แชร์

BAB 136. Roda Kehidupan

ผู้เขียน: Sarana
last update วันที่เผยแพร่: 2024-08-03 13:00:25

"Hai, apa kabar?" sapa Barra dengan santai dengan senyuman yang lebar.

"Barra?" Dita mengerjapkan matanya cepat, tidak menyangka akan bertemu Barra kembali di kantor Edgar. Sudah lama sejak terakhir kali mereka berbicara di pantai Bali, dan pertemuan ini sungguh tidak terduga. Wajah Barra yang ramah dan senyumnya yang menenangkan membuat Dita sejenak lupa dengan tujuannya.

"Iya, ini aku. Sudah lama, ya?" Barra melanjutkan. "Oh, ya. Jadi pinjam ponselnya tidak?" tanyanya saat Dita belum juga me
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 151. Jarak Tanpa Kata

    “Apa… apa yang baru saja kau katakan?” tanya Dita, matanya menatap Barra seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.Barra tersenyum tipis, sorot matanya penuh keyakinan. “Seperti yang kau dengar,” ujarnya tenang. “Aku membawamu kemari untuk meminta restu dari ayahmu.”Belum sempat Dita membuka mulut untuk menanggapi, tawa keras tiba-tiba memecah ruangan. Bintara menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya dipenuhi ekspresi mengejek.“Jadi pria ini,” katanya sambil menunjuk Barra, “yang membuatmu kabur dari rumah?”Rahang Dita mengeras. Giginya saling bergemelatuk menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. Ia melangkah maju, menatap ayahnya tanpa gentar.“Jangan memutarbalikkan keadaan,” ucapnya dingin. “Aku pergi karena Papa.”Bintara mengernyit tajam.“Berani sekali kau menyalahkanku!”“Jika Papa tidak memaksaku menikah dengan Edgar,” lanjut Dita dengan suara bergetar namun tegas, “aku tidak akan pernah meninggalkan rumah.”Tangan Bintara terangkat tinggi, amarahnya memuncak

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 150

    “Mari kita akhiri sandiwara ini.”Edgar terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras.Detik berikutnya, ia membopong tubuh Natasha di atas pundaknya.“Edgar! Turunkan aku!” Natasha memukul punggungnya.“Kau kelelahan,” jawab Edgar datar. “Kau bicara tanpa berpikir.”“Aku sadar! Lepaskan aku sekarang!”Natasha memberontak, seperti setiap kali Edgar memaksanya. Namun Edgar tak menggubris.“Aku tidak akan meninggalkanmu di tengah hujan,” ucapnya tegas. “Marahmu bisa menunggu. Kondisimu tidak.”“Jangan sok peduli!” bentak Natasha. “Aku tidak butuh itu darimu!”Edgar tetap melangkah, menembus hujan deras menuju hotel.Sesampainya di sana, langkahnya langsung terhenti sejenak. Beberapa orang menoleh. Bisik-bisik terdengar pelan.Namun tak satu pun berani bertanya.Wajah Edgar dingin dan serius. Tatapannya seolah memperingatkan siapa pun untuk tidak ikut campur.Begitu tiba di salah satu kamar hotel, Edgar langsung membawa Natasha masuk ke kamar mandi dan menurunkannya di sana. “Mandilah,” ti

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 149. Lelah yang Tak Butuh Penjelasan

    “Siapa kalian?!” tanya Natasha tajam pada wanita dan anak kecil yang tadi ia tolong.Keduanya diam. Wanita itu menunduk, anak kecil di pelukannya tak berani menoleh.Kecurigaan Natasha menguat. Ia melirik ke depan. Seorang pria duduk di kursi kemudi—hoodie hitam, topi, dan masker menutupi wajahnya.Jebakan.“Apa mereka berniat menculikku?” batinnya.“Berhenti!” teriak Natasha. “Turunkan aku sekarang!”Mobil justru melaju.Panik, Natasha memukul kaca jendela. “Tolong! Tolong! Siapa pun yang mendengarku, tolong aku!”Tak ada yang peduli.Wanita di sampingnya berbisik pelan, “Sudah… tidak ada gunanya.”Natasha menoleh tajam. “Kalian mau apa dariku?!”“Kami hanya ingin kamu ikut dengan kami,” jawab wanita itu singkat.“Tidak!” Natasha menepis. “Aku tidak mengenal kalian. Turunkan aku sekarang!”Tak ada yang menanggapi. Mobil terus melaju.“Berhenti!” suara Natasha meninggi. “Atau aku akan berteriak lagi!”Wanita itu tetap diam. Anak kecil di sampingnya hanya menunduk.Mobil akhirnya melamb

