Share

6

Penulis: JeremiaCh
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-28 22:00:19

“Aku tidak tahu dengan kematian ibumu. Jadi tolong jangan membentakku.”

“Kedatanganku berkaitan dengan perintah dari nyonya Margaret, yang hanya ingin memastikan bahwa kamu dalam keadaan baik-baik saja.”

Setelah ucapannya barusan, Lidya langsung memberikan amplop berisi uang sebesar sepuluh juta untuk Veren. Lidya turut mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya ibu dari Veren.

Veren yang menerima amplop itu, hanya bisa duduk terdiam di temani kedua sahabatnya. Pikirannya benar-benar kacau, merasa tak sanggup menghadapi cobaan yang terus berganti menghampiri dirinya.

Apa lagi saat ini, Velove tidak mau berbincang dan seakan memandang Veren bukan lagi kakaknya.

“Kalau gak ada hukum di dunia ini, aku sudah menampar wanita tadi demi kamu Veren! Aku benar-benar kesal melihat wajah orang itu, yang seakan tak memiliki kepeduliaan dengan masalah yang menimpa dirimu.”

“Peluk sayang untuk kamu ya … aku dan Ella gak bakalan ninggalin kamu kok.” Seiring dengan ucapannya barusan, Prilly langsung memeluk Veren menunjukan kepedulian terhadap sahabatnya itu.

Tak mau ketinggalan, Ella turut larut dalam pelukan yang sama. Mereka berdua tahu betul, betapa sakitnya perasaan Veren saat ini. Sehingga tak sedikitpun terbesit niat untuk meninggalkan Veren.

Sedangkan Lidya yang kini berada di parkiran rumah sakit, segera melaporkan kepada nyonya Margaret mengenai Veren yang sedang berduka.

“Jadi ibunya meninggal setelah mengetahui kehamilan Veren?” tanya nyonya Margaret yang ingin kembali memastikan informasi yang disampaikan oleh Lidya.

Dan sekali lagi, Lidya membenarkan hal tersebut. “Benar nyonya … aku mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit, jika ibunya Veren mengalami serangan jantung setelah tahu jika Veren hamil.”

“Dan setelah mendapatkan perawatan medis beberapa saat, ibunya Veren pada akhirnya meninggal akibat gagal jantung.”

Nyonya Margareth yang mendengar kabar tentang kematian ibunya Veren dari Lidya, sejenak terkejut dengan mata yang melebar. Namun, eskpresinya segera berubah dingin, tak ada sedikitpun kerutan dahi atau lirikan belasungkawa.

Tangannya yang semula menggenggam gelas berhenti sejenak, lalu perlahan ia letakan kembali tanpa suara. Di balik bibirnya yang tertutup rapat, ia menyembunyikan niat lain.

Dimana fokus nyonya Margareth saat ini tetap sama, yakni menekan Veren agar memilih mengguggurkan bayi yang dikandungnya. Wajahnya kaku, menandakan tekad yang tak akan goyah meski badai duka sedang menerpa Veren.

“Kematian ibumu adalah urusanmu, dan urusanku adalah menjamin nama baik keluargaku agar tidak dipandang buruk oleh masyarakat.” Gumam nyonya Margaret.

Beberapa setelah pemakaman ibunya, Veren masih tenggelam dalam duka yang pekat. Namun, kesedihannya tak sempat berlama-lama.

Di tengah duka itu, tekanan dari nyonya Margareth kembali menghiasi pikiran Veren. Masih dengan tekanan yang sama, nyonya Margareth meminta Veren untuk mengguggurkan anak dalam kandungannya, tanpa ada sedikitupun empati di tengah-tengah suasana duka yang Veren alami.

Veren menggigit bibir, napasnya tersengal. Tatapannya kosong, namun dadanya berdeba tak henti. Rasa tertekan yang tak berkesudahan menyergap, membuat air mata menggenang di ujung matanya.

“Aku harus kuat untuk menghadapi hal ini. Aku harus bertemu dengan tuan ayahnya Luke!” gumam Veren, yang memiliki tekad untuk tidak lagi mendapatkan tekanan dari keluarga Perez-Giani.

Veren berencana untuk berbincang dengan tuan Robin, meminta kepada tuan Robin agar isterinya tidak lagi menganggu. Bahkan Veren akan menjelaskan keinginannya yang tidak akan menggugurkan anak dalam kandungan, dan akan tetap mengurus anak itu saat lahir nanti meski tanpa campur tangan Luke maupun keluarga Perez-Giani.

Keinginannya saat ini, hanyalah ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang nyonya Margareth.

Veren segera bergegas untuk menuju ke kantor walikota, tak lupa dia menghubungi kedua sahabatnya untuk menemani perjalanannya yang kemungkinan besar akan menghadapi tekanan yang berat, jika sampai nyonya Margaret turut berada di kantor walikota.

