Chapter: BAB 151. Jarak Tanpa Kata“Apa… apa yang baru saja kau katakan?” tanya Dita, matanya menatap Barra seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.Barra tersenyum tipis, sorot matanya penuh keyakinan. “Seperti yang kau dengar,” ujarnya tenang. “Aku membawamu kemari untuk meminta restu dari ayahmu.”Belum sempat Dita membuka mulut untuk menanggapi, tawa keras tiba-tiba memecah ruangan. Bintara menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya dipenuhi ekspresi mengejek.“Jadi pria ini,” katanya sambil menunjuk Barra, “yang membuatmu kabur dari rumah?”Rahang Dita mengeras. Giginya saling bergemelatuk menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. Ia melangkah maju, menatap ayahnya tanpa gentar.“Jangan memutarbalikkan keadaan,” ucapnya dingin. “Aku pergi karena Papa.”Bintara mengernyit tajam.“Berani sekali kau menyalahkanku!”“Jika Papa tidak memaksaku menikah dengan Edgar,” lanjut Dita dengan suara bergetar namun tegas, “aku tidak akan pernah meninggalkan rumah.”Tangan Bintara terangkat tinggi, amarahnya memuncak
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-18
Chapter: BAB 150“Mari kita akhiri sandiwara ini.”Edgar terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras.Detik berikutnya, ia membopong tubuh Natasha di atas pundaknya.“Edgar! Turunkan aku!” Natasha memukul punggungnya.“Kau kelelahan,” jawab Edgar datar. “Kau bicara tanpa berpikir.”“Aku sadar! Lepaskan aku sekarang!”Natasha memberontak, seperti setiap kali Edgar memaksanya. Namun Edgar tak menggubris.“Aku tidak akan meninggalkanmu di tengah hujan,” ucapnya tegas. “Marahmu bisa menunggu. Kondisimu tidak.”“Jangan sok peduli!” bentak Natasha. “Aku tidak butuh itu darimu!”Edgar tetap melangkah, menembus hujan deras menuju hotel.Sesampainya di sana, langkahnya langsung terhenti sejenak. Beberapa orang menoleh. Bisik-bisik terdengar pelan.Namun tak satu pun berani bertanya.Wajah Edgar dingin dan serius. Tatapannya seolah memperingatkan siapa pun untuk tidak ikut campur.Begitu tiba di salah satu kamar hotel, Edgar langsung membawa Natasha masuk ke kamar mandi dan menurunkannya di sana. “Mandilah,” ti
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-26
Chapter: BAB 149. Lelah yang Tak Butuh Penjelasan“Siapa kalian?!” tanya Natasha tajam pada wanita dan anak kecil yang tadi ia tolong.Keduanya diam. Wanita itu menunduk, anak kecil di pelukannya tak berani menoleh.Kecurigaan Natasha menguat. Ia melirik ke depan. Seorang pria duduk di kursi kemudi—hoodie hitam, topi, dan masker menutupi wajahnya.Jebakan.“Apa mereka berniat menculikku?” batinnya.“Berhenti!” teriak Natasha. “Turunkan aku sekarang!”Mobil justru melaju.Panik, Natasha memukul kaca jendela. “Tolong! Tolong! Siapa pun yang mendengarku, tolong aku!”Tak ada yang peduli.Wanita di sampingnya berbisik pelan, “Sudah… tidak ada gunanya.”Natasha menoleh tajam. “Kalian mau apa dariku?!”“Kami hanya ingin kamu ikut dengan kami,” jawab wanita itu singkat.“Tidak!” Natasha menepis. “Aku tidak mengenal kalian. Turunkan aku sekarang!”Tak ada yang menanggapi. Mobil terus melaju.“Berhenti!” suara Natasha meninggi. “Atau aku akan berteriak lagi!”Wanita itu tetap diam. Anak kecil di sampingnya hanya menunduk.Mobil akhirnya melamb
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-26
Chapter: BAB 148. Menghilang di JalanEdgar menepikan mobilnya di pinggir jalan dengan perasaan putus asa setelah berbicara dengan Barra. Hatinya terasa kosong, dan pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Ia meremas kemudi mobil dengan erat, berusaha meredam emosi yang terus bergemuruh di dalam dirinya. "Apakah Natasha benar-benar membenciku?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tertelan oleh keheningan mobil. Ia tidak bisa memahami mengapa semuanya berubah begitu cepat. Edgar menutup matanya sejenak, berharap menemukan kedamaian di tengah kekacauan pikirannya. Tapi, justru yang muncul adalah bayangan Natasha—wajahnya yang selalu tenang dan tatapannya yang dalam.Tiba-tiba, suara notifikasi pesan masuk memecah kesunyian. Edgar membuka matanya dan meraih ponselnya dengan lesu, mengira itu hanya pesan dari Julian yang mungkin ingin membahas urusan pekerjaan. Namun, saat melihat nama pengirim di layar, tubuh Edgar menegang. Nama yang tertera di sana bukan Julian, melainkan Barra.Dengan cepat, Edgar membuka pes
