LOGINSemua parangan di barisan belakang bersorak ria, memicu adrenalin yang memenuhi lembah. "Akhirnya! Kami bisa melihat langsung kekuatan Parangan Bela! Semua rumor hebat yang kami dengar, hari ini kami akan menyaksikan kebenarannya!"
"Bela! Jangan langsung kau bunuh dia dalam satu serangan!" teriak yang lain sambil tertawa. "Bersikap lunaklah sedikit, tunjukkan semua skill yang kau punya agar kami terhibur!"
Ribak Sinambela—nama asli pria sombong itu—mengangkat tombak runcingnya tinggi-tinggi. Dengan gerakan gagah di atas kuda, ia menatapku seolah aku hanyalah seekor semut di bawah sepatunya.
"Pencuri kecil, dengarkan aku!" serunya dengan suara lantang. "Selama kau bisa bertahan dari serangan tombakku ini dalam tiga putaran saja, aku akan mengampuni hidupmu!"
Senyum sinis tersungging di wajahnya, matanya menatap tajam, mengunci pergerakanku. Ia merasa berada di atas angin, yakin bahwa aku akan gemetar ketakutan.
Namun, yang tidak ia ketahui adalah mataku mulai berpendar tipis. Berkat berkah Penglihatan Ilahi dari dunia Celestial, sebuah panel transparan muncul di hadapanku, membedah jati dirinya layaknya data di layar monitor warnet lamaku:
Data Target:
Nama Lengkap: Ribak Sinambela
Status: Parangan Tombak Biasa (Level Kroco)
Kemampuan Utama: Serangan Tombak Menusuk (Lurus dan mudah dibaca)
Keinginan Tersembunyi: Ingin menjadi pahlawan hebat yang dikenang sepanjang masa.
"Hanya seorang 'Parangan Biasa'?" gumamku dalam hati sambil menyeringai kecil.
Informasi ini membuat ketakutanku hilang seketika. Jika dia hanya seorang prajurit biasa yang haus pujian, maka gerakannya pasti akan sangat pamer dan penuh celah. Resonansi skill kapak di tanganku mulai terasa panas, seolah-olah kapak besi berat ini sudah tidak sabar untuk mematahkan tombak mengkilap milik Ribak.
"Tiga putaran, ya?" sahutku sembari menyeimbangkan posisi kapak beratku. Aku menatapnya dengan pandangan meremehkan yang tak kalah tajam. "Kapakku sudah memakan banyak nyawa tanpa nama. Karena kau terlihat seperti seorang kesatria, sebutkan namamu. Aku akan mengingatnya sebelum mengalahkanmu. Jangan khawatir, aku akan membiarkanmu hidup."
"Namaku adalah Ribak Sinambela!" serunya sembari memutar tombaknya ke bawah, bersiap melakukan manuver pembuka. "Lalu bagaimana denganmu? Pemimpin Desa Parombunan atau Ahli Strategi Bonaga?"
Aku menyipitkan mata, memberikan tatapan yang begitu menohok hingga suasana terasa mencekam. "Aku adalah Son Goku—Putra Langit!"
Seketika, wajah Ribak Sinambela berubah masam. Alisnya bertaut, tampak kebingungan luar biasa. Son Goku? Putra Langit? batinnya heran. Aku sudah berkeliling ke 100 kota dan 11 provinsi, tapi belum pernah mendengar nama aneh seperti itu. Nama macam apa itu?
Namun, kebingungannya tak bertahan lama. "Berhenti bicara omong kosong! Lawan aku!" teriaknya dengan gagah.
Jraash!
Ribak memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Ujung tombaknya mengkilap, mengarah tepat ke dadaku dengan pola serangan menusuk yang sangat linier—persis seperti yang dibocorkan oleh penglihatan Ilahiku.
Aku tidak tinggal diam. Kudaku yang pucat kupaksa menerjang maju. Angin menderu di telingaku.
Swoosh!
"Kepalamu adalah milikku!" teriakku lantang.
Saat posisi Ribak berada tepat dalam jangkauan, aku mengayunkan kapak panjangku dengan tenaga penuh. Gerakanku terasa begitu alami, seolah-olah skill pemberian Dewi itu telah menyatu dengan sumsum tulangku.
Ribak yang terkejut segera mengangkat batang tombaknya secara horizontal, berusaha menahan ayunan kapak yang mengincar lehernya.
SPLASH!
Percikan api memercik dahsyat saat mata kapak besarku menghantam batang tombak Ribak.
Kekuatan mengerikan apa ini?! gumam Ribak dalam hati. Matanya membelalak. Ia bisa merasakan getaran hebat yang merambat dari tombaknya hingga ke tulang bahu. Tenaga ayunan itu begitu luar biasa besar, jauh melampaui penampilanku yang terlihat seperti bandit amatir.
