Mag-log inRuang Celestial Surgawi adalah sebuah dimensi suci yang berada jauh di atas batas dunia fana. Tempat ini tidak terikat oleh hukum fisika atau waktu; setiap sudutnya adalah perpaduan antara keagungan ilahi dan ketenangan tanpa batas.
Di ruang ini, langit tidak berwarna biru tetapi memancarkan cahaya keemasan lembut, seperti matahari terbit yang tidak pernah padam. Cahaya itu tidak menyilaukan—melainkan hangat, menentramkan, seolah meresapi tubuh dan jiwa sekaligus.
Tanahnya tampak seperti lantai marmer bening, namun jika diperhatikan lebih dekat, ia bukan batu… melainkan kristal hidup. Kristal itu memantulkan cahaya-cahaya kecil yang berkelip seperti bintang. Setiap langkah yang diambil menimbulkan riak cahaya tipis yang menyebar perlahan, seolah ruang ini mengenali keberadaan siapa pun yang memasukinya.
Di kejauhan, berdiri pilar-pilar raksasa berwarna putih mutiara, melayang tanpa sentuhan tanah. Pilar-pilar itu menjulang tinggi hingga menembus kabut cahaya di atas, seperti penyangga alam semesta. Pada puncaknya, terdapat lingkaran cahaya yang terus berputar, memancarkan energi suci yang menenangkan.
Angin tipis berembus, namun bukan angin biasa — hembusan itu terdengar seperti senandung lembut, nyanyian yang membawa ketenangan di setiap alunan yang menggema halus di telinga. Aromanya pun berbeda: ringan, murni, seperti wangi bunga yang belum pernah ada di dunia manusia.
Di bagian pusat ruangan, terdapat altar cahaya berbentuk lingkaran, tempat di mana wujud sang Dewi pertama kali menampakkan diri. Lingkaran itu bersinar dengan pola-pola kuno yang bergerak perlahan seperti aliran air, melambangkan bahwa tempat itu adalah titik pertemuan antara doa manusia dan kekuatan ilahi.
Kadang dalam jarak pandang, terlihat lorong - lorong cahaya yang menggantung di udara, seperti pintu menuju dunia lain. Beberapa terbuka, menampilkan sekilas gambaran masa lalu atau masa depan. Sebagian lagi tertutup rapat seperti misteri yang belum waktunya dibuka.
Secara keseluruhan…
Ruang Celestial Surgawi adalah wujud dari doa paling tulus, energi paling suci, dan harapan yang tidak pernah mati.
Sebuah tempat yang hanya dapat diakses oleh jiwa yang dipilih.
*
Aku terpaku, tak mampu mengalihkan pandangan dari kemegahan ruang tak berujung ini. Semakin lama aku melihatnya, semakin jelas bahwa tempat ini bukan sekadar ruang — ini adalah dunia suci yang melampaui batas logika dan imajinasi manusia.
Keindahannya… nyaris membuatku lupa bernapas.
Tiba-tiba, suara lembut namun penuh wibawa bergema dari arah sang Dewi.
“Selamat kuucapkan kepadamu… karena telah membuka kehendak untuk membangkitkan kerajaan.”
Kata-kata itu mengalir seperti dentingan lonceng surgawi — jernih, agung, dan membawa sebuah makna yang jauh lebih besar dari yang dapat kupahami.
Angin semilir berputar mengitari tubuhku, mengangkat rambutku perlahan. Hembusan itu terasa hangat, seolah mengisi kembali sesuatu yang telah lama hilang dariku.
Semangat yang dulu padam… kini menyala kembali.
Dadaku bergetar oleh dorongan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Di tengah kehancuran hidupku, di tengah dunia yang menelantarkanku… kini suara ilahi itu mengangkatku kembali, mengingatkanku bahwa masih ada sesuatu yang menungguku. Sesuatu yang besar.
Kerajaan…?
Takdir…?
Atau sebuah awal baru?
