Share

3. MISI PERTAMA

Author: Lampard46
last update Last Updated: 2025-12-20 12:41:30

Ruang Celestial Surgawi adalah sebuah dimensi suci yang berada jauh di atas batas dunia fana. Tempat ini tidak terikat oleh hukum fisika atau waktu; setiap sudutnya adalah perpaduan antara keagungan ilahi dan ketenangan tanpa batas.

Di ruang ini, langit tidak berwarna biru tetapi memancarkan cahaya keemasan lembut, seperti matahari terbit yang tidak pernah padam. Cahaya itu tidak menyilaukan—melainkan hangat, menentramkan, seolah meresapi tubuh dan jiwa sekaligus.

Tanahnya tampak seperti lantai marmer bening, namun jika diperhatikan lebih dekat, ia bukan batu… melainkan kristal hidup. Kristal itu memantulkan cahaya-cahaya kecil yang berkelip seperti bintang. Setiap langkah yang diambil menimbulkan riak cahaya tipis yang menyebar perlahan, seolah ruang ini mengenali keberadaan siapa pun yang memasukinya.

Di kejauhan, berdiri pilar-pilar raksasa berwarna putih mutiara, melayang tanpa sentuhan tanah. Pilar-pilar itu menjulang tinggi hingga menembus kabut cahaya di atas, seperti penyangga alam semesta. Pada puncaknya, terdapat lingkaran cahaya yang terus berputar, memancarkan energi suci yang menenangkan.

Angin tipis berembus, namun bukan angin biasa — hembusan itu terdengar seperti senandung lembut, nyanyian yang membawa ketenangan di setiap alunan yang menggema halus di telinga. Aromanya pun berbeda: ringan, murni, seperti wangi bunga yang belum pernah ada di dunia manusia.

Di bagian pusat ruangan, terdapat altar cahaya berbentuk lingkaran, tempat di mana wujud sang Dewi pertama kali menampakkan diri. Lingkaran itu bersinar dengan pola-pola kuno yang bergerak perlahan seperti aliran air, melambangkan bahwa tempat itu adalah titik pertemuan antara doa manusia dan kekuatan ilahi.

Kadang dalam jarak pandang, terlihat lorong - lorong cahaya yang menggantung di udara, seperti pintu menuju dunia lain. Beberapa terbuka, menampilkan sekilas gambaran masa lalu atau masa depan. Sebagian lagi tertutup rapat seperti misteri yang belum waktunya dibuka.

Secara keseluruhan…

Ruang Celestial Surgawi adalah wujud dari doa paling tulus, energi paling suci, dan harapan yang tidak pernah mati.

Sebuah tempat yang hanya dapat diakses oleh jiwa yang dipilih.

*

Aku terpaku, tak mampu mengalihkan pandangan dari kemegahan ruang tak berujung ini. Semakin lama aku melihatnya, semakin jelas bahwa tempat ini bukan sekadar ruang — ini adalah dunia suci yang melampaui batas logika dan imajinasi manusia.

Keindahannya… nyaris membuatku lupa bernapas.

Tiba-tiba, suara lembut namun penuh wibawa bergema dari arah sang Dewi.

Selamat kuucapkan kepadamu… karena telah membuka kehendak untuk membangkitkan kerajaan.

Kata-kata itu mengalir seperti dentingan lonceng surgawi — jernih, agung, dan membawa sebuah makna yang jauh lebih besar dari yang dapat kupahami.

Angin semilir berputar mengitari tubuhku, mengangkat rambutku perlahan. Hembusan itu terasa hangat, seolah mengisi kembali sesuatu yang telah lama hilang dariku.

Semangat yang dulu padam… kini menyala kembali.

Dadaku bergetar oleh dorongan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Di tengah kehancuran hidupku, di tengah dunia yang menelantarkanku… kini suara ilahi itu mengangkatku kembali, mengingatkanku bahwa masih ada sesuatu yang menungguku. Sesuatu yang besar.

Kerajaan…?

Takdir…?

Atau sebuah awal baru?

Yang jelas, ucapan sang Dewi telah menghidupkan kembali bara yang sempat redup di hatiku.

“Tunggu…”

Seketika sebuah pikiran menghantam kepalaku.

Pemandangan ini… antarmuka mengambang yang menunjukkan status…

Bukankah ini—*

"Rise of Kingdom…"

Aku bergumam tak percaya.

Ya, kau benar.

