Home / Urban / Badai Sang Pemberani / 011. Bayangan Maut di Kegelapan

Share

011. Bayangan Maut di Kegelapan

Author: Iq Nst
last update Last Updated: 2025-08-22 07:18:34

Jam telah menunjuk pukul 00:01 dinihari waktu setempat, truk kontainer terakhir tiba di dermaga. Chen Yuan turun dari mobil mewahnya, di apit oleh empat pengawal bersenjata. Tawanya terdengar lantang saat ia menyambut para pembeli. Calvin menarik napas pelan, memastikan senapan serbu dengan peredam di tangannya terkokang dalam posisi sempurna.

CUZZZ!!

Tembakan pertama memecah dinginnya malam. Kepala salah satu pengawal Chen Yuan pecah berdarah sebelum sempat mengerti apa yang terjadi. Kekacauan meledak bagai petir yang menyambar. Para sindikat dengan cepat bergerak mencari posisi teraman dari kemungkinan serangan selanjutnya.

Calvin bergerak cepat, berguling, berlari dan melompat menghindari lesatan peluru yang menderu-- menghantam bagaikan petasan api ke arahnya. Namun, lesatan peluru tak satupun yang mengenai tubuhnya yang cepat.

Calvin melompat tinggi dari atas atap dan menerobos masuk ke dalam gudang melalui jendela yang pecah akibat terkena peluru nyasar. Ia seperti bayangan angin topan - setiap lesatan pelurunya tepat sasaran, dan setiap gerakan terukur sempurna seperti badai yang membawa arus kematian.

Salah satu anggota sindikat menyerangnya dengan deru senjata serbu--tanpa memberi kesempatan Calvin untuk menarik napas, Calvin berputar menghindar - peluru hanya tipis dari tubuhnya yang bergerak seperti bayangan pencabut nyawa.

KREKKK... KREKK..

Suara senjata kosong terdengar dari tangan lawan yang memburu. - peluru senjatanya habis--dan sekarang giliran Calvin yang membidik--DOR--hanya satu peluru - tepat menembus kepala, musuh seketika tewas tanpa mampu berkata.

Dari arah belakang seorang anak buah lagi datang menyerbu. Calvin melompat ke balik drum. Senjata serbu menghujam drum. Tapi Calvin tenang - dengan keberanian dan kepercayaan diri yang terlatih sempurna, ia mendorong drum hingga mengguling ke arah lawan--dan dengan presisi sempurna... Calvin melompat seperti macan yang berburu, menginjakkan kakinya di atas drum-drum yang bergelinding, dan bersalto sambil menembakkan senjatanya cepat--tepat...

DORR! DORR!DORR!

Tiga peluru melesat dari udara--menembus dada lawan yang tak sempat membalas. Tiga pengawal Chen Yuan telah tewas di tangan Calvin.

Calvin berlindung di balik forklift.

Tiba-tiba Chen Yuan bersama seorang pengawal yang tersisa menyerbu dari segala sisi. Calvin berkelit - memutar tubuh membalas tiga kali tembakan ke arah Chen Yuan. Namun Chen Yuan dengan tak kalah gesit melompat menghindar cepat.

Chen Yuan berlari mundur kebelakang, memancing Calvin untuk mengejarnya. Tapi Calvin mengerti dan membaca setiap jebakan maut yang mengancam nyawanya.

Dari balik Drum, tiba-tiba seorang pengawal yang tersisa melompat sambil mengayunkan golok yang mengkilap ke arah Calvin. Tapi, Calvin sudah membaca pergerakan itu dengan terukur. Calvin memutar tubuh cepat, menangkis golok dengan senjatanya--trang - baja dan senjata beradu.

Senjata terlepas dari tangan Calvin, namun giliran kaki Calvin yang bergerak bagaikan magnet yang mengerti arah yang di tuju--Dukk--telak, tendangan Calvin menghantam perut lawan, membuatnya terhuyung kebelakang, belum sempat ia bergerak normal, bayangan Calvin memburu cepat seperti kilat - CEZZZ - mata lawan mendelik, sebuah pisau tempur milik Calvin menembus ulu hatinya--dia tewas seketika.