Yang jelas, ucapan sang Dewi telah menghidupkan kembali bara yang sempat redup di hatiku.
“Tunggu…”
Seketika sebuah pikiran menghantam kepalaku.
Pemandangan ini… antarmuka mengambang yang menunjukkan status…
Bukankah ini—*
"Rise of Kingdom…"
Aku bergumam tak percaya.
“Ya, kau benar.”
Sang Dewi tersenyum lembut. “Dan aku berada di sini untuk membantumu.”
Di hadapanku, layar cahaya melayang terbuka, menampilkan tulisan yang tampak begitu familiar.
Desa: Parombunan
Status: Pembukaan Kerajaan Pemula
Kondisi: Hampir ditinggalkan
Pemilik & Penguasa: Kamu
Populasi: 3 orang
Pemimpin / Raja : Raja Doli
Ahli Strategi : Bonaga
Pengurus Kuda : Butet
Melihat layar melayang tanpa perangkat apa pun itu, aku serasa ditarik kembali ke masa ketika aku memainkan game ini di komputer lamaku.
Namun kini, data itu bukan sekadar angka.
Ini adalah kenyataan.
Apakah aku… bisa mengubah sejarah dan masa depan dunia ini?
Pertanyaan itu berbisik lirih di kepalaku.
Layar berganti, menampilkan deretan tulisan lain — lebih gelap, lebih serius.
Misi Utama
Jangan biarkan populasi menjadi 1.
Hentikan penduduk dari meninggalkan desa.
Konsekuensi Kegagalan:
Ruang Celestial Surgawi akan runtuh.
Jiwa Pemilik akan musnah sepenuhnya — tidak ke surga, tidak ke neraka.
Tulisan itu berpendar kemudian menghilang, digantikan instruksi lain.
“Misi telah dikeluarkan.
Selesaikan sebelum keadaan memburuk.
Tidak akan ada kesempatan kedua.”
Angin lembut menerpa wajahku, namun suara sang Dewi jauh lebih menggugah.
“Pemuda pemberani… kau penuh energi.
Tapi sayangnya, populasi desa terlalu sedikit.”
Ia melangkah mendekat, senyumannya hangat dan… familiar — terlalu mirip dengan istriku sehingga hatiku terasa diremas.
“Kau harus menghentikan Ahli Strategi dan Pengurus Kuda dari meninggalkan desa.”
Aku menelan ludah, mencoba memahami apa yang harus kulakukan.
Layar kembali menyala.
Misi Tambahan
Gunakan cara yang tulus untuk menghentikan Pengurus Kuda dan Ahli Strategi agar tidak pergi.
“Ehem…”
Aku menarik napas dan menatap sang Dewi.
“Aku akan mencoba menyelesaikan misi itu. Tapi… bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini…?”
Nada suaraku kubuat serendah dan sehalus mungkin, berharap sang Dewi berkenan memberi petunjuk.
Mendengar pertanyaanku, sang Dewi terkekeh kecil. Tawa mungilnya terdengar seperti dentingan kristal, sementara wajahnya tetap imut dan manis — bahaya terselubung di balik keanggunan.
“Itu pertanyaan yang bagus… kemarilah.”
Nada suaranya lembut, namun memiliki kekuatan yang menuntut ketaatan.
Aku menelan ludah dan melangkah mendekat. Saat aku berada cukup dekat, jari-jemarinya menyentuh kerah pakaianku — dan sebelum sempat kupahami apa maksudnya, tubuhku terangkat.
Dengan satu tangan.
Seperti aku ini sekadar sehelai kertas.
“Heh…?”
Aku terperanjat — lebih tepatnya syok — dan nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak panik.
“Ini dia…”
Tanpa peringatan, tubuhku dilempar ke atas sekuat dewa.
Dunia di bawahku langsung menghilang, berganti cahaya keemasan dan ketinggian yang membuat perutku terbalik.
“AAAAH—!”
