Home / Romansa / Balada Perawan Tua / 8. Salah Tidak Sih?

Share

8. Salah Tidak Sih?

Author: Rahayu Veni
last update publish date: 2025-03-22 10:08:10
Terkadang aku berpikir, mengapa aku masih jomlo di usia di mana kebanyakan orang-orang sudah berkeluarga? Kan kalau sudah berkeluarga aku tidak harus malas pulang ke rumah orang tuaku. Sebenarnya bukan malas bertemu orang tua, tapi malas dengan kejulidan tetangga yang makin merajalela.

Jika harus pulang pun aku lebih memilih tidak keluar rumah karena malas meladeni pertanyaan mereka yang tidak jauh dari masalah jodoh. Apalagi mayoritas gadis-gadis di kampungku sudah banyak yang menikah. Aku ing
Rahayu Veni

Hi, semoga suka dengan ceritaku ini. Teman-teman jangan segan komen dan kasih kritik juga saran ya. Makasih 😘

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Balada Perawan Tua   18. First Date Ceunah!

    Niat hati sepulang kerja langsung rebahan di kamar kost tercinta nyatanya malah terdampar di sebuah restauran yang menyajikan masakan China. Enak sih makan malam gratis, tapi malas karena di depanku adalah dia. Iya dia, dia yang menyebut mamaku ibu mertua."Sayang, ini first date kita loh!" ucap Pak Anggara. Sepertinya aku harus mulai mengoreksi nama panggilan jika benar-benar akan menikahinya. Tapi susah pemirsa sudah terbisa memanggilnya bapak.Aku mendengkus, tidak menyahut tapi dalam hati menyetujui. Hari ini memang kali pertama kami pergi berdua setelah rangkaian acara silaturahmi berujung pertunangan tempo hari."Jangan terlalu pedas," katanya. Aku mengerenyit, mana enak malatang tidak pedas karena namanya saja sudah malatang yang artinya sup pedas. Aneh-aneh saja memang dia. Jika memang tidak mau makan yang pedas harusnya makan martabak manis kan ya?!"Mana enak," sahutku.Pak Anggara menggelengkan kepala. Ia memang memesan sup yang tidak pedas karena seingatmu bapak satu ini me

  • Balada Perawan Tua   17. Dibeli Pake Cinta

    Setelah perbincangan tentang cucu, aku merasa tidak tenang. Karena pandangan si Bapak yang konon katanya akan menjadi suamiku semakin intens. Aduh! Kok aku jadi merinding."San-san, kapan-kapan main ke ke rumah Mama." Kami sudah selesai makan dan kedua orang tua Pak Anggara mengatakan akan langsung pulang.Aku mengangguk sembari melepas kepergian mereka. Di sebelahku, Pak Anggara masih tetap menatapku."Bapak ih, ngeliatin terus. Serem tahu!" Pria itu malah terkekeh. "Tahu nggak, saya lagi bayangin waktu bikin cucu buat Mama Papa sama kamu," bisiknya dengan seringai jahil yang sering ia perlihatkan akhir-akhir ini.Aku bergidik ngeri. Ia malah tertawa."Suka ih, godain kamu."Aku melengos. Pria ini berbeda sekali dengan kesehariannya di kantor. "San, kita jalan-jalan dulu yuk," ajaknya."Jalan ke mana?" tanyaku."Ya kemana aja, masih pengen berduaan sama kamu soalnya," katanya.Kok aku takut ya mendengarnya. Aku menyipitkan mata. "Bapak nggak akan berbuat aneh-aneh kan?"Pak Anggara

  • Balada Perawan Tua   16. Punya Anak

    Teman-temanku tidak percaya jika aku dan atasanku tidak benar-benar menjalin hubungan istimewa. "Nggak usah malu San, kita tahu kok." Begitu kira-kira ucapan mereka setiap kali aku menyangkal. Mayang pun menjadi getol menggodaku, ada saja pembahasan tentang atasanku di sela-sela perbincangan kami. Bahkan ketika membicarakan tentang makanan pun ujung-ujungnya pasti nama Pak Anggara muncul dalam pembahasan. "Kamu kalau naksir bapake ngaku aja May," kataku sembari geleng-geleng kepala."Kak San nggak usah cemburu gitu deh, aku bukan orang yang suka nikung laki orang kok. Aku mah setia sama si gedung sebelah aja." Mayang malah menggoda. Aku mencebik. "Yang sebelah mana? Kiri atau kanan?" "Kanan dong, kan sebelah kanan lebih baik," jawabnya sembari menaik-turunkan kedua alisnya. "Kayak orang yang ada di sebelah Kak San, itu yang terbaik buat Kak San." Mayang melirik ke arah sebelah kananku, dari wangi parfumnya sih aku bisa pastikan yang berada di sana adalah atasanku. "San, nanti ka

