INICIAR SESIÓNKania pun buru-buru mengambil alih jawaban itu. “Jadi, bos aku itu masih saudaraan sama keluarga Bagas Adipati Wiratmodjo.”
Angga menatap Kania dengan ekspresi sulit di jelaskan. “Kantornya ada gak jauh dari sini, mas.” Jawab Kania tanpa menjelaskan apa-apa. Tentu saja ia tak tahu apa yang perlu ia katakan pada mereka. Ia hanya berharap jika mereka tak bertanya lebih jauh tentang hal ini. Sedang Angga terpaku, pandangannya lurus ke depan. Tapi ia tSekitar pukul sepuluh pagi, Bagas yang seharusnya berada di kantor tiba-tiba pulang kembali bersama Bastian.Pada saat yang sama suasana lantai atas sedang sepi. Tuan dan Nyonya Besar pergi ke rumah eyang, sebagian pelayan sibuk di area bawah. Karena itu, kedatangan Bagas yang tampak pucat langsung mengundang bisik-bisik kecil.Bastian segera mencari Kania di halaman belakang. Setelah menemukan gadis itu sedang bersama Naren ia segera berkata. "Tuan Bagas meminta nona ke atas. Naren biar saya yang jaga."Kania sempat melihat ke arah beberapa pelayan yang mulai curiga, tapi ia tak punya pilihan. Ia tetap melangkah ke lantai dua, menuju kamar Bagas.Begitu pintunya terbuka, ia melihat Bagas sudah duduk di sofa dengan pakaian rumahan kaus hitam longgar dan celana training. Wajah pria itu tampak letih, dan dari cara ia bersandar, Kania tahu Bagas tidak sedang baik-baik saja.Namun yang membuat Bagas terfokus justru perempuan itu yan
Bagas mendinginkan pikirannya dengan berenang ke dalam kolam renang.Air dingin adalah satu-satunya hal yang sanggup meredam rasa gerah sekaligus amarah yang masih menempel di tubuhnya.Ia kembali menyelam, membiarkan fokusnya beralih sejenak ke aktivitasnya itu.Saat Bagas naik ke permukaan lagi, suara langkah terdengar mendekat."Mas," panggil Damar sambil mengangkat sebotol anggur merah.Bagas hanya menoleh sekilas, lalu kembali berenang tanpa menjawab.Damar duduk di kursi panjang dekat kolam, membuka tutup botol, dan menuang minuman itu ke dua gelas.Ia menunggu tanpa terburu-buru.Tak butuh waktu lama sampai Bagas menepi. Ia mengambil handuk, mengusap rambut dan wajahnya sebelum berdiri di depan Damar."Kamu dari mana?" tanya Bagas sambil meraih gelas yang disodorkan."Tadi ke ruang baca. Ngobrol sama Mbak Kania," jawab Damar."Ngobrol?"Bagas meneguk anggur itu. Hangatnya la
Kania merasakan jantungnya berhenti sesaat. Ia menelan ludah."Yang mas nggak suka?""Saya nggak suka hal-hal yang terlalu romantis," jawab Bagas tanpa ragu."Saya suka langsung ke inti. Tanpa basa-basi."Kania mengangguk pelan, mencoba tetap tenang meski hatinya terasa dicengkeram."Kalau pacar baru mas... minta sesuatu, boleh?" tanyanya hati-hati.Bagas tertawa kecil, lalu mengamati ekspresi Kania dengan pandangan yang sangat tajam."Saya juga suka membaca pergerakan lawan bicara saya," ucapnya santai.Kania mengerutkan kening. "Jadi mas tahu aku mau apa?"Bagas tidak menjawab dengan kata-kata.Ia hanya mengangkat dagunya sedikit, seolah mengajaknya berhenti bermain teka-teki."Kamu mau uang berapa?" tanya Bagas akhirnya, to the point.Kania terdiam sejenak... lalu mengucapkannya."Aku mau seratus juta, Mas."Ia butuh melunasi hutang kakaknya pada bosnya itu.
Di lantai kamarnya suasana tak lagi menegangkan seperti ketika masih ada eyang. Kania benar-benar bisa bernapas dengan lega lagi.Sampai ketika akhirnya derap langkah terdengar mendekat.Ia melihat siluet Bagas mendekat. Semula masih jauh hingga kini sudah ada di depannya. Pria itu menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Naren yang sedang bermain.Seolah pria itu tak ingin mengabaikan sedetik kesempatan yang ada dengan mencium Kania. Perempuan itu tahu dirinya tak lebih dari sebatas pelampiasan. Beberapa saat mereka berpagutan. Kania kembali menatapnya. Namun ia tetap berusaha tenang.Tapi tangan Bagas sudah menggerayangi pinggangnya di balik seragam nanny yang dia kenakan. Dengan cepat Kania menahannya."Kamu bukannya pergi ke tempat kerja kenapa malah balik lagi? Gak langsung ke kantor?" Tanya Kania."Karena saya masih kangen sama pacar baru saya,""Aku gak kemana-mana, mas. Mas kerja aja."Bagas kemud
Hingga pagi ini Kania masih terngiang dengan momen semalam. Setiap kali ia memejamkan mata, momen itu kembali muncul, ketika bagaimana Bagas menyentuhnya, membisikan kalimat-kalimat bernada sensual yang mampu membakar jiwa asmara mudanya. Bahkan ia tak bisa tidur dengan nyenyak hanya karena memikirkan pria itu. Sungguhan jika mengingat rencananya untuk membakar amarah nyonya besar dengan masuk ke keluarga Wiratmodjo akan semakin dekat. Jika itu terjadi ia akan sangat merasa puas karena ketakutan nyonya besar itu berhasil ia wujudkan. Namun ia masih tidak terlalu terlena, hanya karena kata ajakan Bagas untuk menjalin asmara. Ia masih menyisakan sedikit ruang kewaspadaan. Ruang itu mengingatkannya bahwa Bagas adalah bencana yang mempesona, memabukkan, tapi dapat menghancurkan jika ia membiarkan dirinya terhempas terlalu jauh. Ia boleh saja tersentuh oleh perlakuannya. Ia boleh saja gemetar setiap kali mengingat
"Aku cuma manusia biasa wajar kalau punya rasa. Tapi aku sadar diri, mas. Perasaan aku salah." Bersamaan dengan itu Bagas melepas dagu Kania. "Mas boleh menjauh setelah ini. Mas boleh singkirin aku." Namun setelah beberapa saat Bagas malah menarik tubuh itu ke dalam pelukannya bukannya menyuruhnya pergi atau memberi peringatan. Dia memeluknya erat seolah memang mereka adalah sepasang kekasih. Kania terkejut, dia hanya mematung sampai Bagas menempelkan hidungnya ke hidung Kania hingga napas mereka menyatu. "Mas gak marah?" Bagas menggeleng. "Di umur segini saya udah gak mau main-main soal perasaan sama perempuan. Saya cuma butuh perempuan yang nurut, perempuan yang rasa sayangnya ke saya sebesar rasa sayangnya ke anak saya. Tapi kenapa di saat saya butuh semua itu justru kamu yang datang, dan cuma kamu yang memenuhi semua
"Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" te
Bagas terdiam, pertanyaannya tadi terjawab. Rupanya yang membuat Kania bersedih adalah ketika perempuan itu tahu statusnya dengan Frsica masih belum resmi bercerai."Ga penting aku tahu dari mana," ujar Kania ketus."Jawab pertanyaan saya Kania?" Bagas mencengkram rahang Kania dan menarik wajahnya
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan
Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi