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-10-01
Chapter: BAB 147. Gugatan CeraiKeesokan harinya, Edgar duduk di ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Penampilannya jauh dari rapi seperti biasanya– dasi yang seharusnya terikat sempurna kini menggantung longgar di lehernya, dan rambutnya yang sedikit acak-acakan memperlihatkan betapa berantakannya kondisi Edgar. Ia menatap kosong ke arah jendela ruang kerjanya, tapi yang dilihatnya bukanlah pemandangan di luar sana, melainkan kekacauan yang ada di dalam pikirannya sendiri. "Natasha.. Di mana kamu sekarang?" gumamnya pelan, hampir tidak terdengar di tengah keheningan ruangan.Edgar menggenggam kepalanya, jari-jarinya mencengkeram rambutnya yang sudah kusut. Ia tidak pernah merasa sekacau ini sebelumnya. "Kenapa semalam kamu tidak pulang?" Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya. Edgar merasa seolah-olah ia telah kehilangan kendali atas hidupnya. "Aku harus menemukannya, harus... tapi di mana harus memulai? Bagaimana jika semuanya sudah terlambat?" Keraguan itu terus menghantuinya, membuatnya semakin tenggelam
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-08-28
Chapter: BAB 146. Keputusan TerberatSesaat setelah mobil Edgar berhenti dengan keras di halaman mansionnya, ia keluar dengan tergesa-gesa. Hatinya berdebar kencang, seakan ada sesuatu yang mendesaknya untuk segera menemukan seseorang. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera melangkah masuk ke dalam rumah."Natasha!"Nama itu terucap berkali-kali, berputar dalam pikirannya seperti mantra yang terus bergema. Dengan langkah cepat, Edgar menyusuri lorong-lorong yang panjang dan sepi, berharap menemukan istrinya di salah satu sudut rumah yang luas ini. Ketika ia tiba di ruang tamu, Bi Murni, pembantu setianya, muncul dari dapur, mendengar kegaduhan yang tak biasa dari majikannya."Tuan Edgar, ada apa?" tanya Bi Murni, sedikit khawatir melihat raut wajah pria itu yang tampak cemas.“Natasha di mana?” Edgar langsung memotong tanpa basa-basi, pandangannya tajam mencari jawaban dari wajah tua yang telah mengabdi di rumah itu selama bertahun-tahun.Bi Murni mengerutkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba.“Sejak
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-08-23
Chapter: Bab 16Melani melangkah masuk ke dalam kamar. Dari ambang pintu, ia melihat Eliana berdiri di dekat jendela yang terbuka lebar, tubuh wanita itu setengah bersandar pada kusen, matanya terpaku pada hamparan hijau dan perbukitan yang mengelilingi Villa. Angin sejuk masuk membawa aroma pinus dan udara pegunungan yang menenangkan.“Eliana,” panggil Melani sambil mendekat. “Kamu tidak membaca pesanku?”Eliana tidak menoleh. “Tidak. Aku tidak memegang ponsel,” jawabnya.Melani mengembuskan napas panjang, jelas menahan kesal. “Astaga… aku sampai mencarimu ke mana-mana,” gerutunya. Lalu ia melanjutkan, “Ayo turun. Tante Lydia mengajak kita membuat barbeque.”Namun Eliana tetap di tempatnya. Pandangannya masih terkunci pada pemandangan di depan, seolah dunia di luar jendela jauh lebih menarik daripada percakapan mereka.“Sebentar lagi,” jawab Eliana akhirnya. “Aku ingin menikmati udara sejuk dan pemandangan ini sedikit lebih lama lagi.”“Kamu menyukai tempat ini?” tanya Melani.Eliana mengangguk keci
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-19
Chapter: Bab 15Setelah semalaman menyisir setiap sudut kamar, membongkar laci, bahkan memeriksa kolong ranjang dan sela-sela lemari, liontin itu tetap tak ditemukan. Mata Eliana tampak sayu pagi harinya, namun ia tetap turun ke ruang makan seperti biasa.Saat semua sudah berkumpul di meja makan, ia bertanya, "Melani... Apa kau melihat liontin milikku?”Melani yang sedang mengoleskan selai ke roti hanya menggeleng santai. “Nggak, aku nggak lihat. Memangnya hilang?”Eliana mengangguk samar.Melani menoleh ke arah pintu saat mendengar langkah kaki. “Mbok Inah!” panggilnya. Sang pembantu yang lewat pun menghampiri.“Mbok, lihat liontin milik Eliana?"Mbok Inah mengerutkan dahi sejenak, lalu menggeleng. “Maaf, Non, Mbok nggak lihat. Mungkin jatuh di kamar?”Sebelum Eliana menjawab, Vio yang duduk di ujung meja ikut menimpali, “Mungkin kamu lupa naruh, El. Bisa aja terlepas waktu tidur.”Eliana hanya menunduk. Tak mungkin ia lupa. Ia tak pernah melepas liontin itu—tidak sedetik pun, bahkan saat tidur.
