Home / Fantasi / BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR / 5. PENCULIKAN PUTRI NAGA

Share

5. PENCULIKAN PUTRI NAGA

Author: Lampard46
last update Last Updated: 2025-12-22 11:40:00

Semua parangan di barisan belakang bersorak ria, memicu adrenalin yang memenuhi lembah. "Akhirnya! Kami bisa melihat langsung kekuatan Parangan Bela! Semua rumor hebat yang kami dengar, hari ini kami akan menyaksikan kebenarannya!"

"Bela! Jangan langsung kau bunuh dia dalam satu serangan!" teriak yang lain sambil tertawa. "Bersikap lunaklah sedikit, tunjukkan semua skill yang kau punya agar kami terhibur!"

Ribak Sinambela—nama asli pria sombong itu—mengangkat tombak runcingnya tinggi-tinggi. Dengan gerakan gagah di atas kuda, ia menatapku seolah aku hanyalah seekor semut di bawah sepatunya.

"Pencuri kecil, dengarkan aku!" serunya dengan suara lantang. "Selama kau bisa bertahan dari serangan tombakku ini dalam tiga putaran saja, aku akan mengampuni hidupmu!"

Senyum sinis tersungging di wajahnya, matanya menatap tajam, mengunci pergerakanku. Ia merasa berada di atas angin, yakin bahwa aku akan gemetar ketakutan.

Namun, yang tidak ia ketahui adalah mataku mulai berpendar tipis. Berkat berkah Penglihatan Ilahi dari dunia Celestial, sebuah panel transparan muncul di hadapanku, membedah jati dirinya layaknya data di layar monitor warnet lamaku:

Data Target:

Nama Lengkap: Ribak Sinambela

Status: Parangan Tombak Biasa (Level Kroco)

Kemampuan Utama: Serangan Tombak Menusuk (Lurus dan mudah dibaca)

Keinginan Tersembunyi: Ingin menjadi pahlawan hebat yang dikenang sepanjang masa.

"Hanya seorang 'Parangan Biasa'?" gumamku dalam hati sambil menyeringai kecil.

Informasi ini membuat ketakutanku hilang seketika. Jika dia hanya seorang prajurit biasa yang haus pujian, maka gerakannya pasti akan sangat pamer dan penuh celah. Resonansi skill kapak di tanganku mulai terasa panas, seolah-olah kapak besi berat ini sudah tidak sabar untuk mematahkan tombak mengkilap milik Ribak.

"Tiga putaran, ya?" sahutku sembari menyeimbangkan posisi kapak beratku. Aku menatapnya dengan pandangan meremehkan yang tak kalah tajam. "Kapakku sudah memakan banyak nyawa tanpa nama. Karena kau terlihat seperti seorang kesatria, sebutkan namamu. Aku akan mengingatnya sebelum mengalahkanmu. Jangan khawatir, aku akan membiarkanmu hidup."

"Namaku adalah Ribak Sinambela!" serunya sembari memutar tombaknya ke bawah, bersiap melakukan manuver pembuka. "Lalu bagaimana denganmu? Pemimpin Desa Parombunan atau Ahli Strategi Bonaga?"

Aku menyipitkan mata, memberikan tatapan yang begitu menohok hingga suasana terasa mencekam. "Aku adalah Son Goku—Putra Langit!"

Seketika, wajah Ribak Sinambela berubah masam. Alisnya bertaut, tampak kebingungan luar biasa. Son Goku? Putra Langit? batinnya heran. Aku sudah berkeliling ke 100 kota dan 11 provinsi, tapi belum pernah mendengar nama aneh seperti itu. Nama macam apa itu?

Namun, kebingungannya tak bertahan lama. "Berhenti bicara omong kosong! Lawan aku!" teriaknya dengan gagah.

Jraash!

Ribak memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Ujung tombaknya mengkilap, mengarah tepat ke dadaku dengan pola serangan menusuk yang sangat linier—persis seperti yang dibocorkan oleh penglihatan Ilahiku.

Aku tidak tinggal diam. Kudaku yang pucat kupaksa menerjang maju. Angin menderu di telingaku.

Swoosh!

"Kepalamu adalah milikku!" teriakku lantang.

Saat posisi Ribak berada tepat dalam jangkauan, aku mengayunkan kapak panjangku dengan tenaga penuh. Gerakanku terasa begitu alami, seolah-olah skill pemberian Dewi itu telah menyatu dengan sumsum tulangku.

Ribak yang terkejut segera mengangkat batang tombaknya secara horizontal, berusaha menahan ayunan kapak yang mengincar lehernya.

