LOGINAku hampir saja tersedak udara sendiri saat membaca jendela status transparan yang mengambang di depanku. Harapanku yang setinggi langit tadi seketika terjun bebas dan hancur berkeping-keping.
"Apa-apaan ini...?" gumamku membatin. Mood-ku yang tadinya bersemangat karena merasa punya 'aset' baru, kini berubah menjadi rasa mual yang luar biasa.
[STATUS: PENASIHAT DESA]
Nama: Bonaga Simamora
Jabatan: Ahli Strategi yang Terkenal Buruk
Atribut Tersembunyi: Ahli Strategi Berkepala Anjing Yang Tidak Memiliki Solusi
Efek Pasif: Siapa pun yang mengikuti nasihatnya akan menderita kerugian finansial yang parah, dan dalam skenario terburuk, keluarganya akan hancur.
"Bukankah ini bisa dikatakan sebagai kutukan berjalan?!" teriakku dalam hati. Aku mengira atribut tersembunyi itu setidaknya bisa meningkatkan kecerdasannya sedikit, tapi ternyata malah membuka pintu ke tingkat kesialan yang lebih dalam.
Aku menatap Bonaga yang sedang berdiri tegak dengan wajah sok bijaksana di depanku. Cahaya emas yang kulihat tadi bukan berarti dia jadi pintar, tapi menunjukkan betapa "murni" energi kesialan yang dia miliki.
"Boss Besar, ada apa denganmu?" tanya Bonaga kebingungan yang melihat pemimpin desa lalu lalang di hadapannya seperti orang yang gelisah.
"Bukan apa-apa, mungkin aku hanya banyak pikiran saja," sahutku berusaha tetap tenang, meski di dalam hati aku sedang meratapi nasib karena memiliki penasihat dengan atribut "Kepala Anjing".
Aku menatap Bonaga yang sedang memasang wajah sok serius. Duh, Pak Tua... kalau saja kau tahu bahwa statusmu baru saja terbongkar sebagai penyebab hancurnya keluarga orang, batinku jengkel.
"Bos Besar! Tadi aku sudah menanyai gadis bernama Uli Boru Sinaga itu," lapor Bonaga dengan nada yang sangat dramatis. "Ternyata dia adalah tunangan dari Penguasa Kota Sibalga! Ini malapetaka, Boss! Kita sudah merampok calon istri orang paling berkuasa di wilayah ini!"
Ia melanjutkan dengan ekspresi yang sangat yakin, "Apakah kau tidak tahu seberapa kuat Kota Sibalga? Ayahmu, Kepala Desa yang lama, bahkan tewas terkena panah saat bertempur dengan mereka dan akhirnya meninggal dunia..."
Mendengar itu, sebuah pencerahan pahit menghantamku. Aku menatap Bonaga dengan pandangan ngeri sekaligus kasihan. Pantas saja... gumamku dalam hati. Pantas ayah mati dan Desa Parombunan ini hancur berantakan. Ternyata penyebabnya adalah ayah mendengarkan nasihat dari si koplak ini! Ayah pasti mengikuti 'strategi menderita kerugian' milik si Bonaga ini sampai ajal menjemputnya.
"Kali ini kita telah memprovokasi mereka lagi," sambung Bonaga dengan otak yang sepertinya sedang korsleting parah. "Jika Penguasa Kota Sibalga datang dan membawa pasukan tentaranya, bisa-bisa kita semua akan mati! Kita harus segera menyusun rencana untuk menyerahkan kembali gadis itu dan meminta maaf sambil bersujud!"
"Ayah... Boss, mari kita makan malam!" Suara lembut Butet memutus arus nasihat beracun ayahnya. Ia berdiri di ambang pintu, sementara aroma masakan dari dapur mulai menggelitik indra penciumanku.
Aku dan Bonaga mengangguk. Aku berkacak pinggang sejenak, menatap kegelapan di bawah desa Parombunan yang menyimpan ancaman besar dari Kota Sibalga. "Ayo, kita beritahukan masalah ini ke saudara Bondut Jolma. Aku rasa dia orang yang berasal dari kota itu. Kita diskusikan semuanya sambil menyantap makan malam."
Kami duduk melingkar di depan api unggun yang sudah dibuat jadi tataring (Tempat Masak Bagi Suku Batak) yang sudah tua, dengan pengait kayu untuk menggantungkuali yang masih dibakari oleh api yang berbahan bakar kayu. Bondut Jolma duduk diam seperti gunung batu, matanya menatap tajam ke arah nasi yang dihidangkan, sementara Butet dengan telaten menuangkan air minum.