  • Balada Perawan Tua   15. Rukiyah

    Aku kira ucapan Pak Anggara perihal pertemuannya dengan kedua orang tuaku hanya bualan belaka ternyata semua itu adalah nyata. Buktinya pagi-pagi sekali ibuku menelepon hanya untuk mengabari jika kemarin ada calon menantu yang berkunjung ke rumah kami."Pantesan kamu nggak mau Mama kenalin sama cowok, ternyata udah punya pacar," katanya tanpa basa-basi. "Pacar ganteng nggak pernah dibawa ke rumah.""Aku nggak pacaran Ma.""Nggak pacaran gimana? Kalau nggak pacaran, mana mungkin si Angga datang ke rumah." Suara mamaku berada di antara sewot dan senang.Aku menghela nafas lelah. "Beneran Ma, dia itu emang suka becanda. Lagian dia itu kan boss aku di kantor mana mungkin kita pacaran.""Udah deh jangan banyak alasan, pokoknya minggu depan kamu pulang. Angga sama keluarganya mau silaturahmi."Aku mengerutkan kening. "Serius?""Ya serius, dia sendiri yang bilang," jawab mamaku tercinta.Aku memijat pelipisku yang mendadak pening. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh atasanku yang un

  • Balada Perawan Tua   14. Memintamu

    "Ciee... calon mantunya Ibu," goda Mayang.Aku mendelik. Sungguh di luar prediksi saudara-saudara. Aku tidak pernah menyangka jika orang tua Pak Boss yang ngaku-ngaku mau jadi Bapak-nya anak-anakku itu akan berkunjung. Alhasil sebutan Nyonya Boss berubah menjadi calon mantunya Ibu, kampret sekali memang teman-temanku itu."Bentar lagi kantor kita hajatan guys!" Mba Diah yang mengatakan hal itu. "Waduh! Harus siap-siap nyari kado nih," tambah Pak Harun.Aku manyun. "Hey! Calon mantunya Ibu, tolong bilangin dong sama anaknya Ibu buat approve budget." Kali ini Mas Cahya yang menggodaku.Aku mendelik. "Nyebelin!"Mas Cahya tertawa. "Siapa yang nyebelin? Aku sih nggak mungkin nyebelin, pasti yang nyebelin anaknya Ibu ya?"Aku kembali manyun. Mas Cahya tentu saja tertawa.Aku menatap Mayang yang sedang menatapku sambil tersenyum lebar. "Aku senang Kak San akhirnya mau menikah.""Siapa yang mau nikah May," kataku sewot."Lah, memangnya Kak San mau jomlo seumur hidup?" tanya Mayang kaget.A

  • Balada Perawan Tua   13. Calon Mantu Ibu

    "Mas Cahya, tolong infoin ke Bapak dong approve perubahan SOP yang aku kirim. Dari kemaren belom di approve sedangkan aku harus sosialisasi besok," pinta Sandrina."Kamu telepon aja San, dia pasti angkat," kata Cahya."Mas Cahya aja yang nelepon, please!" Sandrina memohon."Kamu ini, masa sama calon suami sendiri nggak berani nelepon." Cahya berkata sembari menggeleng-gelengkan kepala.Mayang tentu saja terlihat penasaran dengan kalimat yang baru saja diucapkan Cahya."Nggak usah gosip deh Mas." Sandrina manyun."Iya nanti aku bilangin," ucap Cahya. "Emang Bapak kemana sih Mas? Bukannya dinas luarnya udah beres ya?" tanya Mayang."Cuti katanya, mau ketemu calon mertua." Cahya melirik Sandrina, namun sayang yang dilirik tampak sibuk dengan layar komputernya."Bapake udah mau nikah?" tanya Mayang lagi.Cahya manggut-manggut. "Sepertinya gitu. Ya kita doakan yang terbaik aja buat si Bapak dan calon istrinya." Lagi-lagi Cahya melirik Sandrina."Mas Cahya?!" panggil Mayang. "Calonnya Bapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status