Share

Bab 5

Author: Alana Karin
last update publish date: 2026-05-25 15:16:42

Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini.

"Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."

Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hilang.

"Aku, aku akan coba pinjam ke bos ku ya, bi. Aku coba dulu," ucap Kania walau tak sepenuhnya yakin.

Namun bagi Bi Asih, wanita itu sangat menaruh harapan pada Kania.

"Yang penting sekarang bibi terus jagain Mas Angga. Pokoknya aku bakal usahain, gimanapun caranya aku bakal usahain," tekadnya dalam hati.

"Iya, bibi janji akan jagain masmu. Bibi ikut bantu doain kamu semoga bisa dapetin pinjamannya. Bibi juga akan berusaha untuk pinjem uang sedapatnya ke teman-teman bibi yang lain."

Kania merasa terharu, dalam situasi ini Bi Asih masih ingin membantunya.

"Terimakasih, bi. Tapi aku pastikan. Aku akan dapetin uang itu secepatnya."

Dalam keadaan mendesak ini, Kania merasa hal-hal yang sudah di tentang dalam hidupnya seolah tak ada artinya lagi. Baginya cara haram dan halal sudah tidak ada bedanya lagi. Yang penting ia bisa mendapat 600 juta dalam waktu dekat.

Pikirannya melayang-melayang setelah panggilan itu berakhir. Ia seolah tak ingin menggunakan waktunya yang singkat ini hanya untuk bersedih. Ia perlu menggunakan waktunya dengan baik untuk berpikir meski otaknya buntu.

Dua hal yang terlarang yang sedang menarik untuk ia coba. Pertama mencuri apapun yang ada di rumah ini yang senilai 600 juta. Kedua menawarkan diri untuk di tiduri Bagas.

Tapi, pilihan yang kedua itu terlalu rumit. Pria itu sangat dingin. Sulit untuk di dekati. Bahkan setelah pria itu melihat anggota tubuhnya yang terbuka pria itu tidak memperlihatkan ketertarikannya, pria itu tidak mendekatinya.

Kania takut jika ia terus menggodanya malah pria itu memecatnya.

Jadi pilihan pertama adalah yang harus ia pertimbangkan. Setelah berhasil mencuri ia akan kabur dari rumah ini dan memberikan uang itu ke Bi Asih baru setelah itu ia akan pergi ke luar kota.

Ya, ia pun mulai memikirkan barang apa yang perlu ia curi.

Sampai akhirnya malam pun tiba. Narendra sudah tidur lelap di box bayi.

Kania menuruni lantai, lantai bawah adalah tempat istirahat para pelayan. Tapi pelayan sudah tidur semua malam ini. Melalui pintu dapur ia melihat ada kunci mobil, ponsel dan jam tangan mewah di atas meja.

Sepertinya majikannya sudah pulang dan sedang ada di dapur.

Kania tertarik, "jam tangan mewah. Ya, aku pernah lihat salah satu pejabat punya merk jam tangan itu dan harganya bisa sampe 11 milyar. Kalau aku jual 600 juta juga orang pasti ga akan pikir panjang lagi buat beli."

Ia mendekat ke dapur dan hanya perlu mengalihkan perhatiannya. Namun ketika ia tiba di dapur pria itu tak ada.

Kania merasa memiliki kesempatan.

Ia mendekati meja dengan tatapan pura-pura tak melihat ke arah jam itu. Tapi tangannya justru maju paling dahulu. Dia mengambil jam tangan itu dengan cepat dan ingin memasukan ke kantongnya.

Namun dari arah lain terdengar deheman yang seketika membuat ia panik.

Ia kemudian pura-pura memainkan jam itu sambil bersenandung mengalihkan situasi meski suaranya jelek dan terdengar bergetar. "Nananana ... jamnya bagus."

"Nananana ..."

"Apa yang sedang kamu lakukan, hem?" Suara yang berat dan penuh tekanan itu mengancam Kania.

