Share

7

Penulis: JeremiaCh
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-29 00:52:17

Suasana ruangan mendadak hening. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut tuan Robin atau nyonya Margaret setelah permintaan dari Veren terlontar.

Pandangan Veren perlahan bergeser ke arah nyonya Margaret, ketika senyum kecut terpancar dari wajah wanita itu. Sekana menahan geli sekaligus rasa tak percayanya seiring dengan permintaan dari Veren barusan.

“Ya ampun Veren, apakah kamu berpikir jika permintaanku untuk meminta kamu menggugurkan kandunganmu itu hanyalah permintaan sepihak?”

“Lihat saja eskpresi suamiku saat mendengar ucapanmu barusan. Apakah suamiku langsung memberikan tanggapan untuk setuju dengan permintaanmu itu!”

“Tidak Akan! Kamu harusnya sadar diri, karena keluarga kami tetap pada komitmen agar kamu menggugurkan kandunganmu itu. Agar suatu saat nanti, anak dalam kandunganmu itu tidak akan menjadi boomerang untuk keluarga kami.”

Mendengar ucapan nyonya Margaret, seketika Veren menatap ke arah tuan Robin dengan tatapan penuh harap. Veren masih mengharap, jika ucapannya Margaret mengenai tuan Robin tidaklah benar.

Namun, napasnya tercekat tatkala mendengar perkataan tuan Robin yang sama dengan sang isteri. Meminta kepada Veren untuk menggugurkan anak dalam kandungannya.

Ucapan yang dilontarkan oleh tuan Robin tak jauh berbeda dengan perkataan yang terucap dari bibir nyonya Margaret. Meminta kepada Veren untuk menggugurkan kandungannya, khawatir jika suatu saat nanti Veren akan berubah pikiran dan menjadi boomerang bagi keluarga Perez-Giani.

Kembali, tuan Robin menawarkan uang sebesar dua miliar kepada Veren agar mau menuruti permintaan dari mereka.

Veren merasa sangat kecewa mendengar niat yang sama dari tuan Robin. Namun, pada akhirnya dia mengerti jika keluarga Perez-Giani akan tetap berusaha sebaik mungkin untuk tidak memasukan aib dalam keluarga mereka, yaitu dirinya.

Sehingga Veren yang tak tahan lagi berada di ruangan itu, hendak pergi meninggalkan tuan Robin dan nyonya Margaret.

Namun, keinginannya itu sirna saat tuan Robin memintanya untuk tetap duduk dengan nada yang meninggi. Sikap tuan Robin itu tentu berkaitan dengan laporan yang telah diberikan oleh nyonya Margaret, mengenai Veren yang selalu berusaha untuk menghindari percakapan panjang dan langsung pergi meninggalkan lawan bicara.

Sehingga keterkejutan kembali menghiasi Veren, terperangah menatap ke arah tuan Robin.

Dengan tatapan yang membara, tuan Robin kembali meminta jawaban dari Veren sehubungan dengan permintaan untuk menggugurkan kandungannya.

“Kamu boleh pergi dari tempat ini, dengan catatan telah memberikan jawaban atas permintaan kami.”

“Apakah kamu tidak diajarkan sopan santun, untuk tidak meninggalkan lawan bicara disaat perbincangan belum selesai!”

Veren hanya menundukan kepala dalam diam saat suara tuan Robin menggema di ruangan itu. Jari-jarinya tanpa sadar bergetar, bergesekan satu sama lain, mencoba merangkai kata yang tepat untuk menjawab permintaan yang menyesakkan hatinya.

Kembali memberanikan diri, Veren langsung memberikan jawaban yang membuat nyonya Margaret dan tuan Robin dilanda emosi.

“Aku tetap pada tekadku, bahwa tidak akan pernah menggugurkan anak ini.” ujar Veren sembari memegang perutnya.

“Aku tidak menginginkan uang dua miliar dari keluarga Perez-Giani. Silahkan simpan uang itu, karena aku pasti bisa menghidupi anak ini nantinya, meski tanpa bantuan kalian.”

“Ini jawabanku untuk permintaan kalian. Jadi, tolong jangan tekan aku lagi, dan tolong jangan utus wanita itu untuk bertemu denganku.” Lanjut Veren yang teringat akan sosok Lidya, yang baginya merupakan suatu tekanan yang besar ketika terus-menerus menyampaikan keinginan dari keluarga Perez-Giani.