Sang Dewi tersenyum lembut. “Dan aku berada di sini untuk membantumu.

Di hadapanku, layar cahaya melayang terbuka, menampilkan tulisan yang tampak begitu familiar.

Desa: Parombunan

Status: Pembukaan Kerajaan Pemula

Kondisi: Hampir ditinggalkan

Pemilik & Penguasa: Kamu

Populasi: 3 orang

Pemimpin / Raja : Raja Doli

Ahli Strategi : Bonaga

Pengurus Kuda : Butet

Melihat layar melayang tanpa perangkat apa pun itu, aku serasa ditarik kembali ke masa ketika aku memainkan game ini di komputer lamaku.

Namun kini, data itu bukan sekadar angka.

Ini adalah kenyataan.

Apakah aku… bisa mengubah sejarah dan masa depan dunia ini?

Pertanyaan itu berbisik lirih di kepalaku.

Layar berganti, menampilkan deretan tulisan lain — lebih gelap, lebih serius.

Misi Utama

Jangan biarkan populasi menjadi 1.

Hentikan penduduk dari meninggalkan desa.

Konsekuensi Kegagalan:

Ruang Celestial Surgawi akan runtuh.

Jiwa Pemilik akan musnah sepenuhnya — tidak ke surga, tidak ke neraka.

Tulisan itu berpendar kemudian menghilang, digantikan instruksi lain.

Misi telah dikeluarkan.

Selesaikan sebelum keadaan memburuk.

Tidak akan ada kesempatan kedua.”

Angin lembut menerpa wajahku, namun suara sang Dewi jauh lebih menggugah.

Pemuda pemberani… kau penuh energi.

Tapi sayangnya, populasi desa terlalu sedikit.

Ia melangkah mendekat, senyumannya hangat dan… familiar — terlalu mirip dengan istriku sehingga hatiku terasa diremas.

Kau harus menghentikan Ahli Strategi dan Pengurus Kuda dari meninggalkan desa.

Aku menelan ludah, mencoba memahami apa yang harus kulakukan.

Layar kembali menyala.

Misi Tambahan

Gunakan cara yang tulus untuk menghentikan Pengurus Kuda dan Ahli Strategi agar tidak pergi.

“Ehem…”

Aku menarik napas dan menatap sang Dewi.

Aku akan mencoba menyelesaikan misi itu. Tapi… bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini…?

Nada suaraku kubuat serendah dan sehalus mungkin, berharap sang Dewi berkenan memberi petunjuk.

Mendengar pertanyaanku, sang Dewi terkekeh kecil. Tawa mungilnya terdengar seperti dentingan kristal, sementara wajahnya tetap imut dan manis — bahaya terselubung di balik keanggunan.

Itu pertanyaan yang bagus… kemarilah.

Nada suaranya lembut, namun memiliki kekuatan yang menuntut ketaatan.

Aku menelan ludah dan melangkah mendekat. Saat aku berada cukup dekat, jari-jemarinya menyentuh kerah pakaianku — dan sebelum sempat kupahami apa maksudnya, tubuhku terangkat.

Dengan satu tangan.

Seperti aku ini sekadar sehelai kertas.

“Heh…?”

Aku terperanjat — lebih tepatnya syok — dan nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak panik.

Ini dia…

Tanpa peringatan, tubuhku dilempar ke atas sekuat dewa.

Dunia di bawahku langsung menghilang, berganti cahaya keemasan dan ketinggian yang membuat perutku terbalik.

“AAAAH—!”

Angin memekik di telingaku. Tubuhku melayang seperti bola yang baru saja dilempar ke langit oleh makhluk super… atau dalam hal ini, seorang Dewi yang tampak terlalu cantik untuk memiliki kekuatan mengerikan seperti itu.

“Dasar… dewi gila…” gumamku lirih — sangat lirih — karena aku tidak cukup bodoh untuk menyinggung makhluk yang bisa melenyapkanku dengan satu jentikan jari.

Kalau dia mendengar? Tamatlah riwayatku sebelum misi dimulai.

Wajar saja aku panik.

Walaupun aku orang modern yang sempat belajar martial art, itu pun hanya level pemula — sekadar untuk menjaga diri.

Tidak pernah sekalipun aku membayangkan harus menghadapi situasi dilempar ribuan meter ke udara oleh entitas ilahi.

Aku bukan pendekar.

Aku bukan pahlawan.