Angin memekik di telingaku. Tubuhku melayang seperti bola yang baru saja dilempar ke langit oleh makhluk super… atau dalam hal ini, seorang Dewi yang tampak terlalu cantik untuk memiliki kekuatan mengerikan seperti itu.
“Dasar… dewi gila…” gumamku lirih — sangat lirih — karena aku tidak cukup bodoh untuk menyinggung makhluk yang bisa melenyapkanku dengan satu jentikan jari.
Kalau dia mendengar? Tamatlah riwayatku sebelum misi dimulai.
Wajar saja aku panik.
Walaupun aku orang modern yang sempat belajar martial art, itu pun hanya level pemula — sekadar untuk menjaga diri.
Tidak pernah sekalipun aku membayangkan harus menghadapi situasi dilempar ribuan meter ke udara oleh entitas ilahi.
Aku bukan pendekar.
Aku bukan pahlawan.
Aku hanya seorang manusia biasa…
yang tiba - tiba terlempar ke dimensi lain dan dipaksa menghadapi takdir besar yang bahkan belum kumengerti sepenuhnya.
Ahhhh......
Aku menjerit sejadi-jadinya. Jantungku serasa tertinggal di langit saat tubuhku terlempar ke ketinggian yang tak masuk akal. Tanpa pengaman, tanpa parasut, hanya ada kekosongan yang siap menelan nyawaku.
"Hah... Hah...!"
Aku tersentak bangun dengan napas memburu. Keringat dingin mengucur deras. Aku mengerjap, menyadari diriku sudah berlutut di atas lantai kayu rumah yang kutinggali sebelumnya. Lantai itu terasa dingin di bawah jemariku. Apakah... apakah semua kegilaan tadi hanya mimpi?
"Ah ya, benar sekali," bisik sebuah suara lembut namun dingin tepat di telingaku. Itu suara gadis entitas misterius itu. "Tapi ingat, jika kamu tidak menyelesaikan misi ini, aku pastikan kamu akan benar-benar terbunuh."
Kata-katanya seketika membekukan darahku. Tubuhku menegang kaku. Ini bukan sekadar mimpi; ini adalah peringatan nyata.
Tanpa pikir panjang, aku melesat keluar rumah. Aku harus mengejar Bonaga, sang ahli strategi. Menurut perhitunganku, dia belum pergi terlalu jauh. Aku berlari menuruni lereng bukit secepat yang kubisa, membiarkan angin dingin menusuk wajahku.
"Pak Tua Bonaga!" teriakku parau saat melihat bayangan mereka di kejauhan. "Pak Tua Bonaga! Tunggu sebentar!"
Rombongan itu berhenti. Mereka berjalan sangat pelan, seolah memang menungguku—atau mungkin tidak peduli. Aku berhenti tepat di depan mereka, membungkuk dalam dengan napas yang masih terputus-putus.
"Pemimpin Desa," suara Pak Tua Bonaga terdengar masam. Ia menoleh dengan tatapan sinis. "Apakah Anda menyesal dan... ingin menarik kembali kata-kata Anda?"
"Eh?"
Napas yang hendak kuhirup tertahan di tenggorokan. Mataku terpaku pada sosok di samping Bonaga. Di sana berdiri seorang gadis muda yang tampak beranjak dewasa, kecantikannya begitu memikat hingga membuatku tertegun. Ia mengenakan pakaian yang menyerupai peri, kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Siapa gadis ini? batinku takjub.
"Ayah, ayo pergi!" ajak gadis itu pelan.
Suaranya bagai denting lonceng, memecah lamunanku. Jadi, dia putri si pak tua ini?
"Pak Tua Bonaga, kalau boleh tahu... siapa dia?" tanyaku, mencoba menyembunyikan rasa heran meski aku sudah bisa menebaknya.
Wajah Bonaga seketika berubah dingin. Tatapannya menjadi datar dan tajam. Dengan gerakan protektif, ia segera berdiri menghalangi putrinya, seolah-olah aku adalah pencuri yang siap melarikan harta berharganya.