SPLASH!

Percikan api memercik dahsyat saat mata kapak besarku menghantam batang tombak Ribak.

Kekuatan mengerikan apa ini?! gumam Ribak dalam hati. Matanya membelalak. Ia bisa merasakan getaran hebat yang merambat dari tombaknya hingga ke tulang bahu. Tenaga ayunan itu begitu luar biasa besar, jauh melampaui penampilanku yang terlihat seperti bandit amatir.

Ribak tidak kuasa menahan beban hantaman itu. Keseimbangannya hancur total. Tubuhnya terangkat dari pelana, lalu...

BRAK!

Ia terlempar jatuh dari kudanya. Tubuhnya terseret di tanah sejauh tiga kaki. Tombak panjangnya terlepas, melayang di udara sebelum akhirnya tertancap dalam ke tanah, tepat di atas kepalanya—hanya terpaut beberapa senti dari lehernya sendiri.

Suasana lembah seketika hening. Sorak-sorai para pengawal terhenti seketika. Mereka terpaku melihat jagoan mereka, Ribak Sinambela, tersungkur hanya dalam satu putaran oleh pria yang menyebut dirinya "Putra Langit".

"Ihaaaaa...!!"

Aku tidak membuang waktu. Sesuai prinsip gamer sejati, jangan buang-buang waktu pada minion jika bos besar sudah di depan mata. Aku membiarkan Ribak Sinambela terkapar mencium tanah dengan harga diri yang hancur, lalu memacu kudaku yang lelah itu menuju pusat iring-iringan.

Begitu jaraknya cukup, aku melompat tinggi dari pelana. Tubuhku terasa ringan, efek skill pasif dari dunia Celestial ini benar-benar gila! Aku mendarat tepat di depan kusir kereta kuda. Sebelum dia sempat menarik pedangnya, sebuah tendangan telak mendarat di dadanya.

Gedebak!

Si kusir terpelanting jatuh dari kereta yang sedang melaju. Di dalam sana, aku bisa mendengar suara pekikan tertahan dari sang Putri. Dia pasti sangat ketakutan, namun aku tidak punya waktu untuk bersikap manis sekarang.

Mengingat trik kotor yang digunakan si tua bangka Bonaga tadi, aku menyeringai jahat. "Maaf ya, kuda, ini demi misiku!" gumamku.

Jleb!

Aku menusukkan bagian runcing di belakang bilah kapakku tepat ke bokong kuda penarik kereta itu.

IHIIIIKKKKK—!!

Kuda itu meringkik histeris. Rasa perih yang luar biasa membuatnya mengalami lonjakan adrenalin gila. Kuda itu tidak lagi berlari, ia melesat! Kereta kuda itu berguncang hebat, menghantam apa pun yang menghalangi jalannya.

Blokade para parangan yang berusaha menahan laju kereta hancur berantakan seperti tumpukan kartu. Beberapa pengawal yang mencoba pasang badan justru tertabrak dan terpelanting.

"Argh!" "Tolooong!"

Suara jeritan pilu memenuhi lembah. Sebagian dari mereka terlempar ke jurang yang menganga, terhempas di bebatuan tajam di bawah sana. Debu mengepul hebat, menutupi pandangan rombongan yang tersisa.

"KEJAR DIA...!!"

Suara pemimpin parangan menggelegar penuh kemarahan. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol saat melihat kereta sang Putri dilarikan oleh bandit yang mengaku-ngaku sebagai "Putra Langit" itu.

Aku yang kini berdiri di posisi kusir, memegang tali kendali dengan satu tangan dan kapak besar di tangan lainnya, hanya bisa tertawa lebar.

"Hahahaha! Selamat tinggal, pecundang! Sampai jumpa di pelaminan!" seruku sambil memacu kereta itu masuk lebih dalam ke keremangan hutan lereng gunung, sementara matahari mulai tenggelam di ufuk barat.

"Jika pengawalan ini gagal, maka kalian semua akan mati...!"

Suara sang Pemimpin Pengawal bukan lagi sekadar perintah, melainkan vonis kematian yang mengerikan. Ancaman itu membakar sisa-sisa keberanian para pengawal yang masih hidup. Mereka tahu, membiarkan calon pengantin keluarga Sinaga diculik berarti menghancurkan kehormatan klan mereka sendiri—hukumannya adalah hukuman mati bagi seluruh regu.

Tanpa mempedulikan luka-luka di tubuh mereka, para parangan yang masih memiliki kuda langsung memacu tunggangan mereka hingga ke batas maksimal. Debu kembali mengepul hebat di jalan setapak yang sempit, menciptakan badai kecil di sepanjang lereng.

Di antara gerombolan itu, Ribak Sinambela bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Wajahnya yang tampan kini kotor oleh tanah dan darah, namun matanya memancarkan api kemarahan yang jauh lebih panas dari sebelumnya. Rasa malu karena jatuh dalam satu putaran menghujam jantungnya lebih dalam daripada kapak besi Raja Doli.

"Son Goku... Putra Langit... Akan kupastikan kau jatuh ke neraka!" raungnya sambil melompat ke atas kudanya yang masih berkeliaran di dekatnya.

Ribak memacu kudanya seperti orang kesetanan. Ia menghunus rasa malunya, mengubahnya menjadi energi murni untuk mengejar kereta yang melesat di depan sana. Ia tidak lagi peduli pada "tiga putaran" atau kesatria yang adil; yang ia inginkan hanyalah melihat kepala si bandit gila itu terpisah dari tubuhnya.

Sementara itu, aku—Raja Doli alias Sang Boss—berdiri goyah di kursi kusir. Angin kencang menerpa wajahku, dan kereta ini berguncang hebat seolah-olah akan hancur berkeping-keping kapan saja.

"Hei, Pak Tua Bonaga! Kau di mana?!" teriakku sambil menoleh ke belakang sekilas. Aku melihat siluet para pengawal yang kian mendekat, dengan Ribak Sinambela memimpin di barisan paling depan, tombaknya mengarah lurus ke punggungku.

Kuda yang ku-tusuk tadi mulai kehabisan napas, mulutnya berbusa, namun kecepatannya masih belum berkurang. Di depanku, jalanan mulai menikung tajam tepat di pinggir jurang yang dalam. Jika aku tidak bisa mengendalikan kereta ini sekarang, kami semua—termasuk sang Putri cantik di dalam—akan berakhir menjadi bubur di dasar lembah.

"Tuan... tolong... hentikan kereta ini!" suara lembut nan gemetar terdengar dari balik tirai. Sang Putri akhirnya bicara, suaranya penuh ketakutan.

*

Mampukah Raja Doli menyelesaikan misi ini dengan hasil yang baik...?

Saksikan kelanjutannya hanya di "BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   24. LEDAKAN NAGA BUMI

    Kabut tipis menyelimuti pagi yang sejuk di Pegunungan Sibalga. Namun, kesejukan itu tak mampu membasuh kelelahan ekstrem dari pasukan Kota Sibalga yang akhirnya tiba di kaki bukit menuju Parombunan. Setelah dipaksa mendaki tanpa henti dari siang hingga tengah malam, wajah para prajurit itu tampak mengerikan; mata mereka menghitam karena kurang tidur, dan langkah kaki mereka yang terseret menciptakan suara gesekan logam yang parau di atas tanah."Bos... ini dia!" Bonaga berbisik dengan nada yang tercekat di tenggorokan.Kami berdua tiarap di balik rimbunnya semak-semak di puncak lereng yang menghadap ke jalan utama. Dari tempat kami mengintai, iring-iringan pasukan itu terlihat seperti ular hitam raksasa atau jutaan semut yang berjejer panjang tak terputus."Ini... ada ribuan orang...!" gumamku pelan. Aku harus mengakui, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sepanjang hidupku, baik di dunia lama maupun di sini, baru

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   23. PERJALANAN MENUJU DESA PAROMBUNAN

    Seribu pasukan di bawah panji Sibalga kini merayap seperti ular besi di lereng bukit yang terjal. Medan Pegunungan Parombunan yang curam mulai memakan korban secara perlahan."Pangeran Kota," Togar Torop memacu kudanya mendekati kereta perang sang Pangeran. Suaranya terdengar cemas saat melihat barisan di belakangnya yang mulai kacau. "Kita hampir sampai di perbatasan Desa Parombunan. Sebaiknya Anda mengizinkan para parangan untuk beristirahat. Mereka telah dipaksa berjalan tanpa henti dari siang hingga larut malam seperti ini."Togar berharap sang pemimpin memiliki sedikit empati agar pasukan lebih siap bertempur saat fajar tiba. Namun, Pangeran Hali justru meliriknya dengan tatapan meremehkan."Kepala Pelayan Torop, tahukah kau bahwa seorang parangan sejati harus cekatan?" sahutnya sinis. "Beristirahat? Bagaimana jika para penjahat itu datang menyabotase kamp kita saat semua orang sedang mendengkur? Kau ingin kita dibantai

