登入Zena ikut terdiam. Ia mengenal reputasi Mayor Ziandra jauh sebelum menjadi bagian dari jaringan Red Viver. Seorang komandan yang tidak pernah mengandalkan emosi, melainkan logika Viver dan itu jauh lebih menakutkan."Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang," bisik Zena."Ya. Sangat berhati-hati."Sementara itu...Di gang sempit.Salah seorang prajurit kembali berlari mendekati Ziandra. "Komandan! Tidak ada temuan berarti.""Di sini juga nihil.""Area belakang bersih.""Sisi utara juga tidak ada."Semua laporan terdengar sama: tidak ada apa pun.Ziandra memandang langit beberapa saat, kemudian mengambil keputusan. "Sudah."Seluruh prajurit langsung berdiri tegak. "Siap!""Kita kembali ke markas.""Siap!"Semua mulai bergerak menuju kendaraan masing-masing. Namun baru beberapa langkah meninggalkan lokasi, mata tajam Ziandra menangkap pantulan cahaya kecil di sela retakan trotoar. Kilau itu nyaris tidak terlihat. Ia langsung berhenti."Tunggu."Dave ikut menghentikan langkah. "K
“Selena selalu tahu apa yang harus dia lakukan.” Tim pembersih Red Viver yang dikirim oleh Selena setelah menerima sinyal radar darurat langsung melompat keluar dan bergerak cepat bagaikan bayangan.Dengan efisiensi tinggi, anggota Red Viver mengangkut empat orang pingsan tersebut, menyingkirkan pecahan kaca, menderek mobil sedan yang hancur, dan menyapu bersih seluruh area. Sementara itu, Almira dan Zena dengan cekatan memindahkan tubuh Adrian yang masih pingsan ke posisi dibangku belakang. Zena alias Bi Sumi duduk di kursi kemudi lalu membawa mobil pergi. Ketenangan tidak berangsur lama. Adrian mulai tersadar! Kepalanya berkunang-kunang sembari memegangi tengkuknya yang berdenyut nyeri."Aduh... kepala saya... sakit? Apa yang terjadi?" gumam Adrian linglung.Almira langsung menengok kebelakang mengubah raut wajah garangnya dalam satu detik menjadi mode 'gadis polos nan teraniaya'."Dokter Adrian! Ya ampun, Dokter nggak apa-apa?!" pekik Almira histeris dengan wajah kaget setengah
“Sepertinya sudah terjadi sesuatu”Ziandra langsung mematikan panggilan tanpa ragu. Dengan kening berkerut dalam, ia segera mencari kontak lain dan menekan tombol panggil. Sifat telitinya membuat naluri militernya terus berdering menuntut kepastian.Di tempat lain, telepon genggam Sersan Irwan bergetar nyaring. Irwan yang sedang memegang kunci Inggris langsung mengangkatnya cepat."Siap, Komandan!" jawab Irwan tegas."Bagaimana keadaan disana? Almira aman?" tanya Ziandra langsung tanpa basa-basi, suaranya berat dan penuh intonasi menuntut.Irwan menelan ludah, merasa gugup setengah mati. "M-mohon maaf yang sebesar-besarnya, Komandan! Saya... saya saat ini sedang tidak berada di pos pantau."Alis Ziandra menyatu erat, matanya mengeras bagai baja. "Maksudmu?""Anu, Komandan, tetangga sebelah rumah target tiba-tiba minta bantuan darurat. Pipa airnya bocor parah dan rumahnya kebanjiran. Kasihan, Beliau sedang hamil tua dan sendirian di rumah. Jadi saya bantu sebentar untuk membetulkan pi
"Siapa yang mengikuti kita?" tanya Adrian sambil berulang kali melirik kaca spion tengah."Jadi mereka mulai bergerak ..." desis Almira pelan. Suara tenangnya perlahan lenyap, berganti dengan intonasi dingin penuh perhitungan."Tenang, Almira. Mungkin hanya perasaan kamu saja," jawab Adrian berusaha menenangkan, meski tangannya di lingkar kemudi mulai mencengkram erat."Coba saja banting setir kalau tidak percaya," cetus Zena dari kursi belakang dengan nada datar tanpa ekspresi.Adrian melirik ke arah Almira yang duduk di sampingnya. Gadis itu seketika membenahi posisi duduknya dan berusaha memasang wajah setenang dan selugu mungkin."Apa kamu punya tunggakan pinjol yang belum dibayar?" tanya Adrian tiba-tiba.“Ya ampun, biasanya aku yang bicara absurd begitu. Kenapa Dokter Adrian malah ikut-ikutan?” gumam Almira dalam hati, menahan napas."Aku nggak punya cicilan pinjaman online, Dokter!" sahut Almira tak kalah konyol. "Muka imut begini mana cocok dikejar-kejar debt collector!""Ben