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-05-09
Chapter: Bab 14Selesai fitting, Adrian segera meninggalkan butik, langkahnya terburu-buru, seolah tak ingin berlama-lama di sana. Ia membiarkan Lydia, Melani, dan Vio tetap sibuk memilih gaun, sementara pikirannya melayang entah ke mana.Begitu sampai di luar, ketika hendak membuka pintu mobil, pandangannya tertumbuk pada sosok yang berdiri di tepi jalan. Damar.Adrian berhenti sejenak, mengernyitkan dahi. Bukankah seharusnya Damar sudah pergi bersama Eliana? Kenapa dia masih berdiri di sini, sendirian?Dengan cepat, Adrian berjalan mendekat. “Kak Damar?”Damar menoleh, tersenyum santai begitu melihat Adrian. “Kenapa kamu di sini?” tanya Adrian penasaran.Damar kembali menatap layar ponselnya. “Nunggu kolega. Ada urusan kerjaan yang ingin dibicarakan."Adrian menatap sekeliling dengan cepat, matanya mencari sosok Eliana di antara orang-orang yang berlalu lalang. “Eliana mana? Bukankah seharusnya dia pergi bareng Kak Damar?” “Eliana hanya bilang ada urusan dan menolak aku antar."Adrian hanya me
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-05-08
Chapter: Bab 13“Sepertinya kau sangat mengenalnya…”Adrian tak menanggapi. Diamnya seolah membenarkan pernyataan itu. Ia meneguk habis isi gelas di tangannya, lalu meletakkannya di pagar balkon dengan napas tertahan.“Melani… Mari kita hentikan semua ini," ucap Adrian akhirnya.Melani menoleh, mengerutkan kening sejenak. “Kenapa harus dihentikan? Apa salahnya dicoba dulu?”Adrian mendengus kecil, kepalanya menggeleng kasar.“Apa kau pikir pernikahan itu permainan?"Melani menarik napas, tapi tak langsung menjawab. Bukannya menjelaskan atau membela diri, ia justru melirik ke arah halaman dan melambaikan tangan.“Eliana!” panggilnya.Adrian sontak menoleh ke belakang. Langkah Eliana yang sebelumnya santai kini melambat begitu tatapan mereka bertemu. Ia tampak ragu, tapi tetap melangkah mendekat.Melani menoleh perlahan, dan saat itu ia menangkap jelas ekspresi Adrian—tatapan pria itu tak pernah berubah, hanya pada Eliana. Bukan pada dirinya. Bukan pada wanita yang seharusnya menjadi calon istrinya.“
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-05-05
Chapter: Bab 12SebelumnyaSeorang EO pria mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Adrian."Setelah tukar cincin, silakan cium kening Melani untuk diabadikan, ya. Itu bagian dari momen spesialnya."Adrian menegang. Ia menoleh pelan ke arah Melani yang tersenyum kikuk di sampingnya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, dan napasnya terasa berat. Ia tidak langsung mengangguk.Namun, tatapannya lalu jatuh pada Lydia yang memberikan isyarat tegas dengan anggukan kepala dan senyum lebar, seolah mengatakan “Lakukan.”Akhirnya, Adrian menoleh kembali ke Melani dan perlahan mengangkat tangannya ke wajah sang tunangan. Semua kamera sudah siap. Para tamu diam sejenak, menunggu adegan romantis itu terjadi.Tapi tepat ketika bibirnya hanya beberapa inci lagi mendarat di kening Melani, pandangan Adrian secara tidak sengaja melintas ke arah bangku tamu—dan ia melihat Eliana berdiri dari tempat duduknya, melangkah pergi dari keramaian.Seperti disengat sesuatu, Adrian menghentikan gerakannya. Ia menarik diri, dan
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-05-03
Chapter: Bab 11“Bagaimana dengan ini?” tanya Lydia sambil menunjuk salah satu gambar cincin berlian di ponselnya.Melani tampak ragu. Ia menoleh ke arah Eliana, hendak meminta pendapat sepupunya. “El, menurut kamu yang ini bagus nggak, ya?”Namun kata-katanya terhenti begitu melihat Eliana sedang beradu pandang dengan Adrian. Tatapan keduanya terlalu dalam, seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain.Melani terdiam sejenak, namun Eliana langsung menyadarinya. Ia mengalihkan pandangan dari Adrian dan menoleh ke arah Melani. “Ada apa, Mel?” Melani tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.“Enggak apa-apa. Cuma ingin tahu pendapat kamu soal cincin ini,” ujarnya, menyodorkan ponsel Lydia ke arah Eliana.Baru saja Eliana ingin memberikan pendapatnya, suara Lydia memotong tiba-tiba.“Eliana?” seru Lydia dengan dahi berkerut. “Astaga.. Tante nggak tahu kalau kamu di sini juga."Eliana langsung tersenyum sopan. “Oh iya! Bagaimana kalau kalian berdua sekalian makan malam
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-05-01