FAZER LOGINKania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini.
"Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu." Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hilang. "Aku, aku akan coba pinjam ke bos ku ya, bi. Aku coba dulu," ucap Kania walau tak sepenuhnya yakin. Namun bagi Bi Asih, wanita itu sangat menaruh harapan pada Kania. "Yang penting sekarang bibi terus jagain Mas Angga. Pokoknya aku bakal usahain, gimanapun caranya aku bakal usahain," tekadnya dalam hati. "Iya, bibi janji akan jagain masmu. Bibi ikut bantu doain kamu semoga bisa dapetin pinjamannya. Bibi juga akan berusaha untuk pinjem uang sedapatnya ke teman-teman bibi yang lain." Kania merasa terharu, dalam situasi ini Bi Asih masih ingin membantunya. "Terimakasih, bi. Tapi aku pastikan. Aku akan dapetin uang itu secepatnya." Dalam keadaan mendesak ini, Kania merasa hal-hal yang sudah di tentang dalam hidupnya seolah tak ada artinya lagi. Baginya cara haram dan halal sudah tidak ada bedanya lagi. Yang penting ia bisa mendapat 600 juta dalam waktu dekat. Pikirannya melayang-melayang setelah panggilan itu berakhir. Ia seolah tak ingin menggunakan waktunya yang singkat ini hanya untuk bersedih. Ia perlu menggunakan waktunya dengan baik untuk berpikir meski otaknya buntu. Dua hal yang terlarang yang sedang menarik untuk ia coba. Pertama mencuri apapun yang ada di rumah ini yang senilai 600 juta. Kedua menawarkan diri untuk di tiduri Bagas. Tapi, pilihan yang kedua itu terlalu rumit. Pria itu sangat dingin. Sulit untuk di dekati. Bahkan setelah pria itu melihat anggota tubuhnya yang terbuka pria itu tidak memperlihatkan ketertarikannya, pria itu tidak mendekatinya. Kania takut jika ia terus menggodanya malah pria itu memecatnya. Jadi pilihan pertama adalah yang harus ia pertimbangkan. Setelah berhasil mencuri ia akan kabur dari rumah ini dan memberikan uang itu ke Bi Asih baru setelah itu ia akan pergi ke luar kota. Ya, ia pun mulai memikirkan barang apa yang perlu ia curi. Sampai akhirnya malam pun tiba. Narendra sudah tidur lelap di box bayi. Kania menuruni lantai, lantai bawah adalah tempat istirahat para pelayan. Tapi pelayan sudah tidur semua malam ini. Melalui pintu dapur ia melihat ada kunci mobil, ponsel dan jam tangan mewah di atas meja. Sepertinya majikannya sudah pulang dan sedang ada di dapur. Kania tertarik, "jam tangan mewah. Ya, aku pernah lihat salah satu pejabat punya merk jam tangan itu dan harganya bisa sampe 11 milyar. Kalau aku jual 600 juta juga orang pasti ga akan pikir panjang lagi buat beli." Ia mendekat ke dapur dan hanya perlu mengalihkan perhatiannya. Namun ketika ia tiba di dapur pria itu tak ada. Kania merasa memiliki kesempatan. Ia mendekati meja dengan tatapan pura-pura tak melihat ke arah jam itu. Tapi tangannya justru maju paling dahulu. Dia mengambil jam tangan itu dengan cepat dan ingin memasukan ke kantongnya. Namun dari arah lain terdengar deheman yang seketika membuat ia panik. Ia kemudian pura-pura memainkan jam itu sambil bersenandung mengalihkan situasi meski suaranya jelek dan terdengar bergetar. "Nananana ... jamnya bagus." "Nananana ..." "Apa yang sedang kamu lakukan, hem?" Suara yang berat dan penuh tekanan itu mengancam Kania. Jantungnya seketika berdebar kencang. Ia mengembalikan jam itu ke meja dan pura-pura tak tahu. "Anu, Tuan. Itu, aku cuma lihat-lihat aja." Kania berbalik secara refleks. Namun kemudian ia harus mundur dengan cepat ketika sebuah pistol tertodong ke matanya. Kania panik, tapi ia berusaha agar tenang dan tak menunjukan seolah ia ketahuan mencuri. "Tuan, kenapa keluarin pistol?" Tatapan Bagas begitu dingin dan mengerikan, sepertinya suasana hatinya sedang tidak bagus hingga mudah membuatnya tersinggung, bahkan tak akan bisa di ajak berkompromi jika berhasil menyinggungnya. "Kamu pikir saya ini bodoh? Kamu pikir saya ini bisa kamu kelabui? Manusia sampah seperti kamu ini sudah sering saya temui, dan tidak sulit untuk di singkirkan," ucapnya dengan suara yang membuat Kania