Aku hanya seorang manusia biasa…

yang tiba - tiba terlempar ke dimensi lain dan dipaksa menghadapi takdir besar yang bahkan belum kumengerti sepenuhnya.

Ahhhh......

Aku menjerit sejadi-jadinya. Jantungku serasa tertinggal di langit saat tubuhku terlempar ke ketinggian yang tak masuk akal. Tanpa pengaman, tanpa parasut, hanya ada kekosongan yang siap menelan nyawaku.

"Hah... Hah...!"

Aku tersentak bangun dengan napas memburu. Keringat dingin mengucur deras. Aku mengerjap, menyadari diriku sudah berlutut di atas lantai kayu rumah yang kutinggali sebelumnya. Lantai itu terasa dingin di bawah jemariku. Apakah... apakah semua kegilaan tadi hanya mimpi?

"Ah ya, benar sekali," bisik sebuah suara lembut namun dingin tepat di telingaku. Itu suara gadis entitas misterius itu. "Tapi ingat, jika kamu tidak menyelesaikan misi ini, aku pastikan kamu akan benar-benar terbunuh."

Kata-katanya seketika membekukan darahku. Tubuhku menegang kaku. Ini bukan sekadar mimpi; ini adalah peringatan nyata.

Tanpa pikir panjang, aku melesat keluar rumah. Aku harus mengejar Bonaga, sang ahli strategi. Menurut perhitunganku, dia belum pergi terlalu jauh. Aku berlari menuruni lereng bukit secepat yang kubisa, membiarkan angin dingin menusuk wajahku.

"Pak Tua Bonaga!" teriakku parau saat melihat bayangan mereka di kejauhan. "Pak Tua Bonaga! Tunggu sebentar!"

Rombongan itu berhenti. Mereka berjalan sangat pelan, seolah memang menungguku—atau mungkin tidak peduli. Aku berhenti tepat di depan mereka, membungkuk dalam dengan napas yang masih terputus-putus.

"Pemimpin Desa," suara Pak Tua Bonaga terdengar masam. Ia menoleh dengan tatapan sinis. "Apakah Anda menyesal dan... ingin menarik kembali kata-kata Anda?"

"Eh?"

Napas yang hendak kuhirup tertahan di tenggorokan. Mataku terpaku pada sosok di samping Bonaga. Di sana berdiri seorang gadis muda yang tampak beranjak dewasa, kecantikannya begitu memikat hingga membuatku tertegun. Ia mengenakan pakaian yang menyerupai peri, kontras dengan kulitnya yang putih bersih.

Siapa gadis ini? batinku takjub.

"Ayah, ayo pergi!" ajak gadis itu pelan.

Suaranya bagai denting lonceng, memecah lamunanku. Jadi, dia putri si pak tua ini?

"Pak Tua Bonaga, kalau boleh tahu... siapa dia?" tanyaku, mencoba menyembunyikan rasa heran meski aku sudah bisa menebaknya.

Wajah Bonaga seketika berubah dingin. Tatapannya menjadi datar dan tajam. Dengan gerakan protektif, ia segera berdiri menghalangi putrinya, seolah-olah aku adalah pencuri yang siap melarikan harta berharganya.

"Dia putri tunggal saya," jawabnya ketus. "Dia biasanya bertugas merawat kuda-kuda di kandang belakang, itulah sebabnya Tuan Pemimpin tidak pernah melihatnya sebelumnya."

Wajahku memanas, memerah padam karena rasa heran yang luar biasa. Bagaimana mungkin Pak Tua Bonaga yang berwajah kacau dan berkulit legam ini punya putri secantik bidadari dengan kulit seputih porselen? batinku tak percaya.

Namun, aku sadar ini adalah kesempatan emas. Dengan wajah memelas yang sengaja dibuat-buat agar terlihat patut dikasihani, aku melangkah percaya diri. Aku meraih bahu sang Ahli Strategi itu dengan erat.

"Ayah... ah, maksudku Tuan Ahli Strategi yang sangat terhormat!" seruku dengan nada dramatis. "Aku baru saja mendapat pencerahan! Aku memikirkan sebuah rencana besar, tapi tanpamu, rencana ini hanya akan jadi angan-angan. Tanpamu, benteng kita tak lebih dari segumpal kapas yang rapuh! Aku baru sadar betapa luar biasanya dirimu. Tolong, jangan tinggalkan Gunung Parombunan ini sendirian bersamaku..."

