dan kepala yang berdenyut nyeri. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, sementara ingatannya perlahan memutar kembali kejadian semalam seperti kaset rusak.Rasa perih di tangannya mengingatkannya pada pecahan kaca, tapi rasa perih di hatinya jauh lebih hebat.Pintu kamar terbuka pelan. Nathan masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas susu. Wajah pria itu tampak lelah, jelas sekali ia tidak benar-benar tidur semalaman karena terus mengecek keadaan Rachel setiap jam."Hei," sapa Nathan lembut, meletakkan nampan di nakas. "Gimana perasaanmu?"Rachel tidak menjawab. Ia hanya mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya tertuju pada perban di tangannya yang terbalut rapi."Nathan," suara Rachel pecah, hampir seperti bisikan. "Apa aku harus datang?"Nat
“Argh!” Rachel menepis semua barang yang ada di meja wastafel di kamar mandi hingga terdengar suara barang pecah dan gemuruh yang membuat Nathan terkejut. “Kenapa?” isak Rachel terduduk di lantai kamar mandi dengan tubuh yang gemetar hebat. Darah segar keluar dari tangannya, karena tergores barang yang dia tepis dengan keras tadi. “Bahkan, sampai detik ini pun, yang dia pikirkan hanya keluarga barunya. Apa aku tidak pernah dia pikirkan sedikitpun? Kenapa?” batinnya menjerit keras. “Apa aku memang tidak pernah dia anggap anak dan bagian penting dalam hidupnya?”Nathan langsung memutar gagang pintu, tapi terkunci.Ia mengetuk lebih keras, suaranya penuh kecemasan.“Rachel! Sayang, buka pintunya!”Di dalam, suara isak Rachel semakin keras, bercampur napas tersengal dan gemerisik barang yang berserakan di lantai. Nathan bisa mendengar getaran ketakutannya.“Argh!”Rachel kembali memukul lantai dengan telapak tangannya, membuat rasa sakit menyebar sampai ke si
“Kamu baik-baik saja?” tanya Nathan menoleh ke arah Rachel saat mobil sudah berhenti di sebuah parkiran basemen. Rachel masih diam menatap lurus ke depan, wajahnya sudah seputih dinding dan kedua tangannya mengepal di atas pangkuannya. Melihat itu, Nathan mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Rachel, sampai akhirnya dia tersadar dari lamunannya. “Eh?” Rachel menoleh ke arah Nathan dengan sorot mata yang tidak fokus. “Aku di sini. Aku selalu bersamamu, Sayang. Tidak akan terjadi apa pun, percayalah,” ujar Nathan menguatkan Rachel. Rachel berusaha tersenyum walau sulit. Terlihat matanya berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang terucap di sana. “Mau turun sekarang?” tanya Nathan lagi dengan lembut. “Aku-“ Rachel bergumam lirih. “Takut.” “Kamu tidak perlu takut apapun, aku akan melindungimu,” ucap Nathan tersenyum sambil merapikan anak rambut Rachel
Nathan terpaku melihat hasil laporan yang baru saja diberikan oleh dokter Maya. Kertas itu terasa berat di tangannya, seolah angka-angka yang tertera di sana mampu mengguncang seluruh isi dadanya.Depresi: 40 – Sangat BeratKecemasan: 39 – Sangat BeratStres: 32 – BeratLidahnya kelu. Matanya membaca ulang angka-angka itu, berharap ada kesalahan cetak, berharap bahwa semua ini tidak benar. Tapi kenyataan menamparnya telak. Istrinya… perempuan yang selama ini ia peluk setiap malam, yang ia yakinkan akan baik-baik saja, ternyata menyimpan luka yang begitu dalam, jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.“Apa... ini sudah lama, Dok?” tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar, nyaris berbisik.Dokter Maya mengangguk pelan, menatap Nathan dengan penuh empati. “Rachel sudah mengalami gangguan ini sejak lama, mungkin sejak awal trauma itu terjadi. Tapi seperti yang tadi dia ceritakan, semuanya memburuk lagi sejak pelaku dibebaskan. Itu menjadi pemicu utama yang mengguncang kestabilan emosiny
Langit tampak mendung saat mobil hitam milik Nathan melaju perlahan memasuki area parkir rumah sakit. Rachel duduk di sampingnya dengan wajah muram, kedua tangannya bertaut di atas pangkuan. Meski tubuhnya tampak tenang, dalam hati ia merasa bergemuruh. Hari ini adalah hari di mana ia akan kembali bertemu dengan seorang dokter spesialis kejiwaan.Nathan melirik sekilas ke arah istrinya sebelum mematikan mesin mobil. “Kita sudah sampai, Sayang,” ucapnya lembut, tangan kirinya terulur menyentuh punggung tangan Rachel, memberikan kekuatan dalam diam.“Ya...”“Kamu baik-baik saja?” tanya Nathan memastikan Rachel tidak tertekan.Rachel menoleh ke arah suaminya dengan senyuman kecilnya. “Ya, aku baik-baik saja.”“Syukurlah. Tenang saja, aku akan terus mendampingimu,” ujar Nathan dengan lembut.Rachel mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu mobil dan menjejakkan kaki di pelataran rumah sakit.Langkah mereka perlahan menyusuri koridor demi koridor, diiringi aroma khas
“Pagi, Sayang.” Nathan menyapa Rachel dengan senyum lebar dan merekah. Rachel tersenyum manis di sana. Pria itu sedang berdiri di area dapur dengan celemek terpasang di tubuhnya. Cukup lama Rachel memandangi suaminya itu yang menyambutnya dengan senyuman hangat di sana. Wanita itu berjalan perlahan mendekati Nathan. Saat Rachel sudah berdiri di hadapannya, Nathan menyentuh rambut Rachel. “Masih basah? Kamu tidak mengeringkannya?” tanya Nathan. Bukannya menjawab, Rachel malah memeluk tubuh Nathan, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan Nathan. “Kenapa?” tanya Nathan. Sekali lagi Rachel tidak menjawab, wanita itu semakin erat memeluk Nathan. Dan hal yang membuat Nathan yakin ada yang tidak beres adalah cara Rachel meremas ujung kaos milik Nathan. Wanita itu seperti sedang gelisah, walau Nathan sendiri tidak tahu apa yang membuatnya segelisah itu. Nathan mengusap lembut kepala belakang dan pung







