MasukNazha terdiam di dalam kamarnya, menyakinkan dirinya jika Sheren memang merencanakan hal buruk.’Kamu berhasil Sheren, tapi aku tak menyerah, selama Devon menyangkalnya aku tak menyerah pada tipu muslihatmu, kamu mengunakan taktik yang sama seperti ibumu ,’batin NazhaSementara itu Devon menghubungi Andi.“Bagaimana apa kamu sudah melihat cctv, lorong kamar hotel?”tanya Devon“Maaf pak Devon cctv dalam perbaikan selam tiga hari.”jawab Andi tentu saja ia berbohong“Ck…”decian kesal keluar dari bibir Devon tak menyadari jika ia telah dikelabui Andi.Devon menutup ponselnya menatap kamar Nazha yang tertutup rapat, lalu pria berwajah tegas dan tampan itu keluar dari unit apartemenya. Kini mobil jeebnya menuju kantor Dev ‘group, disana ia mendapati Sheren sedang bekerja seakan ia tak terpengaruh oleh kejadian semalam.“Sheren, datang keruanganku!”perintah DevonSehren hanya mengganguk lalu berjalan ke arah ruangan Devon, setelah pintu ruangan tertutup Devon mulai bicara.“Aku tidak yakin aka
Sementara itu Nazha bersama dengan Salma keduanya berbincang ringan di sebuah kafe dekat apartemen.“Bagaimana keadaan kandunganmu?”tanya Salma terpancar kebahagian sambil meraba perut datar Nazha“Sehat , Bu Salma, kurang tujuh bulan lagi lahir,”jawab Nazha“Syukurlah, Naz…anggaplah aku sebagai ibumu, kamu bisa berbicara apa saja aku akan selalu mendengarkanmu,”Nazha hanya terdiam menatap wanita berusia senja tapi masih terlihat bugar dan cantik“Terima kasih Bu Salma. Salama ini tidak ada orang terdekatku yang mengatakan seperti itu, dan sekarang rasanya aneh, kita baru saja saling mengenal, tapi mengapa aku merasa nyaman saat berada didekatmu,”suara Nazha terdengar lirih.“Aku…merindukan seorang putri sepertimu, “jawab SalmaDeringan ponsel terdengar di dalam tas Nazha, dengan segera ia meraih ponselnya, dan melihat Sheren memangil video call, dengan malas Nazha mengangkatnya.“Hai Naz..saat ini aku bersama Devon, dia menodaiku Naz..”suara tangisan Sheren pecah, lalu terlihat Dev
Nazha kembali ke apartemen kakinya melangkah pelan menyusuri lorong berjalan menuju unit apatemennya, wajahnya terlihat bahagia, karena merasa hidupnya akan kembali berwarna, hatinya diselimuti kebahagian, terlebih hubungannya dengan Devon nyaris sempurna, semakin hari Nazha semakin merasakan jika Devon mencintainya.“Aku harus berterima kasih pada Meira, selain mendonorkan jantungnya, ia juga memberiku seorang suami yang baik,”gumam Nazha sambil melangkah menuju pintu apartemen yang saat ini sudah berada didepannya, dibukanya pintu dan ia terkejut disana ada Sheren dan Andi, yang sedang berbincang dengan Devon“Hai Naz..kamu sudah pulang, “sapa Devon melempar senyum“Selamat malam semuanya, “salam Nazha“Malam Bu Nazha, kami datang ke apartemen karena ada masalah pekerjaan yang harus diselesaikan,”ucap Andi“Tidak mengapa , lanjutkkan saja, aku akan buatkan sesutu untuk kalian,”jawab Nazha bergegas menuju dapur.Sheren mengikuti Nazha.”Aku akan membantumu, membuat sesuatu, kebetul
“Iya Andi, targetku waktu itu adalah Devon, tapi kamu yang terjebak, aku menyesal, kejadian malam itu adalah kesalahanku,”jawab Sheren“Keterlaluan kamu!”“Apa aku salah jika menginginkan Devon, pria mapan kaya raya, aku khawatir dengan masadepanku, aku tak memiliki apapun , aku tak mau menjadi gelandangan, aku iri pada Nazha, ia ,menikah dengan Devon pria tampan dan kaya pemilik perusahaan,”ungkap Sheren sambil menangis.“Pergi dari hadapanku Sheren, aku tak akan membantumu mengugurkan janin itu, pikirkan lagi, penawaranku masih sama, aku akan bertangung jawab!”tegas Andi“Andi kamu akan menyesal, aku lebih baik mati!”ancam Sheren lalu keluar dari unit apartemen dengan berlari.Andi tampak galau, ia takut jika Sheren melakukan hal konyol, dengan cepat Andi menyusul langkah Sheren dan benar saja wanita itu menuju rooftop apartemen.“Dasar gila, apa dia mau bunuh diri,”gumam Andi segera menyusul SherenSheren sampai di roof top dan langsung menuju dan naik pagar pembatas siap untuk ter
Tarikan napas keluar dari bibir Salma di hadapannya Dimas memperlihatkan berkas pengambilalihan kepemilikan S’kontruksi atas namanya beralih atas nama Nazha.“Anda tanda tangan di berkas ini Bu Salma, aku sudah berbicara dengan Nazha, tentu saja dengan dalih pendirian yayasan dan dia setuju,”jelas Dimas“Oke Dimas, selanjutnya kamu yang melanjutkan untuk mengurusi S “kontruksi, sebelum Nazha tahu semuanya aku akan cari waktu untuk mengatakan kebenaranya,”suruh Salma“Baik Bu Salma,”jawab DimasSalma membubuhkan tanda tangannya di beberapa berkas, ia terlihat lega setidaknya ia sudah memberikan sesuatu pada Nazha untuk kehidupannya di masa depan.Setelah itu Dimas, menuju S’kontruksi, ia kini yang memimpin sementara perusahaan kontruksi bekas milik Reymon.Dimas menghela napas panjang, “Nazha…”gumamnya sambil menatap gambar Nazha di layar ponselnya.***Di tempat lain Sheren terlihat pucat, sepanjag pagi ini perutnya mual, hingga ia memutuskan tidak masuk kerja hari ini.“Sheren ini
Sementara di kantor S ‘invesment, Dimas terlihat sibuk, waktu sudah menunjukan tengah malam, ia masih menatap serius layar laptop“S’ kontruksi akan menjadi milik Nazha, aku harus menyembunyikan hal ini dari Frans,”gumam DimasDimas pun segera membuatkan berkas-berkas kepindahan kepemilikan dari Salma ke Nazha.“Aku membutuhkan tanda tangan Nazha, tapi bagaimana caranya, supaya ia tak menyadari jika yang di tandatangani adalah, berkas pengambilalihan S;kontruksi.”Dimas tampak berpikirHingga menjelang pagi, Dimas telah membereskan permasalahan Salma, pria itu sekerang meninggalkan kantor S’invesmentPagi dengan sinar mentari yang cerah menyinari seisi bumi , Seperti biasa Nazha selalu bejalan santai di sekitaran taman apartemen, kali ini Devon bersamanya.Keduanya berjalan santai, menyusuri taman sambil berbincang ringan, sesekali terlihat keduanya tertawa, mereka tak menyadari jika ada sepasang mata mengawasi dengan sangat dingin, lalu berjalan menjauh dari taman. Sepasang mata it







