Share

92. JEBAKAN ANGGUR

Auteur: Lampard46
last update Dernière mise à jour: 2026-02-20 14:00:27

Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar.

"Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung.

"Orang yang m

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   94. PENAKLUKAN MONSTER GILA

    "SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   93. SERANGAN KEJUTAN

    Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   92. JEBAKAN ANGGUR

    Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   91. PENYAMARAN SEMPURNA

    Suasana di pinggir Sungai Aek Doras begitu tenang, hanya suara gemericik air dan desau angin yang menemani para pemuka Desa Martinju menghabiskan waktu dengan memancing. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar dari kekecewaan yang mendalam di hati sang Kepala Desa."Kupikir kita punya harga diri di sana. Tak disangka, wajah kita ternyata dianggap seperti pantat baginya!" seru Tahan Sagala dengan nada getir.Ia benar-benar kecewa. Ia ingat betul bagaimana dulu, saat Dumang Saruksuk nyaris tewas dengan luka fatal setelah bertarung melawan harimau sendirian, Martinju-lah yang menjadi penyelamatnya. Tahan Sagala sendiri yang merawatnya hingga sembuh total. Namun kini, kebaikan itu seolah sirna tertutup angkuhnya Kota Tarutung."Abang, sekarang bukan lagi masa lalu," sahut Garau, mencoba memprovokasi suasana. "Bos Dumang sudah tidak lagi bergantung pada kita untuk makan. Orang itu sudah tidak melihat kita sebagai saudara lagi!"

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   90. PENOLAKAN DAN PENGHINAAN

    Suasana di dalam markas mendadak menjadi sangat berat. Tekanan mental dari Bonaga tadi dibalas oleh kehadiran Dumang Saruksuk yang kini duduk tegak, memancarkan aura predator yang haus darah."Bos Dumang, Bos kami menyuruh kami ke sini... kami ingin menjalin persahabatan dengan Anda," sahut Bondut Jolma sembari melangkah maju.Ia membuka bungkusan kain putih, menampakkan sebuah patung Debata Raja Mula Jadi Nabolon yang diukir dengan sangat detail. Di zaman ini, saat keyakinan kuno masih mengakar kuat di Tanah Batak, patung itu adalah simbol penghormatan tertinggi."Dumang tidak melafalkan Ketuhanan dan tidak mempersembahkan sesajian," sahut Dumang dengan suara parau yang dingin. "Tuan Raja memberiku patung itu? Dia ingin aku menjadi orang baik di masa depan? Lucu sekali."Mata Dumang menyipit, menatap patung itu dengan hina. "Ambil kembali. Dumang Saruksuk tidak kekurangan teman."Ia kemudian menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Bonaga. "Anjing memiliki jalannya sendiri, hari

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   89. BONAGA SANG SARJANA

    Marudut kembali ke Desa Parombunan dengan napas terengah-engah. Ia segera menceritakan ancaman dari Kota Tarutung: Dumang Saruksuk, si orang gila itu, memberi ultimatum bahwa jika toko tidak ditutup dalam tiga hari, ia akan membawa pasukannya untuk meratakan Ambun Surgawi dengan tanah."Bos, kami tidak takut padanya. Hanya saja kami sangat mengkhawatirkan keselamatan Istri Masa Depan Anda. Kami terpaksa menahan diri demi menjaga situasi, kini kami hanya bisa menunggu keputusan Anda!" lapor Marudut dengan wajah tegang.Bonaga yang berdiri di sampingnya ikut menimpali, "Tuan, Anda mungkin belum tahu siapa Dumang Saruksuk itu, tapi dia benar-benar bukan orang biasa!""Cih...! Mengganggu kesenangan saja orang ini!" gumamku pelan. Saat itu, aku sedang asyik memindahkan guci-guci anggur hasil racikanku ke ruang tengah bersama pelayan setiaku yang cantik, Jasmin."Bos Besar! Aku serius memperingatkanmu, Dumang ini pria yang berbahaya!" Bonaga menekankan suaranya."Ho...? Seberbahaya apa mema

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status