MasukTidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya.
Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matanya sempat melirik ke arah sana. Ke arah pribadi pria itu. "Lancang!" umpat Bagas kesal. Entah gadis ini benar-benar menguji emosinya hari ini. Kania membuka matanya dan melihat raut kesal pria itu, entah kenapa dia semakin tak takut padanya. Kania menyunggingkan senyuman manis miliknya padanya. "Kita satu sama sekarang tuan." Bagas ingat beberapa malam yang lalu dia sudah melihat bagian pribadi perempuan itu. Ia menggertakkan giginya, kemudian duduk di sofa mengambil rokok dan menyalakan kemudian mengisapnya tak peduli di hadapannya ada perempuan. Jujur Kania tak suka dengan asap rokok. Tapi ia tahan rasa kesalnya demi mendapatkan uang 600 juta itu. Kania meletakkan jam tangan mewah berikut ponsel dan kunci mobil milik Bagas ke atas meja di hadapannya. "Jelaskan semuanya sejujur-jujurnya sebelum saya hilang kesabaran," ucap Bagas dengan suara yang menyedot seluruh atensi Kania. Tatapannya begitu dalam, tajam seolah ingin menembus sampai ke dalam isi kepala Kania. Kania gugup tapi ia berusaha menutupinya. "Aku, butuh uang, Tuan." Gelak tawa kemudian memecah suasana. Pria itu tertawa mendengar jawaban Kania. Lalu kemudian pandangannya beralih ke tubuh gadis itu. Ia mendapati dirinya sudah berganti pakaian. Hanya mengenakan gaun tidur tipis, dengan lengan bertali kecil yang menampilkan tulang selangka dan belahan yang indah. Seolah dia melakukan itu memang sengaja untuk memancingnya. Apa-apaan ini? Tapi dia tahu gadis ini sedang berbalas dendam dengan memberinya umpan agar ia terpancing, sama seperti Kania yang memakan umpannya tadi. Bagas bukan orang bodoh, ratusan kali menghadapi musuh, ia sudah hapal taktik ini. Tapi meski begitu, ia tidak munafik. Ia berhasil tergoda oleh Kania. Siapa yang bisa menahan dirinya berlama-lama di hadapkan dengan santapan lezat seperti ini? Di saat ia sendiri sudah lama tidak mendapat santapan? Tidak ada kucing liar yang tak akan tergoda ikan tuna. Sama sepertinya, miliknya yang ada di balik handuk itu mulai menunjukan responnya. Jika Kania melihat dia pasti akan tahu bagaimana tubuhnya sekarang menahan diri yang sudah menggebu. "Kamu butuh uang berapa?" tantang Bagas sambil mengisap rokoknya. "Aku butuh 600 juta jika ada lebih ga papa," balas Kania tak ingin menyiakan kesempatan ini. "Cih." Bagas berdecih saat Kania masih berani menawar. "Jadi kamu ingin mencuri jam tangan saya karena harganya mencapai 600 juta?" Kania tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya menganggukan wajahnya. "Kenapa kamu malah mencuri, kenapa tidak menjual tubuhmu saja pada saya?" Kania tertegun, dia mengangkat wajahnya seketika. Ia tak berpikir jika Bagas akan menawar dirinya seperti ini. Selama ini Bagas sangat cuek dan sibuk hingga ia tak melihat kesempatan darinya. "Kamu pikir saya akan tertarik?" Baru saja Kania ingin menjawab tapi kata-kata Bagas kembali muncul dan kali ini membuat ia nyaris putus asa. Tapi ia tak menyerah. Kania mencoba lebih percaya diri. Dia menggigit bibirnya. Kemudian membasahi bibirnya, dan menjilat jarinya juga menghisapnya. Ia benar-benar tak pernah seliar ini. Tapi atas video dewasa yang di dapat dari Linda ia memahami beberapa hal yang di sukai pria. Dalam keadaan mendesak apapun akan ia lakukan. Tidak peduli yang terpenting sekarang ialah nasib kakaknya harus sembuh. Bagas masih tak bereaksi, pria itu hanya