Chen Yuan berlari ke arah belakang gudang, mencoba kabur melalui pintu darurat. Ia tinggal sendirian, empat orang anak buahnya telah tewas, sementara pembeli telah lari bersama truck yang membawa seluruh barang transaksi pergi.

Dari arah belakang, Calvin mengejarnya, melompati kotak-kotak kayu. Chen Yuan melesatkan tembakan ke arah Calvin yang berlari gesit dan cepat.

DOR! DOR! DOR! tiga peluru di lesatkan cepat namun meleset tipis dari tubuh Calvin yang bergerak lincah. Dan peluru yang ke empat dilesatkan kembali oleh Chen Yuan, namun terdengar suara--KRETT! KRETT! peluru pistol telah kosong. Chen Yuan mencoba lari ke arah mobil, tiba-tiba dari arah depannya Calvin telah berdiri menatapnya seperti singa yang siap menerkam mangsa.

Keduanya diam sejenak saling menatap.

CHEN YUAN: "Kau pikir bisa membunuhku mudah, Calvin? Aku jauh lebih hebat darimu!"

Calvin masih menatap tajam dan berkata dengan nada datar.

CALVIN: " Kau memang besar... sudah terlalu besar, namun hari ini kau akan menghilang bersama nama besarmu yang kau banggakan."

Chen Yuan meraih balok kayu di dekatnya, lalu melompat menghantam sambil berteriak keras, "Mampuslah kau! pembunuh rendahan!"

Chen Yuan dengan amarah membara, tapi Calvin sangat tenang dan cepat membaca situasi.

Calvin berkelit ke arah sisi kanan sangat cepat, kemudian menginjak salah satu kotak kayu, menjadikan sebagai tumpuan, lalu ia melompat melepaskan tendangan memutar di udara--TRAKK! tendangan Calvin tepat mengenai pergelangan tangan Chen Yuan - kayu terlepas dari tangannya. Kini keduanya kembali berhadapan dengan tangan kosong.

Chen Yuan menatap tajam, senyum sadis terlihat dari mulutnya, ia tertawa sinis.

"Kau pikir kau sudah menang, bajingan! kau rasakan pukulan ku!" teriaknya melompat sambil menyerang dengan pukulan dan tendangan beruntun.

Selanjutnya, pertarungan tangan kosong pecah. Calvin menghindar dengan memutar badan ketika sepakan Chen Yuan menghantamnya keras--BRAKK! suara kotak kayu pecah terkena tendangan Chen Yuan.

Chen Yuan kembali menyerang dengan ganas - mengerahkan semua kemampuan beladirinya, namun lawannya sangat tenang - membaca setiap serangan dengan terukur, dan dalam pergerakan presisi--Calvin bergerak gesit seperti kilat - meloncat dan menghantam kepala Chen Yuan dengan tinjunya--BUKKK! tinju Calvin telak menghantam kepala Chen Yuan, ia terhuyung-huyung kebelakang, tapi sebuah tendangan lurus Calvin kembali mendarat telak di dadanya--PAKK! Chen Yuan terpental menghantam tong kayu hingga pecah, dari mulut Chen Yuan darah mengalir.

Calvin mendekat perlahan, menjambak rambur Chen Yuan dan menghantamkan kepala Chen Yuan ke kotak besi yang telah berkarat--TANKK! Suara kepala beradu tong besi nyaring terdengar, Darah mengalir dari kepala yang retak. Wajah Chen Yuan tampak pucat, ia tak mampu lagi melakukan perlawanan. Ia menyadari bahwa malam itu adalah malam terakhir dari cerita gelapnya.

CROTTT!--Sebilah pisau tajam menembus dada Chen Yuan dalam - menembus jantungnya.

CALVIN: "Sampaikan salamku kepada semua yang telah pergi sebelum kau. Selamat jalan, Chen Yuan, semoga kau bahagia di sana."

Chen Yuan terjatuh seperti kayu lapuk, nyawa terlepas meninggalkan raganya. Sebagian anak buah dan koleganya telah melarikan diri menyelamatkan diri masing-masing.

