Home / Fantasi / BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR / 10. TRATEGI DAN MANIPULASI

Share

10. TRATEGI DAN MANIPULASI

Author: Lampard46
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-25 20:13:54

Tak mau kalah, Bonaga akhirnya angkat bicara demi menunjukkan taringnya. "Hanya ada dua akses dari Kota Sibalga menuju Pegunungan Desa Parombunan ini," sahutnya sambil mengelus jenggotnya yang mulai memutih, mencoba berlagak bijaksana.

"Pertama adalah jalan utama, yang cukup lebar untuk dilewati dua gerbong secara sejajar. Kedua adalah jalan tikus yang melintasi ngarai sempit di tengahnya. Aku rasa kita bisa menyergap mereka di sana. Namun masalahnya... bagaimana kita tahu jalan mana yang akan mereka ambil?"

Mendengar itu, aku teringat satu hal: atribut tersembunyi milik pak tua korsleting ini adalah 'Tanpa Solusi'. Jika aku mengikuti idenya, itu adalah resep menuju kehancuran. Mendengarkannya hanya akan membawa kerugian besar.

Namun, aku berusaha menahan diri agar tidak menyinggungnya. Aku harus memberinya sedikit "muka" agar dia merasa dihargai. "Terserah padamu, Bonaga Tua. Menurut perhitungan hebatmu, jalan mana yang akan mereka pilih?"

"Tentu saja jalan utama!" jawab Bonaga dengan nada tenang dan yakin, layaknya seorang ahli strategi kelas dunia.

"Hehehe... Bagus. Sekarang aku tahu ke mana kita harus pergi," sahutku sambil tersenyum lebar. Aku sengaja memujinya agar dia merasa berguna bagi desa ini.

Bagaimanapun, aku sedang krisis sumber daya manusia. Aku harus mempertahankan orang tua bodoh ini sebisa mungkin. Jika dia sampai kabur ke kota, dia akan menjadi bencana berjalan bagiku; dia tahu setiap seluk-beluk desa ini dan memiliki pengaruh di tempat asalnya. Aku tidak boleh membiarkan musuh mendapatkan informasi darinya.

Melihatku terdiam sejenak, Bonaga kembali mencoba memutar otaknya yang terbatas itu.

"Menurutmu, bisakah kita selamat dari krisis ini?" tanyaku kemudian, sembari menyeruput kopi panas yang baru saja disajikan oleh Butet. uapnya mengepul, memberikan sedikit ketenangan di tengah ketegangan.

Bonaga menatapku—yang kini ia panggil sebagai Raja Doli—dengan wajah serius dan ekspresi yang gelap gulita. "Aku tidak ingin berbohong kepada Bos Besar. Menurutku, ini adalah mission impossible. Hanya James Bond yang bisa selamat dari situasi gila ini," sahutnya tanpa sisa harapan sedikit pun.

Mendengar pengakuan dari si "Ahli Terbalik" ini, aku justru tersenyum lebar. Rasa tenang tiba-tiba menyelimuti hatiku.

"Awalnya aku memang ragu," ucapku mantap. "Tapi sekarang, aku akhirnya menemukan solusi dan kemantapan hati untuk mengambil langkah selanjutnya."

Aku menunjukkan ekspresi penuh keyakinan tanpa keraguan sedikit pun. Bakat bawaan si Bonaga Tua ini ternyata sungguh luar biasa! Bisa dikatakan, kemampuan "sialan" miliknya adalah senjata super bagiku untuk mengeliminasi pilihan yang salah. Jika dia bilang kita akan mati, itu artinya jalan menuju kemenangan sudah terbuka lebar di depan mata!

Setelah mematangkan rencana besar di kepala, aku melangkah menuju kamarku sambil membawa nampan berisi makanan untuk Nona Boru Sinaga.

"Nona Sin! Makan malammu sudah tiba," seruku sambil membuka pintu.

Gadis cantik itu langsung duduk tegap begitu aku masuk. Mata dan ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut—sebuah ketenangan yang justru membuatnya tampak lebih berwibawa. Melihat keanggunannya dari dekat kembali membuatku terpaku. Tatapannya begitu jernih, bersih, dan memancarkan ketenangan yang menghanyutkan.

Namun, di tengah kekaguman itu, tiba-tiba sebuah bisikan gelap merasuki pikiran dan hatiku.

"Dia milikmu... hanya milikmu," suara itu bergema di dalam batin. "Di rumah ini, di ruangan ini, kau bebas melakukan apa pun padanya!"

Aku tersentak, mencoba sekuat tenaga melawan kehendak tubuh yang kini kutempati. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah pria yang menjunjung tinggi moral dan tak pernah melanggar batas. Tapi kenapa... kenapa begitu aku berada di lingkungan tanpa hukum seperti ini, pikiran jahat itu justru tumbuh subur di hatiku?

