Share

Gesekan Jambang

BUKAN H*SR*T SUAMIKU 4

"Tanda itu tercipta karena gesekan jambang kasar yang kira-kira tidak dicukur selama satu bulan ... "

.

Aku mematut wajah di cermin, pandanganku terfokus pada leher yang dipenuhi  bercak kemerahan sebesar ujung jarum. Menyebar hampir di seluruh leher kulit dadaku juga tidak luput dari tanda itu.

Aku tidak akan mempermasalahkan tanda ini, karena memang hal ini selalu ada sejak tiga bulan lalu, dan aku merasa bahagia  karenanya.

Tanda kepemilikan, begitu yang selalu tertulis di novel-novel roman yang sering kubaca.

Akan tetapi, penjelasan Dara siang tadi membuatku jadi tidak mengerti. Tanda ini bukan karena gigitan atau apalah namanya itu. Tanda ini diakibatkan tekanan atau gesekan jambang yang lebat dan kasar. Sedangkan, Suamiku selalu mencukur licin rahangnya.

Aku mengingat-ingat, dalam setiap percinta*n kami aku sempat beberapa kali menyentuh rahang suamiku, dan memang terasa  kasar tapi aku tidak memperdulikannya. Mungkin saja aku dalam pengaruh asm**a yang dahsyat, sehingga tidak bisa membedakan rabaan yang benar.

Ting ...

Nada pesan masuk membuyarkan lamunanku. Segera kuraih benda pipih di atas ranjang.

[Sayang ...]

Mas Pandu.

[Mas ... ] Diiringi emoticon love.

[ Sepertinya malam ini, Mas lembur sampai pagi, ya.]

[ Apa, Mas? Kok tumben?]

Aku cukup kaget dengan hal ini, selama pernikahan baru kali ini suamiku akan menjalani lembur semalaman.

[ Iya, sayang ... ini sudah hampir memasuki akhir tahun, jadi harus segera menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk.]

[Ya, sudah, Mas. Baik-baik kerjanya] Diiringi emoticon menangis.

[Kenapa, Mala? Kamu tidak takut sendirian di rumah bukan? Aku suruh Dara menemani, ya.]

Dara? Bukan ide yang buruk, sebenarnya gadis itu cukup manis untuk dijadikan teman bicara. Tetapi mengingat kejadian siang tadi, dengan segala pertanyaan bar-bar yang membuatku gelisah sepanjang hari ini, mungkin saja kalau ia tidur di sini nanti malam akan banyak lagi interogasi anehnya yang akan semakin berpikir tidak karuan.

[Ah, nggak kok, Mas. Di sini kan banyak tetangga. Rumah-rumah juga sangat berdekatan, tidak mungkin aku akan takut.] Emoticon tertawa.

[Baiklah, sayang. Mas kembali kerja. Jangan lupa makan, shalat dan kunci pintu.]

Kemudian tidak berapa lama ia terlihat lebih dulu menyudahi chat kami.

Aku kembali menaruh ponsel di atas ranjang dan kembali mematut diri di kaca.

Ah, persetan dengan segala perkataan Dara. Aku tidak akan memikirkan lagi hal yang membuatku jadi gelisah begini. Tentu saja tanda ini dari suamiku, sudah jelas setiap malam ia menggauliku. Mengenai tanda ini, itu bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan.

 Mungkin saja suamiku memiliki berbagai cara untuk membuatnya, bukan harus dengan jambang kasar seperti ocehan Dara. Imajinasi anak itu saja yang terlalu melambung, yah mungkin karena ia sudah dalam usia matang untuk menikah.

 

                 ------------------------------------

Bagaimanapun berusaha untuk tidak memikirkan hal itu, tetap saja hingga malam sudah larut begini mata ini masih belum juga mau terpejam.

Pikiranku mengembara ke mana-mana, dan tertambat pada hari itu, di saat pertama kali bertemu dengan Mas Pandu.

Di sebuah acara pernikahan sahabatku, Lina. Mas Pandu merupakan salah satu kerabat dekat temanku itu.