Aku terus menghujaninya dengan pujian setinggi langit. "Kau telah bekerja keras bertahun-tahun, kontribusimu untuk benteng ini tak ternilai!" Aku berusaha keras menarik minatnya kembali, berharap kesetiaan yang dulu ia berikan pada mendiang ayahku bisa bangkit lagi.

Sial! Bajingan ini pasti ingin aku mati bersamanya! Itulah yang sebenarnya berteriak di dalam kepala Bonaga. Namun, sebagai rubah tua, ia hanya menepis pikirannya dan memasang senyum palsu yang kaku.

"Saya sebenarnya berat hati untuk pergi, Tuan Pemimpin. Tapi saya sudah sangat tua. Bukankah saya hanya akan menjadi beban bagi Anda?" sahutnya merendah.

"Beban? Ahli Strategi Bo, apa kau bercanda?!" sahutku cepat, berakting seolah-olah hatiku sangat lapang. "Setelah apa yang kau katakan, aku tidak akan membiarkanmu pergi, apa pun yang terjadi! Aku berjanji, selama aku masih bernapas, kalian tidak akan kelaparan. Lagipula... desa mana lagi yang mau menerimamu?"

Aku sengaja menyisipkan sedikit ancaman halus dalam permainanku. Bonaga mendengus, ekspresi kesalnya tak lagi bisa disembunyikan sepenuhnya.

"Tapi kita hanya bertiga. Bagaimana mungkin kita bisa bertahan hidup meski tetap tinggal?" tanyanya sangsi.

Aku tersenyum lebar, penuh percaya diri. "Apa yang kau takutkan, Pak Tua? Ambilkan senjataku! Aku sendiri yang akan pergi merampok dan menjarah musuh!"

Bayangan hadiah dari "Kakak Dewi" di kepalaku membuatku semakin bersemangat. Sambil tersenyum licik, mataku melirik ke arah putrinya. Berapa umur gadis ini? Apa dia sudah cukup umur? pikirku mulai melantur. Dengan ketampananku dan statusku sebagai tokoh utama, memiliki keturunan dari gadis secantik ini tentu bukan hal mustahil.

Aku semakin percaya diri. Sebagai Main Character seperti di novel-novel yang kubaca, aku pasti punya kekuatan super atau minimal pedang legendaris yang bisa membelah gunung, bukan?

"Ini... dia..."

Suara lembut gadis itu terdengar terengah-engah. Gadis imut yang mengenakan gaun kuning cantik itu tampak memaksakan diri, menyeret sebuah benda logam yang sangat besar. Senjata itu berbentuk kapak runcing dengan bilah panjang yang tampak sangat berat; sisi baliknya memiliki ujung runcing yang tajam, cukup untuk menembus zirah sekalipun.

Tubuh mungilnya terlihat begitu kepayahan, hingga gaun kuningnya yang indah kini berdebu dan kotor karena terseret di tanah.

"Ini... senjataku?" gumamku tak percaya.

Mataku melotot. Ini sangat berbeda dari apa yang kubayangkan! Apakah takdir benar-benar sedang mempermainkanku?

Pertama, takdir membunuhku di dunia sebelumnya dengan bencana alam dan gempa yang meratakan rumahku. Lalu, aku dikirim ke dunia antah berantah ini, diberi status sebagai pemimpin desa baru, tapi tanpa pasukan sama sekali. Dan sekarang, senjata pilihanku adalah... kapak?

Apa-apaan ini?!

Dalam pikiranku, kapak hanyalah alat untuk menebang kayu. Apakah aku harus pergi ke hutan lebat, menebang pohon, lalu menjual kayunya demi uang? Apakah aku harus menjadi tukang kayu daripada seorang raja?

"Brengsek!" caciku dalam hati, mengumpat pada takdir yang terasa begitu hambar. "Apanya yang pria pilihan? Kalau cuma begini, bagaimana caranya aku membangun desa menjadi benteng yang kuat?"

Di tengah gerutuanku, tiba-tiba sosok Dewi Celestial yang sebelumnya melempar jiwaku ke dunia ini muncul kembali. Hanya aku yang bisa melihat dan mendengar kehadirannya. Ia melayang dengan anggun, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

Aku benar-benar bingung. Misiku adalah menjadi penguasa bijak dan membangun benteng pertahanan. Di semua novel Fizzo, GoodNovel, atau komik di komiku.org yang pernah kubaca, sang tokoh utama selalu mendapatkan pedang legendaris dan teknik pedang yang luar biasa. Tidak pernah ada yang menggunakan kapak! Aku memang bisa sedikit bela diri, tapi untuk kapak? Mana ada skill yang bisa kugunakan?