"Anda mau pergi ke mana, Nona?"Zena berdiri di dekat pintu ruang tamu sambil memperhatikan Almira yang baru saja masuk ke dalam kamar. Begitu pintu terbuka kembali, gadis itu sudah berubah penampilan. Rambut panjangnya yang biasanya tergerai kini diikat tinggi membentuk ekor kuda, membuat wajahnya terlihat lebih tegas sekaligus segar.Almira yang ingatannya sudah kembali memasang ekspresi dingin. Ia mengambil sebuah jaket tipis dari gantungan, lalu mengenakan topi berwarna hitam. "Kita pergi menemui kedua orang tuaku."Zena langsung mengangkat kepala. "Tuan Valerius dan Nyonya Laura?"Almira mengangguk. "Mama pasti cemas dengan kejadian kemarin. Aku ingin menemuinya dan memberitahu jika ingatan ku sudah kembali."Zena tampak berpikir. "Kalau begitu saya ikut.""Tentu."Almira mengambil kunci motor yang tergantung di dekat pintu. Namun sebelum sempat melangkah keluar, Zena kembali membuka suara."Nona.""Hm?""Di luar ada Sersan Irwan.'Almira menghentikan langkahnya. "Anda tahu dia
"Ra-racun?"Almira sampai menelan ludah. Sendok yang baru saja hendak mengambil nasi berhenti di udara. Tatapannya bergantian mengarah kepada Ziandra yang masih berdiri di depan kompor dan Zena yang memasang wajah datar tanpa sedikit pun merasa bersalah."Abang serius?" tanya Almira pelan.Ziandra mengangguk tanpa mengalihkan perhatian dari wajan yang sedang diaduknya. "Serius.""Tapi ...." Almira mengedip beberapa kali. "Abang kan udah makan masakan Bi Sumi dari pertama dia datang."Ziandra mematikan api kompor dengan tenang. "Itu sebelum saya tahu kalau dia adalah seorang agen yang sedang menyamar."Zena yang berdiri di dekat kulkas justru mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi. "Terima kasih atas kewaspadaannya, Komandan.""Bukan pujian.""Saya tahu.""Tetap saya hargai."Almira menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Ia lalu mendekat ke arah Zena dan berbisik pelan agar tidak terdengar Ziandra."Kayaknya ...""Apa, Nona?""Yang dicurigai ternyata bukan aku doang."Zena menole
"Maaf, Nona. Pak Ziandra sudah berangkat," jawab Sumi pelan. Senyum di wajah Almira langsung runtuh. Secepat kilat, bibir mungil yang tadi melengkung indah itu kini berubah menjadi cemberut minor. Bahunya sedikit turun, seperti balon yang kempes perlahan. "Sudah berangkat?" ulangnya, masih tidak
Almira menoleh, matanya berbinar meskipun batuk-batuk karena asap. "Oh, Bang Komandan! Bangun? Maaf, Bang, sedikit insiden teknis." "Insiden teknis, Bang Komandan?" Kening Ziandra mengkerut. “Apa maksudmu?” "Iya, kompor sama wajannya ngajak perang, Bang. Padahal aku cuma mau bikin nasi goreng ce
"Oh... jadi ini alasannya?" gumam Almira dengan nada bicara yang tiba-tiba melas namun penuh pengertian yang salah alamat."Pantas saja gaun satin 'LC ala sugar baby’' aku nggak mempan. Ternyata sainganku bukan pelakor, tapi pemain bek tengah.""Almira, jangan berpikiran macam-macam. Dave hanya ter
"Paket pelet semar mesem ampuh, gak ya?"Almira menghela nafas panjang saat duduk menatap dirinya di depan cermin. Ucapan Nyonya Stella terus terngiang di telinga. Rambut panjangnya di gerai, make up tipis hasil tutorial dari youtube berhasil dilakukan. Hanya satu misinya yang belum berhasil, yait







