INICIAR SESIÓN“Saya bukan Aurora. Tolong hentikan semua ini. Saya bukan perempuan yang anda inginkan.”
“Sebenar lagi kita menikah. Bicaralah lebih non formal. Rasanya telingaku panas mendengar cara bicaramu yang seperti bawahanku.”
Milea menelan ludah susah payah.
****
Mereka tiba 2 jam lalu di sebuah rumah besar milik Ardito. Yang membuat Milea terkejut adalah ketika melihat halaman rumah itu sudah didekorasi untuk sebuah acara. Lalu, saat masuk ke dalam rumah, sudah ada banyak orang yang sedang sibuk mengatur ini itu. Lalu ia dibawa ke sebuah kamar.
Di dalam kamar itu dua orang perempuan berusia sekitar 30 tahun sudah menunggunya. Perempuan itu langsung memintanya untuk membersihkan tubuh. Setelah mandi, Milea harus memakai gaun pengantin.
Semua berjalan begitu cepat. Waktu seolah tidak memberi tempat bagi Milea untuk sekedar memikirkan apa yang terjadi. Dalam sekejap ia sudah dimake up sedemikian rupa, dan siap dengan penampilan sebagai seorang calon pengantin.
Milea yang sedang berada di tempat asing, dengan orang-orang yang sama sekali tidak dikenal olehnya itu kebingungan. Benar-benar kebingungan, tidak tahu harus melakukan apa. Tas beserta isinya tak lagi berada di tangannya. Pria yang dipanggil Ardito dengan nama Kai itu mengambil tas miliknya.
Setelah selesai merias dirinya, dua perempuan itu keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Milea dengan satu kalimat. “Tunggu di sini dulu, sebentar lagi acara akan dimulai.”
****
“Aku … aku … aku Milea. Maafkan aku karena berperan sebagai Aurora saat menemui pria suruhanmu itu. Aku benar-benar minta maaf. Tolong biarkan aku pergi. Ini salah. Kamu salah orang. Aku bukan Aurora. Aurora … dia, dia tidak mau menemuimu karena dia sudah punya kekasih.”
Milea berdiri di samping Ardito yang sedang memperhatikan penampilannya di depan cermin besar. Pria itu masuk ke dalam kamar tempat Milea dirias, tak lama setelah dua perempuan itu pergi. Dan Milea berusaha menggunakan kesempatan berdua dengan Ardito itu untuk menjelaskan pada Ardito. Mengakui siapa dirinya yang sebenarnya. Berharap Ardito percaya, dan melepaskannya.
“Aku tidak bohong kali ini. Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Jadi begitu?” tanya enteng Ardito.
Milea menatap Ardito dari dalam cermin, lalu mengangguk keras beberapa kali. Menegaskan kebenaran dari kalimatnya.
“Jadi kamu sudah punya kekasih, karena itu kamu berusaha menolakku?”
Kelopak mata Milea terbuka lebar, membuat bola mata wanita itu tampak membesar. “Bu-bukan … bukan begitu.” Milea menggeleng keras. “Aku … bukan aku yang punya pacar.” Milea berusaha mengoreksi pemahaman Ardito yang salah. Sekali lagi Milea menelan saliva saat mendapati tatapan tajam dari dalam cermin.
Milea merasakan paru-parunya menyempit dengan cepat. “Namaku Milea. Milea Kartika Renjani.” Milea mengedip saat akhirnya Ardito memutar langkah 45 derajat ke kanan, hingga kini pria itu berdiri menghadap ke arahnya. Ia berhasil mendapatkan perhatian penuh dari sang komisaris.
Milea memberanikan diri untuk membuka jati dirinya yang sebenarnya. Dia tidak ingin melakukan hal yang kelak akan membuatnya menyesal. Milea mengangkat sedikit kepalanya, hingga kini pandangan mata mereka terpaut. Wanita itu memasukkan oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-paru, sebelum membelah sepasang bibirnya.
“Aku berteman dekat dengan Aurora sejak di bangku kuliah. Aku orang miskin. Bisa berkuliah karena beasiswa. Sedang Aurora, dia anak orang kaya. Orang miskin ini berteman dengan Aurora yang kaya. Dia banyak membantu keuanganku setelah itu. Aku tinggal sendirian di Jakarta. Di kos. Sebagai timbal balik, aku membantu pelajaran Aurora.”