Apakah ini murni sisa-sisa hasrat asli dari pemilik tubuh sebelumnya? Ataukah karena insting laki-lakiku telah menjadi liar setelah sekian lama tidak merasakan sentuhan seorang istri?

Aku menatapnya dengan penuh gejolak. Jika aku berani melangkahi garis merah dan menghancurkan batas moral ini, aku takut akan terjatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berujung.

Di tengah pergolakan batinku, sang Dewi Celestial kembali muncul dengan aura cahayanya yang tenang.

[Misi Baru Terpicu: Penaklukan Hati Tahap II] Tugas: Gunakan cara yang lembut untuk memikat hati Nona Uli Sinaga. "Wahai pemuda saleh, karena kau memiliki nurani yang terjaga, kau berhak mendapatkan tugas ini. Pria sejati harus memiliki ambisi menguasai dunia, namun juga harus punya kelembutan untuk meluluhkan hati wanita. Berjuanglah! Aku akan menjadi saksi bisu dari titipan doa-doa istrimu yang mengharapkan kejayaanmu di dunia ini..."

Suara itu menghilang, meninggalkan kehangatan yang meredam pikiran jahatku. Aku menarik napas dalam, lalu mencoba tersenyum selembut mungkin untuk mencairkan suasana. Aku akui, dalam hal merayu wanita, aku benar-benar amatir.

"Malam yang panjang," sapaku memulai basa-basi. "Kupikir hanya aku yang terjaga di sini. Ternyata Nona Sinaga juga tidak bisa memejamkan mata."

Nona Sinaga menatapku. Alih-alih membalas sapaanku, ia justru bicara dengan nada yang tenang namun berwibawa.

"Aku adalah putri dari Aliansi Tujuh Perdagangan Kerajaan Tapanuli Utara. Jika kau bersedia melepaskanku, aku menjamin kau akan mendapatkan emas yang cukup untuk memperbaiki bentengmu yang hampir roboh ini," ucapnya tegas.

Suaranya begitu merdu, namun aku bisa merasakan semacam kekosongan di balik pandangan matanya yang jernih.

"Saat ini, aku masih berstatus sebagai calon istri penguasa Kota Sibalga," lanjutnya sambil menunduk. "Aku tidak perlu mengingatkanmu seberapa besar risiko yang harus kau tanggung jika menyakitiku. Sebagai pemimpin desa, kau pasti sudah mengerti konsekuensinya."

Ia mengatakannya bukan dengan nada mengancam, melainkan seperti seseorang yang pasrah—seolah ia tidak ingin orang yang telah menculiknya ikut hancur dalam konflik yang menurutnya tak terhindarkan.

 Aku tersenyum tipis, mencoba menjaga wibawa. "Jangan salah paham, Nona. Aku akui kecantikanmu sulit dilukiskan dengan kata-kata. Namun, alasan aku merampokmu murni karena penguasa Kota Sibalga adalah musuh bebuyutanku. Dia telah membunuh ayahku dan merenggut masa mudaku," ujarku, mengarang alasan yang terdengar heroik.

Sebenarnya, itu hanya bualan. Awalnya aku hanya berniat merampok uang dan makanan demi menyelesaikan misi sistem. Namun, karena target aslinya mustahil, misi tersembunyi malah memintaku menculik nona cantik ini—yang jujur saja, sempat membuat hatiku bergetar.

"Begitu masalah ini selesai, aku berjanji akan mengembalikan Nona Uli Sinaga dengan selamat!" seruku mantap, mencoba meyakinkannya. Itu adalah janji sekaligus basa-basi taktis; aku ingin dia melihat betapa keren dan layaknya aku menjadi pelindungnya, jauh lebih baik daripada pria bajingan dari Sibalga itu.

Nona Uli menatapku lurus-lurus. "Bohong," ucapnya singkat.

"Kau memiliki keserakahan dan keinginan yang sama dengan pria lainnya. Itu terlihat jelas di matamu. Kau tidak ada bedanya," lanjutnya dengan nada datar. Tatapannya begitu murni, namun pandangannya sinis dan tajam, seolah ia bisa membaca isi kepala seluruh pria di dunia ini.

"Aku hanya ingin berpesan: jangan sakiti aku secara fisik. Jika kau menginginkan hal lain, kita bisa mendiskusikannya terlebih dahulu," tambahnya, seakan sudah paham ke mana arah pembicaraanku yang sedang mencoba menggaet hatinya.