Setelah tekadnya itu terucap, Veren tak perduli lagi dengan tuan Robin dan nyonya Margaret. Dia langsung berdiri dan menundukan kepala, menunjukan rasa hormat sebagai balasan atas ucapan tuan Robin yang menyebutnya tak diajarkan sopan santun.

Dengan berani Veren mulai melangkah menuju ke arah pintu, meski napasnya terasa berat khawatir jika tuan Robin dan nyonya Margaret akan kembali menahannya.

Dan benar saja, nyonya Margaret dengan napas yang menggebu-gebu, tak tahan lagi dengan emosi yang memuncak setelah mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Veren, langsung berdiri dari sofa dan menghampiri Veren.

Menunjukan dominasi sebagai isteri dari tuan walikota, dan wanita yang layak untuk di segani oleh Veren, seketika itu juga sebuah tamparan yang keras dilayangkan oleh nyonya Margaret menghantam pipi Veren.

“Plaaaaakkkkk…”

Tamparan itu begitu keras, sehingga menimbulkan suara tersendiri dalam ruangan yang hening itu.

Veren mengerang menahan rasa sakit akibat tamparan dari nyonya Margaret. Dan tuan Robin matanya melebar seketika, tak menduga jika isterinya itu akan mengambil tindakan demikian dengan menampar Veren.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   39

    “Kalian mau apa? Kalian mau menyeretku keluar? Apa kalian berdua mau saya pecat!” ucap nyonya Margaret yang terlihat begitu emosi.Dia tak menyangka, jika kedua satpam yang bekerja di rumah sakit milik anaknya, malah menunjukan sikap untuk menyeret dia keluar. Sehingga nyoya Margaret mengeluarkan ancaman yang keras, menunjukan dominasi yang dimiliki.Namun, kedua satpam tak menghiraukan ancaman itu. Mereka dengan tegas meminta nyonya Margaret untuk keluar dari rumah sakit. Menunjukan kepatuhan mereka terhadap perintah yang diberikan oleh Bianca.“Nyonya, mohon maaf sebelumnya. Kami tidak ingin ada masalah. Jadi kami harap agar nyonya segera pergi dari rumah sakit ini, karena telah membuat kegaduhan,” ujar salah seorang satpam.Mendengar itu, nyonya Margaret kembali dibuat terkejut. Dia yang tak terima dengan perkataan salah seorang satpam, tentu menegaskan kembali siapa dirinya. Bahkan dia kembali mengancam akan menghubungi putranya Luke, agar kedua satpam itu segera diberhentikan dar

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   38

    Nyonya Margaret terlihat senang, saat berbincang dengan beberapa temannya di salah satu restoran di pusat kota.Dia nampak menikmati pembicaraan itu, sembari lahap dalam rasa manis akan pudding coklat yang disediakan di atas meja.Hanya saja, eskpresinya seketika berubah terkejut tatkala menerima sebuah pesan. Pesan itu berasal dari salah seorang pegawai yang bekerja di rumah sakit milik Luke putranya.Pegawai itu memberitahukan, jika saat ini Bianca telah kembali bekerja di rumah sakit. Sehingga nyonya Margaret yang membaca pesan itu, hanya bisa menahan emosi di depan teman-temannya.Dia tak ingin menunjukan emosinya itu, sehingga larut dalam nafas yang tak beraturan. Sangat ingin cepat-cepat menuju ke rumah sakit.Tak berselang lama, nyonya Margaret berpisah dengan teman-temannya. Dalam perpisahan itu, pengaturan untuk kembali bertemu dalam beberapa minggu mendatang kembali terlontar.“Iya ibu-ibu cantik, aku pergi duluan ya. Soalnya ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan. Sa