"Dia putri tunggal saya," jawabnya ketus. "Dia biasanya bertugas merawat kuda-kuda di kandang belakang, itulah sebabnya Tuan Pemimpin tidak pernah melihatnya sebelumnya."
Wajahku memanas, memerah padam karena rasa heran yang luar biasa. Bagaimana mungkin Pak Tua Bonaga yang berwajah kacau dan berkulit legam ini punya putri secantik bidadari dengan kulit seputih porselen? batinku tak percaya.
Namun, aku sadar ini adalah kesempatan emas. Dengan wajah memelas yang sengaja dibuat-buat agar terlihat patut dikasihani, aku melangkah percaya diri. Aku meraih bahu sang Ahli Strategi itu dengan erat.
"Ayah... ah, maksudku Tuan Ahli Strategi yang sangat terhormat!" seruku dengan nada dramatis. "Aku baru saja mendapat pencerahan! Aku memikirkan sebuah rencana besar, tapi tanpamu, rencana ini hanya akan jadi angan-angan. Tanpamu, benteng kita tak lebih dari segumpal kapas yang rapuh! Aku baru sadar betapa luar biasanya dirimu. Tolong, jangan tinggalkan Gunung Parombunan ini sendirian bersamaku..."
Aku terus menghujaninya dengan pujian setinggi langit. "Kau telah bekerja keras bertahun-tahun, kontribusimu untuk benteng ini tak ternilai!" Aku berusaha keras menarik minatnya kembali, berharap kesetiaan yang dulu ia berikan pada mendiang ayahku bisa bangkit lagi.
Sial! Bajingan ini pasti ingin aku mati bersamanya! Itulah yang sebenarnya berteriak di dalam kepala Bonaga. Namun, sebagai rubah tua, ia hanya menepis pikirannya dan memasang senyum palsu yang kaku.
"Saya sebenarnya berat hati untuk pergi, Tuan Pemimpin. Tapi saya sudah sangat tua. Bukankah saya hanya akan menjadi beban bagi Anda?" sahutnya merendah.
"Beban? Ahli Strategi Bo, apa kau bercanda?!" sahutku cepat, berakting seolah-olah hatiku sangat lapang. "Setelah apa yang kau katakan, aku tidak akan membiarkanmu pergi, apa pun yang terjadi! Aku berjanji, selama aku masih bernapas, kalian tidak akan kelaparan. Lagipula... desa mana lagi yang mau menerimamu?"
Aku sengaja menyisipkan sedikit ancaman halus dalam permainanku. Bonaga mendengus, ekspresi kesalnya tak lagi bisa disembunyikan sepenuhnya.
"Tapi kita hanya bertiga. Bagaimana mungkin kita bisa bertahan hidup meski tetap tinggal?" tanyanya sangsi.
Aku tersenyum lebar, penuh percaya diri. "Apa yang kau takutkan, Pak Tua? Ambilkan senjataku! Aku sendiri yang akan pergi merampok dan menjarah musuh!"
Bayangan hadiah dari "Kakak Dewi" di kepalaku membuatku semakin bersemangat. Sambil tersenyum licik, mataku melirik ke arah putrinya. Berapa umur gadis ini? Apa dia sudah cukup umur? pikirku mulai melantur. Dengan ketampananku dan statusku sebagai tokoh utama, memiliki keturunan dari gadis secantik ini tentu bukan hal mustahil.
Aku semakin percaya diri. Sebagai Main Character seperti di novel-novel yang kubaca, aku pasti punya kekuatan super atau minimal pedang legendaris yang bisa membelah gunung, bukan?
"Ini... dia..."
Suara lembut gadis itu terdengar terengah-engah. Gadis imut yang mengenakan gaun kuning cantik itu tampak memaksakan diri, menyeret sebuah benda logam yang sangat besar. Senjata itu berbentuk kapak runcing dengan bilah panjang yang tampak sangat berat; sisi baliknya memiliki ujung runcing yang tajam, cukup untuk menembus zirah sekalipun.