Calvin berdiri di antara aroma darah dan bau mesiu, menatap lurus ke arah samudra luas. Walau wajah kelihatan lelah, namun nafasnya tenang. Ia tahu dengan pasti setelah malam ini, berita tentang pembantaian berdarah di Bangkok akan menyebar ke seluruh dunia kriminal. Namun satu hal yang pasti - Nama Chen Yuan sebagai salah satu bos mafia sindikat besar di kawasan Asia telah hilang untuk selamanya.

Ia berjalan pelan, langkahnya tenang seperti biasa, hujan turun rintik-rintik bersamaan hilangnya bayangan Calvin Law di antara lorong-lorong gelap kota, menjadi bayangan yang tak mampu di sentuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Badai Sang Pemberani   095. Suasana Penuh Cinta

    Sebulan telah berlalu sejak semua badai itu mereda. Kota kini kembali menjadi tenang. Kehidupan perlahan berjalan seperti semula. Namun di hati Badai dan Valeri, gema dari perjalanan panjang, pertarungan nyawa, dan persahabatan yang tumbuh tak akan pernah hilang. Hari itu, langit sore Jakarta begitu cerah, dihiasi semburat jingga yang hangat. Di pusat kota, sebuah kafe kecil bergaya Eropa berdiri anggun di sudut jalan, dengan jendela kaca yang memantulkan cahaya senja. Aroma kopi dan kue manis berpadu menciptakan rasa damai yang sempurna. Badai duduk di sudut dekat jendela, mengenakan kemeja putih dan jas biru muda sederhana..Wajah tampannya terlihat tegas, namun ada kegugupan yang tak biasa yang tak mampu disembunyikan. Pintu kafe terbuka pelan. Valeri melangkah masuk dengan balutan gaun merah muda yang menawan, rambutnya terurai lembut, dan senyum manis langsung membuat hati Badai bergetar. Tatapan mereka bertemu, dan waktu seperti berhenti sesaat. "Maaaaf, aku sedikit terlambat

  • Badai Sang Pemberani   094. Kembali Ke Tanah Air

    Langit Jakarta sore itu berwarna jingga keemasan ketika roda pesawat khusus yang membawa Badai Lesmana, Valerie Marcel, Mellisa, Nilam dan dua perwira tinggi kepolisian, menyentuh landasan. Suara deru mesin terasa seperti menghapus semua kepenatan perjalanan panjang yang mereka tempuh dari Mumbai. Di balik pintu kaca bandara, beberapa wajah penuh rindu tampak gelisah. Hilda, Rayhan, dan beberapa teman kuliah Valeri berdiri sambil memegang buket bunga dan poster bertuliskan "Welcome Back Valeri!" Wajah mereka berseri-seri walau sedikit sembap bekas tangis bahagia. Tak jauh dari sana, Badai juga telah dinanti Pak Hendra dan Ibu Lestari - orang tua angkatnya yang sederhana namun penuh cinta. Hilda dan Faisal, adik-adik Badai, ikut berdiri sambil menatap penuh harap ke arah landasan. Ketika pintu pesawat terbuka, udara Jakarta yang hangat menyapa mereka. Badai, melangkah turun lebih dulu dengan langkah mantap, meski ada bekas perban di bahu kirinya. Valeri menyusul di belakang, sen

  • Badai Sang Pemberani   093. Pertemuan dan Sahabat

    Tiga hari telah berlalu sejak malam penuh darah dan peluru itu. Senja Mumbai kini terasa hangat, seakan kota ini ikut merayakan hadirnya babak baru setelah badai panjang.Ballroom megah di pusat kota dipenuhi tamu-tamu penting, diplomat, pejabat tinggi, hingga awak media yang menunggu momen bersejarah malam itu.Badai dan Valeri hadir dengan pakaian formal elegan. Luka-luka mereka belum pulih sepenuhnya, namun sorot mata keduanya sudah kembali tajam - bukan lagi sebagai buronan, tetapi sebagai pahlawan yang diakui oleh dua negara.Di sudut ruangan , Mellisa berdiri bersama Nilam, wajahnya penuh haru saat melihat putrinya kini menjadi simbol keberanian.Acara dimulai dengan pidato penuh wibawa dari Kepala Menteri Maharashtra, Vinod Kapor. Suaranya mantap, tapi ada getaran emosi yang tak bisa ia sembunyikan."Malam ini, kita bukan hanya merayakan keberhasilan membongkar sindikat yang mengancam negara ini. Kita juga memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada seorang sahabat... Ashok