Hah... nasibku tetap saja sial. Takdir sepertinya masih enggan berpihak padaku.

"Tidak buruk, anak muda! Ini hadiah untukmu!" ujar si Kakak Dewi Celestial dengan nada ceria.

Seketika, sebuah cahaya merasuki pikiranku. Karena aku berhasil menyelesaikan misi untuk menahan sang ahli strategi dan pengurus kuda agar tidak meninggalkan desa, sebuah hadiah diberikan: Skill ilmu pengendalian dan penggunaan kapak dengan baik dan benar.

Aku menghela napas panjang. Hah... yang benar saja.

Keluhanku semakin menjadi-jadi, namun aku sadar tidak bisa menolak takdir yang mengenaskan ini. Sepertinya, seberapa keras pun aku mencoba menjadi pahlawan, pada akhirnya aku tetap dipaksa menjadi bandit gunung—sama seperti ayah pemilik tubuh ini sebelumnya.

Padahal, di kehidupanku yang dulu, jiwa patriotismeku sangat membara. Semangat bela negaraku begitu besar, apalagi sejak melihat perjuangan Pak Prabowo Subianto yang menjabat sebagai presiden—seorang pejuang sejati yang meski berkali-kali terjatuh, tetap bangkit dan pantang menyerah. Namun sekarang? Apakah aku justru ditakdirkan menjadi musuh negara atau pemberontak kerajaan?

"Ya Tuhan, takdir macam apa ini?" keluhku dalam hati.

Tiba-tiba, skill kapak yang diberikan Dewi Celestial itu meresap ke dalam otakku. Rasanya luar biasa; informasi itu beresonansi dengan tubuhku secepat kilat tanpa perlu latihan bertahun-tahun. Layaknya seorang kultivator tingkat tinggi, aku kini bisa merasakan kekuatan yang mengalir. Aku tahu cara memegang kapak dengan genggaman maut, menebas dengan akurasi mematikan, serta mengayunkannya dengan presisi yang sempurna.

"Pemimpin Desa... bukankah terlalu berbahaya jika Anda pergi sendirian?"

Ahli Strategi Bonaga akhirnya angkat bicara. Suaranya lirih, disertai senyum kecil yang meremehkan, seolah ia sangat meragukan kemampuan "tuan muda"-nya ini.

Aku tidak mau ambil pusing. Alih-alih tersinggung, aku justru menatapnya dengan pandangan penuh percaya diri yang sangat dalam. Aku berharap tatapan itu bisa menjelaskan segalanya tanpa perlu kata-kata.

"Ah, aku...?"

Wajah Bonaga seketika pucat. Ia tersentak saat mengartikan maksud dari tatapanku. Yang benar saja! batinnya menjerit. Aku ini sudah tua!

Aku langsung mendekatinya dan menepuk bahunya. "Tidak, tidak... aku sangat tersentuh karena Pak Tua begitu perhatian dan mengkhawatirkanku. Karena itu, aku tidak akan pergi sendirian. Kamu akan ikut denganku!"

Mendengar itu, tubuh Bonaga sontak membeku. Ia mematung layaknya patung batu di tengah hujan.

"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanyaku dengan nada dingin namun serius. Untuk menambah efek dramatis, aku mengangkat kapak besi berat itu dengan satu tangan secara gagah, menunjukkan bahwa aku bukan lagi bocah lemah yang dulu ia kenal.

"Ti... tidak. Tidak ada, Tuan..."

Wajahnya mengerut hebat. Alisnya terangkat sebelah dan bibirnya menyengir kecut—sebuah ekspresi tidak terima yang dibalut ketidakberdayaan untuk menolak perintah.

"Tarik kudanya, ayo berangkat!" seruku setelah melompat naik ke atas kuda.

Kuda hitam ini sebenarnya memiliki perawakan kuda perang, namun kondisinya memprihatinkan. Kulitnya pucat dan tubuhnya kurus, mungkin karena kurang makan sehingga tenaganya tampak habis. Namun, tidak ada waktu untuk mengeluh.

[Misi Baru Muncul]

Tujuan: Berhasil melakukan perampokan sebelum matahari terbenam.

Hadiah: Undian acak dari Alam Celestial.