Jantungnya seketika berdebar kencang. Ia mengembalikan jam itu ke meja dan pura-pura tak tahu.

"Anu, Tuan. Itu, aku cuma lihat-lihat aja."

Kania berbalik secara refleks. Namun kemudian ia harus mundur dengan cepat ketika sebuah pistol tertodong ke matanya.

Kania panik, tapi ia berusaha agar tenang dan tak menunjukan seolah ia ketahuan mencuri.

"Tuan, kenapa keluarin pistol?"

Tatapan Bagas begitu dingin dan mengerikan, sepertinya suasana hatinya sedang tidak bagus hingga mudah membuatnya tersinggung, bahkan tak akan bisa di ajak berkompromi jika berhasil menyinggungnya.

"Kamu pikir saya ini bodoh? Kamu pikir saya ini bisa kamu kelabui? Manusia sampah seperti kamu ini sudah sering saya temui, dan tidak sulit untuk di singkirkan," ucapnya dengan suara yang membuat Kania tercengang.

Sudah lebih dari seminggu Kania tak berhadapan dengan majikannya, tak mendengar suaranya, karena kesibukannya. Tapi hari ini begitu bertemu lagi dengannya pria itu malah langsung menunjukkan kekuasaan yang dia miliki.

Kania tak menyesal karena ketahuan, bukan ia juga jika mudah menyerah begitu saja.

"Aku ga bermaksud mencuri, Tuan," balas Kania dengan senyum manis. Terlalu banyak memikirkan kondisi Angga membuat ia terbiasa dengan rasa cemas hingga kini tidak ada lagi rasa takut menghadapi Bagas.

Bagas terkekeh tapi kekehannya terlihat mengejek. "Dalam kondisi seperti ini bahkan kamu masih berani menjawab saya! Kamu memang beda dari sampah lain yang saya temui."

Bagas menatap tubuh Kania dari atas sampai bawah. Hanya dalam dua minggu perubahannya sudah nampak jelas, tubuhnya terlihat jauh lebih berisi dari pada waktu pertama kali ia datang.

"Sungguh. Aku tidak bermaksud mencuri. Tuan juga tidak perlu mengeluarkan pistol ini." Sejak kata-kata itu terucap pistol yang di todong di depannya di arahkan lebih maju oleh Bagas.

Kania spontan mundur. Ia melihat wajah Bagas semakin serius. Setidaknya dalam situasi ini ia tidak boleh terus terlihat berani. "Maafkan aku, tuan. Tuan boleh pecat aku. Tapi jangan bunuh aku."

Pria itu tersenyum mengejek lagi. "Kamu pikir mudah pergi dari sini, berhenti mengasuh anak saya tanpa menerima hukuman apapun setelah apa yang kamu lakukan disini?!"

Kania terdiam ia masih tidak mengerti apa yang akan Bagas lakukan padanya setelah ini.

Suasana hening cukup lama terjadi. Sampai kemudian Bagas entah karena apa pria itu menurunkan dan menyimpan pistolnya ke dalam saku.

Suara napas yang tengah di kontrol itu terdengar. Pikiran pria itu sedang lelah. Banyak pekerjaan yang sedang dia kerjakan tapi saat tiba di rumah untuk menenangkan diri ia malah harus menghadapi perempuan kecil tak tahu diri ini.

"Kamu datang ke kamar saya setelah ini. Bawa jam tangan dan ponsel serta kunci mobil saya juga. Jelaskan semuanya pada saya kenapa kamu ingin mencuri jam tangan saya."

"Baik, tuan." Kania menarik napasnya. Ia merasa pria itu cukup baik dalam membaca pergerakan musuh.

Sampai-sampai ia ketahuan sebelum berhasil mencuri. Ia bahkan yakin jika Bagas sengaja memancingnya dengan benda-benda mahal itu.

Bagas sudah berbalik pergi dari sana. Sambil berjalan ia mengendurkan kerahnya.

Kania mengumpat dalam hati karena sudah berhasil masuk jebakan Bagas. "Dan tunggu kamu yang bakal masuk ke dalam jebakan aku mas Bagas."

