Share

Bab 6

Author: Alana Karin
last update publish date: 2026-05-25 15:25:01

Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya.

  Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya.

  Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matanya sempat melirik ke arah sana. Ke arah pribadi pria itu.

  "Lancang!" umpat Bagas kesal. Entah gadis ini benar-benar menguji emosinya hari ini.

  Kania membuka matanya dan melihat raut kesal pria itu, entah kenapa dia semakin tak takut padanya. Kania menyunggingkan senyuman manis miliknya padanya. "Kita satu sama sekarang tuan."

  Bagas ingat beberapa malam yang lalu dia sudah melihat bagian pribadi perempuan itu. Ia menggertakkan giginya, kemudian duduk di sofa mengambil rokok dan menyalakan kemudian mengisapnya tak peduli di hadapannya ada perempuan.

  Jujur Kania tak suka dengan asap rokok. Tapi ia tahan rasa kesalnya demi mendapatkan uang 600 juta itu.

  Kania meletakkan jam tangan mewah berikut ponsel dan kunci mobil milik Bagas ke atas meja di hadapannya.

  "Jelaskan semuanya sejujur-jujurnya sebelum saya hilang kesabaran," ucap Bagas dengan suara yang menyedot seluruh atensi Kania.

  Tatapannya begitu dalam, tajam seolah ingin menembus sampai ke dalam isi kepala Kania.

  Kania gugup tapi ia berusaha menutupinya.

  "Aku, butuh uang, Tuan."

  Gelak tawa kemudian memecah suasana. Pria itu tertawa mendengar jawaban Kania.

  Lalu kemudian pandangannya beralih ke tubuh gadis itu. Ia mendapati dirinya sudah berganti pakaian. Hanya mengenakan gaun tidur tipis, dengan lengan bertali kecil yang menampilkan tulang selangka dan belahan yang indah. Seolah dia melakukan itu memang sengaja untuk memancingnya.

  Apa-apaan ini?

  Tapi dia tahu gadis ini sedang berbalas dendam dengan memberinya umpan agar ia terpancing, sama seperti Kania yang memakan umpannya tadi.

  Bagas bukan orang bodoh, ratusan kali menghadapi musuh, ia sudah hapal taktik ini.

  Tapi meski begitu, ia tidak munafik. Ia berhasil tergoda oleh Kania. Siapa yang bisa menahan dirinya berlama-lama di hadapkan dengan santapan lezat seperti ini? Di saat ia sendiri sudah lama tidak mendapat santapan?

  Tidak ada kucing liar yang tak akan tergoda ikan tuna.

  Sama sepertinya, miliknya yang ada di balik handuk itu mulai menunjukan responnya. Jika Kania melihat dia pasti akan tahu bagaimana tubuhnya sekarang menahan diri yang sudah menggebu.

  "Kamu butuh uang berapa?" tantang Bagas sambil mengisap rokoknya.

  "Aku butuh 600 juta jika ada lebih ga papa," balas Kania tak ingin menyiakan kesempatan ini.

  "Cih." Bagas berdecih saat Kania masih berani menawar. "Jadi kamu ingin mencuri jam tangan saya karena harganya mencapai 600 juta?"

  Kania tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya menganggukan wajahnya.

  "Kenapa kamu malah mencuri, kenapa tidak menjual tubuhmu saja pada saya?"

Kania tertegun, dia mengangkat wajahnya seketika. Ia tak berpikir jika Bagas akan menawar dirinya seperti ini. Selama ini Bagas sangat cuek dan sibuk hingga ia tak melihat kesempatan darinya.

"Kamu pikir saya akan tertarik?"

Baru saja Kania ingin menjawab tapi kata-kata Bagas kembali muncul dan kali ini membuat ia nyaris putus asa. Tapi ia tak menyerah.

Kania mencoba lebih percaya diri. Dia menggigit bibirnya. Kemudian membasahi bibirnya, dan menjilat jarinya juga menghisapnya. Ia benar-benar tak pernah seliar ini. Tapi atas video dewasa yang di dapat dari Linda ia memahami beberapa hal yang di sukai pria.

Dalam keadaan mendesak apapun akan ia lakukan. Tidak peduli yang terpenting sekarang ialah nasib kakaknya harus sembuh.

Bagas masih tak bereaksi, pria itu hanya memandangnya dengan dingin sambil merokok.

Tapi Kania tak menyerah, dia menyusupkan jarinya ke dalam rok gaunnya dan menekan sesuatu disana. Tapi, Bagas masih tak bereaksi dan justru Kania sendiri yang terhanyut dalam permainannya.

Ekspresi Kania semakin lama berubah. Wajahnya memerah. Dengan mata yang sayu.