Tubuh mungilnya terlihat begitu kepayahan, hingga gaun kuningnya yang indah kini berdebu dan kotor karena terseret di tanah.
"Ini... senjataku?" gumamku tak percaya.
Mataku melotot. Ini sangat berbeda dari apa yang kubayangkan! Apakah takdir benar-benar sedang mempermainkanku?
Pertama, takdir membunuhku di dunia sebelumnya dengan bencana alam dan gempa yang meratakan rumahku. Lalu, aku dikirim ke dunia antah berantah ini, diberi status sebagai pemimpin desa baru, tapi tanpa pasukan sama sekali. Dan sekarang, senjata pilihanku adalah... kapak?
Apa-apaan ini?!
Dalam pikiranku, kapak hanyalah alat untuk menebang kayu. Apakah aku harus pergi ke hutan lebat, menebang pohon, lalu menjual kayunya demi uang? Apakah aku harus menjadi tukang kayu daripada seorang raja?
"Brengsek!" caciku dalam hati, mengumpat pada takdir yang terasa begitu hambar. "Apanya yang pria pilihan? Kalau cuma begini, bagaimana caranya aku membangun desa menjadi benteng yang kuat?"
Di tengah gerutuanku, tiba-tiba sosok Dewi Celestial yang sebelumnya melempar jiwaku ke dunia ini muncul kembali. Hanya aku yang bisa melihat dan mendengar kehadirannya. Ia melayang dengan anggun, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aku benar-benar bingung. Misiku adalah menjadi penguasa bijak dan membangun benteng pertahanan. Di semua novel Fizzo, GoodNovel, atau komik di komiku.org yang pernah kubaca, sang tokoh utama selalu mendapatkan pedang legendaris dan teknik pedang yang luar biasa. Tidak pernah ada yang menggunakan kapak! Aku memang bisa sedikit bela diri, tapi untuk kapak? Mana ada skill yang bisa kugunakan?
Hah... nasibku tetap saja sial. Takdir sepertinya masih enggan berpihak padaku.
"Tidak buruk, anak muda! Ini hadiah untukmu!" ujar si Kakak Dewi Celestial dengan nada ceria.
Seketika, sebuah cahaya merasuki pikiranku. Karena aku berhasil menyelesaikan misi untuk menahan sang ahli strategi dan pengurus kuda agar tidak meninggalkan desa, sebuah hadiah diberikan: Skill ilmu pengendalian dan penggunaan kapak dengan baik dan benar.
Aku menghela napas panjang. Hah... yang benar saja.
Keluhanku semakin menjadi-jadi, namun aku sadar tidak bisa menolak takdir yang mengenaskan ini. Sepertinya, seberapa keras pun aku mencoba menjadi pahlawan, pada akhirnya aku tetap dipaksa menjadi bandit gunung—sama seperti ayah pemilik tubuh ini sebelumnya.
Padahal, di kehidupanku yang dulu, jiwa patriotismeku sangat membara. Semangat bela negaraku begitu besar, apalagi sejak melihat perjuangan Pak Prabowo Subianto yang menjabat sebagai presiden—seorang pejuang sejati yang meski berkali-kali terjatuh, tetap bangkit dan pantang menyerah. Namun sekarang? Apakah aku justru ditakdirkan menjadi musuh negara atau pemberontak kerajaan?
"Ya Tuhan, takdir macam apa ini?" keluhku dalam hati.
Tiba-tiba, skill kapak yang diberikan Dewi Celestial itu meresap ke dalam otakku. Rasanya luar biasa; informasi itu beresonansi dengan tubuhku secepat kilat tanpa perlu latihan bertahun-tahun. Layaknya seorang kultivator tingkat tinggi, aku kini bisa merasakan kekuatan yang mengalir. Aku tahu cara memegang kapak dengan genggaman maut, menebas dengan akurasi mematikan, serta mengayunkannya dengan presisi yang sempurna.
