LOGINRuang kerja Ayahanda, Kepala Wangsa Kaira, terasa padat oleh ketegangan seperti udara malam sebelum badai. Cahaya lampu minyak menari di atas meja mahoni yang dipenuhi peta militer, namun suasananya jauh dari taktik perang biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana hari itu—sejenis kebenaran yang selama ini terkubur.
Valerian duduk di samping Tuan Kaira, menampilkan senyum yang tampak sopan tetapi kaku. Elara, yang berdiri sedikit di belakang Ayahandanya, melihat urat tipis di pelipis pria itu berdenyut setiap kali nama “Orion” disebut. Itu saja sudah cukup menunjukkan bahwa ia tidak menyukai pertemuan ini. Ketukan berat terdengar di pintu. Jenderal Orion memasuki ruangan dengan langkah tegas. Meski rambutnya memutih, tatapannya tetap setajam saat ia memimpin peperangan. Ia menunduk hormat kepada Tuan Kaira dan Elara, namun ketika tatapannya jatuh pada Valerian, udara di ruangan seketika mengeras. “Yang Mulia,” Orion menyapa tanpa senyum. Valerian membalas dengan ramah palsu. “Saya kira Anda menikmati masa pensiun Anda.” “Saya tidak pernah pensiun dari kewarasan,” Orion menjawab tenang. Tuan Kaira tertawa puas. “Itu sebabnya aku mengundangmu kembali. Lihat proyek benteng timur ini dan katakan pendapatmu.” Orion menatap peta berlapis cat merah itu beberapa detik. Lalu ia berkata pelan, tetapi tegas, “Proyek ini adalah jebakan. Seseorang sengaja memindahkan pusat pertahanan untuk melemahkan istana.” Valerian menahan napas. Tuan Kaira mencondongkan tubuh. “Kau yakin?” “Sangat.” Orion menunjuk garis busur merah di peta. “Jika musuh menyerang dari pusat, istana jatuh dalam satu malam. Dan ini… bukan kesalahan. Ini kesengajaan.” Elara menahan napas. Kata “sengaja” itu terasa seperti membuka pintu kegelapan baru. Tuan Kaira mengangguk berat. “Jika begitu, proyek ini dibekukan.” Valerian menggeser rahangnya, menunduk sopan. Tetapi Elara melihat sesuatu di balik matanya—kemarahan yang diwarnai ketakutan. Pertemuan selesai, namun Elara tetap tinggal sebentar. Orion menatapnya tajam. “Kau tahu siapa yang memindahkan anggaran itu, kan?” Elara tidak menjawab. Orion menambahkan pelan, “Hati-hati. Beberapa orang lebih berbahaya ketika merasa terancam.” Kalimat itu mengikuti Elara keluar ruangan seperti bayangan yang tak mau hilang. --- Malam itu, di taman belakang istana yang sunyi, Elara berdiri sendiri sambil merasakan dinginnya udara malam menembus kulitnya. Setiap kata Orion berputar di kepalanya. Jika Valerian memang sengaja memanipulasi anggaran, maka ia bukan sekadar politisi ambisius. Ia adalah ancaman. Dan seseorang seperti itu… harus dihadapi dengan strategi, bukan keberanian kosong. “Elara.” Suara lembut memecah keheningan. Lord Kael muncul dari balik gazebo, mengenakan pakaian sederhana namun tetap berwibawa. Pria itu pernah menjadi teman diskusi Ayah beliau, dan kini menjadi salah satu bangsawan independen yang jarang memihak. “Aku menerima pesanmu,” Kael berkata perlahan. “Kau butuh seseorang untuk mengawasi Tuan Han?” Elara menatapnya serius. “Aku butuh lebih dari itu. Aku butuh mata-mata diam yang Valerian tidak curigai.” Kael tersenyum samar, seolah menebak arah pikiran Elara. “Kau ingin mulai bergerak.” “Ya,” jawab Elara. “Tapi secara perlahan. Valerian terlalu berbahaya jika tahu aku sudah menyadarinya.” Kael menunduk hormat. “Maka aku akan menjadi bayanganmu.” Elara menarik napas panjang. Pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dirinya bukan lagi anak perempuan yang terlindungi oleh ayahnya, melainkan sosok yang harus melindungi keluarganya. “Kael,” katanya pelan, “terima kasih.” Dan malam itu, sebuah aliansi baru lahir—perlahan, senyap, mematikan.Enam bulan ketenangan pasca penobatan Kaisar Kenzo terasa seperti kedamaian palsu di tengah badai. Elara telah memenangkan perang internal, tetapi ia tahu bahwa stabilitas Kekaisaran yang baru dibangunnya akan segera diuji oleh dunia luar. Pagi itu, Aula Penasihat Agung terasa dingin dan formal. Cahaya pagi menyaring melalui jendela kaca patri, menerangi ketegangan di wajah para pemimpin Kekaisaran. Kaisar Kenzo, meskipun jujur dan baik hati, tampak cemas, sesekali meremas tangannya yang diletakkan di atas meja marmer. Tuan Kaira terlihat waspada, sementara Lord Kael duduk di sudut, auranya tenang namun tajam. "Laporan darurat dari Pintu Utara, Yang Mulia Permaisuri," kata kurir Jenderal Orion, menyerahkan gulungan berlambang api. "Pasukan Kerajaan Xiong telah melanggar perjanjian lama. Mereka telah menguasai tiga pos perbatasan kecil kita dan mengklaim bahwa tanah itu adalah milik mereka, karena 'Kaisar baru tidak mengakui perja