Bagas menahan geramannya dengan gigi yang dia katupkan erat. Bohong jika ia tidak tergoda. Kania benar-benar berhasil memancing dirinya.

"Untuk apa 600 juta?" tanya Bagas kemudian.

"Untuk biaya berobat kakak yang butuh operasi ginjal," jawab Kania dengan napas yang makin terengah.

Bagas terdiam. Semakin lama Kania malah semakin berani, perempuan itu mulai berani meremas bagian atas tubuhnya.

Bagas membuang rokoknya dengan kesal. Kemudian beranjak dan mendekati Kania. "Kenapa ga mau coba pake barangnya langsung? Dari pada pake jari kecil, ga berasa."

Kania tertegun. Kemudian tangan Bagas menyibak rambut tergerai Kania dan mencengkram pipinya.

"Tuan mau?"

"Kamu nantangin saya?"

Kania menelan ludahnya, Bagas tampak mendekati leher Kania dan menghembuskan napasnya disana.

"Saya bukan orang yang gampang menahan diri. Emosi saya, hasrat saya, semuanya tinggi. Jadi kamu jangan main-main."

"Tapi karena saya kasihan sama kamu, saya mau kasih kamu penawaran."

Kania menanti kelanjutan pria itu.

"Saya mau kasih kamu 600 juta, asal kamu mau tidur sama saya kapanpun saya mau. Dan kamu tutup mulut dari semua orang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 174. TAMAT

    Malam itu rumah sudah sunyi, Kai sudah tertidur pulas di kamar bersama Naren. Hanya Kania yang sibuk sendiri di dapur, sedang sibuk membuat smoothies. Tanpa ia sadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya. Dua tangan besar lalu melingkar di pinggangnya. Kania sedikit terkejut, tapi tidak benar-benar kaget. Ia sudah hafal siapa pemilik pelukan itu. "Mas..." Bagas merapatkan tubuhnya, dagunya menyentuh bahu Kania. Nafasnya hangat di dekat telinga perempuan itu. Tiba-tiba Bagas menunduk, bibirnya menyentuh belakang telinga Kania. Sentuhan itu membuat tubuh Kania merinding. Refleks ia menoleh ke belakang. "Mas..." protesnya pelan. Bukannya menjauh, Bagas justru menepuk ringan bokongnya. Kania langsung menjengit. "Ih!" Bagas tersenyum kecil, jelas menikmati reaksinya. Kania menghela napas, mencoba kembali fokus. Ia mengambil mangkuk smoothies yang sudah jadi, lalu mengangkatnya sedikit ke arah Bagas. "Mas kamu mau?" tawarnya. Bagas melirik sekilas, lalu menggeleng tipis. "Ma

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 173

    "Karena Mama udah jahat ke Kania. Mama udah gelapin uang buat mereka selama bertahun-tahun." "Kamu anak Mama!" teriaknya. "Harusnya kamu di pihak Mama, bukan mereka!" "Aku gak bisa jadi kayak Mama. Aku gak bisa jadi jahat." "Aku laporin Mama... supaya semua ini selesai. Supaya rasa sakit mereka terbayar." Egi merasa bingung. Disatu sisi Sintia memang bersalah namun, rasanya tidak adil jika hanya dia yang dijadikan alat untuk menebus semuanya. Ia juga bersalah, ia jauh lebih bersalah bahkan. Seharusnya ia yang mendapat hukuman lebih banyak. Sore itu suasana rumah Kania terasa tenang. Kai sedang tertidur di dalam kamar, sementara Kania duduk di ruang tengah dengan secangkir teh yang mulai mendingin di tangannya. Pikirannya masih dipenuhi banyak hal terutama tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Bel pintu berbunyi. Ia bangkit, lalu membuka pintu. Di sana Eliana berdiri. "Mbak?" Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sebuah map cokelat di tangannya. "Ak

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 172

    Pagi itu di kafe milik Angga aroma kopi memenuhi ruangan, sementara Kania duduk di salah satu sudut, menatap layar laptopnya ketika Kai sedang di ajak jalan-jalan oleh Angga di tempat ini. Seseorang masuk melangkah mendekatinya. Kania tidak memperhatikannya hingga ia baru menyadari ketika sosok itu telah berdiri di depannya. Kania refleks mengangkat kepalanya, dan mendapati Eliana dengan wajah yang masih menyimpan sembab. Mungkin menangis karena hal semalam. Keduanya saling menatap dalam keheningan, saling meragu, tetapi kekosongan itu pudar saat Eliana mulai berbicara. "Saya gak nyangka ya kalau kita ternyata saudara." Kania mencoba mencerna kalimat itu. "Duduk dulu, mbak." Akhirnya Eliana memilih duduk di depan Kania. Suara Eliana terdengar ketus, tapi tidak sepenuhnya benci. "Ibu saya bukan pelakor," ucap Kania mengantisipasi sebelum Eliana menambahkan banyak hal. "Kebetulan hubungan ibu saya dan ayah kamu gak direstui. Jadi ibu saya disembunyikan dan ayah kamu nikah dengan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 171