“Meskipun hubungan kami timbal balik, tapi, kami bersahabat dekat. Dia akan selalu berada di sampingku saat aku kesulitan, begitupun sebaliknya.” Milea melanjutkan ceritanya.
“Termasuk dengan pertemuan itu. Karena Aurora tidak ingin menikah denganmu, dia memintaku berpura-pura menjadi dirinya. Sebenarnya aku–”
“Sudah, cukup Ara. Ceritamu itu pantas dijadikan novel, atau bahkan film layar lebar. Aku tidak tahu kamu ternyata pandai membuat cerita.”
“Aku tidak bohong. Apa kamu tidak tahu siapa Aurora? Seperti apa wajahnya? Tidak mungkin kamu tidak tahu wajah calon istrimu sendiri.” Suara Milea meninggi. Dia mulai kesal karena Ardito masih juga tidak mempercayai penjelasannya. “Kamu bisa cek kartu identitasku." Milea menatap lekat sepasang mata Ardito.
Ardito terdiam. Sepasang rahang pria itu saling menekan. Memang benar, dia tidak merasa perlu mencari tahu seperti apa Aurora sebelumnya. Dia sudah melihat seperti apa wajah kedua orang tua Aurora. Itu cukup untuk memastikan kecantikan calon istirnya,
Wanita itu mengedip ketika mengingat sesuatu. "Ah, semua ada di tasku. Ada buku tabunganku juga. Tolong periksa. Kamu akan percaya setelah melihatnya langsung.”
Milea menatap penuh harap Ardito.
Masih sambil menatap Milea, Ardito menarik keluar ponsel dari balik jas pengantinnya. Milea menunggu apa yang akan Ardito lakukan. Mungkin, Ardito akan memanggil pengawalnya untuk menyeret dirinya keluar dari dalam rumah megahnya, batin Milea dengan degup jantung yang sudah beberapa kali lebih cepat.
Tidak masalah. Yang penting dia tidak dilempar ke laut saja. Itu sudah cukup. Dia akan mencari jalan pulang sendiri. Milea menelan saliva ketika bola mata Ardito kembali menemukan sepasang matanya. Telepon genggam pria itu kini sudah menempel di telinga kanan.
Milea menarik pelan, namun panjang napasnya. Ada harapan besar di dalam d*da yang kini muncul. Harapan yang Milea inginkan menjadi kenyataan. Terlepas dari masalah pelik dengan Ardito dan bisa kembali ke Jakarta.
“Kai, bawakan tas milik Aurora ke sini.”
Harapan Milea bertambah. Tanpa sadar wanita 24 tahun itu tersenyum tipis. Ardito pasti akan percaya pada semua kata-katanya setelah melihat sendiri isi tasnya. Bagus, batin Milea senang. Kini Milea bahkan bisa menghembus napas lega. Berpikir dramanya akan berakhir sebentar lagi.
Saat mendengar suara ketukan pada daun pintu, kepala Milea bergerak cepat ke arah benda persegi panjang yang masih tertutup.
“Masuk.” Suara bariton Ardito terdengar cukup keras. Meminta seseorang yang baru saja mengetuk pintu untuk segera masuk. Pria itu memutar langkah kaki ke arah daun pintu. Menunggu, sementara fokus matanya tertuju pada pergerakan daun pintu, hingga kemudian muncul sang tangan kanan.
Ardito mengangguk, menjawab izin Kai sebelum pria yang berusia satu tahun di bawahnya itu melangkah masuk. Ardito menoleh ke samping. Sepasang alis pria itu berkerut kala melihat kemana arah tatapan Milea.
Ardito menekan-nekan katupan rahangnya. Wanita yang sebentar lagi akan dia nikahi sedang menatap tangan kanannya.
“Ini, Pak.”
Ardito menoleh. Pria itu sempat menatap Kai sebelum kemudian mengambil tas yang terulur di depannya. Pria itu kemudian membuka tas tersebut, lalu mengeluarkan dompet di dalamnya. Ardito mengembalikan tas pada Kai.
Milea membasahi bibir dengan ujung lidah. Wanita yang sudah memakai gaun pengantin lengkap dengan riasannya hingga membuat Kai sempat terkejut itu menarik langkah mendekat ke arah Ardito yang kini sedang membuka dompet miliknya.
Milea tersenyum saat Ardito menoleh ke arahnya. “Benar, kan? Aku Milea, bukan Aurora.” Tarikan napas dalam Milea lakukan. Kini semua sudah jelas, batinnya senang. Sekarang dia tidak harus menikah dengan pria yang tidak seharusnya menjadi miliknya. Sekalipun pria itu tampan dan kaya seperti kriteria yang ia inginkan.