Beberapa saat kemudian, Veren dan kedua sahabatnya telah berada di depan kantor walikota.

Veren memberanikan diri untuk bertemu dengan tuan Robin, dimana keinginannya utnuk bertemu harus melalui satpam yang berjaga. Dan beberapa menit berlalu, akhirnya Veren diizinkan untuk masuk ke dalam kantor untuk bertemu dengan tuan Robin.

Namun, saat Veren melangkah masuk ke ruang kerja tuan Robin, dada berdebar begitu matanya menangkap sosok nyonya Margareth yang tengah duduk tenang di sana. Ia tak menyangka menemukan mereka berdua bersama, padahal rencanannya hanya ingin bicara langsung dengan tuan Robin.

Napasnya tertahan sesaat, tapi ia menelan gugup itu, menguatkan hati. Meski tatapan nyonya Margareth bak seekor singa yang sewaktu-waktu hendak menerkam sang mangsa.

Sedangkan tuan Robin dengan senyum kecil segera mempersilahkan Veren untuk duduk. “Veren, kebetulan kamu memang sudah datang sendiri kesini. Karena aku memang berencana untuk bertemu langsung denganmu, hendak membicarakan mengenai hubungan kamu dengan putraku Luke.”

“Silahkan disampaikan apa yang ingin kamu sampaikan.” Ucap tuan Robin yang terlihat lebih lembut, ketimbang nyonya Margareth saat menghadapi Veren.

Dengan helaan napas yang panjang, dan suara yang sedikit gemetar, Veren segera menyampaikan maksud kedatangannya dengan berkata, “aku mohon, agar keluarga Perez-Giani tidak lagi memintaku menggugurkan anak dalam kandunganku ini.”

“Aku tidak masalah meski harus mengurus anak ini sendiri nantinya, tanpa ada campur tangan dari Luke. Aku benar-benar gak mau jadi seorang pembunuh, jadi aku mohon permintaanku ini dipertimbangkan oleh tuan walikota dan nyonya Margaret.”

“Aku mohon …” wajah Veren menahan segala rasa takut dan malu, namun tekadnya terpancar jelas dalam kata-katanya.

Meyakini, jika tuan Robin akan memiliki kepedulian yang lebih besar ketimbang nyonya Margareth.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   39

    “Kalian mau apa? Kalian mau menyeretku keluar? Apa kalian berdua mau saya pecat!” ucap nyonya Margaret yang terlihat begitu emosi.Dia tak menyangka, jika kedua satpam yang bekerja di rumah sakit milik anaknya, malah menunjukan sikap untuk menyeret dia keluar. Sehingga nyoya Margaret mengeluarkan ancaman yang keras, menunjukan dominasi yang dimiliki.Namun, kedua satpam tak menghiraukan ancaman itu. Mereka dengan tegas meminta nyonya Margaret untuk keluar dari rumah sakit. Menunjukan kepatuhan mereka terhadap perintah yang diberikan oleh Bianca.“Nyonya, mohon maaf sebelumnya. Kami tidak ingin ada masalah. Jadi kami harap agar nyonya segera pergi dari rumah sakit ini, karena telah membuat kegaduhan,” ujar salah seorang satpam.Mendengar itu, nyonya Margaret kembali dibuat terkejut. Dia yang tak terima dengan perkataan salah seorang satpam, tentu menegaskan kembali siapa dirinya. Bahkan dia kembali mengancam akan menghubungi putranya Luke, agar kedua satpam itu segera diberhentikan dar

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   38

    Nyonya Margaret terlihat senang, saat berbincang dengan beberapa temannya di salah satu restoran di pusat kota.Dia nampak menikmati pembicaraan itu, sembari lahap dalam rasa manis akan pudding coklat yang disediakan di atas meja.Hanya saja, eskpresinya seketika berubah terkejut tatkala menerima sebuah pesan. Pesan itu berasal dari salah seorang pegawai yang bekerja di rumah sakit milik Luke putranya.Pegawai itu memberitahukan, jika saat ini Bianca telah kembali bekerja di rumah sakit. Sehingga nyonya Margaret yang membaca pesan itu, hanya bisa menahan emosi di depan teman-temannya.Dia tak ingin menunjukan emosinya itu, sehingga larut dalam nafas yang tak beraturan. Sangat ingin cepat-cepat menuju ke rumah sakit.Tak berselang lama, nyonya Margaret berpisah dengan teman-temannya. Dalam perpisahan itu, pengaturan untuk kembali bertemu dalam beberapa minggu mendatang kembali terlontar.“Iya ibu-ibu cantik, aku pergi duluan ya. Soalnya ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan. Sa

