Share

Chapter Enam

last update publish date: 2025-02-26 16:08:08

Nathan merasakan aliran darahnya mendingin. Matanya terpaku pada kata-kata itu. Spesialis kejiwaan?

Rachel… pergi ke psikiater?

Tangannya tanpa sadar mencengkeram ponsel lebih erat. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Rachel tidak pernah membicarakan ini padanya?

Dadanya terasa sesak, napasnya tersendat.

Apa yang selama ini dia tidak tahu?

          Karena merasa sangat penasaran, Nathan membuka cctv rumahnya yang jarang dia buka, selain untuk melihat Rachel sedang apa. Tapi karena penasara, Nathan memutar setiap waktu di tanggal-tanggal saat dia sedang tidak ada di rumah dan melihat aktivitas Rachel.

          Dan tanpa sadar, air mata Nathan luruh membasahi pipinya. Saat dia melihat rekaman di setiap malamnya. Rachel terlihat tidak tidur, wanita itu terlihat gelisah dan terus mengintip keluar jendela, sampai Nathan melihat cctv di bagian depan rumah, tetapi tidak ada sesuatu yang aneh. Kemudian, wanita itu menangis histeris dengan memeluk lututnya sendiri dan sesekali menjambak rambutnya. Tak jarang, dia juga memukuli dadanya sendiri dan duduk dipojokan kasur. Wanita itu seperti sedang ketakutan, entah apa yang membuatnya takut, karena Nathan tidak menemukan sesuatu yang janggal di sana.

Nathan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, rasa bersalah yang begitu menghancurkan.

Selama ini, ia mengira Rachel hanya marah padanya, hanya ingin perhatian lebih, hanya lelah dengan pernikahan mereka. Tapi apa yang baru saja ia lihat… jauh lebih dari itu.

Rachel tidak hanya kesepian.

Rachel sedang berjuang dalam kesakitannya sendiri.

Nathan mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mencerna semuanya. Apakah ini sebabnya Rachel ingin bercerai? Bukan karena ia tidak mencintainya lagi, tetapi karena ia sudah terlalu lelah bertahan sendirian?

          Tanpa pikir panjang, Nathan melepaskan earphonenya dan segera keluar dari kokpit, beberapa pramugari dibuat heran oleh tingkahnya, dan beberapa ada yang bertanya kemana Nathan akan pergi, karena sebentar lagi mereka akan melakukan penerbangan.

Namun, Nathan tidak peduli.

Langkahnya cepat, hampir berlari melewati koridor bandara. Napasnya memburu, pikirannya dipenuhi oleh satu nama, Rachel.

Ia harus menemui istrinya. Sekarang.

Saat ia melewati pintu keluar, suara Adrian memanggilnya dari belakang.

“Nathan! Hei! Kau mau ke mana?!”

Nathan tidak berhenti. Ia hanya mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa ia tidak bisa menjelaskan sekarang.

Lalu, ponselnya kembali bergetar di genggaman. Kali ini, panggilan dari Rachel.

Ia langsung menjawab tanpa berpikir. “Rachel—”

Tapi yang terdengar di ujung sana bukan suara istrinya.

Melainkan suara Tante Laela.

“Nathan?” Laela terdengar menangis di sana.

Jantung Nathan mencelos. “Tante, ada apa? Di mana, Rachel?”

“Rachel… dia baru saja dibawa ke rumah sakit dalam keadaan—”

Suaranya terputus oleh deru mobil yang melintas.

          “Rumah sakit mana? Aku akan segera ke sana,” ucap Nathan dan Laela menyebutkan nama rumah sakitnya sebelum menutup panggilan itu.

Nathan berlari ke arah tempat parkir tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Tangannya gemetar saat membuka pintu mobil, lalu segera menyalakan mesin dan tancap gas keluar dari area bandara.

Pikirannya penuh dengan skenario buruk. Apa yang terjadi pada Rachel? Kenapa dia sampai dilarikan ke rumah sakit?

Jantungnya berdetak terlalu kencang hingga terasa menyakitkan. “Kumohon, tidak terjadi apa pun padamu, Hel. Kumohon, jangan meninggalkanku!” gumamnya tidak menentu.

Akhirnya, ia menginjak gas dalam-dalam saat lampu hijau menyala, menerobos jalanan dengan kecepatan gila.

Ia harus sampai di sana.

Mobil Nathan melaju seperti peluru, menyalip kendaraan lain tanpa peduli pada klakson marah yang bersahutan di belakangnya.

Tangannya mencengkeram setir erat, matanya berkaca-kaca, tetapi fokusnya tetap pada jalan.