tercengang. Sudah lebih dari seminggu Kania tak berhadapan dengan majikannya, tak mendengar suaranya, karena kesibukannya. Tapi hari ini begitu bertemu lagi dengannya pria itu malah langsung menunjukkan kekuasaan yang dia miliki. Kania tak menyesal karena ketahuan, bukan ia juga jika mudah menyerah begitu saja. "Aku ga bermaksud mencuri, Tuan," balas Kania dengan senyum manis. Terlalu banyak memikirkan kondisi Angga membuat ia terbiasa dengan rasa cemas hingga kini tidak ada lagi rasa takut menghadapi Bagas. Bagas terkekeh tapi kekehannya terlihat mengejek. "Dalam kondisi seperti ini bahkan kamu masih berani menjawab saya! Kamu memang beda dari sampah lain yang saya temui." Bagas menatap tubuh Kania dari atas sampai bawah. Hanya dalam dua minggu perubahannya sudah nampak jelas, tubuhnya terlihat jauh lebih berisi dari pada waktu pertama kali ia datang. "Sungguh. Aku tidak bermaksud mencuri. Tuan juga tidak perlu mengeluarkan pistol ini." Sejak kata-kata itu terucap pistol yang di todong di depannya di arahkan lebih maju oleh Bagas. Kania spontan mundur. Ia melihat wajah Bagas semakin serius. Setidaknya dalam situasi ini ia tidak boleh terus terlihat berani. "Maafkan aku, tuan. Tuan boleh pecat aku. Tapi jangan bunuh aku." Pria itu tersenyum mengejek lagi. "Kamu pikir mudah pergi dari sini, berhenti mengasuh anak saya tanpa menerima hukuman apapun setelah apa yang kamu lakukan disini?!" Kania terdiam ia masih tidak mengerti apa yang akan Bagas lakukan padanya setelah ini. Suasana hening cukup lama terjadi. Sampai kemudian Bagas entah karena apa pria itu menurunkan dan menyimpan pistolnya ke dalam saku. Suara napas yang tengah di kontrol itu terdengar. Pikiran pria itu sedang lelah. Banyak pekerjaan yang sedang dia kerjakan tapi saat tiba di rumah untuk menenangkan diri ia malah harus menghadapi perempuan kecil tak tahu diri ini. "Kamu datang ke kamar saya setelah ini. Bawa jam tangan dan ponsel serta kunci mobil saya juga. Jelaskan semuanya pada saya kenapa kamu ingin mencuri jam tangan saya." "Baik, tuan." Kania menarik napasnya. Ia merasa pria itu cukup baik dalam membaca pergerakan musuh. Sampai-sampai ia ketahuan sebelum berhasil mencuri. Ia bahkan yakin jika Bagas sengaja memancingnya dengan benda-benda mahal itu. Bagas sudah berbalik pergi dari sana. Sambil berjalan ia mengendurkan kerahnya. Kania mengumpat dalam hati karena sudah berhasil masuk jebakan Bagas. "Dan tunggu kamu yang bakal masuk ke dalam jebakan aku mas Bagas." Dalam keadaan buntu seperti ini, ia tidak akan menyerah.Tak lama Kania muncul dengan wajah yang terlihat segar. Kaus milik Bagas yang ia kenakan terlihat kedodoran, menutup sampai ke lututnya."Tuan," sapa Kania.Bagas berbalik. Seolah tahu apa yang sedang Kania nantikan saat ini.Pria itu berjalan memasuki kamar masih dengan menggendong Naren. Kemudian membuka brangkas yang ada di dalam lemarinya.Di sana ia mengambil sejumlah uang yang Kania butuhkan, lalu memasukannya ke dalam koper kecil."Ini 600 juta lebih. Lebihannya buat kamu."Kania segera menerima koper itu dan mengamankannya. "Aku juga mau minta izin buat kasihin uang ini ke bibi aku yang lagi jaga masku di rumah sakit.""Masmu itu sebenarnya masih muda atau udah tua?" tanyanya dengan alis terangkat. "Sepertinya seumuran tuan," jawab Kania.Bagas tak membalas lagi. Dia hanya mengangguk karena informasi lanjutannya sedang di cari oleh Bastian."Kamu boleh antar uang itu ke rumah sakit, tapi setelah urusannya selesai kembali lagi. Sementara saya akan jaga Naren di rumah.""Baik,