"Pemimpin Desa... bukankah terlalu berbahaya jika Anda pergi sendirian?"
Ahli Strategi Bonaga akhirnya angkat bicara. Suaranya lirih, disertai senyum kecil yang meremehkan, seolah ia sangat meragukan kemampuan "tuan muda"-nya ini.
Aku tidak mau ambil pusing. Alih-alih tersinggung, aku justru menatapnya dengan pandangan penuh percaya diri yang sangat dalam. Aku berharap tatapan itu bisa menjelaskan segalanya tanpa perlu kata-kata.
"Ah, aku...?"
Wajah Bonaga seketika pucat. Ia tersentak saat mengartikan maksud dari tatapanku. Yang benar saja! batinnya menjerit. Aku ini sudah tua!
Aku langsung mendekatinya dan menepuk bahunya. "Tidak, tidak... aku sangat tersentuh karena Pak Tua begitu perhatian dan mengkhawatirkanku. Karena itu, aku tidak akan pergi sendirian. Kamu akan ikut denganku!"
Mendengar itu, tubuh Bonaga sontak membeku. Ia mematung layaknya patung batu di tengah hujan.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanyaku dengan nada dingin namun serius. Untuk menambah efek dramatis, aku mengangkat kapak besi berat itu dengan satu tangan secara gagah, menunjukkan bahwa aku bukan lagi bocah lemah yang dulu ia kenal.
"Ti... tidak. Tidak ada, Tuan..."
Wajahnya mengerut hebat. Alisnya terangkat sebelah dan bibirnya menyengir kecut—sebuah ekspresi tidak terima yang dibalut ketidakberdayaan untuk menolak perintah.
"Tarik kudanya, ayo berangkat!" seruku setelah melompat naik ke atas kuda.
Kuda hitam ini sebenarnya memiliki perawakan kuda perang, namun kondisinya memprihatinkan. Kulitnya pucat dan tubuhnya kurus, mungkin karena kurang makan sehingga tenaganya tampak habis. Namun, tidak ada waktu untuk mengeluh.
[Misi Baru Muncul]
Tujuan: Berhasil melakukan perampokan sebelum matahari terbenam.
Hadiah: Undian acak dari Alam Celestial.
Hukuman Kegagalan: KEMATIAN.
"Hah... takdir yang benar-benar mengecewakan," desahku lelah. Hidupku sekarang benar-benar di ujung tanduk.
"Pemimpin Desa, ayo pergi..."
Bonaga mengajak berangkat dengan wajah gelap dan ekspresi terpaksa. Di dalam kepalanya, ia mungkin sudah membayangkan kematian yang akan menjemput kami berdua, berpikir bahwa lebih baik mati sekarang daripada hidup sengsara dan merepotkan putri kecilnya.
"Tidak, jangan panggil aku Pemimpin Desa..." seruku padanya sembari tersenyum bangga dari atas pelana.
Gimana nggak bangga? Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah seorang gamer yang merangkap jadi operator warnet—yah, meski warnetnya punya sendiri, sih. Tapi sekarang? Aku dapat kesempatan jadi bos sungguhan! Hahaha! Meski takdir belum sepenuhnya berpihak padaku, aku akan tunjukkan kalau aku layak memegang posisi ini.
"Panggil aku... Boss!"
Aku menarik tali kekang kuda dengan gaya seorang jenderal yang siap menggetarkan medan tempur. "Ow.. Wu....!"
Di kala senja mulai menjingga, sebuah iring-iringan kecil melintasi lereng pegunungan yang terjal. Di tengah formasi, sebuah kereta kuda dengan tirai jendela tertutup rapat bergerak dengan anggun namun penuh rahasia. Pasukan pengawal yang sigap mengelilinginya, mata mereka tajam memindai setiap sudut tebing dan semak belukar yang mencurigakan.