Rachel…

Hatinya berdebar semakin kencang saat rumah sakit mulai terlihat di kejauhan. Ia langsung membanting stir ke parkiran, lalu melompat keluar sebelum mesin mobil benar-benar mati.

Tanpa pikir panjang, ia berlari menuju lobi rumah sakit, mencari seseorang, siapa saja, yang bisa memberitahunya di mana Rachel berada.

Saat ia hampir mencapai meja informasi, matanya menangkap sosok Tante Laela yang berdiri di dekat lorong, wajahnya penuh air mata.

"Tante!" Nathan hampir berteriak saat menghampiri wanita itu. "Di mana Rachel?! Apa yang terjadi?!"

          “Nathan?” panggil Laela.

          “Bagaimana Rachel, Tante? Apa yang terjadi?” tanya Nathan dengan napas ngos-ngosan.

          “Tenang, Nathan. Rachel ada di IGD, Tante sedang melakukan pendaftaran di sini. Tadi, dia tiba-tiba pungsan di rumah, Dokter bilang kalau jantung Rachel berdebar terlalu cepat dan dia juga mengalami anemia,” jawab Laela. “Kalau kamu mau menemuinya, dia masih ada di IGD.”

Tanpa menunggu lebih lama, Nathan bergegas menuju ruang IGD. Langkahnya cepat dan panik, hampir menabrak beberapa orang di lorong rumah sakit.

Dadanya sesak, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Saat tiba di depan pintu IGD, seorang perawat menghentikannya.

"Maaf, Anda keluarga pasien?" tanya perawat itu.

"Saya suaminya! Rachel, dia baik-baik saja? Saya harus menemuinya!"

Perawat itu menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan membuka tirai bilik tempat Rachel dirawat.

Di sana, Rachel terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Wajahnya pucat, matanya terpejam, dan napasnya terdengar pelan namun tidak stabil.

Hati Nathan seperti diremas.

Ia melangkah mendekat, tangannya bergetar saat menyentuh jemari Rachel yang terasa dingin.

"Hel..." bisiknya lirih. "Aku di sini."

Rachel tidak bereaksi.

Nathan menelan ludah, lalu duduk di sampingnya, jemarinya masih menggenggam erat tangan istrinya.

          “Maafkan aku, Hel. Aku sungguh egois dan bodoh. Aku benar-benar tidak peka, padahal kamu sangat membutuhkanku,” gumam Nathan tidak bisa menahan kesakitan di hatinya. 

          “Aku janji, setelah ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu merasakan rasa sakit itu sendirian. Aku akan menemanimu setiap saat, maafkan aku, Hel,” gumamnya dengan menundukkan kepalanya.

          Kedua kelopak mata Rachel bergerak, perlahan terbuka lebar. “Ugh… “ Dia meringis saat merasakan kepalanya sakit.

          “Rachel,” panggil Nathan membuat wanita itu menoleh ke arah Nathan yang sedang menatapnya dengan sorot mata berkaca-kaca dan memerah.

          Rachel memperhatikan seragam pilot yang dikenakan Nathan dan kembali melihat wajah pria itu yang terlihat sendu.

          “Aku masih hidup, Nathan,” ucap Rachel walau terdengar konyol, tetapi reaksi Nathan justru membuatnya bingung sekaligus takut. 

          “Aku tau. Dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, Hel,” ucap Nathan. “Gimana keadaanmu? apa yang sakit, bagian mana yang tidak nyaman? Kata Dokter, kamu anemia, apa kamu tidak tidur dengan cukup? Apa kamu bermimpi buruk?” tanya Nathan memborong penuh kekhawatiran.

          “Berhenti, Nathan!” Rachel yang masih menahan sakit di kepalanya, semakin sakit saat mendengar pertanyaan Nathan yang memborong.

          “Apa yang terjadi denganmu. Kamu tidak pernah bertanya seperti itu padaku sebelumnya,” ucap Rachel.

          “Ya, aku tau aku sangat tidak peka. Maafkan aku,” ucap Nathan.

          “Tapi, sikapmu sekarang justru membuatku takut. Aku tidak akan mati karena anemia, Nathan.” Rachel merasa reaksi Nathan berlebihan.

Nathan menghela napas berat, menundukkan kepalanya. “Aku tahu. Aku tahu kamu tidak akan mati hanya karena anemia.”

Ia mengeratkan genggaman tangannya di atas tangan Rachel, seolah memastikan bahwa wanita itu benar-benar ada di sana, bersamanya.

“Ya, aku hanya mengkhawatirkanmu,” ucap Nathan.

“Bersikaplah seperti kamu biasanya. Sikapmu sekarang justru membuatku takut,” ujar Rachel masih terkesan dingin. “Dan kalau kamu ada penerbangan, pergilah, aku baik-baik saja, lagipula ada Tante Laela yang nemenin aku,” ucap Rachel.

