Share

Terjebak

Author: NasaNasa
last update publish date: 2026-03-17 18:13:06

“Maaf, saya harus ke toilet.” Milea meremas telapak tangannya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Ardito, tangan wanita itu bergetar. Syok berat. Menikah? Kenapa jadi begini? Milea menurunkan kedua kakinya. 

Beranjak dari tempat berbaring sebelumnya, Milea memutar kepala, mencari keberadaan tas nya.

“Mencari tasmu?” tanya Ardito, melihat Milea mencari-cari sesuatu. Melihat anggukan kepala Milea, Ardito menunjuk sebuah meja di depan Kai.

Milea langsung berjalan menuju tempat Kai sedang duduk. Sampai di tempat tersebut, Melia menatap marah Kai, sebelum menyambar tali tasnya. Milea berbalik, hanya untuk kebingungan melihat sekitar. Sepasang mata wanita itu mengerjap saat menyadari sesuatu.

Detik berikutnya, Milea terbelalak. Saat ini dia sedang berada di udara? Di atas pesawat? Milea melangkah ke jendela dan melihat awan-awan bertumpuk di luar sana. Fix, Milea kini sadar ia sedang berada di dalam alat transportasi udara.

Milea kemudian memutar lagi langkah kakinya. Wanita itu kini berdiri menghadap ke arah Ardito yang mulai beranjak dari tempat duduk. “Apa maksudnya ini? Kemana kamu membawaku?”

“Kita akan kembali ke Singapura.”

“Singapura?" tanya Milea dengan nada terkejut. Wanita itu menggelengkan kepala. "Aku tidak mau. Suruh mereka putar balik. Kembalikan aku ke Jakarta,” pinta Milea.

“Ara, kita akan menikah. Aku tinggal di Singapura. Jadi, kamu juga akan tinggal di Singapura bersamaku.”

“Tu-tunggu. Kita kembali ke Jakarta dulu. Aku … aku belum berpamitan pada orang tuaku. Aku–”

“Aku sudah menghubungi orang tuamu. Mereka juga belum kembali dari liburan mereka. Sudah kukatakan, papamu memberikan izin kita untuk segera menikah.”

Milea menelan saliva susah payah. Wajah wanita 24 tahun itu mendadak pucat. “Aku … aku … aku tidak membawa apapun. Tolong kembali ke Jakarta dulu. Sebentar saja. Aku harus menyiapkan semuanya. Data-dataku. Kita .. kita tidak mungkin bisa menikah tanpa–”

“Aku sudah punya semua data yang dibutuhkan untuk pernikahan kita.”

“A-a-apa?” Bola mata Milea membesar. Wanita itu nyaris limbung begitu melihat Ardito tersenyum sambil menganggukkan kepala. Beruntung Milea masih bisa memaksa kedua kakinya untuk berfungsi dengan baik.

Milea merasakan keringat mulai bergulir di punggungnya. Wanita itu meremas tali tas yang sudah tersampir di bahu sebelah kiri. Milea menatap putus asa Ardito. “Aku .. aku.” Milea kembali menelan saliva.

“Maaf Pak Ardito, tapi … aku ... aku bukan–”

Suara tawa Ardito menghentikan kalimat yang belum sempat Milea sampaikan. Ardito menatap Milea dengan sepasang mata yang sudah mengecil karena pria itu belum berhenti tertawa. 

Saat pertama melihat perempuan di depannya ini melalui kamera ponsel Kai, dia langsung tertarik pada perempuan itu.

Latar belakang sesuai yang ia inginkan, dan paras cantik perempuan yang memiliki hidung cukup tinggi, sepasang mata bulat dengan bulu-bulu panjang nan lentik, serta bibir seksi berwarna kemerahan tersebut membiusnya. Tidak ada keraguan untuk menikahi perempuan dengan ekspresi wajah syok di hadapannya ini.

“Apa sekarang kamu akan mengatakan jika kamu bukan Aurora?” tanya Ardito dengan alis terangkat. Tawa tak lagi terdengar, namun gurat senyum di wajah pria itu masih tampak.

“I-i-iya.” Dengan wajah ketakutan Milea menjawab. Dalam hati Milea meminta maaf pada Aurora. Dia tidak bisa melanjutkan. Sungguh, dia takut sekarang. Sepasang mata Milea sekali lagi mengerjap begitu mendengar tawa Ardito.

Ardito geleng kepala. Butuh beberapa detik sampai pria itu berhenti tertawa lalu segera menjawab. “Dan kamu pikir aku akan percaya? Setakut itu kamu padaku, Ara? Apa wajahku ini menakutkan?”

“Aku … aku mengatakan yang sebenarnya.”

“Kai sudah bilang. Kamu mengaku bukan Aurora saat ia hendak membawamu pergi.” Ardito mengayun langkah kaki mendekati Milea. Pria itu menahan sebelah tangan Milea ketika Milea menarik langkah ke belakang–menjauh darinya.