Ardito menarik keluar kartu identitas dari dompet lalu memberikannya pada Milea. Milea tampak kebingungan. Wanita itu sempat mendongak, menatap Ardito dengan wajah bingung, sebelum kemudian mengambil KTP nya dari tangan Ardito.
“Baca sendiri,” perintah Ardito dengan ekspresi wajah datar.
“Oh ….” Mila mengangguk keras. Wanita itu kemudian menurunkan pandangan matanya sambil berkata. “Milea Kar–” Sepasang mata Milea mengerjap beberapa kali. Dua detik kemudian, bola mata itu nyaris melompat keluar dari kelopaknya.
“Ini … ini … ini tidak mungkin.” Milea menggeleng berkali-kali, sementara matanya masih menatap tak percaya sederet nama yang tertulis di KTP. “Ini … ini pasti salah.”
“Masih berniat berbohong? Sudah jelas-jelas kamu itu Aurora Kaya Abimanyu. Kamu pikir bisa lolos dariku dengan kebohonganmu itu?” Suara Ardito masih terdengar tenang. Pria itu menatap wanita di depannya.
Sedangkan Milea masih menatap tak percaya kartu identitas miliknya. Bagaimana bisa kartu identitas yang ada di dalam dompetnya berubah? Nama, tanggal lahir yang tertera adalah milik Aurora. Tapi, wajah di KTP itu adalah wajah dirinya. Bagaimana mungkin bisa begini? Milea benar-benar kebingungan.
“Sekarang waktunya kita menikah, Ara. Tidak ada alasan lagi. Kamu akan segera menjadi istriku.”
“Pak Ardito yang meminta saya untuk tetap tinggal dan menemani anda.”“Tolong bicara biasa saja. Jangan memanggilku nyonya. Jangan memakai kata anda.”“Anda istri bos saya.”“Aku bukan perempuan yang diinginkan bosmu.”Kai tidak menyahut. Pria yang duduk di depan Milea itu hanya menatap datar istri atasannya. Kai menghembus pelan napasnya. Dia diminta sang atasan untuk mengajak keluar wanita itu supaya terhibur.“Namaku Milea. Aku sahabat Aurora. Kalau kamu tidak percaya, coba cari media sosial Aurora. Kamu akan tahu jika aku tidak berbohong.” Milea menatap serius Kai.“Tolong bantu aku. Aku harus kembali ke Jakarta.” Tatapan Milea berubah. Penuh harap.Kai mengambil ponsel di atas meja lalu fokus menggulir layarnya. Beberapa saat kemudian, tanpa mengatakan apapun–Kai meletakkan ponsel miliknya ke depan Milea.Dengan kening mengernyit, Milea menatap Kai sebelum menurunkan pandangan mata. Semula Milea menatap biasa layar benda di depannya, namun dua detik kemudian Milea dengan cepat men
Milea hanya bisa mengumpat sang teman yang ternyata sedang melakukan hal terlarang bersama sang kekasih–Elias. Ponsel sudah tak lagi melekat di telinga, dan panggilan sudah tak lagi tersambung. Milea sudah mematikan sambungan tersebut.Wanita itu berkali-kali menghentak keras napasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Siapa yang bisa ia mintai pertolongan, selain dua orang yang masih bergumul di atas ranjang itu? Milea memukul-mukulkan pelan ponsel di tangan kanan ke telapak tangan kirinya, sementara isi di dalam kepala wanita itu sedang bekerja keras. Haruskah dia menghubungi Zayn? Milea mendesah. Hubungannya dengan Zayn sudah putus satu tahun lalu. Apa yang akan Zayn pikirkan jika ia tiba-tiba menghubungi pria tersebut?Milea resah. Saat ini waktu yang tepat untuk berusaha pergi karena Ardito sedang tidak ada di rumah. Milea tidak tahu bagaimana cara melarikan diri jika pria itu sudah kembali nanti. Jadi, tidak ada pilihan lain. Lupakan prasangka Zayn saat ia menghubungi pr
