LOGIN"Tapi aku tidak sudi mati bersamamu!" batin Bonaga kalut. Matanya menatap nanar ke arah pasukan musuh di bawah sana yang berbaris rapi. Otaknya berputar cepat, mencari seribu satu cara untuk meloloskan diri dari maut yang mengintai.
Di tengah ketegangan itu, Bonaga justru melangkah tenang. Dengan wajah santai tanpa dosa, ia berjalan ke arah belakang kuda yang ditunggangi Doli.
"Bos, dipikir-pikir... kuda ini punya pantat yang bagus juga ya?" ujarnya sembari tersenyum lebar, jemarinya mengelus pinggiran pelana di dekat ekor kuda.
"Hah? Apa maksudmu?" Doli tersentak. Alisnya bertaut, merasa ada yang tidak beres dengan tingkah laku bawahannya itu.
Sret!
Dugaan Doli benar. Secepat kilat, Bonaga menghunus belati kecilnya dan menggores dalam pantat kuda tunggangan tuannya.
Ihiiiikkkkk—!!
Kuda itu meringkik histeris. Rasa perih yang mendadak membuatnya hilang kendali, melonjak gila, dan melesat bagai anak panah yang lepas dari busur—langsung menuju ke arah iring-iringan musuh di lembah bawah.
"Bonaga! Dasar tua bangka sialan!" teriak Doli sekuat tenaga. Ia berusaha mati-matian menarik tali kekang, namun kuda yang murka itu justru berlari semakin kencang menembus semak belukar.
Belum sempat Doli menstabilkan diri, suara lantang Bonaga menggelegar dari atas bukit, sengaja memprovokasi lawan.
"Woi! Lihat ke sini! Kepala Desa Parombunan datang untuk merampok kalian!" teriak Bonaga dengan nada mengejek yang provokatif.
Kuda Doli mendengus kasar, napasnya memburu karena amarah dan rasa sakit.
"Itu dia si 'Raja Parombunan' yang bodoh!" tambah Bonaga lagi, tertawa puas. Dalam hatinya, ia berharap sang pemimpin desa—Raja Doli—akan segera tamat riwayatnya di tangan para prajurit itu.
Tuk-kitak-kituk, tuk-kitak-kituk, tuk-kitak-kituk!
Suara derap kaki kuda yang dipacu gila karena luka tusukan itu menciptakan kegaduhan luar biasa, menggema di dinding-dinding lembah yang sempit. Raja Doli meluncur turun dari lereng seperti komet yang tidak terkendali, debu mengepul tebal di belakangnya.
Di tengah guncangan hebat di atas pelana, Raja Doli menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawa yang tersisa untuk meneriakkan ultimatumnya:
"Mereka yang ingin hidup, menyerah dan larilah sambil meninggalkan semua barang-barangmu!"
Kalimat itu memang menggelegar, namun kenyataannya jauh dari kesan gagah. Kuda hitam yang ditungganginya meringkik kesakitan, matanya memerah penuh amarah, dan ia berlari tidak tentu arah—melompat-lompat liar menuju iring-iringan pengawal di bawah.
Di atas bukit, Bonaga menatap pemandangan itu dengan rasa bersalah yang menyesakkan dada. Ia benar-benar menyesal telah menjebak dan membahayakan pemimpinnya sendiri.
"Bos, maafkan aku... Aku masih harus merawat putriku dan melihatnya tumbuh dewasa. Aku berjanji akan memberikan persembahan terbaik kepada Mulajadi Nabolon untuk arwahmu nanti, jadi jangan khawatirkan itu..." gumamnya pedih dalam batin.
"Brengsek!" umpatku dalam hati, seolah bisa mendengar doa kematian dari Bonaga. "Kamu tidak hanya mengkhianatiku, kamu juga memberiku gelar 'Kepala Desa Parombunan yang Bodoh' di depan musuh! Sungguh nama panggilan yang memalukan!"