Saat itu, aku akhirnya angkat bicara, "Adakah yang tahu bagaimana situasi di Kota Sibalga?"
"Aku tahu!" sahut Bondut Jolma tegas. Ia kemudian mulai berkisah:
"Kota Sibalga berjarak sekitar 25 mil dari Pegunungan Desa Parombunan. Penguasanya bernama Ronggur Manurung—seorang pria yang dikuasai nafsu dan sangat kejam. Ada lima ribu tentara elit yang berjaga di sana." Bondut Jolma bercerita dengan nada yang aneh; terselip rasa kagum sekaligus kebencian yang mendalam pada pasukan itu.
Mendengar angka lima ribu, nyali Bonaga—si ahli strategi itu—langsung menciut. Wajahnya pucat pasi. "Li... lima ribu... tentara elit?" suaranya bergetar hebat. "Apa kau masih percaya diri bisa menghadapi mereka?" tanyanya padaku, sang Kepala Desa.
Melihat tingkah si tua pengecut yang pikirannya sedang "korsleting" ini, aku mengernyitkan dahi. "Lalu, apa rencanamu? Orang-orang ini sudah dirampok habis-habisan. Apa kau berniat mengirim Nona ini kembali?" tanyaku ketus sembari menunjuk Nona Boru Sinaga yang duduk di sampingku.
"Apa kau mau bilang kalau kita bersalah, lalu menyuruh kita berlutut dan bersujud memohon maaf? Menurutmu, apa mereka akan mengampunimu setelah itu?" Aku mencecar, ingin melihat sejauh mana "ahli strategi kehancuran" ini akan bertindak konyol.
"Itu... bukan itu maksudku," gumamnya terbata-bata.
Dengan ekspresi serius dan tatapan penuh dendam, Bondut Jolma kembali angkat bicara. "Menurutku, daripada hanya menunggu di sini, lebih baik kita mengambil inisiatif untuk menyerang! Kita serbu Kota Sibalga dan kita tangkap si brengsek Ronggur Manurung itu!"
Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga urat-urat di keningnya menonjol. "Dengan tekad baja, aku yakin peluang kita berhasil mencapai tujuh puluh persen!" serunya dengan kepercayaan diri yang meluap-luap.
Mendengar pernyataan gila itu, Bonaga dan putrinya tersentak hebat. Rasa khawatir mulai menjalar; ternyata orang yang dibawa oleh Kepala Desa ini jauh lebih gila dari yang mereka bayangkan.
Diselimuti rasa takut yang amat sangat, Bonaga berbisik gemetar pada putrinya, "Butet, putriku... ayo kemasi barang-barang kita. Kita harus kabur tengah malam nanti saat semua orang terlelap. Mumpung belum terlambat!"
Pikirannya sudah kalut. Ia yakin sang Kepala Desa yang juga "setengah waras" itu pasti akan menyetujui ide bunuh diri dari pria kekar yang putus asa ini.
"Ayah... bukankah di luar sana sangat dingin kalau kita keluar tengah malam?" sahut Butet dengan wajah memelas, menampakkan ekspresi sedih seolah ingin menangis, meski tak ada air mata yang keluar.
Aku mulai memutar otak modernku, lalu menyela diskusi mereka dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Jika kalian berpikir untuk melarikan diri, lupakan saja. Itu sama sekali tidak mungkin."
Tatapanku menyapu ruangan dengan tajam, ekspresiku mengeras.
"Ada tiga alasan kuat. Pertama, meski yang kita culik adalah tunangan putra mahkota Sibalga, coba pikirkan: apakah pria seperti dia memang kekurangan calon istri? Kurasa tidak. Dia tidak akan sebodoh itu mengerahkan lima ribu pasukan elit hanya untuk satu wanita. Paling banyak, dia hanya akan mengirim seratus, dua ratus, atau maksimal tiga ratus prajurit."
Aku berhenti sejenak, mencoba memvisualisasikan peta wilayah dari istana Sibalga menuju Benteng Desa Parombunan.
"Kedua, posisi kita berada di medan yang sempit dan terjal. Jarak dua puluh lima mil dari Sibalga membutuhkan waktu setidaknya tiga hingga empat hari perjalanan pulang-pergi. Kecuali mereka semua berkuda—yang mana mustahil dilakukan di jalur curam seperti ini—gerakan mereka akan lambat."