memandangnya dengan dingin sambil merokok. Tapi Kania tak menyerah, dia menyusupkan jarinya ke dalam rok gaunnya dan menekan sesuatu disana. Tapi, Bagas masih tak bereaksi dan justru Kania sendiri yang terhanyut dalam permainannya. Ekspresi Kania semakin lama berubah. Wajahnya memerah. Dengan mata yang sayu. Bagas menahan geramannya dengan gigi yang dia katupkan erat. Bohong jika ia tidak tergoda. Kania benar-benar berhasil memancing dirinya. "Untuk apa 600 juta?" tanya Bagas kemudian. "Untuk biaya berobat kakak yang butuh operasi ginjal," jawab Kania dengan napas yang makin terengah. Bagas terdiam. Semakin lama Kania malah semakin berani, perempuan itu mulai berani meremas bagian atas tubuhnya. Bagas membuang rokoknya dengan kesal. Kemudian beranjak dan mendekati Kania. "Kenapa ga mau coba pake barangnya langsung? Dari pada pake jari kecil, ga berasa." Kania tertegun. Kemudian tangan Bagas menyibak rambut tergerai Kania dan mencengkram pipinya. "Tuan mau?" "Kamu nantangin saya?" Kania menelan ludahnya, Bagas tampak mendekati leher Kania dan menghembuskan napasnya disana. "Saya bukan orang yang gampang menahan diri. Emosi saya, hasrat saya, semuanya tinggi. Jadi kamu jangan main-main." "Tapi karena saya kasihan sama kamu, saya mau kasih kamu penawaran." Kania menanti kelanjutan pria itu. "Saya mau kasih kamu 600 juta, asal kamu mau tidur sama saya kapanpun saya mau. Dan kamu tutup mulut dari semua orang."Tak lama Kania muncul dengan wajah yang terlihat segar. Kaus milik Bagas yang ia kenakan terlihat kedodoran, menutup sampai ke lututnya."Tuan," sapa Kania.Bagas berbalik. Seolah tahu apa yang sedang Kania nantikan saat ini.Pria itu berjalan memasuki kamar masih dengan menggendong Naren. Kemudian membuka brangkas yang ada di dalam lemarinya.Di sana ia mengambil sejumlah uang yang Kania butuhkan, lalu memasukannya ke dalam koper kecil."Ini 600 juta lebih. Lebihannya buat kamu."Kania segera menerima koper itu dan mengamankannya. "Aku juga mau minta izin buat kasihin uang ini ke bibi aku yang lagi jaga masku di rumah sakit.""Masmu itu sebenarnya masih muda atau udah tua?" tanyanya dengan alis terangkat. "Sepertinya seumuran tuan," jawab Kania.Bagas tak membalas lagi. Dia hanya mengangguk karena informasi lanjutannya sedang di cari oleh Bastian."Kamu boleh antar uang itu ke rumah sakit, tapi setelah urusannya selesai kembali lagi. Sementara saya akan jaga Naren di rumah.""Baik,
Kania tak mau membuat Bagas ragu hingga ia tak jadi mendapatkan 600 juta malam ini. "Tuan, bisa keluarin di luar." Bagas tersenyum sinis jelas semakin tidak bisa menahan diri. Akhirnya ia tetap melanjutkannya. Dia kembali menekan dirinya. "Saya juga ga bakal tanggung jawab kalau kamu kesakitan dan besok ga bisa jalan." Kania mengerjap. Dan tidak lama rasa sakit itu benar-benar menghampirinya. Bagian Bagas baru ujungnya yang masuk namun ini sudah begitu nyeri. Sampai akhirnya hentakan yang kuat itu terjadi dan membuat benda Bagas membenam penuh di dalam Kania. Gadis itu meremas seprai menahan nyeri dengan wajah yang mengetat dan mata yang memejam. Bagas tidak tahu seperti apa rasanya, karena ini adalah pengalaman yang pertama setelah dulu di bohongi oleh mantan istrinya. Tapi tanda merah nampak mengalir cukup banyak dari sela-sela itu. Bagas tersenyum, kemudian mencium Kania. Dan mulai menggerakan pinggulnya keluar masuk dari sana. Pria itu menatap wajah Kania yang me