Hukuman Kegagalan: KEMATIAN.

"Hah... takdir yang benar-benar mengecewakan," desahku lelah. Hidupku sekarang benar-benar di ujung tanduk.

"Pemimpin Desa, ayo pergi..."

Bonaga mengajak berangkat dengan wajah gelap dan ekspresi terpaksa. Di dalam kepalanya, ia mungkin sudah membayangkan kematian yang akan menjemput kami berdua, berpikir bahwa lebih baik mati sekarang daripada hidup sengsara dan merepotkan putri kecilnya.

"Tidak, jangan panggil aku Pemimpin Desa..." seruku padanya sembari tersenyum bangga dari atas pelana.

Gimana nggak bangga? Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah seorang gamer yang merangkap jadi operator warnet—yah, meski warnetnya punya sendiri, sih. Tapi sekarang? Aku dapat kesempatan jadi bos sungguhan! Hahaha! Meski takdir belum sepenuhnya berpihak padaku, aku akan tunjukkan kalau aku layak memegang posisi ini.

"Panggil aku... Boss!"

Aku menarik tali kekang kuda dengan gaya seorang jenderal yang siap menggetarkan medan tempur. "Ow.. Wu....!"

Di kala senja mulai menjingga, sebuah iring-iringan kecil melintasi lereng pegunungan yang terjal. Di tengah formasi, sebuah kereta kuda dengan tirai jendela tertutup rapat bergerak dengan anggun namun penuh rahasia. Pasukan pengawal yang sigap mengelilinginya, mata mereka tajam memindai setiap sudut tebing dan semak belukar yang mencurigakan.

Hanya suara derap kaki kuda dan roda kereta yang berguncang memecah kesunyian jalan setapak berliku. Di satu sisi, tebing curam menjulang, dan di sisi lain, jurang menganga siap menelan siapapun yang terpeleset. Ini adalah perjalanan sunyi melawan waktu sebelum kegelapan total menyelimuti hutan.

"Parangan Bela..." Sang pemimpin pengawal memanggil bawahannya yang berkuda di sampingnya.

Pemimpin pengawalan itu bertubuh tegap, berkulit hitam, dengan wajah persegi yang keras. Rambutnya berdiri kaku (jingkrak), dan pakaian pasukannya memberikan kesan sangar yang tak terbantahkan. Sementara itu, Parangan Bela memiliki perawakan yang lebih ramping, wajah yang lumayan tampan, dan kulit sawo matang. Seragam mereka serupa, hanya berbeda pada warnanya saja.

"Ada banyak bandit gunung di sekitar sini. Kali ini kita harus lebih waspada karena kita sedang mengawal tunangan dari putra pemimpin Sopo," perintahnya dengan suara tegas dan jantan.

"Bandit gunung, ya?" Bela tersenyum sinis, seakan meremehkan sosok yang selama ini menjadi momok bagi para musafir yang lewat.

Dengan tatapan tajam dan ekspresi yang berubah serius, ia kembali angkat bicara, "Jika mereka berani menampakkan hidung, aku akan biarkan mereka merasakan betapa dinginnya ujung tombakku!"

"Perjalanan ini sebenarnya terlalu damai sejak awal. Tanganku sudah gatal ingin menghajar seseorang!"

Suara Parangan Bela menggelegar penuh keangkuhan. Ia mengangkat tombak panjangnya yang berkilau tertimpa cahaya senja, seolah-olah sedang menantang takdir untuk mengirimkan musuh ke hadapannya.

Sementara itu, di puncak bukit yang terjal, aku dan Ahli Strategi Bonaga sudah bersiap. Kami bersembunyi di balik semak, mengawasi jalan setapak di bawah yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu aksi pertamaku.

"Bos, matahari hampir tenggelam. Tidak ada tanda-tanda siapa pun yang lewat. Mari kita mundur saja dan kembali besok," bisik Bonaga. Ia tampak gelisah, matanya terus memandangi ufuk barat yang kian menggelap.

"Tunggu!" seruku pendek dengan keyakinan penuh. Entah kenapa, insting gamer-ku mengatakan bahwa "misi" ini tidak akan membiarkanku menunggu sia-sia.

Di bawah sana, iring-iringan itu terus bergerak maju.

