Home / Romansa / Balada Cinta ShaBar / 46. Akbar: Take My Heart

Share

46. Akbar: Take My Heart

Author: Nesri Baidani
last update Petsa ng paglalathala: 2021-09-27 10:38:30

Mata Amanda membeliak. "Kamu ...?"

Kusandarkan kening ke tangan yang bertumpu di pintu. Kepala rasanya mulai pening. Hidungku menyentuh lembutnya helai rambut Amanda. Harum madu kembali menguasai indera penciuman.

"Serius?" bisiknya di telingaku.

Tanganku pegal. Rasanya tak kuat lagi menggenggam kunai yang sudah licin berl

Nesri Baidani

Be quick. I guess he's dead already: Cepatlah! Kayanya dia udah mati. He has scar: Dia punya bekas luka. and alive: dan hidup. Are you sure he has healthy heart? : Anda yakin jantungnya sehat? Yeah, sure! Same sex, same height, and healthy heart. Just all we need. Why?: Yakin! Usianya sama, tingginya sama, jantungnya sehat. Pas banget sama yang kita butuhkan. Kenapa? This is a scar from surgery. Perfectly healed wound, probably at a very young age. Could be ....: Ini bekas luka operasi. Lukanya sembuh sempurna, sepertinya terjadi waktu masih muda sekali. Mungkin .... Congenital Heart Defect: Penyakit Jantung Bawaan

| Like
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Balada Cinta ShaBar   105. Akbar: Galau

    Akhirnya, kutelepon nomor Alisha. Pada usaha pertama, teleponnya hanya berdering, tetapi tidak diangkat. Panggilan video kedua, juga diabaikan. Pada panggilan ketiga, baru diangkat oleh orang lain.“Halo.” Wajah Alex memenuhi layar. Ternyata dia benar-benar menunggui Alisha.“Halo,” jawabku tak bersemangat, “apa Alisha ada di sana?”Dia menoleh ke samping lalu berkata, “Dia lagi tidur.“Saya mau lihat bagaimana keadaannya,” kataku, memberi kode baginya untuk memasukkan Alisha ke dalam layar.Namun, dia tak menangkap kodeku, atau memang pura-pura tak paham. Aku memilih opsi kedua. “Semua sudah diurus dokter. Luka bakar sedang, derajat dua, di punggung dan kaki.

  • Balada Cinta ShaBar   104. Alisha: On Fire!

    Aku minta ijin buat jalan-jalan sendiri di area proyek. “Hati-hati, ya, Bu,” kata Hanif, “tetap dipakai sepatu safety dan helmnya.”Jadi, begitu masuk area proyek, aku sama Sari langsung dipinjemin peralatan-peralatan penunjang. “Sebenarnya pakai gamis kurang cocok untuk di sini, tapi hati-hati aja, ya, Bu,” gitu katanya.Aku manggut-manggut aja, sih. Manutlah, sama manajer proyek. Apalagi manajernya seganteng Hanif, uhuk.Astaghfirullah, tobat, Sha.Tapi beneran, deh, feeling-ku bilang kalo dia udah ada yang punya. Soalnya, dia seksi banget, astaghfirullah.

  • Balada Cinta ShaBar   103. Alisha: Ujian

    Pagi-pagi, Sari udah buru-buru ngedatengin aku pas lagi sarapan. “Mobil hotel sedang dipakai mengantar tamu, Bu. Saya sedang berusaha menghubungi travel untuk meminjam salah satu mobil mereka,” katanya dengan wajah agak cemas. Kayanya takut dimarahin karena ngga bisa ngurus soal mobil doang.Dalam hati, ketaw. Kebayang, dong, gimana kalo yang lagi dilaporin kaya ginian Akbar. Kalo aku, sih, cuma manggut-manggut trus kasih senyum semanis mungkin. Dia pasti udah berusaha keras buat dapetin mobil buat PJS Presdir. “Kalo pake taksol aja, gimana?” usulku.Sari keliatan lega dan ngangguk seneng. “Baik, Bu. Nanti kalo ngga dapat jawaban dari travel, saya akan langsung

  • Balada Cinta ShaBar   102: Akbar: Aaaargh!

    Naila terbahak. "Gayamu, Bang, kaya yang sanggup aja matiin orang." Kubiarkan dia menyelesaikan tawanya. Rasanya sudah lama sekali tak melihatnya tertawa selepas itu, tetapi pelayan malah menginterupsi dengan meletakkan lemon tea di hadapannya. "Biasanya kamu pesan cappucinno," kataku. "Kopi ngga bagus buat ibu hamil." Aku terdiam. Dia terdiam. Kami bertatapan. "Jadi udah fixed?"

  • Balada Cinta ShaBar   101. Akbar: Bukan Salahmu

    Pikiranku kacau, hilang fokus. Aku harus segera menata ulang lagi isi otak kalau mau tetap on track.Setelah mempelajari gmaps, kuputuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Ada sebuah taman yang terlihat cukup menarik untuk dijelajahi.Setelah pamit kepada Ibu Topan, aku keluar dengan menautkan ritsleting jaket. Layar ponsel memang menunjukkan bahwa suhu di luar cuma dua belas derajat, tetapi dengan angin yang lumayan kencang, rasanya jadi lebih rendah dari itu, mungkin sepuluh derajat.Alisha pasti sudah menggigil di cuaca sedingin ini. Kulirik ponsel, tak ada notifikasi apa pun. Masih pukul delapan pagi di Yogya, mungkin dia m

  • Balada Cinta ShaBar   100. Akbar: Kesempatan Kedua

    Aku terbangun di atas sajadah dengan selimut menutupi badan. Sepertinya aku tertidur setelah salat subuh dan entah siapa menyelimutiku. Cahaya matahari pagi masuk melalui kaca jendela, menyilaukan mata. Kualihkan pandang ke kolong meja yang gelap. Sinar matahari menghangatkan kuping yang terasa beku.Aku malas bangun. Andai boleh memilih, aku tidak ingin menjalani hari ini.Ayah pasti akan memarahiku kalau bermalas-malasan seperti ini, tetapi dia sendiri ....Argh! Kenapa sulit sekali menerimanya? Baiklah, dia pernah bersalah, tetapi selama dia menjadi ayah, dia telah melakukan segala yang terbaik. Apa itu tidak cukup untuk menerimanya?Kenapa meributkan satu orang pacar Ayah, tetapi memaklumi sepuluh mantan Alisha?Ya,

  • Balada Cinta ShaBar   71. Alisha: Maaf

    Kulingkarkan lengan di leher Akbar. Harum kopi merasuk, menguasai otak, bikin aku menghirup lebih banyak udara di atas pundaknya. "Akbar ....""Hm?""Maafin aku, ya." Kurebahk

  • Balada Cinta ShaBar   70. Alisha: Kamu Ngga Khawatir?

    "Halo, assalamu'alaikum, Topan."Ngga ada jawaban."Topan?""Mbak Alisha?""Lah? Beng

  • Balada Cinta ShaBar   69. Alisha: Teman Seperjalanan

    Akbar bersikeras buat salat dulu, padahal aku udah laper banget. "Mushollanya tidak jauh dari food court, nanti setelah salat kita langsung makan," katanya manis banget. Ya, udah

  • Balada Cinta ShaBar   68. Akbar: Terima Kasih

    Aku terbangun dengan leher kaku. Saat membuka mata, pandanganku tertutup helaian rambut yang terasa halus. Aroma lembut bebungaan membelai penciuman. Astaghfirullah! Aku tertidur di pundak Alisha. Buru-buru kutegakkan p

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status