Kania tak mau membuat Bagas ragu hingga ia tak jadi mendapatkan 600 juta malam ini. "Tuan, bisa keluarin di luar." Bagas tersenyum sinis jelas semakin tidak bisa menahan diri. Akhirnya ia tetap melanjutkannya. Dia kembali menekan dirinya. "Saya juga ga bakal tanggung jawab kalau kamu kesakitan dan besok ga bisa jalan." Kania mengerjap. Dan tidak lama rasa sakit itu benar-benar menghampirinya. Bagian Bagas baru ujungnya yang masuk namun ini sudah begitu nyeri. Sampai akhirnya hentakan yang kuat itu terjadi dan membuat benda Bagas membenam penuh di dalam Kania. Gadis itu meremas seprai menahan nyeri dengan wajah yang mengetat dan mata yang memejam. Bagas tidak tahu seperti apa rasanya, karena ini adalah pengalaman yang pertama setelah dulu di bohongi oleh mantan istrinya. Tapi tanda merah nampak mengalir cukup banyak dari sela-sela itu. Bagas tersenyum, kemudian mencium Kania. Dan mulai menggerakan pinggulnya keluar masuk dari sana. Pria itu menatap wajah Kania yang me
Kania menelan ludah. Tubuhnya terasa panas. Namun ia merasa tak bisa melewatkan kesempatan ini. Akhirnya ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui. "Baik, aku setuju. Aku janji ga bakal bilang sama siapa-siapa." Bagas menatap Kania dalam. Sorotnya tak melembut sama sekali. "Saya ga akan tanggung jawab kalau nanti kamu baper sama saya. Kamu setuju dengan keputusan ini karena kamu sadar bukan karena paksaan saya." Kania mengangguk mantab walau terselip sedikit keraguan. "Aku yakin ga akan baper dan aku bisa pastiin itu." Bagas mendekati bibir Kania dan langsung membungkamnya dengan ciuman, tak hanya itu Bagas juga melumatnya. Kania terkesiap karena ini terlalu cepat. Tubuhnya langsung berdesir. Ciuman ini adalah hal yang pertama kali ia lakukan, ia belum pernah berciuman bahkan dengan kekasihnya sekalipun. Namun apa yang pria itu lakukan seolah mengajaknya terhanyut ke dalam sensasi yang lebih jauh, yang lebih nikmat. Bibir pria itu basah, dan juga terasa lembut. Kan
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matanya sempat melirik ke arah sana. Ke arah pribadi pria itu. "Lancang!" umpat Bagas kesal. Entah gadis ini benar-benar menguji emosinya hari ini. Kania membuka matanya dan melihat raut kesal pria itu, entah kenapa dia semakin tak takut padanya. Kania menyunggingkan senyuman manis miliknya padanya. "Kita satu sama sekarang tuan." Bagas ingat beberapa malam yang lalu dia sudah melihat bagian pribadi perempuan itu. Ia menggertakkan giginya, kemudian duduk di sofa mengambil rokok dan menyalakan kemudian mengisapnya tak peduli di hadapannya ada perempuan. Jujur Kania tak suka dengan asap rokok. Tapi ia tahan rasa kesalnya demi mendapatkan uang 600 juta itu. Kania meletakkan jam tangan mewa
Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hilang."Aku, aku akan coba pinjam ke bos ku ya, bi. Aku coba dulu," ucap Kania walau tak sepenuhnya yakin.Namun bagi Bi Asih, wanita itu sangat menaruh harapan pada Kania."Yang penting sekarang bibi terus jagain Mas Angga. Pokoknya aku bakal usahain, gimanapun caranya aku bakal usahain," tekadnya dalam hati."Iya, bibi janji akan jagain masmu. Bibi ikut bantu doain kamu semoga bisa dapetin pinjamannya. Bibi juga akan berusaha untuk pinjem uang sedapatnya ke teman-teman bibi yang lain."Kania merasa terharu, dalam situasi ini Bi Asih masih ingin membantunya."Terimakasih, bi. Tapi aku pastikan. Aku akan dapetin uang itu secepatnya."Dalam keadaan mendesak ini, Kania merasa hal-hal yang sudah
"Aku ngga tahu tuan. Tiba-tiba Naren terbangun gitu aja." Kania berusaha melepas bagian tubuhnya itu dari mulut Naren, namun bayi itu enggan melepaskannya.Bagas terus memperhatikan Naren termasuk memperhatikan bagian tubuh perempuan itu juga, dan napasnya terasa tercekat. Buah dada Kania terlihat begitu menggoda, tampak padat dan bervolume. Kulitnya yang putih tampak bersih dengan warna merah muda yang kontras di puncaknya. Hingga membuat tubuh pria itu menegang dengan cepat.Tentu saja ia jadi tidak terkontrol begini, karena statusnya yang menduda membuat ia tidak lagi bisa merasakan kehangatan."Apa ASInya keluar?" Tanya Bagas.Kania menggeleng. "Ngga, ini Naren sepertinya kangen sama ibunya makanya dia langsung anteng walaupun ga ada ASInya. Soalnya saya udah cek, dia nggak lagi buang air, atau demam. Saya kasih botol susunya juga nggak mau. Tapi pas begini dia baru anteng.""Maafkan saya tuan kalau sudah lancang," imbuh Kania. Pertama ia lancang sudah menyusui Naren. Kedua ia lan