Ribak tidak kuasa menahan beban hantaman itu. Keseimbangannya hancur total. Tubuhnya terangkat dari pelana, lalu...
BRAK!
Ia terlempar jatuh dari kudanya. Tubuhnya terseret di tanah sejauh tiga kaki. Tombak panjangnya terlepas, melayang di udara sebelum akhirnya tertancap dalam ke tanah, tepat di atas kepalanya—hanya terpaut beberapa senti dari lehernya sendiri.
Suasana lembah seketika hening. Sorak-sorai para pengawal terhenti seketika. Mereka terpaku melihat jagoan mereka, Ribak Sinambela, tersungkur hanya dalam satu putaran oleh pria yang menyebut dirinya "Putra Langit".
"Ihaaaaa...!!"
Aku tidak membuang waktu. Sesuai prinsip gamer sejati, jangan buang-buang waktu pada minion jika bos besar sudah di depan mata. Aku membiarkan Ribak Sinambela terkapar mencium tanah dengan harga diri yang hancur, lalu memacu kudaku yang lelah itu menuju pusat iring-iringan.
Begitu jaraknya cukup, aku melompat tinggi dari pelana. Tubuhku terasa ringan, efek skill pasif dari dunia Celestial ini benar-benar gila! Aku mendarat tepat di depan kusir kereta kuda. Sebelum dia sempat menarik pedangnya, sebuah tendangan telak mendarat di dadanya.
Gedebak!
Si kusir terpelanting jatuh dari kereta yang sedang melaju. Di dalam sana, aku bisa mendengar suara pekikan tertahan dari sang Putri. Dia pasti sangat ketakutan, namun aku tidak punya waktu untuk bersikap manis sekarang.
Mengingat trik kotor yang digunakan si tua bangka Bonaga tadi, aku menyeringai jahat. "Maaf ya, kuda, ini demi misiku!" gumamku.
Jleb!
Aku menusukkan bagian runcing di belakang bilah kapakku tepat ke bokong kuda penarik kereta itu.
IHIIIIKKKKK—!!
Kuda itu meringkik histeris. Rasa perih yang luar biasa membuatnya mengalami lonjakan adrenalin gila. Kuda itu tidak lagi berlari, ia melesat! Kereta kuda itu berguncang hebat, menghantam apa pun yang menghalangi jalannya.
Blokade para parangan yang berusaha menahan laju kereta hancur berantakan seperti tumpukan kartu. Beberapa pengawal yang mencoba pasang badan justru tertabrak dan terpelanting.
"Argh!" "Tolooong!"
Suara jeritan pilu memenuhi lembah. Sebagian dari mereka terlempar ke jurang yang menganga, terhempas di bebatuan tajam di bawah sana. Debu mengepul hebat, menutupi pandangan rombongan yang tersisa.
"KEJAR DIA...!!"
Suara pemimpin parangan menggelegar penuh kemarahan. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol saat melihat kereta sang Putri dilarikan oleh bandit yang mengaku-ngaku sebagai "Putra Langit" itu.
Aku yang kini berdiri di posisi kusir, memegang tali kendali dengan satu tangan dan kapak besar di tangan lainnya, hanya bisa tertawa lebar.
"Hahahaha! Selamat tinggal, pecundang! Sampai jumpa di pelaminan!" seruku sambil memacu kereta itu masuk lebih dalam ke keremangan hutan lereng gunung, sementara matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
"Jika pengawalan ini gagal, maka kalian semua akan mati...!"
Suara sang Pemimpin Pengawal bukan lagi sekadar perintah, melainkan vonis kematian yang mengerikan. Ancaman itu membakar sisa-sisa keberanian para pengawal yang masih hidup. Mereka tahu, membiarkan calon pengantin keluarga Sinaga diculik berarti menghancurkan kehormatan klan mereka sendiri—hukumannya adalah hukuman mati bagi seluruh regu.
Tanpa mempedulikan luka-luka di tubuh mereka, para parangan yang masih memiliki kuda langsung memacu tunggangan mereka hingga ke batas maksimal. Debu kembali mengepul hebat di jalan setapak yang sempit, menciptakan badai kecil di sepanjang lereng.
Di antara gerombolan itu, Ribak Sinambela bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Wajahnya yang tampan kini kotor oleh tanah dan darah, namun matanya memancarkan api kemarahan yang jauh lebih panas dari sebelumnya. Rasa malu karena jatuh dalam satu putaran menghujam jantungnya lebih dalam daripada kapak besi Raja Doli.
"Son Goku... Putra Langit... Akan kupastikan kau jatuh ke neraka!" raungnya sambil melompat ke atas kudanya yang masih berkeliaran di dekatnya.