Hanya suara derap kaki kuda dan roda kereta yang berguncang memecah kesunyian jalan setapak berliku. Di satu sisi, tebing curam menjulang, dan di sisi lain, jurang menganga siap menelan siapapun yang terpeleset. Ini adalah perjalanan sunyi melawan waktu sebelum kegelapan total menyelimuti hutan.
"Parangan Bela..." Sang pemimpin pengawal memanggil bawahannya yang berkuda di sampingnya.
Pemimpin pengawalan itu bertubuh tegap, berkulit hitam, dengan wajah persegi yang keras. Rambutnya berdiri kaku (jingkrak), dan pakaian pasukannya memberikan kesan sangar yang tak terbantahkan. Sementara itu, Parangan Bela memiliki perawakan yang lebih ramping, wajah yang lumayan tampan, dan kulit sawo matang. Seragam mereka serupa, hanya berbeda pada warnanya saja.
"Ada banyak bandit gunung di sekitar sini. Kali ini kita harus lebih waspada karena kita sedang mengawal tunangan dari putra pemimpin Sopo," perintahnya dengan suara tegas dan jantan.
"Bandit gunung, ya?" Bela tersenyum sinis, seakan meremehkan sosok yang selama ini menjadi momok bagi para musafir yang lewat.
Dengan tatapan tajam dan ekspresi yang berubah serius, ia kembali angkat bicara, "Jika mereka berani menampakkan hidung, aku akan biarkan mereka merasakan betapa dinginnya ujung tombakku!"
"Perjalanan ini sebenarnya terlalu damai sejak awal. Tanganku sudah gatal ingin menghajar seseorang!"
Suara Parangan Bela menggelegar penuh keangkuhan. Ia mengangkat tombak panjangnya yang berkilau tertimpa cahaya senja, seolah-olah sedang menantang takdir untuk mengirimkan musuh ke hadapannya.
Sementara itu, di puncak bukit yang terjal, aku dan Ahli Strategi Bonaga sudah bersiap. Kami bersembunyi di balik semak, mengawasi jalan setapak di bawah yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu aksi pertamaku.
"Bos, matahari hampir tenggelam. Tidak ada tanda-tanda siapa pun yang lewat. Mari kita mundur saja dan kembali besok," bisik Bonaga. Ia tampak gelisah, matanya terus memandangi ufuk barat yang kian menggelap.
"Tunggu!" seruku pendek dengan keyakinan penuh. Entah kenapa, insting gamer-ku mengatakan bahwa "misi" ini tidak akan membiarkanku menunggu sia-sia.
Di bawah sana, iring-iringan itu terus bergerak maju.
"Aku mengandalkanmu, Parangan Bela. Kali ini kita mengawal Nona dari keluarga Sinaga menuju Sopo Huta Balga untuk dinikahkan dengan Anak Ni Raja," ujar sang pemimpin pengawal dengan nada berat. "Misi ini krusial untuk hubungan antara Sopo Bolon Sinaga dan Huta Balga. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun!"
"Pengurus rumah tangga keluarga Sinaga saja yang terlalu penakut," teriak salah satu pengawal yang berjalan kaki di belakang sambil tertawa.
"Benar! Kita ini bergerak atas perintah Pemimpin Huta. Siapa yang punya nyali menyerang kita? Apa mereka sudah bosan hidup?" sahut pengawal lainnya dengan sombong.
Mendengar percakapan itu dari kejauhan, aku menyeringai. "Lihat, mangsa kita sudah tiba!" bisikku saat gerbong kereta mewah itu muncul di pandangan.
"Satu, dua, tiga... sembilan..."
Bonaga mulai menghitung jumlah pengawal dengan wajah yang kian pucat. "Bos, ada terlalu banyak orang! Pengawal berkuda, pasukan jalan kaki... ini mustahil! Ayo kita batalkan saja misi gila ini dan pulang!"