Aku melanjutkan dengan nada yang lebih optimis namun penuh perhitungan, "Tiga atau empat hari ini adalah kesempatan emas kita. Kita akan memanfaatkan posisi geografis ini untuk mempersiapkan sebuah penyergapan mematikan. Jika kita melakukannya dengan benar, mereka tidak akan pernah bisa menembus pertahanan kita."
Tiba-tiba, dunia di sekitarku membeku. Waktu berhenti seketika. Di hadapanku, Kakak Dewi Celestial yang cantik itu muncul dengan tenangnya, lalu sebuah notifikasi mengambang di udara:
[Misi Baru Terpicu: Pertahanan Gunung Tahap I] Tugas: Pukul mundur pasukan musuh yang datang menyerang. "Aku peringatkan kau, pemuda tangguh; tugas ini jauh melampaui kekuatan Benteng Sopo milikmu saat ini. Tapi ayolah, pemuda pilihan, tetap semangat!"
Lagi-lagi misi yang mempertaruhkan nyawa. Aku menghela napas panjang dalam hati. Mau tidak mau, aku memang harus melakukannya, meski tanpa perintah dari sistem sekalipun. Namun, sekarang taruhannya jauh lebih tinggi. Tanpa misi ini, jika aku kalah, aku bisa saja lari meninggalkan desa untuk menyelamatkan diri. Tapi dengan misi yang sudah aktif, kegagalan berarti kematian—sedangkan keberhasilan menjanjikan hadiah istimewa dari sang Dewi.
Begitu waktu kembali berputar, aku menatap Bondut Jolma dengan tatapan yang jauh lebih dalam.
"Dan alasan ketiga..." suaraku memberat, "karena ayahku, Raja Hagabean, adalah pemimpin terakhir yang mengepung Kota Sibalga. Beliau terluka oleh panah dan akhirnya wafat karena infeksi luka tersebut."
Aku sengaja mengungkap luka lama itu untuk menunjukkan bahwa nasib kami serupa. Aku ingin memberikan stimulan agar semangat juangnya meledak.
"Saudara Bondut Jolma, kita berdua memiliki hutang darah yang sama pada Ronggur Manurung! Jika dendam ini tidak kita tuntaskan sekarang, bagaimana mungkin kita punya harga diri untuk berdiri di puncak dunia ini?"
Aku mengepalkan tinjuku kuat-kuat, menunjukkan kesungguhan hati yang membara. "Jadi kali ini, jika kau punya kesempatan untuk membalas dendam, maka kau harus melakukannya sekarang juga!"
Kabut tipis menyelimuti pagi yang sejuk di Pegunungan Sibalga. Namun, kesejukan itu tak mampu membasuh kelelahan ekstrem dari pasukan Kota Sibalga yang akhirnya tiba di kaki bukit menuju Parombunan. Setelah dipaksa mendaki tanpa henti dari siang hingga tengah malam, wajah para prajurit itu tampak mengerikan; mata mereka menghitam karena kurang tidur, dan langkah kaki mereka yang terseret menciptakan suara gesekan logam yang parau di atas tanah."Bos... ini dia!" Bonaga berbisik dengan nada yang tercekat di tenggorokan.Kami berdua tiarap di balik rimbunnya semak-semak di puncak lereng yang menghadap ke jalan utama. Dari tempat kami mengintai, iring-iringan pasukan itu terlihat seperti ular hitam raksasa atau jutaan semut yang berjejer panjang tak terputus."Ini... ada ribuan orang...!" gumamku pelan. Aku harus mengakui, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sepanjang hidupku, baik di dunia lama maupun di sini, baru
Seribu pasukan di bawah panji Sibalga kini merayap seperti ular besi di lereng bukit yang terjal. Medan Pegunungan Parombunan yang curam mulai memakan korban secara perlahan."Pangeran Kota," Togar Torop memacu kudanya mendekati kereta perang sang Pangeran. Suaranya terdengar cemas saat melihat barisan di belakangnya yang mulai kacau. "Kita hampir sampai di perbatasan Desa Parombunan. Sebaiknya Anda mengizinkan para parangan untuk beristirahat. Mereka telah dipaksa berjalan tanpa henti dari siang hingga larut malam seperti ini."Togar berharap sang pemimpin memiliki sedikit empati agar pasukan lebih siap bertempur saat fajar tiba. Namun, Pangeran Hali justru meliriknya dengan tatapan meremehkan."Kepala Pelayan Torop, tahukah kau bahwa seorang parangan sejati harus cekatan?" sahutnya sinis. "Beristirahat? Bagaimana jika para penjahat itu datang menyabotase kamp kita saat semua orang sedang mendengkur? Kau ingin kita dibantai
