ВойтиHalo gais, untuk siapapun yang suka cerita ini mohon tetap dukung aku ya. Supaya aku bisa update dengan cepat-cepat. Jangan lupa follow akun Instagram aku untuk berkenal dekat @alanakarin__
"Aku ... aku lagi masak nyonya." Kania segera mengambil piring berisi nasi gorengnya dan menaruh ke atas meja makan. "Maaf nyonya aku izin makan sebentar." Karena ia pikir Naren sedang bersama ibunya jadi ia punya waktu untuk sarapan. Nyonya besar seakan tak percaya dia memicingkan matanya dan memindai seisi dapur dengan tatapannya, seolah ingin tahu apa yang sedang di sembunyikan Kania. "Tadi saya dengar ada suara orang lain disini, suara pria. Kamu gak lagi bohongi saya kan?" "Nggak, Nyonya. Aku gak bohong. Tadi aku emang masak sambil telponan sama kakakku. Mungkin itu yang nyonya kira suara pria." Nyonya Helena terus melirik kesana kemari tak percaya dengan yang Kania jelaskan, ia masih percaya jika ada orang lain disini. Sekarang tatapannya ke arah bawah meja itu. Nyonya Helena mendenguskan napasnya karena tak mendapatkan apa-apa dari arah kabinet yang tertutup tirai itu. "Setelah selesai segera balik ke atas siapkan perlengkapan Naren sebelum Frisca bangun. Jangan sa
"Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" terang Kania. Pria itu seketika melepas pelukannya di pinggang Kania lantaran agak kaget. "Nggak mungkin lah." "Mas lihat aja sendiri ke atas kalau gak percaya." Bagas terdiam, tapi Kania tidak mungkin berbohong. "Kapan dia kesini?" tanya Bagas akhirnya. "Tadi malem, waktu mas pergi." Kania menjawab dengan tenang. "Yaudah, kalau begitu disini saja." Kania tidak segera merespon ia memilih menaruh nasi goreng yang baru selesai dia buat itu ke dalam piring. Wangi nasi goreng itu semerbak di dalam ruangan ini. "Kamu jam segini udah sarapan?" tanya Bagas. Bagas tentu saja tahu jika Kania tidak makan sejak kemarin sore, karena moodnya yang tidak bagus setelah mendapat perlakuan tak me
Nyonya besar muncul dari belakang tubuh Kania dengan tiba-tiba. Gerakan tubuhnya yang kuat membuat Kania sedikit terdorong ke samping. Akhirnya Kania pun terpaksa menjauh. "Ma!" Frisca langsung menyapa dan memeluk tubuh Nyonya besar ketika wanita itu muncul. "Frisca, sayang." Bak menerima hadiah di saat dirinya baru akan membujuk Frisca. Nyonya besar dengan senang hati langsung membalas pelukan itu dengan lebih erat. "Mama apa kabar?" Suara yang ramah dan lembut Frisca menyapa. Ini pertama kalinya Kania bisa melihat dan mendengar langsung suara Frisca. Dan ternyata perempuan ini hampir mendekati sempurna. Dia cantik, ia sebagai perempuan pun mengagumi kecantikannya. Suaranya, tutur katanya terlihat sopan dan ramah. Visual itu membuat Frisca terlihat seperti perempuan baik-baik yang tidak neko-neko. Jadi apa yang sebenarnya membuatnya berpisah dengan Bagas? "Kabar mama baik. Mama baru saja ingin menghubungi kamu. Karena mama juga kangen sama kamu.""Kamu sendiri gimana
