Início / Romansa / BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN / Bab 2. Sainganku Bek Tengah

Compartilhar

Bab 2. Sainganku Bek Tengah

Autor: Nanitamam
last update Data de publicação: 2026-05-21 09:27:45

"Oh... jadi ini alasannya?" gumam Almira dengan nada bicara yang tiba-tiba melas namun penuh pengertian yang salah alamat.

"Pantas saja gaun satin 'LC ala sugar baby’' aku nggak mempan. Ternyata sainganku bukan pelakor, tapi pemain bek tengah."

"Almira, jangan berpikiran macam-macam. Dave hanya terpeleset," geram Ziandra, wajahnya yang tadi pucat kini memerah karena menahan malu sekaligus emosi.

"Nggak apa-apa, Bang. Aku hargai kejujuran tanpa kata ini." Amira mengangkat tangan, memberi isyarat stop. "Aku nggak akan bilang Nyonya kalau Abang punya 'selera' yang berbeda. Silakan lanjut, anggap aku cicak di tembok."

Almira berbalik dengan langkah gontai menuju dapur, meninggalkan Ziandra yang membeku dan Dave yang sibuk merapikan jasnya dengan wajah luar biasa canggung.

"Ini semua karena kamu ceroboh," geram Ziandra.

Dave mengangguk lesu. "Namanya juga nggak disengaja, Pak."

"Gadis konyol itu pasti berpikiran macam-macam, " tambah Ziandra dalam hati.

Almira menghela nafas dalam-dalam saat melangkah menuju dapur. Perutnya Keroncongan sejak tadi.

Menggoda Ziandra membuat energinya terkuras habis. Sesampainya di dapur, sambil menunggu air mie instan mendidih, otak Almira berputar 180 derajat.

Jika rayuan maut ala LC gagal total karena Ziandra dianggap "belok", maka ia harus mengubah taktik. Ia mengambil mie yang sudah matang lalu mengaduknya. Ia mengedarkan pandang ke setiap penjuru dapur.

Rumah yang ditinggali oleh Ziandra dan dia terasa sepi dan hening. Ziandra hanya mempekerjakan asisten rumah tangga dari pagi hingga jam tujuh malam.

Mungkin karena sebagai komandan di sebuah institusi kepolisian, Ziandra tidak ingin rumahnya terlalu mencolok, apalagi dengan risiko tinggi yang melekat pada pekerjaannya.

"Kalo begini mah sampe lebaran monyet juga nggak akan bisa hamil. Pria kulkas itu sukanya sama batang," gerutu Almira sambil menyeruput kuah mie instan pedasnya.

Ziandra berdiri di ambang pintu dapur, tangannya bersedekap, menatap punggung Almira yang sedang lahap menghirup mie instan dengan cara yang menurut standar etika meja makan Ziandra, sangat tidak sopan.

Bunyi slurp yang nyaring itu seolah merobek keheningan malam di rumahnya yang dingin.

"Sudah selesai omong kosongnya?" tanya Ziandra dingin.

Suaranya berat, menciptakan resonansi yang cukup untuk membuat Almira tersedak kuah cabai.

Almira terbatuk-batuk, meraih gelas air minum dengan panik, lalu menoleh dengan wajah memerah, baik karena pedas maupun karena rasa kesal yang tertahan.

"Belum. Masih babak pengenalan karakter. Kenapa? Abang mau minta tips cara menaklukan bek tengah? Tenang, aku punya banyak koleksi skincare buat bikin kulit kalian tetap glowing meski sering kena benturan."

Ziandra memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang untuk mengendalikan saraf-sarafnya yang terasa mau putus.

Harga dirinya sebagai seorang perwira polisi yang disegani seolah sedang diinjak-injak oleh seorang gadis yang lebih sibuk memikirkan plot twist sinetron dalam otaknya sendiri.

Ia ingin membentak, menjelaskan bahwa ia dan Dave pria tulen yang baru saja terpeleset namun lidahnya terasa kelu.

Ada sesuatu yang menahan Ziandra. Mungkin itu harga dirinya yang setinggi monas, atau mungkin ketakutan irasional bahwa jika ia mengakui hal itu, Almira akan menganggap itu sebagai "lampu hijau" untuk kembali mengejarnya dengan cara-cara yang lebih absurd.

"Almira," Ziandra melangkah masuk, berhenti tepat di depan meja dapur. "Berhenti bertingkah seolah kamu sedang menulis naskah drama remaja. Dave adalah bawahanku. Dan insiden tadi... itu murni kegagalan gravitasi."