Milea tak punya kuasa menolak pernikahan tersebut. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi hingga kata ‘SAH’ itu terdengar. Semua terjadi begitu cepat. Pernikahan yang digelar hanya di halaman rumah dan dihadiri oleh tidak lebih dari 50 orang itu benar-benar terjadi. Kilat foto menghujani sang pengantin baru.Semua orang tersenyum. Mereka terlihat ikut berbahagia setelah menjadi saksi pernikahan seorang pengusaha sukses asal Indonesia yang kini menetap di Singapura.Meskipun acara itu tampak sederhana, namun semua makanan mewah yang tersaji, serta dekorasi elegan di tempat berlangsungnya acara, memperlihatkan nilai sang pengantin. “Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian segera mendapatkan momongan.”“Terima kasih.” Ardito mengangguk sambil tersenyum. Pria itu memegang tangan sang istri yang melingkar di lengan kirinya. Ardito mengayun langkah bersama Auroranya. Menyapa tamu di tiap meja sebelum kemudian duduk di meja yang memang disiapkan untuk mereka berdua."Ayo k
“Saya bukan Aurora. Tolong hentikan semua ini. Saya bukan perempuan yang anda inginkan.”“Sebenar lagi kita menikah. Bicaralah lebih non formal. Rasanya telingaku panas mendengar cara bicaramu yang seperti bawahanku.”Milea menelan ludah susah payah.****Mereka tiba 2 jam lalu di sebuah rumah besar milik Ardito. Yang membuat Milea terkejut adalah ketika melihat halaman rumah itu sudah didekorasi untuk sebuah acara. Lalu, saat masuk ke dalam rumah, sudah ada banyak orang yang sedang sibuk mengatur ini itu. Lalu ia dibawa ke sebuah kamar.Di dalam kamar itu dua orang perempuan berusia sekitar 30 tahun sudah menunggunya. Perempuan itu langsung memintanya untuk membersihkan tubuh. Setelah mandi, Milea harus memakai gaun pengantin. Semua berjalan begitu cepat. Waktu seolah tidak memberi tempat bagi Milea untuk sekedar memikirkan apa yang terjadi. Dalam sekejap ia sudah dimake up sedemikian rupa, dan siap dengan penampilan sebagai seorang calon pengantin.Milea yang sedang berada di tempa
“Maaf, saya harus ke toilet.” Milea meremas telapak tangannya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Ardito, tangan wanita itu bergetar. Syok berat. Menikah? Kenapa jadi begini? Milea menurunkan kedua kakinya. Beranjak dari tempat berbaring sebelumnya, Milea memutar kepala, mencari keberadaan tas nya.“Mencari tasmu?” tanya Ardito, melihat Milea mencari-cari sesuatu. Melihat anggukan kepala Milea, Ardito menunjuk sebuah meja di depan Kai.Milea langsung berjalan menuju tempat Kai sedang duduk. Sampai di tempat tersebut, Melia menatap marah Kai, sebelum menyambar tali tasnya. Milea berbalik, hanya untuk kebingungan melihat sekitar. Sepasang mata wanita itu mengerjap saat menyadari sesuatu.Detik berikutnya, Milea terbelalak. Saat ini dia sedang berada di udara? Di atas pesawat? Milea melangkah ke jendela dan melihat awan-awan bertumpuk di luar sana. Fix, Milea kini sadar ia sedang berada di dalam alat transportasi udara.Milea kemudian memutar lagi langkah kakinya. Wanita itu kini berdiri
Milea buru-buru masuk ke dalam sebuah kafe. Dia terlambat 5 menit. Wanita itu mengedarkan pandangan mata–mencari keberadaan seorang pria yang memakai kemeja navy garis-garis. Menurut Aurora–sahabatnya, pria itu kemungkinan berkepala botak, dan perut buncit. Mukanya mungkin dipenuhi jambang dan kumis.Milea bergidik membayangkannya. Langkah kaki wanita itu memelan ketika melihat seorang pria dengan kemeja berwarna navy garis-garis duduk sendirian di sebuah meja. Pria itu sedang menikmati isi di dalam cangkir sambil memperhatikan layar ponsel.Milea menarik napas panjang. Kalau bukan karena Aurora sudah banyak membantunya, dia tidak akan sudi menemui siapapun pria yang dijodohkan dengan sahabatnya itu.“Kamu harus membantuku, Milea. Aku tidak mau menikah dengan pria pilihan papa. Kamu tahu aku sudah punya Elias. Aku hanya akan menikah dengan Elias.”“Lalu aku harus apa?”“Temui laki-laki itu atas namaku. Buat dia ilfeel sama kamu, supaya dia menggagalkan perjodohan itu.”“Kenapa tidak k