Aku nyaris tak terima dengan gelar itu. Dengan sisa tenaga yang ada, aku menarik tali kekang sekuat mungkin, memaksakan otot lenganku untuk menghentikan laju kuda gila ini agar tidak langsung menabrak barisan pengawal.
Sreettt!
"Huuuh... Akhirnya berhenti juga," gumamku sambil mendengus lega. Napasku tersengal, debu masih menyelimuti pandanganku.
"Eh...?"
Begitu debu menipis, jantungku nyaris copot. Aku baru sadar kalau kudaku berhenti tepat di hadapan para pengawal—ujung-ujung tombak mereka hanya berjarak beberapa senti dari hidungku. Sepuluh pasang mata menatapku dengan kombinasi antara bingung, marah, dan jijik.
Suasana mendadak hening. Hanya suara napas kudaku yang memburu dan denting senjata yang beradu karena gemetar tanganku yang berusaha tetap memegang kapak dengan gaya seorang "Boss".
"Jadi, hanya kamu?" ejek pemimpin karavan itu dengan wajah sinis. Matanya memicing, menatapku dari atas sampai bawah seolah aku hanyalah seekor serangga yang tersesat di tengah jalan.
"Ini hanya kesalahpahaman! Aku bukanlah Pemimpin Desa Parombunan, aku..."
Aku mendadak bungkam. Otakku berputar cepat. Jika aku mengaku sebagai raja bandit yang gagal, mereka pasti akan langsung mencincangku. Aku butuh nama yang punya bobot, nama yang bisa membuat lutut mereka lemas!
"Aku adalah Bonaga! Sang Ahli Strategi terhebat sepanjang masa!" teriakku dengan suara yang sengaja diberat-beratkan. "Mereka yang tidak ingin mati, menyerahlah! Tinggalkan semua barang-barangmu dan larilah sekarang juga!"
Aku menjual nama si Tua Bangka itu, berharap reputasinya cukup untuk membuat mereka gentar. Namun, apa yang terjadi?
Hening.
Suasana seketika membeku. Para parangan itu saling pandang. Di kepala mereka mungkin hanya ada satu pertanyaan: Apakah bandit kecil ini benar-benar datang untuk merampok kita sendirian? Apakah dia sedang mencari cara kreatif untuk bunuh diri? Bukankah melompat ke jurang tadi jauh lebih praktis daripada berdiri di depan tombak kami?
"Hahahaha...!"
Tawa mereka pecah seketika, menggelegar memenuhi lembah. Mereka terpingkal-pingkal, meremehkan sosok "Bonaga palsu" yang datang menghadang rombongan besar hanya dengan satu kuda loyo. Baginya, gertakanku hanyalah guyonan paling lucu yang mereka dengar sepanjang tahun.
"DIAM!"
Suara itu menggelegar dengan tegas, seketika membungkam tawa para prajurit. Sang pemimpin pengawal maju selangkah, menatapku bukan dengan amarah, melainkan dengan tatapan iba yang justru lebih menyakitkan daripada ejekan.
"Anak muda, kamu mungkin tidak tahu siapa kami," ucapnya dengan nada berat dan penuh penekanan. "Hidup ini sulit, aku tahu. Tapi jangan bunuh diri dengan cara seperti ini. Hidup itu berharga. Pikirkan keluargamu, pikirkan orang tuamu yang menunggumu di rumah."
Ia menghela napas, seolah sedang menasihati adiknya sendiri yang sedang tersesat. "Kembalilah ke asalmu. Pergilah sekarang, dan kami akan mengabaikan kejadian ini. Kami akan menganggap gertakan konyolmu ini tidak pernah terjadi."
Wajahnya sangat serius. Dia tidak sedang meremehkanku—dia justru sedang memberiku kesempatan untuk lari menyelamatkan harga diriku. Namun, masalahnya... si Dewi Celestial tidak mengenali kata "nasihat". Matahari hampir tenggelam, dan jika aku pulang tanpa hasil, kepalaku yang akan meledak!