Sontak, aku merasa tertelanjang di hadapannya. Karena penasaran, aku segera mengaktifkan status bar milik gadis ini:

[Status Karakter] Nama: Uli Sinaga

Umur: 16 Tahun

Keahlian: Tidak ada (Gadis biasa yang sangat rupawan)

Atribut Tersembunyi: Intuisi Absolut (Sadar akan segala niat dan kebenaran di sekitarnya).

Aku menghela napas panjang. Sial, ternyata aku berhadapan dengan wanita yang tidak bisa ditipu. Tapi ini justru membuatnya semakin menarik. Aku akan mencoba lebih keras lagi!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   124. Bayang-Bayang Kavaleri Tamiang

    Di lereng pegunungan yang menghubungkan Kota Sibalga menuju Pegunungan Parombunan, rombongan itu bergerak membelah sunyi. Raja Doli berkuda dengan suhu tubuh yang masih terasa panas membara—sisa energi dari pertarungan hebat tadi—sementara para bawahannya mengikuti dari belakang, mencoba menikmati semilir angin pegunungan yang bertiup sepoi-sepoi namun membawa rasa dingin yang nyaris tak tertahankan.Di sepanjang jalan, Raja Doli menatap lurus ke depan, sesekali mendongak ke langit yang luas, merenungi rangkaian kejadian gila yang baru saja ia lalui. Rasa penasaran akhirnya memuncak, ia menoleh ke arah pemuda gagah yang berkuda di sampingnya."Zilong, orang yang kau cari... apa itu Liu Bei Tiga Bersaudara?" tanya Raja Doli memecah keheningan."Tentu saja!" jawab Zilong singkat, namun penuh keyakinan."Bagaimana kalian bisa bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya?" Raja Doli bertanya lagi.Meskipun ia tahu sejarah besar Daratan Cina tentang persaudaraan Liu-Guan-Zhang dan kesetiaa

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   123. Keadilan di Atas Jembatan Sibalga

    Ketegangan di atas jembatan itu mencapai puncaknya. Jadin, yang sudah sekarat dan bersimbah darah, masih saja mencoba mempertahankan egonya yang hancur."Dan sebagainya... Apa kau percaya pada keadilan?" Raja Doli mengulangi pertanyaannya. Kali ini, suaranya tidak lagi gemetar; aura yang menggebu-gebu keluar dari tubuhnya, menekan udara di sekitar jembatan hingga terasa menyesakkan."Uhuk...!" Po Jadin terbatuk darah, namun ia masih memaksakan diri untuk bertumpu pada lututnya yang gemetar. Ia mencoba bangkit dari keterpurukan untuk yang kesekian kalinya, sebuah sisa-sisa harga diri dari seorang penguasa bar-bar.Raja Doli menatapnya dengan pandangan menghina. "Gelar Serigala di pundakmu memang tidak sia-sia, Jadin. Tapi hari ini, aku akan memberimu kehormatan baru: seekor harimau yang ditebas mati. Kau seharusnya bangga, gelarmu naik tingkat tepat di saat ajal menjemputmu. Lihatlah dunia untuk terakhir kalinya..."

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   122. Penghakiman Terakhir: Sang Bandit Menjadi Hakim

    Suasana di atas jembatan yang hancur itu mencekam. Angin berembus kencang, membawa aroma besi dan darah yang beradu di udara. Di tengah jembatan tanpa pagar yang tersisa, Raja Doli dan Meurah Po Jadin—sang Kesatria Serigala—saling mengunci pandangan."Berjuanglah, kawan...!" seru Zilong dari kejauhan, suaranya teredam oleh dentuman langkah kuda yang menjauh, meninggalkan dua petarung itu dalam duel penentuan nasib dan kehormatan.Raja Doli memantapkan kakinya. Keraguan di matanya kini perlahan memudar, berganti dengan api tekad yang menyala. Ia sadar, pedang miliknya adalah satu-satunya jalan untuk menebus harga diri yang sempat terinjak.Hah.... Raja Doli membuang napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Di sisi lain, Po Jadin terlihat menahan perih yang luar biasa. Lengannya yang terluka parah terus mengucurkan darah segar yang membasahi lantai jembatan, namun cengkeramannya pada gagang Storm A

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   121. Badai di Sibalga: Kebangkitan Sang Bandit