Dalam keadaan buntu seperti ini, ia tidak akan menyerah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 78

    Sekitar pukul sepuluh pagi, Bagas yang seharusnya berada di kantor tiba-tiba pulang kembali bersama Bastian.Pada saat yang sama suasana lantai atas sedang sepi. Tuan dan Nyonya Besar pergi ke rumah eyang, sebagian pelayan sibuk di area bawah. Karena itu, kedatangan Bagas yang tampak pucat langsung mengundang bisik-bisik kecil.Bastian segera mencari Kania di halaman belakang. Setelah menemukan gadis itu sedang bersama Naren ia segera berkata. "Tuan Bagas meminta nona ke atas. Naren biar saya yang jaga."Kania sempat melihat ke arah beberapa pelayan yang mulai curiga, tapi ia tak punya pilihan. Ia tetap melangkah ke lantai dua, menuju kamar Bagas.Begitu pintunya terbuka, ia melihat Bagas sudah duduk di sofa dengan pakaian rumahan kaus hitam longgar dan celana training. Wajah pria itu tampak letih, dan dari cara ia bersandar, Kania tahu Bagas tidak sedang baik-baik saja.Namun yang membuat Bagas terfokus justru perempuan itu yan

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 77

    Bagas mendinginkan pikirannya dengan berenang ke dalam kolam renang.Air dingin adalah satu-satunya hal yang sanggup meredam rasa gerah sekaligus amarah yang masih menempel di tubuhnya.Ia kembali menyelam, membiarkan fokusnya beralih sejenak ke aktivitasnya itu.Saat Bagas naik ke permukaan lagi, suara langkah terdengar mendekat."Mas," panggil Damar sambil mengangkat sebotol anggur merah.Bagas hanya menoleh sekilas, lalu kembali berenang tanpa menjawab.Damar duduk di kursi panjang dekat kolam, membuka tutup botol, dan menuang minuman itu ke dua gelas.Ia menunggu tanpa terburu-buru.Tak butuh waktu lama sampai Bagas menepi. Ia mengambil handuk, mengusap rambut dan wajahnya sebelum berdiri di depan Damar."Kamu dari mana?" tanya Bagas sambil meraih gelas yang disodorkan."Tadi ke ruang baca. Ngobrol sama Mbak Kania," jawab Damar."Ngobrol?"Bagas meneguk anggur itu. Hangatnya la

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 76

    Kania merasakan jantungnya berhenti sesaat. Ia menelan ludah."Yang mas nggak suka?""Saya nggak suka hal-hal yang terlalu romantis," jawab Bagas tanpa ragu."Saya suka langsung ke inti. Tanpa basa-basi."Kania mengangguk pelan, mencoba tetap tenang meski hatinya terasa dicengkeram."Kalau pacar baru mas... minta sesuatu, boleh?" tanyanya hati-hati.Bagas tertawa kecil, lalu mengamati ekspresi Kania dengan pandangan yang sangat tajam."Saya juga suka membaca pergerakan lawan bicara saya," ucapnya santai.Kania mengerutkan kening. "Jadi mas tahu aku mau apa?"Bagas tidak menjawab dengan kata-kata.Ia hanya mengangkat dagunya sedikit, seolah mengajaknya berhenti bermain teka-teki."Kamu mau uang berapa?" tanya Bagas akhirnya, to the point.Kania terdiam sejenak... lalu mengucapkannya."Aku mau seratus juta, Mas."Ia butuh melunasi hutang kakaknya pada bosnya itu.