Srek...
Di balik tirai sutra kereta yang perlahan tersibak karena guncangan, muncullah sosok gadis yang kecantikannya seolah mampu menghentikan aliran waktu. Ia adalah Nona Boru Sinaga, putri bangsawan yang keanggunannya telah menjadi buah bibir di seluruh penjuru negeri.
Aku seketika terkesima dengan Wajahnya berbentuk oval sempurna dengan kulit yang seputih porselen, kontras dengan latar pegunungan yang berdebu. Matanya yang jernih memiliki kerlingan yang dalam—tajam namun menyiratkan kelembutan, dibingkai oleh bulu mata lentik yang hitam pekat. Hidungnya kecil dan bangir, sementara bibirnya merah alami bak delima yang baru saja pecah.
Ia mengenakan balutan Ulos Ragidup terbaik yang ditenun dengan benang emas, melingkar anggun di bahunya. Di keningnya, melingkar seuntai perhiasan emas khas bangsawan yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya yang hitam legam disanggul rapi, menyisakan beberapa helai kecil di dekat pelipis yang tertiup angin senja.
Meski berada di tengah situasi yang genting, tak ada raut ketakutan yang berlebihan di wajahnya. Ia memancarkan aura ketenangan yang angkuh namun berkelas—sebuah martabat yang hanya dimiliki oleh mereka yang terlahir dalam kemewahan istana. Aroma harum bunga melati dan cendana seketika menyeruak dari dalam kereta, membuat siapapun yang menghirupnya lupa bahwa mereka berada di ambang pertempuran berdarah.
Ba-dump. Jantungku berdegup kencang, nyaris melompat dari dadanya. "Oh...? Ini pertama kalinya aku melihat gadis secantik itu," gumamku dalam hati. Mataku terpaku, tak berkedip, dan mulutku sedikit menganga mengagumi pahatan sempurna pada wajah putri keluarga Sinaga tersebut.
Namun, di tengah kekagumanku yang meluap-luap...
PLAK!
Sebuah pukulan spiritual yang sangat keras mendarat tepat di ubun-ubunku.
"Bangunlah, kau bodoh! Dasar pria cabul!"
Seperti yang sudah kujelaskan, di subruang Celestial ini, hanya aku yang bisa melihat sosok dewi cantik yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang istriku dulu. Sebenarnya, aku sangat ingin memberontak dan memperlakukannya seperti istriku, tapi apa daya? Di dunia ini, kekuatanku nol besar dibanding dengannya yang bisa melakukan apa pun padaku. Aku hanya bisa patuh.
"Bisakah kau tidak memukul kepalaku setiap kali muncul?" keluhku sambil mengusap kepalaku yang terasa panas dan berdenyut, seolah ada benjolan yang mulai tumbuh di sana.
"Lihatlah dirimu sendiri, begitu bodoh dan tak berguna," cibir sang Dewi. Seketika, waktu di sekitar kami seolah membeku; debu yang terbang dan ekspresi para pengawal terhenti di udara.
"Aku datang hanya untuk mengingatkanmu. Karena kesulitan misi ini jauh melampaui kemampuanmu saat ini, kamu boleh menolaknya."
Namun, di layar transparan di depanku, sebuah notifikasi misi tersembunyi yang baru mendadak muncul dengan tulisan berwarna merah darah:
[MISI TERSEMBUNYI: CULIK DAN RAMPOK PUTRI KELUARGA SINAGA]
Aku terdiam sejenak. Misi tersembunyi sangat langka, dan hadiahnya pasti luar biasa. Pikiranku berputar cepat. Kalau aku berhasil, aku dapat istri cantik. Kalau gagal, aku mati. Tapi kalau aku tidak punya keberanian sekarang, bagaimana mungkin aku bisa jadi penguasa dunia ini?
"Aku akan menjalankan misi ini!" seruku dengan mantap.