"Aku mengandalkanmu, Parangan Bela. Kali ini kita mengawal Nona dari keluarga Sinaga menuju Sopo Huta Balga untuk dinikahkan dengan Anak Ni Raja," ujar sang pemimpin pengawal dengan nada berat. "Misi ini krusial untuk hubungan antara Sopo Bolon Sinaga dan Huta Balga. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun!"

"Pengurus rumah tangga keluarga Sinaga saja yang terlalu penakut," teriak salah satu pengawal yang berjalan kaki di belakang sambil tertawa.

"Benar! Kita ini bergerak atas perintah Pemimpin Huta. Siapa yang punya nyali menyerang kita? Apa mereka sudah bosan hidup?" sahut pengawal lainnya dengan sombong.

Mendengar percakapan itu dari kejauhan, aku menyeringai. "Lihat, mangsa kita sudah tiba!" bisikku saat gerbong kereta mewah itu muncul di pandangan.

"Satu, dua, tiga... sembilan..."

Bonaga mulai menghitung jumlah pengawal dengan wajah yang kian pucat. "Bos, ada terlalu banyak orang! Pengawal berkuda, pasukan jalan kaki... ini mustahil! Ayo kita batalkan saja misi gila ini dan pulang!"

Membatalkan misi? Enak saja! Dia tidak tahu kalau sistem Dewi Celestial itu tidak mengenal kata 'batal'. Kalau aku tidak menyerang, aku tetap akan mati terkena hukuman sistem. Lebih baik aku maju dan mati sebagai ksatria daripada mati konyol karena gagal misi!

"Pak Tua Bona, jangan takut!" seruku dengan suara gagah, mencoba membakar semangatnya (atau mungkin sekadar menakutinya). "Jika memang harus mati hari ini, aku bangga bisa mati bersamamu!"

Wajah Bonaga seketika murung, ekspresinya berubah gelap gulita seolah baru saja dijatuhi hukuman gantung.

Tapi aku tidak mau mati bersamamu, Bodoh! teriaknya dalam hati dengan penuh penderitaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   24. LEDAKAN NAGA BUMI

    Kabut tipis menyelimuti pagi yang sejuk di Pegunungan Sibalga. Namun, kesejukan itu tak mampu membasuh kelelahan ekstrem dari pasukan Kota Sibalga yang akhirnya tiba di kaki bukit menuju Parombunan. Setelah dipaksa mendaki tanpa henti dari siang hingga tengah malam, wajah para prajurit itu tampak mengerikan; mata mereka menghitam karena kurang tidur, dan langkah kaki mereka yang terseret menciptakan suara gesekan logam yang parau di atas tanah."Bos... ini dia!" Bonaga berbisik dengan nada yang tercekat di tenggorokan.Kami berdua tiarap di balik rimbunnya semak-semak di puncak lereng yang menghadap ke jalan utama. Dari tempat kami mengintai, iring-iringan pasukan itu terlihat seperti ular hitam raksasa atau jutaan semut yang berjejer panjang tak terputus."Ini... ada ribuan orang...!" gumamku pelan. Aku harus mengakui, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sepanjang hidupku, baik di dunia lama maupun di sini, baru

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   23. PERJALANAN MENUJU DESA PAROMBUNAN

    Seribu pasukan di bawah panji Sibalga kini merayap seperti ular besi di lereng bukit yang terjal. Medan Pegunungan Parombunan yang curam mulai memakan korban secara perlahan."Pangeran Kota," Togar Torop memacu kudanya mendekati kereta perang sang Pangeran. Suaranya terdengar cemas saat melihat barisan di belakangnya yang mulai kacau. "Kita hampir sampai di perbatasan Desa Parombunan. Sebaiknya Anda mengizinkan para parangan untuk beristirahat. Mereka telah dipaksa berjalan tanpa henti dari siang hingga larut malam seperti ini."Togar berharap sang pemimpin memiliki sedikit empati agar pasukan lebih siap bertempur saat fajar tiba. Namun, Pangeran Hali justru meliriknya dengan tatapan meremehkan."Kepala Pelayan Torop, tahukah kau bahwa seorang parangan sejati harus cekatan?" sahutnya sinis. "Beristirahat? Bagaimana jika para penjahat itu datang menyabotase kamp kita saat semua orang sedang mendengkur? Kau ingin kita dibantai