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   37

    Selama hampir satu minggu, Bianca terus menghindari Luke yang ngotot untuk memintanya bertemu.Hal itu dilakukan oleh Bianca sehubungan dengan sebuah rencana yang telah dia susun. Dia tahu betul, jika saat ini Luke benar-benar telah jatuh hati. Apa lagi telah berulang kali Luke datang rumah kontrakan, hanya untuk meminta maaf atas perbuatan yang tidak dia lakukan.Bahkan Luke melontarkan sebuah janji, akan memberikan apa pun yang Bianca pinta.Sehingga menggantung hati Luke, merupakan tindakan kecil dari tekat balas dendam yang tengah berjalan.Dan benar saja, Bianca yang tengah berbincang dengan dokter Antoni, tiba-tiba diberitahukan oleh bibi Sandra mengenai Luke yang kembali datang untuk meminta maaf.“Sudah saatnya kamu menyampaikan permintaan besar itu kepada Luke. Tapi sampaikanlah dengan sikap yang sedikit manja, namun terdengar tegas. Sehingga Luke permintaan itu tidak akan terkesan seperti pembodohan,” kata-kata itu datang dari dokter Antoni.Bianca yang mendengar itu, menund

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   36

    Plaaakkkkk!Sebuah tamparan yang keras menimbulkan suara tersendiri dalam ruangan yang seketika menjadi sepi.Bianca baru saja menerima tamparan yang keras dari nyonya Margaret. Membuat tubuhnya menegang dengan tatapan erat menatap nyonya Margaret. Pipinya memerah akibat tamparan yang keras itu, namun Bianca menutup rasa sakit itu dengan tangannya.“Kamu memang wanita tidak tahu diri ya? Padahal aku sudah mengingatkan kamu untuk menjauh dari keluargaku! Tapi kamu tetap saja keras kepala, bahkan menggoda anakku untuk diperkejakan di rumah sakit ini!” suara nyonya Margaret terdengar cukup keras, sehingga terdengar sampai ke ruangan sebelah.Tatapannya tajam, tak ingin memberikan celah bagi Bianca untuk melakukan pembelaan. Desakan keras dilayangkan, agar Bianca segera pergi dari rumah sakit, terlebih pergi menjauh dari keluarganya.“Kalau kamu tidak pergi dari tempat ini, aku akan melucuti semua pakaian yang menutupi tubuh mu itu! Aku tidak segan-segan untuk menghukum orang yang berani

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   35

    “Berani-beraninya anak itu membawa Bianca ke rumah sakit!”“Bianca masih terikat kontrak kerja dengan perusahaan selama enam bulan ke depan. Jadi anak itu tidak berhak untuk membawa Bianca keluar dari perusahaan.”Tuan Robin nampak begitu kesal dalam perjalanannya menuju ke perusahaan. Dia telah mengirimkan pesan sebanyak lima kepada Luke, namun, putranya itu tak memberikan balasan sama sekali.Tiga panggilan yang dilakukan tak mendapatkan respon sama sekali dari Luke. Sehingga tuan Robin segera menuju ke perusahaan, yakin jika putranya itu akan menuju ke perusahaan setelah beberapa hari tak menampakan batang hidung.Dan benar saja, setibanya tuan Robin di perusahan, dia akhirnya bertemu dengan Luke yang tengah berbincang dengan Tony.“Kamu ikut dengan ayah. Kita akan berbicara di ruangan ayah sekarang.” Ucap tuan Robin.Kali ini dia menurunkan emosinya, untuk melakukan pengaturan dengan Luke. Karena dia juga telah mendengar, jika putranya itu telah mempekerjakan Bianca di rumah sakit

  • BALAS DENDAM Menantu Dua Miliar   34

    Luke berjalan bersama Bianca melewati para pegawai yang tunduk diam, namun sesekali pandangan mereka terarah menatap keduanya. Bahkan, tatapan mereka tak bergeser menatap Bianca dan Luke yang telah melewati mereka.Setibanya di area parkiran khusus, Luke dan Bianca melaju pergi meninggalkan perusahaan itu.“Aku akan membawamu ke tempat dimana proyekku sedang dijalankan. Kamu jangan khawatir, karena mamaku tidak akan bisa ikut campur jika sudah berkaitan dengan tempat itu.”Bianca semakin merasa penasaran setelah mendengar perkataan Luke barusan. Tak sabar untuk tiba di tempat yang dimasudkan oleh Luke.Hanya saja, dia tetap memainkan perannya. Dimana sifat manja mulai ditunjukan.“Tapi pak Luke, bagaimana dengan isteri pak Luke?” tanya Bianca dengan wajah yang murung.“Aku tidak mau di cap sebagai pelakor lagi. Karena niatku memang hanya datang untuk bekerja.” Lanjut Bianca yang menghela nafas panjang.Luke dengan wajah yang tegas, berjanji di depan Bianca jika isterinya tidak akan me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status