Gema Kekejian di CelahMalam di Celah Pegunungan Timur terasa mencekam dan dingin, tetapi di atas Tembok Naga, ada ketegangan yang lebih panas daripada api. Pasukan Kekaisaran, dipimpin oleh Jenderal Lio, berdiri siap, memegang senjata yang terasa tak berarti melawan monster dalam legenda.Kael berada di garis depan, di pusat kendali, memantau sistem Meriam Akustik dan Senjata Asam. Ia bisa merasakan kebencian yang terpancar dari kegelapan. Elara, di Pusat Komando rahasia, memimpin 20 siswa elit Akademi, termasuk Lena. Merekalah satu satu nya pertahanan sihir spiritual Kekaisaran.Di kegelapan, genderang perang tradisional Raja Naga Hitam tidak terdengar, tetapi suara lain yang jauh lebih menakutkan menguasai celah: deru rendah, gerutuan seragam, dan hentakan kaki tanpa ritme manusia yang datang dari gunung.Kael mengangkat teleskop sihir nya. Ia melihat Pasukan Super Fanatik: makhluk humanoid, tinggi, dengan otot-otot yang menggembung tidak wajar, kulit keungua
Ancaman yang Melampaui PerangKemenangan diplomatik atas Kerajaan Xiong hanya memberikan sedikit kelegaan bagi Elara dan Kael. Ancaman dari Daratan Tinggi, yang kini dipimpin oleh Raja Naga Hitam yang gila sihir, jauh lebih mendesak dan mengerikan.Laporan tentang Rekayasa Sihir Genetik pada pasukan Raja Naga Hitam bukanlah rumor; itu adalah konfirmasi kembalinya praktik sihir gelap yang dilarang ribuan tahun lalu. Pasukan ini, yang kebal terhadap rasa sakit dan didorong oleh fanatisme kultus yang ekstrem, tidak dapat dihentikan oleh meriam konvensional atau bahkan Tembok Naga yang diperkuat."Jika laporan ini benar, prajurit biasa kita akan hancur dalam pertarungan satu lawan satu. Kita akan mengirim mereka ke tempat pembantaian," kata Jenderal Lio, suaranya dipenuhi ketakutan yang langka.Kael, sebagai Kepala Strategi, memiliki tanggung jawab untuk menemukan cara untuk menghentikan mereka secara fisik, sementara Elara harus mencari penangkal spiritual.🔬
Ancaman di Lautan EsMeskipun Kekaisaran telah mengalahkan Atlantis dan Daratan Tinggi dalam pertempuran langsung, ancaman terdekat dan paling mengkhawatirkan datang dari sekutu mereka yang paling tidak stabil: Kerajaan Xiong. Laporan intelijen Kael mengenai pembangunan Armada Penyerang Es di Laut Utara membuktikan bahwa Raja Lu Xiong tidak mempercayai janji damai Wangsa Kaira.Armada Es ini dirancang untuk berlayar menembus rute laut yang ditutupi es tebal di musim dingin—jalur yang selama ini dianggap mustahil dan tidak dapat dijaga oleh Kekaisaran. Tujuannya adalah melancarkan serangan kejutan langsung ke pelabuhan utara Kekaisaran, memanfaatkan kelemahan Kekaisaran di perairan dingin."Raja Lu melihat kita berbagi teknologi pertahanan (Tembok Naga) dan bukan teknologi serangan (Kapal Baja dan Meriam)," analisis Kael kepada Elara. "Dia melihat kita sebagai kekuatan darat yang lemah di laut utara. Dia mencoba memeras kita atau menyerang saat kita lengah."Elar
Periode Emas dan Penciptaan WarisanKemenangan dramatis Elara di Tembok Naga (melawan Daratan Tinggi) dan di garis pantai (melawan Atlantis) membawa Kekaisaran ke era damai dan stabilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Elara, kini Wali Kaisar Berkuasa Penuh, bersama Adipati Wali Kael, fokus sepenuhnya pada pekerjaan yang paling penting: menciptakan warisan yang abadi.Mereka menyadari bahwa kemenangan militer dan politik hanya bersifat sementara. Warisan sejati adalah sebuah sistem yang akan menjaga Kekaisaran tetap kuat dan adil setelah mereka tiada.Langkah pertama mereka, dan yang paling revolusioner, adalah merealisasikan janji yang dibuat kepada rakyat: menciptakan Akademi Kekaisaran, Pilar Meritokrasi.Akademi Kael dan Elara: Meruntuhkan Kelas SosialAkademi Kekaisaran dirancang sebagai pusat pelatihan elit yang sepenuhnya berdasarkan meritokrasi. Tujuannya adalah untuk melatih generasi baru administrator, insinyur, dan komandan yang memiliki ke
Peringatan Terakhir di Garis Pantai Seluruh Kekaisaran diselimuti ketegangan, meskipun rakyat hanya mengetahui "Latihan Militer skala besar." Kael telah mengumumkan pengerahan besar-besaran di sepanjang garis pantai, termasuk senjata sihir angin eksperimental, sebagai persiapan menghadapi ancaman Kerajaan Atlantis yang datang dari laut dalam. Elara dan Kael berada di pantai rahasia yang terpencil, dekat dengan lokasi di mana Kael mendirikan garis pertahanan utama. Senjata sihir angin Kael—meriam besar yang dirancang untuk memanipulasi tekanan atmosfer—diposisikan di belakang bukit pasir. Elara telah mencapai kondisi spiritual puncak untuk melaksanakan Ritual Pengikat Lautan. "Mereka datang," kata Elara, tanpa melihat teleskop. Dia hanya merasakan energi lautan yang gelisah. "Bukan gelombang pasang, Kael. Mereka datang di bawah air, membawa kebencian dari kedalaman." Tiba-tiba, permukaan laut yang semula tenang, mulai meman







