MasukErion melangkah keluar dari aula dengan badai yang berkecamuk di dadanya. Ia tidak menuju gudang kayu untuk menyiapkan peti mati. Langkahnya menghantam lantai menuju satu tempat, paviliun Yasmina.“Ternyata aku yang masuk jebakan!” desis Erion saat ia menerjang masuk ke kamar tunangannya yang sudah berantakan.Tangannya bergerak liar, mengobrak-abrik lemari, melempar bantal, hingga menjatuhkan guci porselen. Matanya tertuju pada satu titik. Dengan kasar, ia mencongkel batu rahasia tempat ia pernah menemukan buku harian Diellza.“Kenapa sebelumnya aku tidak berpikir jernih?!” makinya pada diri sendiri.Amarahnya saat melihat nama “Odisian” dalam gulungan pertama telah membutakannya. Ia akui kalau dirinya bodoh karena tidak melisik dahulu sebelum menuduh Yasmina.Erion segera membentangkan beberapa surat lama dengan tulisan tangan Yasmina di atas meja. Di sampingnya, ia meletakkan gulungan bukti yang ditemukan di paviliun ini.“Tulisannya sama, semuanya sama,” gumam Erion, giginya berge
“Marib,” bisik Erion rendah.Erion merasa ada sesuatu yang sangat salah dalam hilangnya Yasmin. Dirinya yakin bahwa ini bukan sekedar penahanan biasa.“Saya sudah memeriksa seluruh blok tahanan timur dan barat. Kosong. Putri Yasmina tidak ada di daftar tahanan mana pun.” Marib muncul dengan langkah tanpa suara.Erion mengepalkan tangan di gagang pedangnya.“Kalau dia tidak ada di penjara umum, berarti dia ada di tempat yang tidak tercatat. Ini tidak beres. Raja tidak pernah bertindak secepat ini tanpa prosedur, kecuali jika dia benar-benar ingin melenyapkan seseorang tanpa jejak.”“Baginda,” Marib menatap Erion dengan cemas, “Besok sore adalah waktu yang kita tentukan untuk pergerakan kudeta. Pasukan kita sudah bersiap. Kita tetap dalam rencana kan?”Marib terlihat khawatir karena fokus Erion terbagi dengan hilangnya Yasmina.“Jangan ubah rencana,” desis Erion, matanya berkilat dingin. “Kudeta tetap berjalan besok sore. Odisian terlalu lama menunggu. Kalau Yasmina memang menghilang, b
“Mati atau tidak? Mana aku tahu!”Haman menguap lebar, menampakkan deretan gigi hitam yang tidak lagi utuh. Baginya percakapan tentang kematian dan perpindahan jiwa ini hanyalah obrolan ringan di meja makan.“Aku terkubur di bawah tanah selama dua puluh tahun, Jiwa Seberang. Jangankan tahu keponakanku masih bernapas atau sudah terkubur tanah, melihat matahari terbit dari mana saja aku sudah lupa,” sahutnya enteng sambil mengorek kuku hitamnya yang panjang.Yasmin tertegun, matanya yang sembab menatap Haman dengan nanar.“Tapi kau bilang tadi...”“Aku hanya mengatakan apa yang pernah dibisikkan Diellza padaku!” potong Haman cepat.Ia terkekeh melihat wajah frustrasi Yasmin.“Dia bilang 'jika'. Jika Yasmina hilang, atau jika Yasmina meninggal. Entah dia benar-benar sudah mati saat kau masuk ke tubuh ini, atau jiwanya ketakutan lalu lari ke pojok kegelapan dan membiarkanmu mengambil alih kemudi, itu urusanmu dengan Dewa. Yang jelas, sekarang kau yang ada di sini.”Haman merentangkan tang
Dunia seperti runtuh di bawah kaki Yasmin. Darahnya seakan berhenti mengalir. Jantungnya yang tadi berdegup kencang kini terasa seperti dihantam palu godam.“Bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana mungkin seorang pria yang terkurung di penjara terdalam selama dua puluh tahun bisa mengetahui rahasia terbesarnya? Rahasia yang bahkan Erion pun anggap sebagai omong kosong?” batin Yasmin.“Bagaimana... bagaimana kau tahu?” bisik Yasmin, wajahnya pucat pasi. “Kau... siapa kau sebenarnya?!”Haman tertawa lagi, kali ini suaranya terdengar seperti simfoni yang mengerikan.“Di tempat yang gelap ini, kau akan belajar melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh mereka yang silau oleh cahaya matahari. Aku sudah menunggumu, wahai jiwa dari dunia seberang.”Haman meledak dalam tawa yang lebih keras, seakan lelucon yang baru saja ia sampaikan adalah hal paling lucu yang pernah ia dengar selama dua dekade mendekam di perut bumi.Tubuhnya yang kurus kering terguncang-guncang, membuat rantai di pergelangan