Kania menelan ludah. Tubuhnya terasa panas. Namun ia merasa tak bisa melewatkan kesempatan ini. Akhirnya ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui. "Baik, aku setuju. Aku janji ga bakal bilang sama siapa-siapa." Bagas menatap Kania dalam. Sorotnya tak melembut sama sekali. "Saya ga akan tanggung jawab kalau nanti kamu baper sama saya. Kamu setuju dengan keputusan ini karena kamu sadar bukan karena paksaan saya." Kania mengangguk mantab walau terselip sedikit keraguan. "Aku yakin ga akan baper dan aku bisa pastiin itu." Bagas mendekati bibir Kania dan langsung membungkamnya dengan ciuman, tak hanya itu Bagas juga melumatnya. Kania terkesiap karena ini terlalu cepat. Tubuhnya langsung berdesir. Ciuman ini adalah hal yang pertama kali ia lakukan, ia belum pernah berciuman bahkan dengan kekasihnya sekalipun. Namun apa yang pria itu lakukan seolah mengajaknya terhanyut ke dalam sensasi yang lebih jauh, yang lebih nikmat. Bibir pria itu basah, dan juga terasa lembut. Kan
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matanya sempat melirik ke arah sana. Ke arah pribadi pria itu. "Lancang!" umpat Bagas kesal. Entah gadis ini benar-benar menguji emosinya hari ini. Kania membuka matanya dan melihat raut kesal pria itu, entah kenapa dia semakin tak takut padanya. Kania menyunggingkan senyuman manis miliknya padanya. "Kita satu sama sekarang tuan." Bagas ingat beberapa malam yang lalu dia sudah melihat bagian pribadi perempuan itu. Ia menggertakkan giginya, kemudian duduk di sofa mengambil rokok dan menyalakan kemudian mengisapnya tak peduli di hadapannya ada perempuan. Jujur Kania tak suka dengan asap rokok. Tapi ia tahan rasa kesalnya demi mendapatkan uang 600 juta itu. Kania meletakkan jam tangan mewa
Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hilang."Aku, aku akan coba pinjam ke bos ku ya, bi. Aku coba dulu," ucap Kania walau tak sepenuhnya yakin.Namun bagi Bi Asih, wanita itu sangat menaruh harapan pada Kania."Yang penting sekarang bibi terus jagain Mas Angga. Pokoknya aku bakal usahain, gimanapun caranya aku bakal usahain," tekadnya dalam hati."Iya, bibi janji akan jagain masmu. Bibi ikut bantu doain kamu semoga bisa dapetin pinjamannya. Bibi juga akan berusaha untuk pinjem uang sedapatnya ke teman-teman bibi yang lain."Kania merasa terharu, dalam situasi ini Bi Asih masih ingin membantunya."Terimakasih, bi. Tapi aku pastikan. Aku akan dapetin uang itu secepatnya."Dalam keadaan mendesak ini, Kania merasa hal-hal yang sudah
"Aku ngga tahu tuan. Tiba-tiba Naren terbangun gitu aja." Kania berusaha melepas bagian tubuhnya itu dari mulut Naren, namun bayi itu enggan melepaskannya.Bagas terus memperhatikan Naren termasuk memperhatikan bagian tubuh perempuan itu juga, dan napasnya terasa tercekat. Buah dada Kania terlihat begitu menggoda, tampak padat dan bervolume. Kulitnya yang putih tampak bersih dengan warna merah muda yang kontras di puncaknya. Hingga membuat tubuh pria itu menegang dengan cepat.Tentu saja ia jadi tidak terkontrol begini, karena statusnya yang menduda membuat ia tidak lagi bisa merasakan kehangatan."Apa ASInya keluar?" Tanya Bagas.Kania menggeleng. "Ngga, ini Naren sepertinya kangen sama ibunya makanya dia langsung anteng walaupun ga ada ASInya. Soalnya saya udah cek, dia nggak lagi buang air, atau demam. Saya kasih botol susunya juga nggak mau. Tapi pas begini dia baru anteng.""Maafkan saya tuan kalau sudah lancang," imbuh Kania. Pertama ia lancang sudah menyusui Naren. Kedua ia lan