Membatalkan misi? Enak saja! Dia tidak tahu kalau sistem Dewi Celestial itu tidak mengenal kata 'batal'. Kalau aku tidak menyerang, aku tetap akan mati terkena hukuman sistem. Lebih baik aku maju dan mati sebagai ksatria daripada mati konyol karena gagal misi!
"Pak Tua Bona, jangan takut!" seruku dengan suara gagah, mencoba membakar semangatnya (atau mungkin sekadar menakutinya). "Jika memang harus mati hari ini, aku bangga bisa mati bersamamu!"
Wajah Bonaga seketika murung, ekspresinya berubah gelap gulita seolah baru saja dijatuhi hukuman gantung.
Tapi aku tidak mau mati bersamamu, Bodoh! teriaknya dalam hati dengan penuh penderitaan.
Mereka bertiga saling berpandangan, tampak tertegun sejenak mendengar pertanyaanku yang langsung menembak ke titik paling sensitif: alasan mereka memilih jalan kegelapan sebagai bandit.Guan Yu akhirnya melangkah maju. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, memberikan hormat yang sangat formal sebelum angkat bicara. "Sesampainya kami di sebuah desa tak jauh dari sini, kami melihat preman setempat melakukan kejahatan yang melampaui batas. Tanpa bisa ditahan, saudara kami membunuh mereka. Sekarang, pemerintah sedang memburu kami. Karena mendengar reputasi Tuan Raja yang disegani, kami sepakat untuk datang mengabdi ke sini."Aku mengangguk-angguk. Jujur saja, meski aku tahu mereka tokoh besar, aku tidak tahu detail sejarah mereka di garis waktu ini. Jadi aku sengaja memancing."Lalu, siapa di antara kalian bertiga yang membunuhnya?" tanyaku menyelidik.Liu Bei hanya terdiam seribu bahasa, wajahnya tetap tenang seperti ai
Waktu seolah membeku. Di tengah sorakan "Horas!" yang membahana, sebuah layar hologram transparan muncul di hadapanku, berkilat-kilat dengan efek api yang dramatis."Mantap juga, ada cutscene-nya segala," gumamku sambil menyilangkan tangan, menanti hadiah kemenangan atas si monster Dumang.[NOTIFIKASI SISTEM: HADIAH KEMENANGAN]Nama: Zhang Fei si Pembuat AnggurUsia: 18 TahunSkill: Pembuat Anggur (Kualitas: Dipertanyakan)Atribut Tersembunyi: Tidak AdaAku melongo menatap layar itu. "Bah! Zhang Fei?" teriakku dalam hati. "Jenderal ganas dari Zaman Tiga Kerajaan itu masuk ke sini jadi pembuat anggur? Bukannya ahli tombak perkasa, malah disuruh bikin minuman!"Lebih parahnya lagi, deskripsi sistem menyebutkan kualitas anggurnya buruk. Ini mah bukan dapet aset, tapi dapet tukang b
"SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be
Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka
Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s
Suasana di pinggir Sungai Aek Doras begitu tenang, hanya suara gemericik air dan desau angin yang menemani para pemuka Desa Martinju menghabiskan waktu dengan memancing. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar dari kekecewaan yang mendalam di hati sang Kepala Desa."Kupikir kita punya harga diri di sana. Tak disangka, wajah kita ternyata dianggap seperti pantat baginya!" seru Tahan Sagala dengan nada getir.Ia benar-benar kecewa. Ia ingat betul bagaimana dulu, saat Dumang Saruksuk nyaris tewas dengan luka fatal setelah bertarung melawan harimau sendirian, Martinju-lah yang menjadi penyelamatnya. Tahan Sagala sendiri yang merawatnya hingga sembuh total. Namun kini, kebaikan itu seolah sirna tertutup angkuhnya Kota Tarutung."Abang, sekarang bukan lagi masa lalu," sahut Garau, mencoba memprovokasi suasana. "Bos Dumang sudah tidak lagi bergantung pada kita untuk makan. Orang itu sudah tidak melihat kita sebagai saudara lagi!"