“Aku tidak akan pergi ke manapun. Aku akan tetap di sisi kamu.” Rachel benar-benar terkejut dengan jawaban Nathan yang menurutnya sangat bukan Nathan. Tetapi, Rachel juga tidak memiliki tenaga lebih untuk berdebat dengan pria itu.

“Terserah,” jawab Rachel mengubah posisinya jadi menyamping dan memunggungi Nathan. Rachel terlalu syock dan salah tingkah karena kata-kata Nathan itu.

*** 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Lili Lili
kasih pelajaran saja hel suami kamu
goodnovel comment avatar
Lily
gpp hel sikap kau kaya gtu sama nathan malah bgus biar Nathan merasa bersalah bgt
goodnovel comment avatar
Kasma yani
Knapa kamu baru sadar Nathan, kalau Rahel sakit parah coba dari dulu peka sedikit tidak akan terjadi seperti ini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Empat Puluh Tiga

    “Selamat pagi, Sayang,” sapa Nathan saat melihat Rachel bangun dari tidurnya. “Pagi,” jawab Rachel melihat Nathan yang masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi sarapan pagi. “Bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?” tanyanya lagi. Rachel tersenyum lemah. “Ya, kurasa aku sudah merasa lebih baik,” jawab Rachel menatap wajah suaminya dalam diam. “Kenapa?” tanya Nathan membalas tatapan Rachel. “Sarapan dulu, ya. Nanti baru kita bersiap ke rumah tante Laela.” “Apa kamu sudah sarapan?” tanya Rachel. “Aku bisa sarapan nanti,” jawab Nathan. “Sekarang kamu sarapan dulu, mau aku suapin? Mengingatkan saat-saat kita pacaran, kamu selalu ingin disuapin,” godanya. Rachel kembali tersenyum lemah. “Aku akan makan sendiri, Nathan. Kamu juga sebaiknya sarapan juga,” jawab Rachel.Nathan terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar lega karena melihat Rachel sudah bisa memberikan respons yang lebih tenang p

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Empat Puluh Dua

    Keesokan paginya, sinar matahari yang menerobos celah gorden tidak membuat suasana hati di kamar itu menjadi lebih terang.Rachel terbangun dengan mata yang sangat sembab dan kepala yang berdenyut nyeri. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, sementara ingatannya perlahan memutar kembali kejadian semalam seperti kaset rusak.Rasa perih di tangannya mengingatkannya pada pecahan kaca, tapi rasa perih di hatinya jauh lebih hebat.Pintu kamar terbuka pelan. Nathan masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas susu. Wajah pria itu tampak lelah, jelas sekali ia tidak benar-benar tidur semalaman karena terus mengecek keadaan Rachel setiap jam."Hei," sapa Nathan lembut, meletakkan nampan di nakas. "Gimana perasaanmu?"Rachel tidak menjawab. Ia hanya mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya tertuju pada perban di tangannya yang terbalut rapi."Nathan," suara Rachel pecah, hampir seperti bisikan. "Apa aku harus datang?"Nat

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Empat Puluh Satu

    “Argh!” Rachel menepis semua barang yang ada di meja wastafel di kamar mandi hingga terdengar suara barang pecah dan gemuruh yang membuat Nathan terkejut. “Kenapa?” isak Rachel terduduk di lantai kamar mandi dengan tubuh yang gemetar hebat. Darah segar keluar dari tangannya, karena tergores barang yang dia tepis dengan keras tadi. “Bahkan, sampai detik ini pun, yang dia pikirkan hanya keluarga barunya. Apa aku tidak pernah dia pikirkan sedikitpun? Kenapa?” batinnya menjerit keras. “Apa aku memang tidak pernah dia anggap anak dan bagian penting dalam hidupnya?”Nathan langsung memutar gagang pintu, tapi terkunci.Ia mengetuk lebih keras, suaranya penuh kecemasan.“Rachel! Sayang, buka pintunya!”Di dalam, suara isak Rachel semakin keras, bercampur napas tersengal dan gemerisik barang yang berserakan di lantai. Nathan bisa mendengar getaran ketakutannya.“Argh!”Rachel kembali memukul lantai dengan telapak tangannya, membuat rasa sakit menyebar sampai ke si