    Di tempat lain, Bangsa Tamiang sudah mengejar para pasukan dan para sukarelawan dari Kota Sibalga, dan melarikan diri ke segala arah.Mayat berserakan di atas tanah seperti bangkai hewan yang tak berarti, terkena panah di kepala dan dada tepat mengenai jantung, tangan dan kaki yang terpisah, serta daging - daging kuda yang baru saja ditebas dan disembelih."Apa Meurah kesulitan melawan para bandit itu?" gumam Buaeh kepada Benghingas dan mereka menatap dari kejauhan."Beghingas, bagilah beberapa pasukan kita, selebihnya, ikuti aku untuk membantu Meurah Jadin!" lanjutnya menyeru."Siap....!"Di kejauhan sana Meurah Po Jadin saat ini, sedang dihadapkan pada lawan yang sedang memberikan pertempuran sengit padanya.Meskipun statusnya "Prajurit Pemula", gerakan Zilong tidak bisa dibilang amatir. Saat ia bergerak, tombaknya mengeluarkan suara desingan yang menyerupai ribuan b

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   120. KEMUNCULAN PRIA MISTERIUS

    Momen yang sungguh di luar nalar terjadi di tengah padang maut itu. Raja Doli, dengan posisi berlutut dan napas yang hampir habis, menatap lekat-lekat pada kuda perang kurus yang ditunggangi Jadin. Kuda itu bukan sekadar hewan bagi Doli; itu adalah kawan lama yang telah menemaninya melintasi berbagai rintangan selama berbulan-bulan sebelum dirampas paksa."Kuda kurus oh kuda kurus, aku tahu aku memperlakukanmu dengan buruk, tapi kita telah bersama selama berbulan-bulan..." gumam Doli dalam hati. Pandangannya yang sendu namun penuh harap terpaku pada mata si kuda, mengirimkan pesan batin yang tak sanggup diucapkan bibir. "Jika kau masih punya perasaan, ayo bergeraklah dan selamatkan hidupku...!"Seolah ada ikatan gaib yang tersambung kembali, mata kuda itu berdelik tajam. Memori tentang elusan tangan Doli dan perjalanan panjang mereka mendadak membuncah di dalam insting hewan tersebut."Iiihiiiiik......!"

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   119. Sibalga Membara: Detik-Detik Penghakiman

    Jadin tertegun sejenak. Ia memandangi Raja Doli dengan tatapan bingung dan sedikit geli, seolah berhadapan dengan orang gila. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanyanya, suaranya sarat akan kebingungan yang bercampur curiga.Raja Doli memaksakan sebuah senyum lebar, meski keringat sebesar jagung terus mengalir membasahi pelipis dan keningnya. Jantungnya berdegup kencang, nyaris meledak. "Aku? Hahaha, aku hanya ingin meramaikan suasana! Lihat wajahmu tadi, kau benar-benar gugup, bukan?" ia tertawa terpaksa, suaranya terdengar sumbang. "Apa kau benar-benar percaya semua ocehanku tadi? Jangan terlalu serius, kawan!""Aku mempercayaimu, gundulmu!" bentak Jadin. Topeng ketenangannya pecah seketika. Wajahnya berubah gelap, otot di keningnya menonjol, dan giginya beradu hingga terdengar bunyi kertakan yang mengerikan. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh lelucon yang tak lucu.Melihat kemurkaan Jadin yang tak terbendung, insting bertahan hidup Raja Doli berteriak. "Saudaraku, kabur!"

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   40. RENCANA PEMBANGUNAN BENTENG

    Tahan Sagala memicingkan matanya, mengamati wajah Pak Tua yang ketakutan itu dengan lebih teliti. Tiba-tiba, sebuah seringai tipis muncul di wajahnya yang keras."Tunggu dulu... bukankah pria ini si Usop Rangkuti? Salah satu orang terkaya dari Desa Martinjak?" tanya Tahan Sagala dengan nada yang be

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   22. DELUSI SANG PENAKLUK

    Di bawah langit Kota Sibalga yang mulai terik, area barak pusat telah berubah menjadi lautan baja. Seribu pasukan dari berbagai kesatuan berdiri berbaris dengan disiplin yang kaku, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.Dua ratus kavaleri ringan sudah berada di atas

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   11. JEBAKAN KATA YANG INDAH

    Aku berdeham kecil, mencoba mengatur nada suaraku agar terdengar lebih dalam. "Ehem.""Nona Uli Sinaga, aku tahu di matamu aku hanyalah pencuri kasar. Tapi dengarlah... jika seseorang bisa hidup mapan dan tenang, siapa yang sudi terjerumus ke dunia hitam seperti ini? Dulu, aku adalah seorang remaja

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   13. HADIAH DAN KETEGUHAN HATI

    Penghargaan... Hadiah... Sedang diakumulasi...Suara indah yang mempesona itu menggema, mengitari seluruh sudut otakku. Aku berdiri terpaku. Apakah Kakak Dewi ini sedang mengalami eror? pikirku sangsi. Bukankah mempertahankan desa seharusnya menjadi tugas super sulit yang membutuhkan pertumpahan dar

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status