Almira meletakkan garpunya, menatap Ziandra dengan tatapan yang sekali lagi salah paham.

"Oh, jadi sekarang 'gravitasi' adalah nama panggilan sayang kalian? Wah, canggih juga seleranya, Bang."

Ziandra nyaris memijat pelipisnya. "Bukan! Maksudku, jangan membuat asumsi yang merusak reputasi orang lain hanya karena imajinasimu terlalu liar."

"Reputasi?" Almira tertawa kecil, meski matanya menatap Ziandra dengan sorot yang lebih tajam. "Abang udah menolakku, mengacuhkanku, bahkan pura-pura tidak mendengar setiap kali aku panggil. Kalau aku tidak berasumsi, aku mungkin sudah gila. Jadi, kalau bukan karena Abang lebih suka sesama, apa alasannya? Apakah aku kurang cantik? Atau gaun satin tadi kurang hot?"

Ziandra terdiam. Pertanyaan itu, yang terlontar begitu polos namun menusuk, membuat pertahanannya goyah. Bukan karena dia tidak punya jawaban, tapi karena jawaban yang sebenarnya bahwa ia merasa terancam oleh kehadiran Almira.

"Ini bukan soal kamu, Almira," suara Ziandra melunak, meski tetap kaku.

Almira bangkit dari kursinya, mendekat ke arah Ziandra. Wangi mie instan yang tajam bercampur dengan aroma parfum maskulin Ziandra yang samar.

Gadis itu tidak mundur. Ia justru menatap mata Ziandra tepat di tengah pupilnya.

"Terus soal apa?” Almira menaruh sumpitnya dengan denting yang cukup keras di meja. "Aku tahu Abang polisi. Pekerjaan Abang beresiko tinggi. Aku nggak takut. Saat aku memutuskan menikah sama Abang, aku udah siap konsekuensinya. Ya, walaupun pernikahan kita karena terpaksa.”

Ziandra membuang muka, menatap ke luar jendela dapur yang gelap. "Aku tidak butuh teman debat."

"Tapi Abang butuh seseorang yang tahu bahwa 'gravitasi' tidak mungkin memegang pinggang orang lain dengan seintens tadi," balas Almira cepat.

Ziandra tertegun. Skakmat.

Pria itu berbalik kembali, matanya yang tajam kini menatap Almira dengan sorot yang sulit dibaca.

Harga dirinya yang tinggi membuatnya ingin memutar balik fakta, memarahi gadis ini karena telah berani menyudutkannya, namun ia sadar—ia sudah kalah dalam debat ini.

"Kamu benar-benar keras kepala," desis Ziandra.

"Aku nggak akan kalah dari seorang bek tengah," sahut Almira ketus.

Ziandra mendengus, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa, meski ia buru-buru menyembunyikannya dengan wajah datarnya.

"Jangan bicara lagi. Aku butuh ketenangan," perintah Ziandra sambil berbalik pergi.

"Aku harus menang melawan bek tengah. Aku cantik dan menarik," gumam Almira penuh tekad.

Malam itu, di kamar tidurnya, Ziandra tidak bisa tidur. Ia berbaring dengan tangan di belakang kepala, menatap langit-langit kamar yang gelap. Kata-kata Almira terus terngiang.

"Bikin dedek bayi yuk, Bang! Aku bukan bunga plastik yang langsung layu kena debu."

Ziandra menghela nafas panjang.

"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan denganku. Mama benar-benar keterlaluan. Tidak hanya membuat gadis konyol itu menjadi istriku, tapi juga membuat gendang telingaku hampir rusak."

Di kamar lain, Almira sedang menatap ponselnya, mengetik 'cara membuat pria belok kembali lurus' pada kolom pencarian di g****e. Bola matanya melebar saat melihat salah satu tips yang tertulis disana.

"Aku harus bisa lebih keren dari segi pandang pria tersebut. Tapi bagaimana caranya?" gumam Almira, keningnya mengkerut bingung.

Ia mematikan lampu, menutup mata dengan perasaan lelah. Ziandra adalah pria yang keras dan dingin seperti kulkas, tapi Almira sudah terlanjur berjanji pada Nyonya Stella demi Nenek Sarmila.

Pagi harinya.

"API! API!"

Ziandra terbangun saat mendengar bunyi teriakan memecah kesunyian subuh.

“Api? Jangan-jangan—”

Ia melompat dari tempat tidur, refleks meraih senjata yang biasa ia letakkan di nakas, baru sadar bahwa yang membangunkannya bukanlah serangan teroris, melainkan istrinya sendiri.

Begitu sampai di ambang pintu dapur, Ziandra mengerjap. Bukan karena asap, meski asapnya cukup tebal untuk membuat alarm asap yang semoga tidak ia pasang berbunyi tapi karena pemandangan di depannya.

"Apa yang sedang kamu lalukan?"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 75. Lamaran Kembali

    "Nona Andrea! Anda tidak bisa masuk ke sana! Itu zona merah terlarang!"Teriakan petugas garis depan menyapu riuhnya suara helikopter yang baru saja mendarat di pangkalan militer darurat Sektor Bravo. Namun, Andrea tak peduli. Dengan mengenakan jaket taktis tebal yang basah oleh lumpur dan sisa hujan, ia menerobos garis pengamanan tanpa ragu. Wajahnya dipenuhi jelaga dan kelelahan setelah menempuh perjalanan darat dan udara yang mempertaruhkan nyawa selama belasan jam demi menyusul satu nama.Dua hari lalu, ia mengakhiri masa lalunya sebagai Almira dan menghancurkan Black Ash. Namun malam ini, sebagai Andrea, jiwa dan raganya terseret magnet luar biasa menuju pria yang meninggalkannya demi tugas negara."Biar dia masuk!" Suara bariton yang tak asing menggema dari arah barak komando.Sersan Irwan berjalan cepat mendekat dengan raut wajah tak percaya. "Nona... Almira? Maksud saya, Nona Andrea?""Di mana dia, Irwan?" napas Andrea memburu, dadanya naik turun. "Di mana Komandan Ziandra?"

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 74. Misi Terakhir

    "Kalau dalam tiga menit kita belum berhasil membobol pintu ini, saya bersumpah akan potong gaji kalian dan memaksa kalian makan mi instan tanpa bumbu selama seminggu!" Ancaman dingin dari Andrea Valerius membuat Selena dan Zena mendadak tersedak ludah sendiri. Di balik dinding beton tebal markas operasi organisasi Black Ash tempat yang selama setahun terakhir menyimpan potongan masa lalu Andrea yang sempat hilang bersama ingatannya suasana yang tadinya mencekam mendadak diwarnai kepanikan taktis. Sebuah SUV hitam tanpa lampu bergemuruh pelan di kegelapan gerbang samping. Andrea turun paling awal dengan pakaian tempur serba hitam yang pas membungkus tubuh atletisnya. Rambut panjangnya dikuncir tinggi, dan tatapannya tajam menembus hujan malam yang mulai mengguyur Jakarta. Selena dan Zena menyusul, menyetel pengedap suara pada pistol masing-masing. "Sinyal CCTV sudah ditakeover, Nona. Jendela pengamanan kita cuma delapan menit sebelum sistem *backup* menyala," ujar agen takti

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 73. Sumpah Misi

    Beberapa jam kemudian, di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Mayor Ziandra berdiri tegap di landasan udara, mengenakan seragam tempur lengkap. Sorot matanya yang biasa setenang telaga kini membara oleh campur aduk emosi. Di belakangnya, Irwan menggeledah isi ransel dengan wajah panik, berusaha bersikap seolah ucapan konyolnya tadi cuma angin lalu. Untuk pertama kalinya sejak menjadi bawahan Ziandra, Irwan melihat sosok perkasa yang biasanya tak tergoyahkan itu berjalan membawa beban batin yang teramat berat. "Komandan," panggil Irwan pelan, berusaha profesional. Ziandra tidak menoleh sedikitpun. "Pastikan seluruh personel Operasi Sektor Bravo sudah naik ke helikopter." "Sudah saya cek dua kali, Komandan. Aman terkendali," jawab Irwan tangkas. "Bagus." Jawaban itu singkat, datar, dan terlalu dingin. Irwan paham betul, tubuh komandannya ada di pangkalan udara Jakarta ini, tetapi jiwanya melayang ke tempat lain. Tak jauh dari area keberangkatan, seorang wanita paruh b

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 72. Misi Darurat

    "Almira!" Panggilan bariton itu menggelegar menembus dinginnya udara sore, memantul kencang pada pilar-pilar batu megah kediaman Valerius. Panggilan yang sarat akan keputusasaan, keteguhan, dan luka yang tak kasatmata. Langkah Almira sempat terhenti sejenak di dekat ambang pintu utama. Punggungnya tegap, namun jemarinya cengkeramannya pada gaun sutra hitamnya makin mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. "Lupakan aku, Komandan! Anggap saja kita tidak pernah saling bertemu." Ia tidak menoleh. Mengumpulkan sisa-sisa ketegarannya sebagai Andrea Valerius, wanita itu kembali melangkah masuk dan membiarkan pintu kayu mahoni yang tebal dan berat itu tertutup perlahan, memutus pandangan mereka secara mutlak. Di balik gerbang besi, Ziandra menggeram rendah. Otot-otot rahangnya mengeras, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Matanya masih menatap lurus ke arah pintu utama yang baru saja tertutup, seolah-olah pandangan tajamnya bisa menembus kayu tebal tersebut dan menarik