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   37

    Selama hampir satu minggu, Bianca terus menghindari Luke yang ngotot untuk memintanya bertemu.Hal itu dilakukan oleh Bianca sehubungan dengan sebuah rencana yang telah dia susun. Dia tahu betul, jika saat ini Luke benar-benar telah jatuh hati. Apa lagi telah berulang kali Luke datang rumah kontrakan, hanya untuk meminta maaf atas perbuatan yang tidak dia lakukan.Bahkan Luke melontarkan sebuah janji, akan memberikan apa pun yang Bianca pinta.Sehingga menggantung hati Luke, merupakan tindakan kecil dari tekat balas dendam yang tengah berjalan.Dan benar saja, Bianca yang tengah berbincang dengan dokter Antoni, tiba-tiba diberitahukan oleh bibi Sandra mengenai Luke yang kembali datang untuk meminta maaf.“Sudah saatnya kamu menyampaikan permintaan besar itu kepada Luke. Tapi sampaikanlah dengan sikap yang sedikit manja, namun terdengar tegas. Sehingga Luke permintaan itu tidak akan terkesan seperti pembodohan,” kata-kata itu datang dari dokter Antoni.Bianca yang mendengar itu, menund

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   36

    Plaaakkkkk!Sebuah tamparan yang keras menimbulkan suara tersendiri dalam ruangan yang seketika menjadi sepi.Bianca baru saja menerima tamparan yang keras dari nyonya Margaret. Membuat tubuhnya menegang dengan tatapan erat menatap nyonya Margaret. Pipinya memerah akibat tamparan yang keras itu, namun Bianca menutup rasa sakit itu dengan tangannya.“Kamu memang wanita tidak tahu diri ya? Padahal aku sudah mengingatkan kamu untuk menjauh dari keluargaku! Tapi kamu tetap saja keras kepala, bahkan menggoda anakku untuk diperkejakan di rumah sakit ini!” suara nyonya Margaret terdengar cukup keras, sehingga terdengar sampai ke ruangan sebelah.Tatapannya tajam, tak ingin memberikan celah bagi Bianca untuk melakukan pembelaan. Desakan keras dilayangkan, agar Bianca segera pergi dari rumah sakit, terlebih pergi menjauh dari keluarganya.“Kalau kamu tidak pergi dari tempat ini, aku akan melucuti semua pakaian yang menutupi tubuh mu itu! Aku tidak segan-segan untuk menghukum orang yang berani

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   35

    “Berani-beraninya anak itu membawa Bianca ke rumah sakit!”“Bianca masih terikat kontrak kerja dengan perusahaan selama enam bulan ke depan. Jadi anak itu tidak berhak untuk membawa Bianca keluar dari perusahaan.”Tuan Robin nampak begitu kesal dalam perjalanannya menuju ke perusahaan. Dia telah mengirimkan pesan sebanyak lima kepada Luke, namun, putranya itu tak memberikan balasan sama sekali.Tiga panggilan yang dilakukan tak mendapatkan respon sama sekali dari Luke. Sehingga tuan Robin segera menuju ke perusahaan, yakin jika putranya itu akan menuju ke perusahaan setelah beberapa hari tak menampakan batang hidung.Dan benar saja, setibanya tuan Robin di perusahan, dia akhirnya bertemu dengan Luke yang tengah berbincang dengan Tony.“Kamu ikut dengan ayah. Kita akan berbicara di ruangan ayah sekarang.” Ucap tuan Robin.Kali ini dia menurunkan emosinya, untuk melakukan pengaturan dengan Luke. Karena dia juga telah mendengar, jika putranya itu telah mempekerjakan Bianca di rumah sakit

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   34

    Luke berjalan bersama Bianca melewati para pegawai yang tunduk diam, namun sesekali pandangan mereka terarah menatap keduanya. Bahkan, tatapan mereka tak bergeser menatap Bianca dan Luke yang telah melewati mereka.Setibanya di area parkiran khusus, Luke dan Bianca melaju pergi meninggalkan perusahaan itu.“Aku akan membawamu ke tempat dimana proyekku sedang dijalankan. Kamu jangan khawatir, karena mamaku tidak akan bisa ikut campur jika sudah berkaitan dengan tempat itu.”Bianca semakin merasa penasaran setelah mendengar perkataan Luke barusan. Tak sabar untuk tiba di tempat yang dimasudkan oleh Luke.Hanya saja, dia tetap memainkan perannya. Dimana sifat manja mulai ditunjukan.“Tapi pak Luke, bagaimana dengan isteri pak Luke?” tanya Bianca dengan wajah yang murung.“Aku tidak mau di cap sebagai pelakor lagi. Karena niatku memang hanya datang untuk bekerja.” Lanjut Bianca yang menghela nafas panjang.Luke dengan wajah yang tegas, berjanji di depan Bianca jika isterinya tidak akan me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status