“Aku tahu kamu pasti terkejut karena semuanya serba mendadak. Aku bertemu papamu satu minggu lalu. Kami berbincang, lalu kami sepakat kita akan menikah.”

“Kamu tidak perlu khawatir. Kita bisa memulainya dengan perlahan. Aku tidak akan memaksamu. Aku membutuhkanmu untuk mendapatkan posisiku. Jadi, kamu tidak perlu takut padaku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kamu akan menjadi istri seorang komisaris perusahaan besar.”

“Maaf, dimana toilet?” D*da Milea naik turun dengan cepat seiring degup jantung yang sudah meningkat beberapa kali lebih cepat. Dia tidak peduli soal kedudukan yang dijanjikan oleh Ardito. Dia hanya ingin kembali ke Jakarta.

“Oh ...." Ardito menatap dalam Milea sebelum menoleh ke kiri seraya berkata, "Sebelah sana.”

Milea mengikuti arah pandangan Ardito kemudian mengangguk.

“Permisi.” Milea segera mengayun kaki, meninggalkan Ardiro. Dia harus segera menghubungi Aurora. Istri komisaris perusahaan besar? Dia memang ingin punya suami orang kaya, tapi, tidak dengan menggunakan identitas Aurora. 

Begitu masuk ke dalam toilet, Milea segera mengunci pintu. Dengan tangan bergetar, wanita itu membuka tas lalu mengeluarkan ponselnya. Milea menyalakan layar ponsel. Wanita itu masuk ke aplikasi berkirim pesan. Sadar tidak boleh melakukan panggilan saat sedang berada di dalam pesawat yang masih mengudara.

Bahkan seharusnya dia juga tidak menyalakan ponselnya. Hanya sebentar, batin Milea yang sudah begitu panik.

Milea menjauh dari pintu. Wanita itu kemudian mulai mengetik. Cukup banyak yang Milea tulis dalam pesan yang kemudian ia kirim.

Milea berniat untuk segera menyalakan mode pesawat seraya memberi waktu Aurora untuk membalas pesannya. Saat itulah dia menyadari jika mode pesawat sudah aktif dan ponselnya sudah tersambung dengan wifi pesawat. Wanita itu menghembus napas lega.

{Ara, pria itu membawaku ke Singapura. Sebentar lagi kami akan sampai. Dia bilang kami akan segera menikah setelah sampai. Tolong aku, Ara. Tolong aku. Kamu harus menghubungi orang itu. Minta nomornya pada papamu. Dia kenalan papamu. Kamu harus menghentikannya menikahi orang yang salah]

[Ara, dia pria dewasa. Mungkin sekitar 30 tahun. Dia seorang komisaris di perusahaan besar. Dan dia … tampan. Sebaiknya kamu segera hubungi dia, dan ceritakan apa yang terjadi. Kamu yang seharusnya menikah dengannya. Jangan menelponku. Aku masih di pesawat. Jawab pesanku ini secepatnya]

Milea masih menatap room chatnya dengan Aurora. Harapan muncul ketika melihat Ara sedang mengetik. Milea menarik napas sepanjang yang ia mampu usahakan. Telapak tangannya masih berkeringat, padahal di dalam pesawat terasa begitu dingin.

Beberapa detik kemudian, jawaban yang Milea tunggu akhirnya muncul.

[Anggap saja itu rezekimu, Milea. Bukankah kamu ingin punya suami kaya? Menikah saja dengannya. Aku tidak bisa menikah dengan orang lain. Aku sudah punya Elias]

Bola mata Milea membesar membaca kalimat balasan dari Aurora. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Palsu   Putus Asa

    “Pak Ardito yang meminta saya untuk tetap tinggal dan menemani anda.”“Tolong bicara biasa saja. Jangan memanggilku nyonya. Jangan memakai kata anda.”“Anda istri bos saya.”“Aku bukan perempuan yang diinginkan bosmu.”Kai tidak menyahut. Pria yang duduk di depan Milea itu hanya menatap datar istri atasannya. Kai menghembus pelan napasnya. Dia diminta sang atasan untuk mengajak keluar wanita itu supaya terhibur.“Namaku Milea. Aku sahabat Aurora. Kalau kamu tidak percaya, coba cari media sosial Aurora. Kamu akan tahu jika aku tidak berbohong.” Milea menatap serius Kai.“Tolong bantu aku. Aku harus kembali ke Jakarta.” Tatapan Milea berubah. Penuh harap.Kai mengambil ponsel di atas meja lalu fokus menggulir layarnya. Beberapa saat kemudian, tanpa mengatakan apapun–Kai meletakkan ponsel miliknya ke depan Milea.Dengan kening mengernyit, Milea menatap Kai sebelum menurunkan pandangan mata. Semula Milea menatap biasa layar benda di depannya, namun dua detik kemudian Milea dengan cepat men