"Dasar cabul! Lihat dirimu, wajahmu tampak seperti pria mesum yang hanya mengejar tubuhnya saja!" ejek sang Dewi Celestial dengan nada cemburu dan wajah cemberut yang menggemaskan, meski aku memilih untuk mengabaikannya.
Hehehehe...
Waktu kembali berjalan. Parangan Bela yang sedari tadi diam mulai menunjukkan manuvernya. Ia memacu kudanya maju ke depan, memecah barisan pengawal dengan gaya yang sangat gagah.
"Berhenti bercanda!" teriaknya lantang. "Akhirnya ada bandit yang berani menampakkan diri. Biarkan aku yang membereskannya, jangan kalian takuti dia!"
Ia menarik tali kekang kudanya hingga kuda itu berdiri tegak di atas dua kaki belakang. Dengan senyum nyengir yang meremehkan, ia menatapku seolah aku hanyalah samsak latihan.
"Aku peringatkan kalian semua... pemuda ini milikku!"
Suaranya penuh penekanan dan kepercayaan diri yang meluap. Di matanya, aku hanyalah mangsa empuk yang akan segera bersimbah darah di ujung tombaknya.
Kabut tipis menyelimuti pagi yang sejuk di Pegunungan Sibalga. Namun, kesejukan itu tak mampu membasuh kelelahan ekstrem dari pasukan Kota Sibalga yang akhirnya tiba di kaki bukit menuju Parombunan. Setelah dipaksa mendaki tanpa henti dari siang hingga tengah malam, wajah para prajurit itu tampak mengerikan; mata mereka menghitam karena kurang tidur, dan langkah kaki mereka yang terseret menciptakan suara gesekan logam yang parau di atas tanah."Bos... ini dia!" Bonaga berbisik dengan nada yang tercekat di tenggorokan.Kami berdua tiarap di balik rimbunnya semak-semak di puncak lereng yang menghadap ke jalan utama. Dari tempat kami mengintai, iring-iringan pasukan itu terlihat seperti ular hitam raksasa atau jutaan semut yang berjejer panjang tak terputus."Ini... ada ribuan orang...!" gumamku pelan. Aku harus mengakui, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sepanjang hidupku, baik di dunia lama maupun di sini, baru
Seribu pasukan di bawah panji Sibalga kini merayap seperti ular besi di lereng bukit yang terjal. Medan Pegunungan Parombunan yang curam mulai memakan korban secara perlahan."Pangeran Kota," Togar Torop memacu kudanya mendekati kereta perang sang Pangeran. Suaranya terdengar cemas saat melihat barisan di belakangnya yang mulai kacau. "Kita hampir sampai di perbatasan Desa Parombunan. Sebaiknya Anda mengizinkan para parangan untuk beristirahat. Mereka telah dipaksa berjalan tanpa henti dari siang hingga larut malam seperti ini."Togar berharap sang pemimpin memiliki sedikit empati agar pasukan lebih siap bertempur saat fajar tiba. Namun, Pangeran Hali justru meliriknya dengan tatapan meremehkan."Kepala Pelayan Torop, tahukah kau bahwa seorang parangan sejati harus cekatan?" sahutnya sinis. "Beristirahat? Bagaimana jika para penjahat itu datang menyabotase kamp kita saat semua orang sedang mendengkur? Kau ingin kita dibantai
Di bawah langit Kota Sibalga yang mulai terik, area barak pusat telah berubah menjadi lautan baja. Seribu pasukan dari berbagai kesatuan berdiri berbaris dengan disiplin yang kaku, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.Dua ratus kavaleri ringan sudah berada di atas pelana, kuda-kuda mereka meringkik tidak sabar sembari menghentakkan kaki ke tanah. Di sisi lain, seratus pasukan lapis baja berat berdiri kokoh seperti dinding berjalan, zirah mereka memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan. Di barisan tengah, para pemanah dan pasukan tombak memeriksa kembali kelayakan senjata mereka, sementara tiga ratus pasukan pedang lebar berdiri tegap dengan senjata tersarung di pinggang.Deru suara zirah yang bergesekan dan dentingan senjata memenuhi udara. Kereta-kereta logistik yang mengangkut gunungan biji-bijian—beban yang sebelumnya diperdebatkan oleh Sang Menteri—kini mulai bergerak menuju gerbang kota.Ini bukan sekadar patroli biasa. Ini adalah ekspedisi