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 148. Menghilang di Jalan

    Edgar menepikan mobilnya di pinggir jalan dengan perasaan putus asa setelah berbicara dengan Barra. Hatinya terasa kosong, dan pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Ia meremas kemudi mobil dengan erat, berusaha meredam emosi yang terus bergemuruh di dalam dirinya. "Apakah Natasha benar-benar membenciku?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tertelan oleh keheningan mobil. Ia tidak bisa memahami mengapa semuanya berubah begitu cepat. Edgar menutup matanya sejenak, berharap menemukan kedamaian di tengah kekacauan pikirannya. Tapi, justru yang muncul adalah bayangan Natasha—wajahnya yang selalu tenang dan tatapannya yang dalam.Tiba-tiba, suara notifikasi pesan masuk memecah kesunyian. Edgar membuka matanya dan meraih ponselnya dengan lesu, mengira itu hanya pesan dari Julian yang mungkin ingin membahas urusan pekerjaan. Namun, saat melihat nama pengirim di layar, tubuh Edgar menegang. Nama yang tertera di sana bukan Julian, melainkan Barra.Dengan cepat, Edgar membuka pes

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 147. Gugatan Cerai

    Keesokan harinya, Edgar duduk di ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Penampilannya jauh dari rapi seperti biasanya– dasi yang seharusnya terikat sempurna kini menggantung longgar di lehernya, dan rambutnya yang sedikit acak-acakan memperlihatkan betapa berantakannya kondisi Edgar. Ia menatap kosong ke arah jendela ruang kerjanya, tapi yang dilihatnya bukanlah pemandangan di luar sana, melainkan kekacauan yang ada di dalam pikirannya sendiri. "Natasha.. Di mana kamu sekarang?" gumamnya pelan, hampir tidak terdengar di tengah keheningan ruangan.Edgar menggenggam kepalanya, jari-jarinya mencengkeram rambutnya yang sudah kusut. Ia tidak pernah merasa sekacau ini sebelumnya. "Kenapa semalam kamu tidak pulang?" Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya. Edgar merasa seolah-olah ia telah kehilangan kendali atas hidupnya. "Aku harus menemukannya, harus... tapi di mana harus memulai? Bagaimana jika semuanya sudah terlambat?" Keraguan itu terus menghantuinya, membuatnya semakin tenggelam

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 146. Keputusan Terberat

    Sesaat setelah mobil Edgar berhenti dengan keras di halaman mansionnya, ia keluar dengan tergesa-gesa. Hatinya berdebar kencang, seakan ada sesuatu yang mendesaknya untuk segera menemukan seseorang. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera melangkah masuk ke dalam rumah."Natasha!"Nama itu terucap berkali-kali, berputar dalam pikirannya seperti mantra yang terus bergema. Dengan langkah cepat, Edgar menyusuri lorong-lorong yang panjang dan sepi, berharap menemukan istrinya di salah satu sudut rumah yang luas ini. Ketika ia tiba di ruang tamu, Bi Murni, pembantu setianya, muncul dari dapur, mendengar kegaduhan yang tak biasa dari majikannya."Tuan Edgar, ada apa?" tanya Bi Murni, sedikit khawatir melihat raut wajah pria itu yang tampak cemas.“Natasha di mana?” Edgar langsung memotong tanpa basa-basi, pandangannya tajam mencari jawaban dari wajah tua yang telah mengabdi di rumah itu selama bertahun-tahun.Bi Murni mengerutkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba.“Sejak

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 38. Cemburu?

    Saat Bi Murni dan Bi Yeti sedang turun perlahan menuruni anak tangga, Edgar tiba-tiba bergegas ke ruang kerjanya untuk mencoba bersembunyi di sana. Namun, sebelum ia berhasil masuk ke dalam ruangan tersebut, Bi Murni sudah melihatnya."Tuan–" ucapan Bi Murni terpotong secara tiba-tiba saat Edgar memb

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 35. Pertanyaan yang Mengganjal

    Edgar memasang kancing lengan kemejanya di depan cermin, menatap penampilannya dengan seksama dari atas hingga bawah. Sebagai seorang yang memiliki kepribadian perfeksionis, Edgar sangat memperhatikan penampilannya agar terlihat sempurna.Saat ia yakini penampilannya sudah rapi, Edgar meraih jasnya d

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 26. Panggilan yang Mendebarkan

    Mobil Rolls Royce Phantom hitam melaju dengan anggun membelah jalan raya. Pemandangan luar jendela berubah dengan cepat, lampu-lampu kota melintas begitu saja. Edgar, berkonsentrasi menatap lurus ke depan dengan tangan yang sibuk mengemudi, sembari menyusun kata sebelum bertemu dengan Abraham.Di sam

  • (BUKAN) PENGANTIN SEWAAN   BAB 25. Jeritan Pertempuran

    Edgar, yang tidak ingin orang lain berpikir macam-macam, dengan cepat menutup mulut Natasha agar teriakannya tidak terdengar hingga keluar kamar. Dengan tatapan tegas, dia memerintahkan, "Diam!""Hmmp! Hmmp!" Natasha berusaha keras untuk menyampaikan sesuatu, tetapi suaranya terhenti oleh tangan Edga

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status