Home / Romansa / Balada Perawan Tua / 6. Kalau Digigit Saya, Jontor Nggak?

Share

6. Kalau Digigit Saya, Jontor Nggak?

Author: Rahayu Veni
last update Huling Na-update: 2025-02-07 10:21:32

Sudah pukul sepuluh pagi namun aku belum melihat karyawan yang beberapa hari ini mampu mengalihkan pandanganku. Tidak biasanya wanita itu belum datang. Sandrina adalah orang yang selalu tepat waktu baik datang ataupun pulang.

"Si Sandrina ke mana?" kebetulan Cahya masuk ke ruanganku untuk mengabarkan jika aku harus segera berangkat meeting dengan pemilik pabrik tempat kami memproduksi produk yang kami jual karena belum memiliki pabrik sendiri.

"Sakit katanya Pak, tadi dia telepon lagi di rumah sakit," jawab Cahya.

Sakit? Kok bisa? Semalam dia tidak apa-apa malah terlihat bahagia menikmati aneka macam hidangan laut.

Mengingat kejadian semalam membuatku ingin tersenyum sangat lebar, tapi tidak mungkin karena ada Cahya ada di sini. Aku tidak ingin asisten yang sudah menemani seumur perusahaanku ini menatapku penuh curiga.

"Sakit apa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang sedang kuperiksa.

Cahya tidak langsung menjawab sepertinya ia sedang berpikir kenapa aku bertanya, biasanya aku tidak peduli dengan hal-hal kecil seperti itu.

"Katanya alergi Pak," jawab Cahya.

Alergi? Sandrina alergi apa? Alergi seafood? Masa iya? Semalam dia sama sekali tidak komplain ketika aku memesankan aneka macam hidangan olahan laut yang menggugah selera, malah dari yang kulihat ia sangat senang memakan itu semua. Ah, aku jadi ingat betapa lucunya Sandrina ketika makan.

"Memang dia punya alergi?" tanyaku penasaran tapi tentu saja aku tetap bertanya dengan nada suara datar dan tenang seperti biasa.

"Bisa jadi Pak, itu buktinya dia bilang alergi," jawab Cahya.

Aku menganggukkan kepalaku lalu memberikan beberapa laporan yang sudah selesai kutanda tangani pada Cahya dan bersiap untuk berangkat menuju tempat pertemuan.

***

"Bos, ini ID Card si Sansan?" tanya Cahya. Kami sedang berada di perjalanan pulang setelah meeting.

Aku menoleh. "Oh, ketinggalan sepertinya."

"Kemarin dia nebeng?" tanya Cahya dengan tatapan menyelidik, aku mengangguk.

"Tumben." Cahya tampak heran dan terkejut.

"Tumben kenapa?" tanyaku.

"Ya tumben aja Bapak mau nebengin anak-anak," jawab Cahya.

Aku refleks menoleh. "Bukan saya yang nggak mau nebengin, mereka yang nggak pernah bilang mau nebeng."

"Mereka juga sungkan bilang sama Bapak," sahut Cahya. Hubunganku dengan Cahya memang baik dan layaknya teman, tapi tetap jika dalam pekerjaan Cahya akan bersikap professional. "By the way, kok bisa si Sansan nebeng? Kan dia kost deket sini?"

"Saya ajak dia ke Ancol," jawabku santai.

Cahya langsung menatap ke arahku dan mengedip-ngedipkan kedua matanya. "Kalian pacaran?"

Aku menggeleng. "Enggak, saya ajak dia karena dia sudah buat penjualan kita kemarin naik seratus persen," jawabku tenang. Pacaran? Sepertinya boleh juga.

Cahya manggut-manggut. "Kirain kalian pacaran."

"Kamu suka Sandrina?"

Cahya menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Sansan mah susah didekati. Dia itu sibuk sama dunia dan pemikirannya sendiri."

Aku menaikkan sebelah alisku. "Masa?"

Cahya mengangguk. "Iya, dia itu suka nggak percaya kalau ada orang yang suka sama dia. Kadang malah dianggap candaan aja kalau ada yang bilang suka sama dia."

"Kok bisa?" tanyaku heran.

Cahya mengedikkan bahunya. "Coba aja sama Bapak kalau nggak percaya."

"Sudah saya coba," kataku.

"Ba-bapak bilang suka sama dia?" tanya Cahya tidak percaya.

Aku mengangguk. "Dia bilang saya bercanda."

"Kan apa saya bilang."

"Tapi, memang saya cuma bercanda," kataku menambahkan.

Cahya tertawa. "Baguslah."

"Kok bagus?" tanyaku dengan kening mengerut, jangan-jangan Cahya suka dengan Sandrina.

"Ya bagus berarti si Sansan nggak baperan," jawab Cahya.

