LOGINTaksi yang ditumpangi Nazha melaju cepat menuju kota Bandung, beberapa jam kemudian, taksi sudah sampai di sebuah rumah sakit, lalu dengan cepat Nazha berjalan menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Devon“Operasi Pak Devon sedang berlangsung, ibu harus menandatangani berkas persetujuan operasi dan menyelesaikan administrasi rumah sakit,”ucap staf resepsionis“Baik.”Setelah menyelesaikan semuanya Nazha berjalan ke arah ruang operasi, ia duduk disalah satu bangku hatinya gelisah dan sekaligus takut, takut kehilangan Devon karena saat ini hanya dialah yang dimilki Nazha, bulir bening dan rapalan doa terus dipanjatkan. Menit-menit berlalu terasa lama, cemas dan takut menjadi satu hingga pintu ruang operasi terbuka, terlihat dokter keluar, Nazha langsung berdiri“Dok..bagaimana operasinya?”suara Nazha gemetar“Operasinya berhasil, kurang satu senti pisau itu merobek, lambungnya,”jelas dokterNazha terduduk lemas, tapi sedikit lega, setidaknya nyawa Devon terselamatkan.Brankar
Sang preman terpaku dan tersenyum sinis.”Maksudnya orang yang tadi, pemilik hotel itu?”“Betul, habisi dia, dalam kerusuhan kamu harus bisa mengerahkan beberapa temanmu dan membuat kekacauan disana, bataklah pertemuan kalian dan buat kerusuhan dan ambil kesempatan untuk menghabisi Devon, aku akan membayarmu banyak jika berhasil!”perintah DimasPria berbadan besar itu tampak berpikir lalu teringat saat ini ia membutuhkan uang dalam jumlah banyak untuk pengobatan anaknya.“Baiklah, saat ini aku butuh 5 juta, berikan aku uang 5 juta, sisanya setelah pekerjaan berhasil,”“Oke, satu lagi tutup mulutmu, jangan libatkan aku!”perintah Dimas dengan bernada tegas“Oke..aku sudah banyak menghajar orang, keluar masuk penjara, asalkan kamu memenuhi janjimu, aku siap menangung resikonya,”jawab sang preman dengan sangat seriusMalam berlalu dengan cepat, Devon yang semalam beristirahat disalah satu hotel, kini sudah siap mengadakan pertemuan dengan perwakilan preman yang menganggu jalannya proyek.
Devon menatap penuh arti ada yang menganjal hatinya, ketika melihat tatapan Dimas pada istrinya, tatapan seorang pria yang tengah jatuh cinta.Makan siang berlalu, setelah Dimas dan dokter Nia serta seorang staf pun berpamitan meninggalkan apartemen.“Ahhh…semuanya berjalan lancar, terima kasih Devon, kamu sangat membantuku dan mendukungku,”ucap Nazha sambil membereskan semua perabotan kotor.“Lihatlah hujan deras sekali diluar sana, aku lebih tenang jika kamu ada di apartemen, “sahut Devon menatap balkon apartemen yang terkena hujan lebat.“Kamu benar,”***Dimas menikmati secangkir kopi malam dingin, hujan sudah mulai reda tersisa rintik -rintiknya, pria itu tampak serius memikirkan sesuatu, niatnya sudah bulat yaitu meninginkan Nazha dan jalan-satu-satunya adalah melenyapkan Devon. Tangannya meletakan cangkir kopi yang telah habis, ditatapnya luka sayat di tanganya, terkena pisau waktu melawan Devon.‘Devon..kamu harus mati, dengan begitu Nazha akan menjadi miliku, dan kami akan
Beberapa jam berlalu, Nazha sudah ada di depan pintu unit apartemenya dengan pelan dibukanyaCeklek.. ketika pintu terbuka terlihat Devon bernapas lega dan berjalan mendekati Nazha, memeluknya sangat erat, seakan tak mau terlepas lagi.“Syukurlah kamu baik-baik saja, apa yang terjadi, aku menemukan ponselmu di proyek mall terbengkalai ?”tanya Devon“Jadi kamu mencariku ke sana?”“Iya, aku sudah mencoba menghubungi Dimas, tapi ponselnya mati, sedangkan ponselmu aktif tapi kamu tidak mengangkatnya, aku takut terjadi sesuatu yang buruk, jadi aku melacak GPS ponselmu,”ungkap Devon“Maaf Dev, aku membuatmu cemas“Sudahlah , kamu pasti capek, lebih baik beristirahat,”ajak Devon lalu menarik tangan Nazha ke dalam kamar“Hai kenapa lenganmu, seperti tersayat benda tajam?”“Semalam waktu aku mencari ponselmu, ada seseorang yang menyerang, mungkin dia pencuri, atau anak brandal yang mabuk,”jawab Devon“Apa sudah diobati?”“Sudah, jangan cemas, ini luka kecil, ““Wajahmu juga penuh memar Dev, a
Iringan mobil Dimas dan Nia sudah sampai disebuah rumah mewah, kedua mobil memasuki halaman dan berhenti tepat di pintu depan.“Ayo masuk,”ajak Nia sambil tersenyum hangatNazha dan Dimas melangkah mengikuti langkah Nia.“Aku tinggal sendiri , jadi aku senang jika ada tamu dan bersedia makan bersamaku, “ujar Nia“Aku dengar Dokter Nia, sangat dermawan, sering sekali menolong, “Dimas berkata sambil menatap seisi rumah“Ha..ha… ,”Nia terawa, kecil, lalu mempersiahlkan Nazha dan Dimas untuk duduk di kursi makan, beberapa hidangan Istimewa sudah tersaji, ditasa meja makan oval dengan kursi delapan“Sayang sekali rumah sebesar ini, hanya Dokter yang menempati,”kata NAzha“Kamu benar Naz, usiaku yang tak muda lagi, membuatku kesepian, aku berencana, mengadopsi seorang bayi, kebetulan putri dari temanku, sedang hamil, tapi ia tak mengingginkan bayinya lahir, aku berniat mengadopsinya,”jelas Nia“Itu lebih baik, “sahut Nazha Ketiganya menyuap menu sambil berbincang ringan mengenai proyek
Devon pun mengambil keputusan penting, dua kefe miliknya yang di Bali, dijualnya, demi mendapatkan S’invesment.“Dua kafe di Bali, telah terjual Pak Devon, “lapor staf menajemen“Oke, kita akan membeli S’invesment,aku tak mau perusahan investasi itu jatuh ke tangan pengusaha lain.” Devon berkata dengan nada serius.“Baik.”Devon tampak serius ia begitu ingin mendapatkan S’invesment, tujuannya hanyalah untuk membaut Nazha bahagia.Setelah beberapa hari berlalu akhirnya Devon berhasil mendapatkan S’investement, hal itu mengejutkan Nazha.“Kamu tidak bercanda’kan Dev?”tanya Nazha“Tidak Naz..Aku ingin membuatmu bahagia, dua perusahan yang dirintis mendiang Bu Salma, jatuh ke tangan kita, kamu bisa ikut andil menjaganya,”balas DevonNazha terharu sungguh tak menyangka,, Devon memperlakukannya bak seorang ratu, ia selalu mengusahakannyaSetelah S’invesment menjadi milik Devon, sekarang Frans dan Daniel, meninggalkan Jakarta kembali ke Singapura.Sedangkan Dimas, masih sibuk sebagai manage







