Início / Romansa / Balada Perawan Tua / 8. Salah Tidak Sih?

Compartilhar

8. Salah Tidak Sih?

Autor: Rahayu Veni
last update Última atualização: 2025-03-22 10:08:10
Terkadang aku berpikir, mengapa aku masih jomlo di usia di mana kebanyakan orang-orang sudah berkeluarga? Kan kalau sudah berkeluarga aku tidak harus malas pulang ke rumah orang tuaku. Sebenarnya bukan malas bertemu orang tua, tapi malas dengan kejulidan tetangga yang makin merajalela.

Jika harus pulang pun aku lebih memilih tidak keluar rumah karena malas meladeni pertanyaan mereka yang tidak jauh dari masalah jodoh. Apalagi mayoritas gadis-gadis di kampungku sudah banyak yang menikah. Aku ingin menghilang saja jika sedang pulang ke sana. Seperti saat ini, malas sekali aku keluar dari rumah.

"Neng, cepetan atuh!" ucap mama yang tadi meminta tolong dibelikan garam dan gula.

Aku mendengkus lalu berjalan untuk menuju warung terdekat sambil berdoa tidak ada ibu-ibu julid yang berbelanja di sana.

“Beli!” Aku sudah berada di warung terdekat dan beruntung tidak ada seorangpun yang sedang berbelanja di sana.

Tidak lama ada ibu pemilik warung datang. "Eh, ada Neng San-san," katanya. "Lagi l
Rahayu Veni

Hi, semoga suka dengan ceritaku ini. Teman-teman jangan segan komen dan kasih kritik juga saran ya. Makasih 😘

| Curtir
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Balada Perawan Tua   15. Rukiyah

    Aku kira ucapan Pak Anggara perihal pertemuannya dengan kedua orang tuaku hanya bualan belaka ternyata semua itu adalah nyata. Buktinya pagi-pagi sekali ibuku menelepon hanya untuk mengabari jika kemarin ada calon menantu yang berkunjung ke rumah kami."Pantesan kamu nggak mau Mama kenalin sama cowok, ternyata udah punya pacar," katanya tanpa basa-basi. "Pacar ganteng nggak pernah dibawa ke rumah.""Aku nggak pacaran Ma.""Nggak pacaran gimana? Kalau nggak pacaran, mana mungkin si Angga datang ke rumah." Suara mamaku berada di antara sewot dan senang.Aku menghela nafas lelah. "Beneran Ma, dia itu emang suka becanda. Lagian dia itu kan boss aku di kantor mana mungkin kita pacaran.""Udah deh jangan banyak alasan, pokoknya minggu depan kamu pulang. Angga sama keluarganya mau silaturahmi."Aku mengerutkan kening. "Serius?""Ya serius, dia sendiri yang bilang," jawab mamaku tercinta.Aku memijat pelipisku yang mendadak pening. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh atasanku yang un

  • Balada Perawan Tua   14. Memintamu

    "Ciee... calon mantunya Ibu," goda Mayang.Aku mendelik. Sungguh di luar prediksi saudara-saudara. Aku tidak pernah menyangka jika orang tua Pak Boss yang ngaku-ngaku mau jadi Bapak-nya anak-anakku itu akan berkunjung. Alhasil sebutan Nyonya Boss berubah menjadi calon mantunya Ibu, kampret sekali memang teman-temanku itu."Bentar lagi kantor kita hajatan guys!" Mba Diah yang mengatakan hal itu. "Waduh! Harus siap-siap nyari kado nih," tambah Pak Harun.Aku manyun. "Hey! Calon mantunya Ibu, tolong bilangin dong sama anaknya Ibu buat approve budget." Kali ini Mas Cahya yang menggodaku.Aku mendelik. "Nyebelin!"Mas Cahya tertawa. "Siapa yang nyebelin? Aku sih nggak mungkin nyebelin, pasti yang nyebelin anaknya Ibu ya?"Aku kembali manyun. Mas Cahya tentu saja tertawa.Aku menatap Mayang yang sedang menatapku sambil tersenyum lebar. "Aku senang Kak San akhirnya mau menikah.""Siapa yang mau nikah May," kataku sewot."Lah, memangnya Kak San mau jomlo seumur hidup?" tanya Mayang kaget.A