Aku yang dulu bertindak sebagai salah satu brydest maid, Lina dan Mas Pandu juga salah best man,  membuat kami dekat dalam sehari saja.

Mas Pandu yang begitu tampan dan murah senyum dengan cepat membuatku terpesona. Dan tanpa di duga ia juga menaruh rasa padaku.

Lelaki yang sudah cukup mapan dengan gajinya sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan yang lumayan besar langsung melamarmu sebulan setelah perkenalan kami itu. Keluarga besar kedua belah pihak menyambut niat baik kami dengan suka cita.

Lalu aku diboyongnya ke sini. Ke rumah yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman untuk ditinggali. Rumah yang kata Mas Pandu sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk pendamping hidupnya. seluruh perabotan sepertinya di pesan dari toko furniture terbaik. Semuanya terlihat berkelas, membuatku segera betah menempatinya. 

Halamannya juga cukup luas, sangat cocok untukku yang memang hobi menanam bunga. 

Berbagai macam tanaman hias terlihat selalu bermekaran di teras dan juga bagian tanah yang dulu kosong.

Gelap.

Ah, lagi-lagi aku ketiduran sambil melamun dan terjaga saat lampu padam. Kali ini tidak mungkin ulah Mas Pandu, karena suamiku itu sudah bilang akan pulang pagi hari. Ini mungkin benar-benar karena gangguan teknis PLN.

Aku meraih selimut yang tadi teronggok di paha, menutupi kepala. Sungguh aku tidak suka gelap, kecuali gelap-gelapan dengan suamiku.

Entah berapa lama lampu akan menyala lagi.

Nafasku terasa sesak di bawah selimut, di tambah gerah membuat keringatku bercucuran.

Aku tetap bertahan di bawah selimut. Aku semakin membungkus kepala dengan kain tebal itu. Walau rasa gerah dan sesak seperti mencekikku.

Oh, lampu cepatlah menyala. Batinku mulai diliputi  ketakutan.

Tiba-tiba aku merasakan kasur di sebelahku melesak ke bawah, menandakan beban berat menindihnya. Tapi katanya kan, Mas Pandu akan  pulang pagi hari?

Apa ia berubah pikiran? Atau pekerjaannya selesai lebih awal. Makanya ia pulang seperti biasanya.

Terasa selimut di tarik pelan. Lalu aku mendesah lega, tatkala wangi khas suamiku menyeruak indra penciuman.

"Mas ... aku takut!" seruku, langsung mendekap  kepalanya erat.

Ia terdengar terkekeh. Aku sangat bisa membedakan kekehan saat ia dilanda g*ir*h dengan kekehan saat bercanda biasa.

Kekehan saat ia dilanda ga*r*h, terdengar sangat berat dan seksi.

"Mas ... jangan pernah tinggalkan aku lagi malam-malam begini." Rengekku masih membenamkan kepalaku di lehernya.

Lalu aku secara spontan meraba  rahangnya, seketika jantungku seakan berhenti ketika terasa bulu yang sangat kasar di sana ...

"Mas ... bukankah, kamu selalu bercukur? Lalu ...."

Ucapanku terpotong seiring jemari yang segera disambarnya, lalu terasa ia menbekap rakus bibirku. Seperti biasanya.

Tanganku kemudian ia tekan ke bantal, masih seperti yang lalu-lalu, aku seakan tidak dibiarkan menyentuh tubuh suamiku sendiri. sebenarnya baru kali ini aku menyadari semua keganjilan dan  ingin menolak sentuhannya kali ini. Namun, setengah dari diriku malah mendamba.

Nafasnya yang memb*ru membuat bulu kudukku berdiri. Aku hanya pasrah menikm*ti sens*si yang selalu terasa lebih dari biasanya.

Di sel*-sela nafasku yang terseng*l di tengah asmara dahsyat yang melanda, terlintas suatu pertanyaan yang membuat hatiku bergetar.

Apakah yang selalu menidiriku dengan g*gah perk*s* setiap malam bukan, Suamiku?

.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status