"Bukan karena kamu suka dia?" tanyaku menyelidik.

Cahya kembali tertawa. "Kalau mau sama dia, udah lama saya ajakin nikah Pak."

Aku lega. Loh? Kenapa lega? Kan aku nggak suka Sandrina.

***

Aku sedang mengecek list bahan baku yang direkomendasikan oleh tim formulator dari pabrik yang bekerja sama dengan perusaanku ketika terdengar suara ketukan pintu, ternyata ibuku.

"Ma." Aku langsung berdiri untuk menyambut kedatangannya. Terlihat ia membawakan sebuah kantong yang bisa kupastikan adalah makanan.

"Mama bawain makanan buat kamu makan nanti di apartemen," ucap wanita yang sudah melahirkanku ini.

Aku mengangguk. "Makasih."

Aku menatap ibuku yang juga sedang menatapku. Aku yakin kedatangannya bukan hanya ingin membawakanku makanan tapi pasti membicarakan pernikahan dan segala macamnya.

"Ga," katanya.

"Hmm."

Kulihat ibuku menghela nafas. "Kapan kamu mau bawa calon mantu ke rumah."

Aku tidak menjawab. Jujur, aku sudah malas menjawab pertanyaan yang bahkan aku sendiri pun tidak tahu jawabannya apa.

"Nanti kalau udah ketemu pasti dibawa."

"Kapan?"

"Ya nanti kalau udah ada."

"Memang kamu nggak mau beneran sama Michelle?"

Aku mendengkus. "Aku nggak suka sama dia."

"Terus kamu sukanya sama siapa?"

Aku mengendik.

"Ga... mau sampai kapan kamu sendiri terus? Mama sama Papa udah tua, pengen lihat kamu bahagia."

"Aku bahagia." Aku tidak mengerti mengapa kebahagian harus diidentikkan dengan memiliki pasangan, padahal aku hidup sendiri saja sudah bahagia apalagi ada Sandrina. Loh? Kenapa jadi Sandrina, apakah aku sebenarnya suka padanya. Entahlah aku belum bisa memastikan hal yang kurasakan adalah suka atau hanya karena suka menggodanya saja.

"Ga... Mama pengen lihat kamu berumah tangga. Mama pengen lihat kamu ada yang ngurus," ucap ibuku.

"Kalau cuma mau lihat ada yang ngurus, ya hire aja pengasuh," kataku.

Tampaknya ibuku kesal, karena ia langsung berdiri dan menggerutu. "Kamu tuh nggak ngerti."

"Ma, jodoh itu misteri. Nanti juga kalau udah ketemu pasti aku nikah. Memangnya Mama mau aku salah pilih pasangan?"

Ibuku menatapku. "Ya nggak mau sih, tapi jangan kelamaan juga nungguin misteri. Sekali-sekali si misteri itu di cari."

Aku terkekeh. "Iya nanti dicari. Mama mending shopping biar happy."

***

Aku sering pulang malam bukan karena banyak pekerjaan tapi karena memang tidak ada yang harus kukerjakan di rumah. Jadi, dibandingkan kelayapan lebih baik aku mengerjakan apa yang bisa kukerjakan. Seperti malam ini, aku masih betah berada di ruanganku. Cahya dan karyawan yang lain sudah pulang. Aku tidak pernah menahan mereka untuk tetap berada di kantor karena memang sudah waktunya untuk pulang. Merasa cukup lelah, aku menutup laptopku dan bersiap untuk pulang.

"Langsung pulang Pak?" tanya Pak Danang yang selalu setia mengantar dan menjemputku.

Saat akan menjawab, sekilas aku melihat ID card yang tadi Cahya perlihatkan padaku. "Ke kost Sandrina dulu Pak. ID Card-nya ketinggalan. Kasihan besok kalau masuk kerja dia nggak bisa naik."

Pak Danang mengangguk. Untung saja kemarin aku mengantarkan Sandrina sampai gerbang kost-nya jadi aku sudah tahu di mana ia tinggal selama ini.

"San, saya di bawah," kataku ketika baru sampai di depan kost-an Sandrina.

Tersenyum mendengar omelan Sandrina karena merasa waktu istrihatnya terganggu. Pasti mimik wajahnya sangat menggemaskan.

Meskipun terdengar enggan tapi Sandrina akhirnya turun untuk menemuiku. Sepertinya ia benar-benar sakit karena kulihat ia menggunakan jaket tebal.

"Ada apa ya Pak?" tanya Sandrina ketika sudah berada di hadapanku sembari menunduk.

Aku merendahkan pandanganku untuk melihat wajahnya. "Kamu beneran alergi?"