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 75

    Di lantai kamarnya suasana tak lagi menegangkan seperti ketika masih ada eyang. Kania benar-benar bisa bernapas dengan lega lagi.Sampai ketika akhirnya derap langkah terdengar mendekat.Ia melihat siluet Bagas mendekat. Semula masih jauh hingga kini sudah ada di depannya. Pria itu menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Naren yang sedang bermain.Seolah pria itu tak ingin mengabaikan sedetik kesempatan yang ada dengan mencium Kania. Perempuan itu tahu dirinya tak lebih dari sebatas pelampiasan. Beberapa saat mereka berpagutan. Kania kembali menatapnya. Namun ia tetap berusaha tenang.Tapi tangan Bagas sudah menggerayangi pinggangnya di balik seragam nanny yang dia kenakan. Dengan cepat Kania menahannya."Kamu bukannya pergi ke tempat kerja kenapa malah balik lagi? Gak langsung ke kantor?" Tanya Kania."Karena saya masih kangen sama pacar baru saya,""Aku gak kemana-mana, mas. Mas kerja aja."Bagas kemud

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 74

    Hingga pagi ini Kania masih terngiang dengan momen semalam. Setiap kali ia memejamkan mata, momen itu kembali muncul, ketika bagaimana Bagas menyentuhnya, membisikan kalimat-kalimat bernada sensual yang mampu membakar jiwa asmara mudanya. Bahkan ia tak bisa tidur dengan nyenyak hanya karena memikirkan pria itu. Sungguhan jika mengingat rencananya untuk membakar amarah nyonya besar dengan masuk ke keluarga Wiratmodjo akan semakin dekat. Jika itu terjadi ia akan sangat merasa puas karena ketakutan nyonya besar itu berhasil ia wujudkan. Namun ia masih tidak terlalu terlena, hanya karena kata ajakan Bagas untuk menjalin asmara. Ia masih menyisakan sedikit ruang kewaspadaan. Ruang itu mengingatkannya bahwa Bagas adalah bencana yang mempesona, memabukkan, tapi dapat menghancurkan jika ia membiarkan dirinya terhempas terlalu jauh. Ia boleh saja tersentuh oleh perlakuannya. Ia boleh saja gemetar setiap kali mengingat

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 73

    "Aku cuma manusia biasa wajar kalau punya rasa. Tapi aku sadar diri, mas. Perasaan aku salah." Bersamaan dengan itu Bagas melepas dagu Kania. "Mas boleh menjauh setelah ini. Mas boleh singkirin aku." Namun setelah beberapa saat Bagas malah menarik tubuh itu ke dalam pelukannya bukannya menyuruhnya pergi atau memberi peringatan. Dia memeluknya erat seolah memang mereka adalah sepasang kekasih. Kania terkejut, dia hanya mematung sampai Bagas menempelkan hidungnya ke hidung Kania hingga napas mereka menyatu. "Mas gak marah?" Bagas menggeleng. "Di umur segini saya udah gak mau main-main soal perasaan sama perempuan. Saya cuma butuh perempuan yang nurut, perempuan yang rasa sayangnya ke saya sebesar rasa sayangnya ke anak saya. Tapi kenapa di saat saya butuh semua itu justru kamu yang datang, dan cuma kamu yang memenuhi semua

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 12

    Bagas terdiam, pertanyaannya tadi terjawab. Rupanya yang membuat Kania bersedih adalah ketika perempuan itu tahu statusnya dengan Frsica masih belum resmi bercerai."Ga penting aku tahu dari mana," ujar Kania ketus."Jawab pertanyaan saya Kania?" Bagas mencengkram rahang Kania dan menarik wajahnya

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 14

    "Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" te

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 2

    "Ma–maaf, maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."Kania buru-buru meminta maaf dengan suara gemetar.Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria yang baru saja melepas kacamata hitamnya. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, Kania langsung menunduk lagi, tidak berani me

  • Babysitter Simpanan Bos Duda   Bab 1

    "Kan, biaya tagihan rumah sakit mamasmu sudah membengkak beberapa hari ini. Ini bibi bayarkan dulu pakai uang pinjaman dari bank keliling. Soalnya, bibi sudah nggak punya simpanan lagi."Ucapan bibinya tempo hari masih terngiang jelas di kepala Kania. Sudah sebulan terakhir, kakaknya bolak-balik ru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status