  • Badai Sang Pemberani   092. Akhir Kejahatan

    Tiba-tiba suara langkah kaki cepat terdengar. Valeri muncul dari sisi kontainer dengan pistol teracung."Waktumu berakhir disini, Dinesh. Jangan coba-coba melarikan diri."Dinesh memutar tubuh, menembakkan pelurunya secara liar. Peluru menghantam tiang besi, memercikkan api. Valeri melompat ke arah samping, berguling, dan melesatkan dua peluru yang mengenai lengan Dinesh, membuat senjatanya terlepas.Dinesh mengerang, tapi sebelum sempat bergerak, Sunil Khan muncul dari sisi lain. "Kau tidak punya jalan untuk lolos dari hukum, Dinesh!"Putus asa, Dinesh berlari sambil menyerang Sunil Khan dengan tinju keras. Mereka bertarung sengit di tepi dermaga - pukulan, tendangan, hingga kepala Dinesh nyaris menghantam pagar besi.Sunil yang terluka sempat terdesak, tapi Valeri dengan gerakan cepat menendang punggung Dinesh, menjatuhkannya ke lantai kayu dermaga.Dinesh berusaha meraih pisau di ikat pinggangnya, namun kaki Valeri sudah lebih cepat, , menendang pisau itu jatuh ke laut. Dalam hitu

  • Badai Sang Pemberani   091. Serbuan Terakhir

    Badai dan Valeri menyerbu masuk, senjata terarah pada tiga sosok di ujung ruangan: Manoj Shetty, Dinesh Verma, dan Rakit Sharma yang pucat ketakutan.Manoj menggenggam pistol, matanya merah penuh kebencian. Dinesh, dengan darah menetes di pelipisnya, menatap Badai dan Valeri dengan amarah membara."Kalian..."desis Dinesh. "Buronan sialan! Kalian pikir sudah menang?"Badai menarik napas panjang. "Tidak ada yang menang malam ini, Dinesh. Semua tentang keadilan dan kebenaran sesungguhnya."Manoj mengangkat pistol nya, tapi Valeri lebih cepat.Bang!Tembakannya mengenai senjata Manoj, membuat pistol itu terlempar.Sunil Khan masuk bersama beberapa polisi, mengepung ruangan. "Turunkan senjata kalian! Ini perintah!"Namun Manoj hanya tertawa, gila."Kalian pikir ini sudah selesai? Lihat saja permainan selanjutnya!""BUNUH MEREKA!!" teriak Manoj Shetty. wajahnya dipenuhi kebencian. Dinesh dan Rakit, sudah dalam posisi bertahan, senjata serbu di tangan mereka meluncurkan rentetan peluru mema

  • Badai Sang Pemberani   090. Starategi Bukan Sekedar Misi

    Seminggu setelah Tewasnya Dorna Dee dalam Pertarungan di Dermaga.Di sebuah gedung tua di pinggiran Mumbai, Manoj Shetty duduk di kursi kulit yang tampak lusuh namun masih menyisakan aroma cerutu mahal. Asap rokok memenuhi ruangan, menari di bawah cahaya lampu redup yang menggantung. Di depannya, Dinesh Verma mondar-mandir gelisah, sementara Rakit Sharma, asisten pribadi Vinod Kapor yang berkhianat duduk dengan wajah pucat pasi."Situasi kita semakin buruk," Dinesh membuka suara dengan nada geram. "Alvaro dan Desi sudah tertangkap di Jakarta. Vinod Kapor berhasil diselamatkan. Sekarang pemerintah pusat turun tangan langsung. Kita sudah jadi buronan."Rakit angkat bicara dengan suara gemetar, "Tapi... Polisi sudah menemukan beberapa gudang senjata kita. Mereka akan menyerang markas ini kapan saja. Kita harus keluar dari India."Manoj menatapnya tajam hingga Rakit tak berani menatap balik. "Keluar? Tidak. Aku tidak akan lari seperti pengecut. Kita hancurkan mereka dulu sebelum mereka sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status