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Empat Puluh

    “Kamu baik-baik saja?” tanya Nathan menoleh ke arah Rachel saat mobil sudah berhenti di sebuah parkiran basemen. Rachel masih diam menatap lurus ke depan, wajahnya sudah seputih dinding dan kedua tangannya mengepal di atas pangkuannya. Melihat itu, Nathan mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Rachel, sampai akhirnya dia tersadar dari lamunannya. “Eh?” Rachel menoleh ke arah Nathan dengan sorot mata yang tidak fokus. “Aku di sini. Aku selalu bersamamu, Sayang. Tidak akan terjadi apa pun, percayalah,” ujar Nathan menguatkan Rachel. Rachel berusaha tersenyum walau sulit. Terlihat matanya berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang terucap di sana. “Mau turun sekarang?” tanya Nathan lagi dengan lembut. “Aku-“ Rachel bergumam lirih. “Takut.” “Kamu tidak perlu takut apapun, aku akan melindungimu,” ucap Nathan tersenyum sambil merapikan anak rambut Rachel

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Tiga Puluh Sembilan

    Nathan terpaku melihat hasil laporan yang baru saja diberikan oleh dokter Maya. Kertas itu terasa berat di tangannya, seolah angka-angka yang tertera di sana mampu mengguncang seluruh isi dadanya.Depresi: 40 – Sangat BeratKecemasan: 39 – Sangat BeratStres: 32 – BeratLidahnya kelu. Matanya membaca ulang angka-angka itu, berharap ada kesalahan cetak, berharap bahwa semua ini tidak benar. Tapi kenyataan menamparnya telak. Istrinya… perempuan yang selama ini ia peluk setiap malam, yang ia yakinkan akan baik-baik saja, ternyata menyimpan luka yang begitu dalam, jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.“Apa... ini sudah lama, Dok?” tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar, nyaris berbisik.Dokter Maya mengangguk pelan, menatap Nathan dengan penuh empati. “Rachel sudah mengalami gangguan ini sejak lama, mungkin sejak awal trauma itu terjadi. Tapi seperti yang tadi dia ceritakan, semuanya memburuk lagi sejak pelaku dibebaskan. Itu menjadi pemicu utama yang mengguncang kestabilan emosiny

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Tiga Puluh Delapan

    Langit tampak mendung saat mobil hitam milik Nathan melaju perlahan memasuki area parkir rumah sakit. Rachel duduk di sampingnya dengan wajah muram, kedua tangannya bertaut di atas pangkuan. Meski tubuhnya tampak tenang, dalam hati ia merasa bergemuruh. Hari ini adalah hari di mana ia akan kembali bertemu dengan seorang dokter spesialis kejiwaan.Nathan melirik sekilas ke arah istrinya sebelum mematikan mesin mobil. “Kita sudah sampai, Sayang,” ucapnya lembut, tangan kirinya terulur menyentuh punggung tangan Rachel, memberikan kekuatan dalam diam.“Ya...”“Kamu baik-baik saja?” tanya Nathan memastikan Rachel tidak tertekan.Rachel menoleh ke arah suaminya dengan senyuman kecilnya. “Ya, aku baik-baik saja.”“Syukurlah. Tenang saja, aku akan terus mendampingimu,” ujar Nathan dengan lembut.Rachel mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu mobil dan menjejakkan kaki di pelataran rumah sakit.Langkah mereka perlahan menyusuri koridor demi koridor, diiringi aroma khas

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Delapan

    Rachel membuka matanya saat sinar matahari masuk ke celah jendela. Dia menolehkan kepalanya dan cukup terkejut kalau dia bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk dan rasa cemas yang biasa dia rasakan. Sudah beberapa minggu sejak Nathan pergi bertugas dan Rachel tinggal di rumah Tantenya, dia tidak tidu

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Tiga

    Tok tok tokLaela membuka pintu rumah pagi itu, ekspresi terlihat tenang tanpa ada keterkejutan, karena tidak ada lagi tempat untuk Rachel sembunyi selain di tempat ini. “Pagi, Tante. Apa Rachel ada di sini?” tanya Nathan. “Rachel masih tidur, apa perlu Tante bangunkan?” tanya Laela.Nathan mengg

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Dua

    Nathan memasukkan kode ke layar sentuh di pintu rumahnya. Dengan bunyi klik halus, kunci otomatis terbuka, dan dia mendorong pintu cukup lebar untuk masuk sambil menarik koper kecilnya.Begitu melangkah ke dalam, udara dingin langsung menyergapnya. Rumah besar itu terasa hampa, sepi, dan menyesakka

  • Ayo Bercerai, Kapten!   Chapter Satu

    Hujan rintik-rintik menyelimuti landasan bandara ketika Nathan melangkah keluar dari kokpit. Seragam kapten pilotnya masih rapi, tapi matanya menyiratkan kelelahan. Dia baru saja menyelesaikan penerbangan belasan jam. Di tengah lorong kedatangan, Rachel berdiri dengan mantel cokelatnya yang elegan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status