Bagas terdiam, pertanyaannya tadi terjawab. Rupanya yang membuat Kania bersedih adalah ketika perempuan itu tahu statusnya dengan Frsica masih belum resmi bercerai."Ga penting aku tahu dari mana," ujar Kania ketus."Jawab pertanyaan saya Kania?" Bagas mencengkram rahang Kania dan menarik wajahnya agar menatap kearahnya.Kania meringis tapi dia tak memberi jawaban apa-apa. Hingga membuat Bagas tampak geram. Pria itu mencengkram pipi Kania semakin kuat."Saya ga main-main sama kamu. Kamu udah setujui tawaran saya, dan saya udah kasih kamu 600 juta sampai pengobatan kakakmu bisa di proses. Jadi saya harap kamu hanya becanda dengan perkataanmu hari ini ketika tidak ingin berhubungan dengan saya lagi," tekan Bagas membuat pipi perempuan itu merah.Kania meringis kesakitan dia memegangi tangan Bagas berharap pria itu akan melepaskan tangannya dari pipinya. "Sakit, Tuan.""Kamu tahu saya bisa sakitin kamu lebih lagi jika kamu berani bermain-main dengan saya," ancamnya."Saya sudah tahu ruma
Helena berhasil terprovokasi. "Kamu benar juga Tina." Namun tuan besar menyela, ia yang sejak tadi hanya diam sekarang ikut berbicara. "Sudahlah, ma. Masalah kaya gini gausah di besar-besarin. Naren itu belum bisa berkata jelas jadi apa yang dia ucapin terdengar seolah manggil mama." "Bukankah ini bagus, artinya pertumbuhan Naren bagus di tangan Kania," lanjutnya. Mendengar itu Helena langsung bungkam. Sedangkan Kania merasa lega karena setidaknya tuan Mahendra sudah menjadi penengah yang bisa menjelaskan pada nyonya Helena. Wajah Helena berubah masam karena kesal suaminya terkesan membela Kania. "Kamu juga Tina, jangan memprovokasi orang." Sorot mata tuan Mahendra beralih pada Tina. Wanita itu kemudian terdiam. Hingga suasana sore itu senyap sekejap. Kania pun menghela napas, dalam hati ia bersyukur karena di rumah ini masih ada orang yang mau memihaknya. Sesaat suasana hening. Tina kembali memulai percakapan setelah jeda panjang, "Frisca kan udah ajukan cerai sama Bag
Kania kemudian mendekati mobil hitam itu. Ia segera masuk ke dalam dan langsung bertatapan dengan Bagas. Kania tidak menyangka jika Bagas akan ikut menjemputnya. Keduanya saling bertatapan, tapi cukup sebentar sampai akhirnya perintah Bagas mengembalikan fokus Kania. "Pangku Naren." Akhirnya Kania mengambil alih tubuh mungil Naren ke dalam pangkuannya. "Setelah ini saya akan antarin kamu dulu baru saya akan langsung ke kantor." Kania mengangguk. Bagas tidak banyak bicara lagi sampai akhirnya mobil itu menjauh. *** Setelah Bagas bekerja sepanjang hari, ia akhirnya bisa melakukan peregangan pada kedua tangannya. Ia baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen, dan setidaknya kini ia memiliki waktu untuk istirahat. Bersamaan dengan itu ia melihat Bastian masuk ke dalam ruangannya. Kemudian sebuah map biru yang dia bawa di serahkan kepada Bagas. Tanpa bertanya lagi Bagas langsung mengambilnya dan membaca dengan seksama. Ia kembali mengenakan kacamata bacanya, dan membaca dokum
Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini. "Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa K
"Ma–maaf, maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."Kania buru-buru meminta maaf dengan suara gemetar.Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria yang baru saja melepas kacamata hitamnya. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, Kania langsung menunduk lagi, tidak berani me
"Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik ru
Tak lama Kania muncul dengan wajah yang terlihat segar. Kaus milik Bagas yang ia kenakan terlihat kedodoran, menutup sampai ke lututnya."Tuan," sapa Kania.Bagas berbalik. Seolah tahu apa yang sedang Kania nantikan saat ini.Pria itu berjalan memasuki kamar masih dengan menggendong Naren. Kemudian