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 71. Keputusan Almira

    "Almira! Saya tahu kamu di dalam. Kita harus bicara sekarang!"Suara berat dan berwibawa milik Ziandra menggelegar menembus sunyinya sore, memantul di antara dinding-dinding batu megah perkebunan Valerius. Suara itu begitu lantang, sarat akan keputusasaan yang disamarkan oleh dominasi mutlak seorang perwira tinggi Komando Pasukan Khusus.Zena, yang berdiri tegak di balik barikade besi bersama jajaran pengawal berjas hitam, memperketat cengkeramannya pada gagang senjata concealed di balik jasnya. Wajah yang biasanya tenang itu kini dipenuhi urat ketegangan."Komandan, tolong jangan membuat keributan di sini!" tegur Zena nyaring, suaranya dingin dan menusuk. "Tempat ini adalah area privat keluarga Valerius. Anda sudah melanggar batasan hukum!""Suruh Almira datang menemui saya sekarang!" potong Ziandra tanpa memedulikan gertakan tersebut. Tangan kanannya sudah berada di atas kemeja taktisnya, siap mencabut senjatanya kapan saja jika situasi menuntut tindakan ekstrem.Zena mengangkat kep

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 70. Hubungan Kita Selesai!

    "Tidak ada, Ma. Semua lengkap. Hanya saja... selera milikku saat hilang ingatan agak sedikit berbeda dengan ingatan milik Andrea."Nyonya Laura tersenyum maklum, mengusap bahu putrinya lembut. "Pelan-pelan saja, Nak. Yang penting ingatan kamu sudah kembali dan kamu sudah aman di rumah.""Aku mau istirahat dulu, Ma. Kepalaku agak berat.""Tentu, Sayang. Istirahatlah. Mama tinggal dulu, ya." Nyonya Laura mencium kening Almira sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu dengan pelan.Almira berjalan menuju ranjang king-size di tengah ruangan. Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang megah. Tangan kanannya perlahan terangkat, meraba lehernya sendiri. Di sana, rona merah bekas gigitan hangat Ziandra semalam masih terasa perih—sebuah jejak nyata dari pria yang berhasil menjebol pertahanan hatinya."Abang lagi apa sekarang...?" bisik Almira lirih. Dada kirinya mendadak terasa hampa dan sesak. "Mulai hari ini kita adalah orang asing."Sementara itu, di luar gerbang ut

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 4. Kejutan Almira

    "Maaf, Nona. Pak Ziandra sudah berangkat," jawab Sumi pelan. Senyum di wajah Almira langsung runtuh. Secepat kilat, bibir mungil yang tadi melengkung indah itu kini berubah menjadi cemberut minor. Bahunya sedikit turun, seperti balon yang kempes perlahan. "Sudah berangkat?" ulangnya, masih tidak

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 3. Jangan Banyak Tingkah!

    Almira menoleh, matanya berbinar meskipun batuk-batuk karena asap. "Oh, Bang Komandan! Bangun? Maaf, Bang, sedikit insiden teknis." "Insiden teknis, Bang Komandan?" Kening Ziandra mengkerut. “Apa maksudmu?” "Iya, kompor sama wajannya ngajak perang, Bang. Padahal aku cuma mau bikin nasi goreng ce

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 1. Hamili Aku, Komandan!

    "Paket pelet semar mesem ampuh, gak ya?"Almira menghela nafas panjang saat duduk menatap dirinya di depan cermin. Ucapan Nyonya Stella terus terngiang di telinga. Rambut panjangnya di gerai, make up tipis hasil tutorial dari youtube berhasil dilakukan. Hanya satu misinya yang belum berhasil, yait

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 12. Mama butuh penerus!

    Rahang Ziandra mengeras. Urat di lehernya tampak menonjol. "Tidak bisa, Ma. Ini urusan sangat penting."Di seberang sana, Nyonya Stella sama sekali tidak terdengar gentar. "Padahal Mama ingin bertemu dengannya.""Masalah ini tidak boleh Almira tahu sedikit pun.""Kenapa?""Mama masih bertanya kena

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status