Di bawah langit Kota Sibalga yang mulai terik, area barak pusat telah berubah menjadi lautan baja. Seribu pasukan dari berbagai kesatuan berdiri berbaris dengan disiplin yang kaku, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.Dua ratus kavaleri ringan sudah berada di atas pelana, kuda-kuda mereka meringkik tidak sabar sembari menghentakkan kaki ke tanah. Di sisi lain, seratus pasukan lapis baja berat berdiri kokoh seperti dinding berjalan, zirah mereka memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan. Di barisan tengah, para pemanah dan pasukan tombak memeriksa kembali kelayakan senjata mereka, sementara tiga ratus pasukan pedang lebar berdiri tegap dengan senjata tersarung di pinggang.Deru suara zirah yang bergesekan dan dentingan senjata memenuhi udara. Kereta-kereta logistik yang mengangkut gunungan biji-bijian—beban yang sebelumnya diperdebatkan oleh Sang Menteri—kini mulai bergerak menuju gerbang kota.Ini bukan sekadar patroli biasa. Ini adalah ekspedisi
"Penasihat Militer, ada tugas krusial yang harus kau emban sekarang. Masalah ini menyangkut hidup dan mati seluruh pondok kita," ucapku sembari melangkah menghampiri Bonaga. Saat itu, ia tengah asyik menikmati roti gandum hangat buatan putrinya, tampak begitu tenang sebelum aku datang membawa kabar buruk.Bonaga mendongak dengan pipi menggembung, mulutnya masih penuh dengan kunyahan roti. "Bos Besar!" serunya setelah menelan paksa. "Jika urusannya seserius itu, mengapa tidak menunjuk orang lain saja? Aku sedang ingin menikmati masa tenangku."Aku menatapnya tajam, tidak memberi celah untuk bernegosiasi. "Masalahnya, hanya kau yang memiliki lidah cukup lihai dan kelicikan yang pas untuk urusan ini. Pergilah ke Desa Martinju dan temui pemimpin mereka, Tahan Martinju."Mendengar nama itu disebut, ekspresi Bonaga seketika berubah gelap. Ia terdiam, lalu menggigit r
Setelah langkah kaki Hali Suksung menghilang di ujung lorong, suasana ruang pertemuan kembali tenang. Sang Raja Kota menyandarkan tubuhnya, lalu melirik pria di sampingnya."Komandan Militer, bagaimana pendapatmu tentang rencana putraku?" tanya Sang Raja dengan nada datar.Pria veteran bertubuh kekar itu menghela napas pendek. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya yang tajam mencerminkan pengalaman ribuan jam di medan laga. Sebagai pemimpin yang selalu memprioritaskan keselamatan pasukannya, ia segera membedah rencana tersebut."Menjawab Yang Mulia," mulainya dengan nada serius. "Di medan pegunungan yang rimbun dan hutan yang lebat, peran kavaleri hampir tidak bisa dimainkan. Itu hanya akan membebani laju pasukan. Terlebih lagi, jika tujuannya adalah serangan jarak jauh yang cepat, menggunakan pasukan lapis baja berat adalah keputusan yang salah. Beban zirah mereka hanya akan menguras tenaga sebelum perang dimulai."Ia berhenti sejenak untuk menatap Sang Raja. "Bandit gunung buka
Sopo Balga Kota Sibalga Suasana pagi di Sopo Balga tampak begitu kontras dengan ketegangan yang mulai merayap di Desa Parombunan. Cahaya matahari menyinari atap-atap bangunan kota yang megah, sementara para prajurit dengan zirah lengkap berdiri kaku di setiap pos pengamanan, menunjukkan disiplin militer yang ketat dari sebuah pusat kekuasaan."Segera setelah hamba tiba di kaki Desa Parombunan, hamba dihadang oleh ratusan orang. Salah satu dari mereka melangkah maju dan mengaku sebagai Raja Doli..."Pria itu melapor dengan tubuh gemetar, bersujud di hadapan penguasa kota yang sedang duduk bersandar di kursi tahta. Di sisi kiri dan kanannya, dua pelayan wanita terus mengayunkan kipas dengan irama teratur, mencoba menjaga kesejukan sang Raja."Togar Tua sempat merasa gentar," lanjutnya dengan suara yang diusahakan tetap tegap, "namun demi harga diri, hamba menepis rasa takut itu. Hamba segera menghunus pedang dan langsung menyerang pemimpin mereka!"Di sudut ruangan, para menteri yang s