Sandrina langsung mendongak dan menatapku dengan pandangan sengit. "Bapak nggak lihat muka saya bengkak?"

Aku menahan tawa ketika melihat wajah Sandrina yang lebih besar dari biasanya dan berwarna merah. "Kok bisa?"

"Ya bisalah, namanya juga alergi," jawab Sandrina ketus. "Bapak ngapain sih ke sini? Ini kan udah bukan jam kerja."

Aku menyodorkan ID card miliknya. "Ngembaliin ini."

Sandrina tidak langsung menjawab tapi malah menatap wajahku. "Bapak repot-repot banget sampe bawa ke sini. Padahal titip di resepsionis aja."

Aku menaikkan sebelah alisku. "Udah baik saya antar langsung ke sini."

Kulihat bibir Sandrina manyun. Kok jadi pengen dia manyun tepat di bibirku ya. Aku harus segera pulang, lama-lama di dekat Sandrina membuatku tidak waras. Apa karena sendiri terlalu lama?

"San, kamu beneran alergi? Alergi seafood?" tanyaku.

Sandrina mengangguk. "Iya Pak, ternyata saya alergi seafood."

"Kenapa kamu nggak bilang?"

"Ya saya juga baru tahu Pak, Biasanya saya makan biasa aja. Mungkin saya alergi seafood yang harganya mahal makanya jadi jontor sama bengkak."

"Kamu nggak jontor," ucapku, sembari memperhatikan bibirnya yang ternyata mungil dan lucu.

"Udah mendingan Pak, semalem sih jontor kayak digigit tawon," jawabnya.

"Kalau digigit saya, bakal jontor nggak?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Balada Perawan Tua   17. Dibeli Pake Cinta

    Setelah perbincangan tentang cucu, aku merasa tidak tenang. Karena pandangan si Bapak yang konon katanya akan menjadi suamiku semakin intens. Aduh! Kok aku jadi merinding."San-san, kapan-kapan main ke ke rumah Mama." Kami sudah selesai makan dan kedua orang tua Pak Anggara mengatakan akan langsung pulang.Aku mengangguk sembari melepas kepergian mereka. Di sebelahku, Pak Anggara masih tetap menatapku."Bapak ih, ngeliatin terus. Serem tahu!" Pria itu malah terkekeh. "Tahu nggak, saya lagi bayangin waktu bikin cucu buat Mama Papa sama kamu," bisiknya dengan seringai jahil yang sering ia perlihatkan akhir-akhir ini.Aku bergidik ngeri. Ia malah tertawa."Suka ih, godain kamu."Aku melengos. Pria ini berbeda sekali dengan kesehariannya di kantor. "San, kita jalan-jalan dulu yuk," ajaknya."Jalan ke mana?" tanyaku."Ya kemana aja, masih pengen berduaan sama kamu soalnya," katanya.Kok aku takut ya mendengarnya. Aku menyipitkan mata. "Bapak nggak akan berbuat aneh-aneh kan?"Pak Anggara

  • Balada Perawan Tua   16. Punya Anak

    Teman-temanku tidak percaya jika aku dan atasanku tidak benar-benar menjalin hubungan istimewa. "Nggak usah malu San, kita tahu kok." Begitu kira-kira ucapan mereka setiap kali aku menyangkal. Mayang pun menjadi getol menggodaku, ada saja pembahasan tentang atasanku di sela-sela perbincangan kami. Bahkan ketika membicarakan tentang makanan pun ujung-ujungnya pasti nama Pak Anggara muncul dalam pembahasan. "Kamu kalau naksir bapake ngaku aja May," kataku sembari geleng-geleng kepala."Kak San nggak usah cemburu gitu deh, aku bukan orang yang suka nikung laki orang kok. Aku mah setia sama si gedung sebelah aja." Mayang malah menggoda. Aku mencebik. "Yang sebelah mana? Kiri atau kanan?" "Kanan dong, kan sebelah kanan lebih baik," jawabnya sembari menaik-turunkan kedua alisnya. "Kayak orang yang ada di sebelah Kak San, itu yang terbaik buat Kak San." Mayang melirik ke arah sebelah kananku, dari wangi parfumnya sih aku bisa pastikan yang berada di sana adalah atasanku. "San, nanti ka