    Semua orang langsung diam. "Saya melakukan ini bukan karena uang." Ia melirik sekilas ke arah Bagas. Cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mengerti jika suaminya itu bukan orang yang kekurangan apa pun. Wajah Sintia langsung mengeras. "Saya cuma mau satu hal," lanjutnya. "Setidaknya kalian mengakui kesalahan dan meminta maaf sebagai manusia yang punya hati karena sudah pernah melukai hati ibuku, menyakiti dia bahkan sampai akhir hidupnya dia harus menelan sakit atas perbuatan kalian. Dan kalian gak pernah nunjukin diri untuk sekedar mengatakan kata maaf." Suasana hening sekejap. Egi bahkan tidak menyangka jika sudah tidak ada. Tatapan semua orang tertuju pada Kania—lalu perlahan bergeser ke Bagas. Pria itu akhirnya maju satu langkah. "Baik," ucap Bagas pelan. "Kalau memang kita mau menyelesaikan ini, kita selesaikan dengan jelas." Sintia langsung menyilangkan tangan, bersiap menyerang. Tapi Bagas bahkan belum selesai bicara. "Kania tidak meminta uang," lanjutnya. "It

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 170

    Hingga satu pekan berita itu beredar Egi masih belum membuat keputusan. Malah keluarga Egi membuat ancaman. Pagi ini Kania kembali mendapati kabar jika Bi Asih buntuti oleh mobil hitam dan orang bersenjata saat ia pergi ke pasar. Dengan begitu Angga pun memutuskan untuk menyebar bukti beberapa foto masalalu Egi dan ibunya, berikut juga foto Angga dan Kania semasa bayi ketika di gendong oleh Egi. Angga menggunakan akun pribadinya sendiri dalam mengungkap foto itu. Yang kemudian di teruskan oleh akun-akun besar lainnya. Karena itu dengan cepat keluarga Egi pun menyoroti akun Angga, mereka mencari Angga dan mengirimi pesan berupa ancaman pada Angga. Angga tidak gentar sama sekali dengan ancaman itu, ia malah memanfaatkan momen ini dengan pamer potretnya dengan Kania saat ini. Karena potret itu membuat Sintia mencari tahu keberadaan mereka. Tapi bukannya Sintia melancarkan niat untuk melenyapkan Angga dan Kania, justru ia yang merasa mendapat ancaman dari keduanya. Dengan munculnya pen

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 169

    Sebuah berita gosip baru saja menggemparkan publik. Berita itu seperti sebuah teror yang mengerikan bagi keluarga Hendrawan. Karena merusak reputasi keluarga Hendrawan dengan cepat. Berita itu memuat skandal Hendrawan yang diduga memiliki dua anak dari perempuan lain. Dan kabarnya dua anaknya itu sudah besar dan siap menuntutnya jika tidak segera membuat pernyataan mengakuinya di depan publik. Sontak saja berita itu membuat Sintia dan keluarga besar Egi Hendrawan merasa muram. Sebab mereka merasa berita lama itu sudah terkubur lama, dan mereka pikir tidak akan pernah naik ke permukaan setelah mereka sempat menekan dan mengancam Kartika habis-habisan. Tapi sekarang? Justru berita itu kembali naik bahkan langsung membuat heboh di media. Sintia dan Egi sudah berusaha menarik berita itu namun kekuatan mereka ternyata tidak mampu mengalahkan berita tersebut. Sehingga mereka yakin bahwa di balik layar munculnya berita ini pasti ada orang yang begitu berkuasa. Eliana yang tidak tahu apa-

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 5

    Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 4

    "Aku ngga tahu tuan. Tiba-tiba Naren terbangun gitu aja." Kania berusaha melepas bagian tubuhnya itu dari mulut Naren, namun bayi itu enggan melepaskannya.Bagas terus memperhatikan Naren termasuk memperhatikan bagian tubuh perempuan itu juga, dan napasnya terasa tercekat. Buah dada Kania terlihat

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 3

    Kania mengangguk. Napasnya ia tahan karena jarak wajah mereka terasa begitu dekat. Ia juga tak menyangka jika pria yang tidak sengaja ia siram tadi adalah Bagas Adipati Wiratmodjo–bosnya saat ini. "Iya, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Bagas tidak membalas dia hanya menghela napasnya yang bisa K

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 1

    "Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik ru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status