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   22. DELUSI SANG PENAKLUK

    Di bawah langit Kota Sibalga yang mulai terik, area barak pusat telah berubah menjadi lautan baja. Seribu pasukan dari berbagai kesatuan berdiri berbaris dengan disiplin yang kaku, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.Dua ratus kavaleri ringan sudah berada di atas pelana, kuda-kuda mereka meringkik tidak sabar sembari menghentakkan kaki ke tanah. Di sisi lain, seratus pasukan lapis baja berat berdiri kokoh seperti dinding berjalan, zirah mereka memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan. Di barisan tengah, para pemanah dan pasukan tombak memeriksa kembali kelayakan senjata mereka, sementara tiga ratus pasukan pedang lebar berdiri tegap dengan senjata tersarung di pinggang.Deru suara zirah yang bergesekan dan dentingan senjata memenuhi udara. Kereta-kereta logistik yang mengangkut gunungan biji-bijian—beban yang sebelumnya diperdebatkan oleh Sang Menteri—kini mulai bergerak menuju gerbang kota.Ini bukan sekadar patroli biasa. Ini adalah ekspedisi

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   21. MISI DAN INTRIK

    "Penasihat Militer, ada tugas krusial yang harus kau emban sekarang. Masalah ini menyangkut hidup dan mati seluruh pondok kita," ucapku sembari melangkah menghampiri Bonaga. Saat itu, ia tengah asyik menikmati roti gandum hangat buatan putrinya, tampak begitu tenang sebelum aku datang membawa kabar buruk.Bonaga mendongak dengan pipi menggembung, mulutnya masih penuh dengan kunyahan roti. "Bos Besar!" serunya setelah menelan paksa. "Jika urusannya seserius itu, mengapa tidak menunjuk orang lain saja? Aku sedang ingin menikmati masa tenangku."Aku menatapnya tajam, tidak memberi celah untuk bernegosiasi. "Masalahnya, hanya kau yang memiliki lidah cukup lihai dan kelicikan yang pas untuk urusan ini. Pergilah ke Desa Martinju dan temui pemimpin mereka, Tahan Martinju."Mendengar nama itu disebut, ekspresi Bonaga seketika berubah gelap. Ia terdiam, lalu menggigit r

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   20. KEKUATAN KOTA SIBALGA

    Setelah langkah kaki Hali Suksung menghilang di ujung lorong, suasana ruang pertemuan kembali tenang. Sang Raja Kota menyandarkan tubuhnya, lalu melirik pria di sampingnya."Komandan Militer, bagaimana pendapatmu tentang rencana putraku?" tanya Sang Raja dengan nada datar.Pria veteran bertubuh kekar itu menghela napas pendek. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya yang tajam mencerminkan pengalaman ribuan jam di medan laga. Sebagai pemimpin yang selalu memprioritaskan keselamatan pasukannya, ia segera membedah rencana tersebut."Menjawab Yang Mulia," mulainya dengan nada serius. "Di medan pegunungan yang rimbun dan hutan yang lebat, peran kavaleri hampir tidak bisa dimainkan. Itu hanya akan membebani laju pasukan. Terlebih lagi, jika tujuannya adalah serangan jarak jauh yang cepat, menggunakan pasukan lapis baja berat adalah keputusan yang salah. Beban zirah mereka hanya akan menguras tenaga sebelum perang dimulai."Ia berhenti sejenak untuk menatap Sang Raja. "Bandit gunung buka

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   19. LAPORAN PALSU

    Sopo Balga Kota Sibalga Suasana pagi di Sopo Balga tampak begitu kontras dengan ketegangan yang mulai merayap di Desa Parombunan. Cahaya matahari menyinari atap-atap bangunan kota yang megah, sementara para prajurit dengan zirah lengkap berdiri kaku di setiap pos pengamanan, menunjukkan disiplin militer yang ketat dari sebuah pusat kekuasaan."Segera setelah hamba tiba di kaki Desa Parombunan, hamba dihadang oleh ratusan orang. Salah satu dari mereka melangkah maju dan mengaku sebagai Raja Doli..."Pria itu melapor dengan tubuh gemetar, bersujud di hadapan penguasa kota yang sedang duduk bersandar di kursi tahta. Di sisi kiri dan kanannya, dua pelayan wanita terus mengayunkan kipas dengan irama teratur, mencoba menjaga kesejukan sang Raja."Togar Tua sempat merasa gentar," lanjutnya dengan suara yang diusahakan tetap tegap, "namun demi harga diri, hamba menepis rasa takut itu. Hamba segera menghunus pedang dan langsung menyerang pemimpin mereka!"Di sudut ruangan, para menteri yang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status