Ribak memacu kudanya seperti orang kesetanan. Ia menghunus rasa malunya, mengubahnya menjadi energi murni untuk mengejar kereta yang melesat di depan sana. Ia tidak lagi peduli pada "tiga putaran" atau kesatria yang adil; yang ia inginkan hanyalah melihat kepala si bandit gila itu terpisah dari tubuhnya.
Sementara itu, aku—Raja Doli alias Sang Boss—berdiri goyah di kursi kusir. Angin kencang menerpa wajahku, dan kereta ini berguncang hebat seolah-olah akan hancur berkeping-keping kapan saja.
"Hei, Pak Tua Bonaga! Kau di mana?!" teriakku sambil menoleh ke belakang sekilas. Aku melihat siluet para pengawal yang kian mendekat, dengan Ribak Sinambela memimpin di barisan paling depan, tombaknya mengarah lurus ke punggungku.
Kuda yang ku-tusuk tadi mulai kehabisan napas, mulutnya berbusa, namun kecepatannya masih belum berkurang. Di depanku, jalanan mulai menikung tajam tepat di pinggir jurang yang dalam. Jika aku tidak bisa mengendalikan kereta ini sekarang, kami semua—termasuk sang Putri cantik di dalam—akan berakhir menjadi bubur di dasar lembah.
"Tuan... tolong... hentikan kereta ini!" suara lembut nan gemetar terdengar dari balik tirai. Sang Putri akhirnya bicara, suaranya penuh ketakutan.
*
Mampukah Raja Doli menyelesaikan misi ini dengan hasil yang baik...?
Saksikan kelanjutannya hanya di "BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR"
Mereka bertiga saling berpandangan, tampak tertegun sejenak mendengar pertanyaanku yang langsung menembak ke titik paling sensitif: alasan mereka memilih jalan kegelapan sebagai bandit.Guan Yu akhirnya melangkah maju. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, memberikan hormat yang sangat formal sebelum angkat bicara. "Sesampainya kami di sebuah desa tak jauh dari sini, kami melihat preman setempat melakukan kejahatan yang melampaui batas. Tanpa bisa ditahan, saudara kami membunuh mereka. Sekarang, pemerintah sedang memburu kami. Karena mendengar reputasi Tuan Raja yang disegani, kami sepakat untuk datang mengabdi ke sini."Aku mengangguk-angguk. Jujur saja, meski aku tahu mereka tokoh besar, aku tidak tahu detail sejarah mereka di garis waktu ini. Jadi aku sengaja memancing."Lalu, siapa di antara kalian bertiga yang membunuhnya?" tanyaku menyelidik.Liu Bei hanya terdiam seribu bahasa, wajahnya tetap tenang seperti ai
Waktu seolah membeku. Di tengah sorakan "Horas!" yang membahana, sebuah layar hologram transparan muncul di hadapanku, berkilat-kilat dengan efek api yang dramatis."Mantap juga, ada cutscene-nya segala," gumamku sambil menyilangkan tangan, menanti hadiah kemenangan atas si monster Dumang.[NOTIFIKASI SISTEM: HADIAH KEMENANGAN]Nama: Zhang Fei si Pembuat AnggurUsia: 18 TahunSkill: Pembuat Anggur (Kualitas: Dipertanyakan)Atribut Tersembunyi: Tidak AdaAku melongo menatap layar itu. "Bah! Zhang Fei?" teriakku dalam hati. "Jenderal ganas dari Zaman Tiga Kerajaan itu masuk ke sini jadi pembuat anggur? Bukannya ahli tombak perkasa, malah disuruh bikin minuman!"Lebih parahnya lagi, deskripsi sistem menyebutkan kualitas anggurnya buruk. Ini mah bukan dapet aset, tapi dapet tukang b
"SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be
Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka
Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s
Suasana di pinggir Sungai Aek Doras begitu tenang, hanya suara gemericik air dan desau angin yang menemani para pemuka Desa Martinju menghabiskan waktu dengan memancing. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar dari kekecewaan yang mendalam di hati sang Kepala Desa."Kupikir kita punya harga diri di sana. Tak disangka, wajah kita ternyata dianggap seperti pantat baginya!" seru Tahan Sagala dengan nada getir.Ia benar-benar kecewa. Ia ingat betul bagaimana dulu, saat Dumang Saruksuk nyaris tewas dengan luka fatal setelah bertarung melawan harimau sendirian, Martinju-lah yang menjadi penyelamatnya. Tahan Sagala sendiri yang merawatnya hingga sembuh total. Namun kini, kebaikan itu seolah sirna tertutup angkuhnya Kota Tarutung."Abang, sekarang bukan lagi masa lalu," sahut Garau, mencoba memprovokasi suasana. "Bos Dumang sudah tidak lagi bergantung pada kita untuk makan. Orang itu sudah tidak melihat kita sebagai saudara lagi!"