"Penasihat Militer, ada tugas krusial yang harus kau emban sekarang. Masalah ini menyangkut hidup dan mati seluruh pondok kita," ucapku sembari melangkah menghampiri Bonaga. Saat itu, ia tengah asyik menikmati roti gandum hangat buatan putrinya, tampak begitu tenang sebelum aku datang membawa kabar buruk.Bonaga mendongak dengan pipi menggembung, mulutnya masih penuh dengan kunyahan roti. "Bos Besar!" serunya setelah menelan paksa. "Jika urusannya seserius itu, mengapa tidak menunjuk orang lain saja? Aku sedang ingin menikmati masa tenangku."Aku menatapnya tajam, tidak memberi celah untuk bernegosiasi. "Masalahnya, hanya kau yang memiliki lidah cukup lihai dan kelicikan yang pas untuk urusan ini. Pergilah ke Desa Martinju dan temui pemimpin mereka, Tahan Martinju."Mendengar nama itu disebut, ekspresi Bonaga seketika berubah gelap. Ia terdiam, lalu menggigit r
Setelah langkah kaki Hali Suksung menghilang di ujung lorong, suasana ruang pertemuan kembali tenang. Sang Raja Kota menyandarkan tubuhnya, lalu melirik pria di sampingnya."Komandan Militer, bagaimana pendapatmu tentang rencana putraku?" tanya Sang Raja dengan nada datar.Pria veteran bertubuh kekar itu menghela napas pendek. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya yang tajam mencerminkan pengalaman ribuan jam di medan laga. Sebagai pemimpin yang selalu memprioritaskan keselamatan pasukannya, ia segera membedah rencana tersebut."Menjawab Yang Mulia," mulainya dengan nada serius. "Di medan pegunungan yang rimbun dan hutan yang lebat, peran kavaleri hampir tidak bisa dimainkan. Itu hanya akan membebani laju pasukan. Terlebih lagi, jika tujuannya adalah serangan jarak jauh yang cepat, menggunakan pasukan lapis baja berat adalah keputusan yang salah. Beban zirah mereka hanya akan menguras tenaga sebelum perang dimulai."Ia berhenti sejenak untuk menatap Sang Raja. "Bandit gunung buka
Sopo Balga Kota Sibalga Suasana pagi di Sopo Balga tampak begitu kontras dengan ketegangan yang mulai merayap di Desa Parombunan. Cahaya matahari menyinari atap-atap bangunan kota yang megah, sementara para prajurit dengan zirah lengkap berdiri kaku di setiap pos pengamanan, menunjukkan disiplin militer yang ketat dari sebuah pusat kekuasaan."Segera setelah hamba tiba di kaki Desa Parombunan, hamba dihadang oleh ratusan orang. Salah satu dari mereka melangkah maju dan mengaku sebagai Raja Doli..."Pria itu melapor dengan tubuh gemetar, bersujud di hadapan penguasa kota yang sedang duduk bersandar di kursi tahta. Di sisi kiri dan kanannya, dua pelayan wanita terus mengayunkan kipas dengan irama teratur, mencoba menjaga kesejukan sang Raja."Togar Tua sempat merasa gentar," lanjutnya dengan suara yang diusahakan tetap tegap, "namun demi harga diri, hamba menepis rasa takut itu. Hamba segera menghunus pedang dan langsung menyerang pemimpin mereka!"Di sudut ruangan, para menteri yang s