“Si-siapa kau?” suara Yasmin bergetar hebat, nyaris tak terdengar.Ketakutan menyapu seluruh saraf Yasmin. Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara jemarinya mencengkeram tumpukan jerami kering hingga kuku-kukunya terasa perih.Ia mencoba memundurkan tubuhnya, namun punggungnya sudah menempel pada dinding batu yang dingin dan berlumut.Suara itu bukan sekadar bisikan, tapi geraman rendah yang merangkak keluar dari celah bebatuan kuno. Dalam kegelapan total Oubliette, mata Yasmin mulai menangkap siluet yang bergerak.“Aku?” bayangan itu terkekeh, suara tawanya kering seperti daun yang remuk. “Aku adalah sisa-sisa dari mereka yang 'dilupakan' oleh ayah Yasmina.”Sebuah bayangan hitam dari kegelapan, perlahan bangkit dari sudut sel yang lembap. Suara gesekan rantai besi yang berat terdengar memekakkan telinga di ruangan yang sempit itu.Sring... sring...Bayangan itu bergerak mendekat. Cahaya bulan yang seberkas garis dari lubang pintu besi di langit-langit jatuh tepat di depan kaki Y
Voya berlari menembus kegelapan lorong istana dengan air mata memburamkan pandangan. Tujuannya hanya satu. Erion.Di lapangan latihan yang hanya diterangi beberapa obor Erion berdiri tegak, sedang membersihkan pedang panjangnya dengan sepotong kain putih dengan tenang.“Tuan Erion! Tuan!” teriak Voya histeris.Erion tidak langsung menoleh. Ia menyelesaikan satu usapan panjang pada bilah pedangnya sebelum melirik kecil ke arah Voya.“Berhenti berteriak,” ucap Erion datar, tanpa emosi.“Ampun Tuan… Tapi Tuan... tolong... Putri Yasmina!” Voya jatuh berlutut di depan Erion, jemarinya mencengkeram sepatu bot kulit ksatria itu.“Ajudan Raja membawa Tuan Putri! Mereka kasar sekali, Tuan! Saya sudah ke istana utama, tapi Tuan Putri tidak ada di sana! Tolong saya, Tuan!”Erion sempat mengerutkan keningnya. Kilatan aneh muncul di matanya beberapa detik, lalu ekspresi itu hilang secepat ia muncul, kembali datar.“Jika ajudan Raja yang membawanya, itu artinya perintah langsung dari Yang Mulia,” u
Pintu kamar Yasmin terbuka dengan kasar. Seorang gadis dengan gaun biru langit berlari masuk dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya tampak pucat pasi.“Yasmina! Aku harus bicara!” Elena berseru tanpa memedulikan etiket.Yasmin tersentak, hampir saja tusuk konde yang dipegang Elara menusuk kulit ke
Kedai teh yang ditunjuk Elena terletak di sudut pasar yang lebih tenang, dengan balkon kayu yang menghadap langsung ke arah pelabuhan Pervane. Aroma melati dan kayu manis menguar, menyambut mereka saat melangkah masuk. Dengan sikap ksatria Erion menarikkan kursi untuk Yasmin dan Elena sebelum ia se
Marib, baru saja keluar setelah melaporkan pergerakan logistik di perbatasan. Suasana sunyi kembali menyergap, meninggalkan Erion yang larut dengan pikiran-pikirannya sendiri.“Siapa dia sebenarnya? Apa wanita itu seseorang yang sangat mirip dengan Yasmina, dan bertukar saat perburuan? Atau Yasmina
"Voya, panggil Menteri Jetmir," perintah Yasmin sambil merapikan sarung tangan kulitnya. "Katakan padanya aku ingin berjalan-jalan.”"Tuan Putri, Anda belum meminta izin Yang mulia untuk keluar istana?" Voya tampak ragu."Jetmir akan melakukannya untukku. Katakan saja ini aku benar-benar ingin berj






