MasukNapas kami berbaur di udara yang mendadak terasa terlalu tipis. Tubuhku masih menggantung di atas lantai, ditopang sepenuhnya oleh lengan kekar Sebastian yang melingkar erat di pinggang dan paha belakangku. Di balik kain velvet gaunku, aku bisa merasakan panas tubuhnya yang seakan ingin membakar habis seluruh kebohonganku.Mata obsidian Sebastian menatapku dengan intensitas yang melumpuhkan. Ciuman liar barusan tidak memadamkan amarahnya, ciuman itu justru menyiramkan bensin ke atas bara obsesinya."Kau pikir rayuan murahan ini bisa mengalihkan perhatianku, Friska?" bisik Sebastian parau. Ibu jarinya mengusap bibirku yang membengkak merah. Meski kata-katanya tajam, sentuhannya menyiratkan kepemilikan yang absolut."Itu bukan rayuan," balasku terengah-engah, memaksakan diri menatap lurus ke dalam matanya meski jantungku berdetak brutal. "Itu adalah kesepakatan, Sebastian. Kau sudah tahu siapa aku. Sekarang pertanyaannya, apa kau akan membuangku ke kandang serigala, atau kau akan membia
Waktu seakan membeku.Udara di Grand Ballroom yang berpendingin sentral mendadak terasa mencekik leherku. Mataku terpaku pada segel lilin merah darah berinisial 'F'. Itu bukan sembarang huruf. Itu adalah tipografi klasik yang hanya digunakan pada stempel emas di ruang kerja rahasia Papa.Di depanku, aku melihat jakun Papa naik-turun. Sorot matanya yang selalu tenang kini menyiratkan kepanikan. Papa mengenali stempel itu, dan jika Elsa sampai melihatnya. Wanita ular itu pasti akan mulai merangkai kepingan teka-teki yang bisa berujung pada kematianku malam ini juga.Namun, sebelum Elsa sempat memanjangkan lehernya untuk mengintip. Tangan besar Sebastian lebih dulu mengambil amplop hitam itu dari nampan.Dengan wajah sedatar tebing es, Sebastian mematahkan segel lilinnya menggunakan ibu jari. Ia menarik secarik kartu tebal berukiran perak dari dalam. Mata obsidiannya bergerak cepat, membaca sederet kalimat singkat yang tertulis di sana.Hening.Satu detik.Dua detik.Rahang Sebastian men
Pesan dari 'V' itu membakar layar ponselku seolah-olah sederet huruf tersebut diukir menggunakan belati beracun.Mayat hidup dari keluarga Fernandes.Seseorang di dalam rumah ini menyadap komunikasiku. Napasku memburu. Tanpa membuang waktu, aku segera mematikan ponsel rahasia itu, mencabut kartu SIM-nya, dan menghancurkannya menjadi serpihan kecil sebelum membuangnya ke dalam kloset.Malam ini, aku harus bertarung sendirian.Tepat pukul tujuh malam, penata rias sewaan asisten Sebastian menyelesaikan sentuhan terakhirnya. Aku menatap pantulan diriku di cermin.Rambut pendekku ditata dengan gaya sleek wet-look yang memancarkan aura aristokrat. Riasan smokey eyes menghapus total kepolosan "Siska si pelayan". Gaun velvet midnight blue itu mengekspos lekuk tubuhku dengan keanggunan yang berbahaya.Saat aku melangkah menuju lobi utama, Sebastian sudah menunggu dengan tuksedo hitam legam Savile Row. Begitu mendengar langkahku, ia menoleh.Waktu seolah membeku.Tatapan obsidiannya diselimuti
Cengkeraman jari-jari Sebastian di daguku tidak menyakitkan, namun tak memberikan celah sedikitpun untuk kabur. Dada bidangnya yang telanjang dan sekeras pualam naik-turun selaras dengan napasku yang kian memburu. Di bawah temaram lampu kamar utama, mata obsidian itu menatapku dengan kelaparan seorang predator yang akhirnya menemukan mangsanya."Kau bergetar, Siska," bisik Sebastian. Ibu jarinya membelai bibir bawahku yang sedikit terbuka, mengirimkan sengatan listrik yang melumpuhkan setiap sendi di tubuhku. "Apakah kau takut padaku? Atau kau takut pada dirimu sendiri yang menginginkan ini?"Sebelum aku sempat merangkai kebohongan untuk menyangkalnya, Sebastian menundukkan wajahnya. Bibirnya meraup bibirku.Tidak ada kelembutan dalam ciuman itu. Itu adalah sebuah tuntutan mutlak, sebuah invasi yang menghancurkan seluruh benteng pertahananku dalam hitungan detik. Rasa bourbon yang kuat berpadu dengan mint dan maskulinitasnya langsung menginvasi indra pengecapku.Aku terkesiap, dan cel
Pesan dari "V" itu kuingat lekat-lekat sebelum akhirnya ku hapus permanen dari sistem. Tanganku sedingin es, namun otakku berputar liar. Siapa V? Victor? Vanya? Tidak ada satu pun sekutu atau musuh Fernandes dengan inisial itu yang terlintas di kepalaku. Seseorang diluar sana tengah memegang kartu as identitasku, dan dia sedang menontonku bermain api.Keesokan malamnya, ketegangan itu belum mereda saat Bu Lastri mengetuk pintu kamarku."Mbak Siska, Nona Ariesta sudah tidur pulas?" tanyanya dengan suara berbisik. "Tuan Besar memanggil Mbak ke kamar utama sekarang juga."Jantungku langsung berdetak tidak keruan. Kamar utama? Ruang privat Sebastian yang bahkan tak pernah boleh dimasuki oleh Rebecca?Aku menelan ludah, merapikan kemejaku, dan melangkah menaiki tangga spiral menuju lantai tiga. Lorong lantai ini sangat sunyi, berlantaikan kayu jati gelap yang tak menghasilkan suara sekecil apapun saat diinjak.Pintu ganda itu sedikit terbuka. Aku mengetuknya pelan."Tuan Besar? Anda memang
Napas Sebastian menyapu bibirku. Jarak di antara kami kini tak lebih dari sehelai kertas. Sorot mata obsidiannya menggelap, dipenuhi gairah dan dominasi yang siap menelan sisa-sisa kewarasanku.Aku terperangkap. Di antara kukuhnya rak kayu eboni dan dada bidang pria ini, tubuhku kehilangan kendali. Ketika Sebastian memiringkan wajahnya, instingku sebagai Friska Fernandes seharusnya berteriak untuk mendorongnya menjauh. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kelopak mataku perlahan terpejam, menunggu eksekusi manis dari iblis berwajah malaikat ini.Satu sentimeter.Aku bisa merasakan kehangatan bibirnya bergesekan ringan dengan bibirku. Namun, tepat di sepersekian detik sebelum ciuman itu benar-benar mengklaimku ....DRRRTTT! DRRRTTT!Dering nyaring dari telepon satelit khusus di atas meja kerja kayu mahoni membelah keheningan ruangan layaknya petir.Aku tersentak mundur, mataku membelalak lebar, dada naik-turun memompa pasokan oksigen yang seolah baru saja dikembalikan ke paru-paru.S