  • Balada Perawan Tua   15. Rukiyah

    Aku kira ucapan Pak Anggara perihal pertemuannya dengan kedua orang tuaku hanya bualan belaka ternyata semua itu adalah nyata. Buktinya pagi-pagi sekali ibuku menelepon hanya untuk mengabari jika kemarin ada calon menantu yang berkunjung ke rumah kami."Pantesan kamu nggak mau Mama kenalin sama cowok, ternyata udah punya pacar," katanya tanpa basa-basi. "Pacar ganteng nggak pernah dibawa ke rumah.""Aku nggak pacaran Ma.""Nggak pacaran gimana? Kalau nggak pacaran, mana mungkin si Angga datang ke rumah." Suara mamaku berada di antara sewot dan senang.Aku menghela nafas lelah. "Beneran Ma, dia itu emang suka becanda. Lagian dia itu kan boss aku di kantor mana mungkin kita pacaran.""Udah deh jangan banyak alasan, pokoknya minggu depan kamu pulang. Angga sama keluarganya mau silaturahmi."Aku mengerutkan kening. "Serius?""Ya serius, dia sendiri yang bilang," jawab mamaku tercinta.Aku memijat pelipisku yang mendadak pening. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh atasanku yang un

  • Balada Perawan Tua   14. Memintamu

    "Ciee... calon mantunya Ibu," goda Mayang.Aku mendelik. Sungguh di luar prediksi saudara-saudara. Aku tidak pernah menyangka jika orang tua Pak Boss yang ngaku-ngaku mau jadi Bapak-nya anak-anakku itu akan berkunjung. Alhasil sebutan Nyonya Boss berubah menjadi calon mantunya Ibu, kampret sekali memang teman-temanku itu."Bentar lagi kantor kita hajatan guys!" Mba Diah yang mengatakan hal itu. "Waduh! Harus siap-siap nyari kado nih," tambah Pak Harun.Aku manyun. "Hey! Calon mantunya Ibu, tolong bilangin dong sama anaknya Ibu buat approve budget." Kali ini Mas Cahya yang menggodaku.Aku mendelik. "Nyebelin!"Mas Cahya tertawa. "Siapa yang nyebelin? Aku sih nggak mungkin nyebelin, pasti yang nyebelin anaknya Ibu ya?"Aku kembali manyun. Mas Cahya tentu saja tertawa.Aku menatap Mayang yang sedang menatapku sambil tersenyum lebar. "Aku senang Kak San akhirnya mau menikah.""Siapa yang mau nikah May," kataku sewot."Lah, memangnya Kak San mau jomlo seumur hidup?" tanya Mayang kaget.A

  • Balada Perawan Tua   13. Calon Mantu Ibu

    "Mas Cahya, tolong infoin ke Bapak dong approve perubahan SOP yang aku kirim. Dari kemaren belom di approve sedangkan aku harus sosialisasi besok," pinta Sandrina."Kamu telepon aja San, dia pasti angkat," kata Cahya."Mas Cahya aja yang nelepon, please!" Sandrina memohon."Kamu ini, masa sama calon suami sendiri nggak berani nelepon." Cahya berkata sembari menggeleng-gelengkan kepala.Mayang tentu saja terlihat penasaran dengan kalimat yang baru saja diucapkan Cahya."Nggak usah gosip deh Mas." Sandrina manyun."Iya nanti aku bilangin," ucap Cahya. "Emang Bapak kemana sih Mas? Bukannya dinas luarnya udah beres ya?" tanya Mayang."Cuti katanya, mau ketemu calon mertua." Cahya melirik Sandrina, namun sayang yang dilirik tampak sibuk dengan layar komputernya."Bapake udah mau nikah?" tanya Mayang lagi.Cahya manggut-manggut. "Sepertinya gitu. Ya kita doakan yang terbaik aja buat si Bapak dan calon istrinya." Lagi-lagi Cahya melirik Sandrina."Mas Cahya?!" panggil Mayang. "Calonnya Bapa

  • Balada Perawan Tua   12. Tahu Sesuatu?

    Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi tidak bisa, yang aku bisa hanya berteriak dalam hati. Bagaimana caranya, ya teriak saja. Selain berteriak aku ingin menangis karena ketidakberdayaanku berkata tidak karena takut menyinggung perasaan orang tua Pak Anggara. Ah! Sial! Kenapa jiwa membela diriku seperti kerupuk kena angin, sebal! Rasa takut kehilangan pekerjaan ternyata lebih besar dibandingkan mengatakan hal sebenarnya pada kedua orang tua atasanku yang dengan menyebalkannya malah senyum-senyum tidak jelas."Kalau minggu depan kita silaturahmi ke orang tua kamu gimana, sayang?" Pertanyaan yang membuat bulu kudukku berdiri diajukan oleh Meiske, ibu Pak Anggara.Aku mengedip-ngedipkan mata tidak percaya dengan apa yang didengar indra pendengaranku. "Bisa Ma, aku emang rencana mau ke sana," jawab Pak Anggara yang membuat kedua orang tuanya tersenyum senang."Syukurlah kalau kamu sudah ada inisiatif. Hal baik jangan ditunda-tunda, iya kan Pa," ucap Bu Meiske pada suaminya. Aduh!

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status