  • Balada Perawan Tua   13. Calon Mantu Ibu

    "Mas Cahya, tolong infoin ke Bapak dong approve perubahan SOP yang aku kirim. Dari kemaren belom di approve sedangkan aku harus sosialisasi besok," pinta Sandrina."Kamu telepon aja San, dia pasti angkat," kata Cahya."Mas Cahya aja yang nelepon, please!" Sandrina memohon."Kamu ini, masa sama calon suami sendiri nggak berani nelepon." Cahya berkata sembari menggeleng-gelengkan kepala.Mayang tentu saja terlihat penasaran dengan kalimat yang baru saja diucapkan Cahya."Nggak usah gosip deh Mas." Sandrina manyun."Iya nanti aku bilangin," ucap Cahya. "Emang Bapak kemana sih Mas? Bukannya dinas luarnya udah beres ya?" tanya Mayang."Cuti katanya, mau ketemu calon mertua." Cahya melirik Sandrina, namun sayang yang dilirik tampak sibuk dengan layar komputernya."Bapake udah mau nikah?" tanya Mayang lagi.Cahya manggut-manggut. "Sepertinya gitu. Ya kita doakan yang terbaik aja buat si Bapak dan calon istrinya." Lagi-lagi Cahya melirik Sandrina."Mas Cahya?!" panggil Mayang. "Calonnya Bapa

  • Balada Perawan Tua   12. Tahu Sesuatu?

    Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi tidak bisa, yang aku bisa hanya berteriak dalam hati. Bagaimana caranya, ya teriak saja. Selain berteriak aku ingin menangis karena ketidakberdayaanku berkata tidak karena takut menyinggung perasaan orang tua Pak Anggara. Ah! Sial! Kenapa jiwa membela diriku seperti kerupuk kena angin, sebal! Rasa takut kehilangan pekerjaan ternyata lebih besar dibandingkan mengatakan hal sebenarnya pada kedua orang tua atasanku yang dengan menyebalkannya malah senyum-senyum tidak jelas."Kalau minggu depan kita silaturahmi ke orang tua kamu gimana, sayang?" Pertanyaan yang membuat bulu kudukku berdiri diajukan oleh Meiske, ibu Pak Anggara.Aku mengedip-ngedipkan mata tidak percaya dengan apa yang didengar indra pendengaranku. "Bisa Ma, aku emang rencana mau ke sana," jawab Pak Anggara yang membuat kedua orang tuanya tersenyum senang."Syukurlah kalau kamu sudah ada inisiatif. Hal baik jangan ditunda-tunda, iya kan Pa," ucap Bu Meiske pada suaminya. Aduh!

  • Balada Perawan Tua   11. Lamaran, Tunangan, Siraman, Nikahan

    Sandrina tentu saja terkejut ketika mendengar ucapan Anggara yang tiba-tiba. Siapa yang tidak akan terkejut disebut calon istri oleh seseorang, terlebih orang itu adalah pemilik perusahaan tempat kita mencari nafkah. Sandrina langsung mengibas-ngibaskan tangannya. "Bu-bu..." Namun perkataannya tidak bisa dilanjutkan karena Anggara langsung mengapit lengannya dan mengatakan dengan tegas pada ibunya bahwa Sandrina adalah calon istrinya.Meiske, ibu kandung Anggara, terlihat sumringah ketika mendengar dengan jelas bahwa wanita manis di depannya adalah kekasih anak semata wayangnya. Pantas saja anaknya itu tidak pernah mau dikenalkan atau mencoba berhubungan dengan wanita yang ia kenalkan."Jadi, kalian kenal di mana?" tanya Meiske. Mereka sedang berada di sebuah restauran yang menyajikan makanan khas Thailand.Sandrina memandang Anggara."Temen di kantor," jawab Anggara.Mata Meiske membola. "Kamu kerja di tempat Angga?"Sandrina mengangguk takut-takut. Jujur, ia takut seperti di drama-

  • Balada Perawan Tua   10. Calon Aku

    Aku tersenyum ketika melihat wajah Sandrina memberengut saat membaca pesanku yang terakhir. Sungguh menggemaskan sekali. Entah mengapa menjahili Sandrina menjadi kebahagian sendiri untukku akhir-akhir ini. Semacam hiburan di tengah-tengah teror blind date yang sering ibuku rencanakan. Bukan aku tidak tahu jika ibuku ingin segera melihatku berkeluarga. Aku tidak menyalahkan sikap ibuku. Ia pasti khawatir anak semata wayangnya ini tidak akan ada yang menemani di hari tua nanti. Namun, terkadang aku merasa kesal juga jika terus-terusan harus berkenalan dengan anak temannya. Aku kembali menatap Sandrina dari balik kaca ruanganku. Ia sedang dalam mode serius namun kulihat sesekali ia berdiskusi dengan Mayang bahkan tersenyum. Senyumnya yang dulu terlihat biasa saja entah mengapa menjadi terlihat sangat istimewa.Ketika aku sedang larut dalam lamunanku tentang Sandrina, ada seseorang mengetuk pintu. Ternyata Cahya. Ia menginformasikan laporan yang harus segera aku review dan mengingatakan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status