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   22. DELUSI SANG PENAKLUK

    Di bawah langit Kota Sibalga yang mulai terik, area barak pusat telah berubah menjadi lautan baja. Seribu pasukan dari berbagai kesatuan berdiri berbaris dengan disiplin yang kaku, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.Dua ratus kavaleri ringan sudah berada di atas pelana, kuda-kuda mereka meringkik tidak sabar sembari menghentakkan kaki ke tanah. Di sisi lain, seratus pasukan lapis baja berat berdiri kokoh seperti dinding berjalan, zirah mereka memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan. Di barisan tengah, para pemanah dan pasukan tombak memeriksa kembali kelayakan senjata mereka, sementara tiga ratus pasukan pedang lebar berdiri tegap dengan senjata tersarung di pinggang.Deru suara zirah yang bergesekan dan dentingan senjata memenuhi udara. Kereta-kereta logistik yang mengangkut gunungan biji-bijian—beban yang sebelumnya diperdebatkan oleh Sang Menteri—kini mulai bergerak menuju gerbang kota.Ini bukan sekadar patroli biasa. Ini adalah ekspedisi

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   21. MISI DAN INTRIK

    "Penasihat Militer, ada tugas krusial yang harus kau emban sekarang. Masalah ini menyangkut hidup dan mati seluruh pondok kita," ucapku sembari melangkah menghampiri Bonaga. Saat itu, ia tengah asyik menikmati roti gandum hangat buatan putrinya, tampak begitu tenang sebelum aku datang membawa kabar buruk.Bonaga mendongak dengan pipi menggembung, mulutnya masih penuh dengan kunyahan roti. "Bos Besar!" serunya setelah menelan paksa. "Jika urusannya seserius itu, mengapa tidak menunjuk orang lain saja? Aku sedang ingin menikmati masa tenangku."Aku menatapnya tajam, tidak memberi celah untuk bernegosiasi. "Masalahnya, hanya kau yang memiliki lidah cukup lihai dan kelicikan yang pas untuk urusan ini. Pergilah ke Desa Martinju dan temui pemimpin mereka, Tahan Martinju."Mendengar nama itu disebut, ekspresi Bonaga seketika berubah gelap. Ia terdiam, lalu menggigit r

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   20. KEKUATAN KOTA SIBALGA

    Setelah langkah kaki Hali Suksung menghilang di ujung lorong, suasana ruang pertemuan kembali tenang. Sang Raja Kota menyandarkan tubuhnya, lalu melirik pria di sampingnya."Komandan Militer, bagaimana pendapatmu tentang rencana putraku?" tanya Sang Raja dengan nada datar.Pria veteran bertubuh kekar itu menghela napas pendek. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya yang tajam mencerminkan pengalaman ribuan jam di medan laga. Sebagai pemimpin yang selalu memprioritaskan keselamatan pasukannya, ia segera membedah rencana tersebut."Menjawab Yang Mulia," mulainya dengan nada serius. "Di medan pegunungan yang rimbun dan hutan yang lebat, peran kavaleri hampir tidak bisa dimainkan. Itu hanya akan membebani laju pasukan. Terlebih lagi, jika tujuannya adalah serangan jarak jauh yang cepat, menggunakan pasukan lapis baja berat adalah keputusan yang salah. Beban zirah mereka hanya akan menguras tenaga sebelum perang dimulai."Ia berhenti sejenak untuk menatap Sang Raja. "Bandit gunung buka

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   19. LAPORAN PALSU

    Sopo Balga Kota Sibalga Suasana pagi di Sopo Balga tampak begitu kontras dengan ketegangan yang mulai merayap di Desa Parombunan. Cahaya matahari menyinari atap-atap bangunan kota yang megah, sementara para prajurit dengan zirah lengkap berdiri kaku di setiap pos pengamanan, menunjukkan disiplin militer yang ketat dari sebuah pusat kekuasaan."Segera setelah hamba tiba di kaki Desa Parombunan, hamba dihadang oleh ratusan orang. Salah satu dari mereka melangkah maju dan mengaku sebagai Raja Doli..."Pria itu melapor dengan tubuh gemetar, bersujud di hadapan penguasa kota yang sedang duduk bersandar di kursi tahta. Di sisi kiri dan kanannya, dua pelayan wanita terus mengayunkan kipas dengan irama teratur, mencoba menjaga kesejukan sang Raja."Togar Tua sempat merasa gentar," lanjutnya dengan suara yang diusahakan tetap tegap, "namun demi harga diri, hamba menepis rasa takut itu. Hamba segera menghunus pedang dan langsung menyerang pemimpin mereka!"Di sudut ruangan, para menteri yang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status