  • Balas Dendam Istri Palsu   Tak Ada Harapan

    Milea hanya bisa mengumpat sang teman yang ternyata sedang melakukan hal terlarang bersama sang kekasih–Elias. Ponsel sudah tak lagi melekat di telinga, dan panggilan sudah tak lagi tersambung. Milea sudah mematikan sambungan tersebut.Wanita itu berkali-kali menghentak keras napasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Siapa yang bisa ia mintai pertolongan, selain dua orang yang masih bergumul di atas ranjang itu? Milea memukul-mukulkan pelan ponsel di tangan kanan ke telapak tangan kirinya, sementara isi di dalam kepala wanita itu sedang bekerja keras. Haruskah dia menghubungi Zayn? Milea mendesah. Hubungannya dengan Zayn sudah putus satu tahun lalu. Apa yang akan Zayn pikirkan jika ia tiba-tiba menghubungi pria tersebut?Milea resah. Saat ini waktu yang tepat untuk berusaha pergi karena Ardito sedang tidak ada di rumah. Milea tidak tahu bagaimana cara melarikan diri jika pria itu sudah kembali nanti. Jadi, tidak ada pilihan lain. Lupakan prasangka Zayn saat ia menghubungi pr

  • Balas Dendam Istri Palsu   Resmi Menikahi Calon Suami Sahabat

    Milea tak punya kuasa menolak pernikahan tersebut. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi hingga kata ‘SAH’ itu terdengar. Semua terjadi begitu cepat. Pernikahan yang digelar hanya di halaman rumah dan dihadiri oleh tidak lebih dari 50 orang itu benar-benar terjadi. Kilat foto menghujani sang pengantin baru.Semua orang tersenyum. Mereka terlihat ikut berbahagia setelah menjadi saksi pernikahan seorang pengusaha sukses asal Indonesia yang kini menetap di Singapura.Meskipun acara itu tampak sederhana, namun semua makanan mewah yang tersaji, serta dekorasi elegan di tempat berlangsungnya acara, memperlihatkan nilai sang pengantin. “Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian segera mendapatkan momongan.”“Terima kasih.” Ardito mengangguk sambil tersenyum. Pria itu memegang tangan sang istri yang melingkar di lengan kirinya. Ardito mengayun langkah bersama Auroranya. Menyapa tamu di tiap meja sebelum kemudian duduk di meja yang memang disiapkan untuk mereka berdua."Ayo k

  • Balas Dendam Istri Palsu   Pengakuan Milea

    “Saya bukan Aurora. Tolong hentikan semua ini. Saya bukan perempuan yang anda inginkan.”“Sebenar lagi kita menikah. Bicaralah lebih non formal. Rasanya telingaku panas mendengar cara bicaramu yang seperti bawahanku.”Milea menelan ludah susah payah.****Mereka tiba 2 jam lalu di sebuah rumah besar milik Ardito. Yang membuat Milea terkejut adalah ketika melihat halaman rumah itu sudah didekorasi untuk sebuah acara. Lalu, saat masuk ke dalam rumah, sudah ada banyak orang yang sedang sibuk mengatur ini itu. Lalu ia dibawa ke sebuah kamar.Di dalam kamar itu dua orang perempuan berusia sekitar 30 tahun sudah menunggunya. Perempuan itu langsung memintanya untuk membersihkan tubuh. Setelah mandi, Milea harus memakai gaun pengantin. Semua berjalan begitu cepat. Waktu seolah tidak memberi tempat bagi Milea untuk sekedar memikirkan apa yang terjadi. Dalam sekejap ia sudah dimake up sedemikian rupa, dan siap dengan penampilan sebagai seorang calon pengantin.Milea yang sedang berada di tempa

  • Balas Dendam Istri Palsu   Terjebak

    “Maaf, saya harus ke toilet.” Milea meremas telapak tangannya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Ardito, tangan wanita itu bergetar. Syok berat. Menikah? Kenapa jadi begini? Milea menurunkan kedua kakinya. Beranjak dari tempat berbaring sebelumnya, Milea memutar kepala, mencari keberadaan tas nya.“Mencari tasmu?” tanya Ardito, melihat Milea mencari-cari sesuatu. Melihat anggukan kepala Milea, Ardito menunjuk sebuah meja di depan Kai.Milea langsung berjalan menuju tempat Kai sedang duduk. Sampai di tempat tersebut, Melia menatap marah Kai, sebelum menyambar tali tasnya. Milea berbalik, hanya untuk kebingungan melihat sekitar. Sepasang mata wanita itu mengerjap saat menyadari sesuatu.Detik berikutnya, Milea terbelalak. Saat ini dia sedang berada di udara? Di atas pesawat? Milea melangkah ke jendela dan melihat awan-awan bertumpuk di luar sana. Fix, Milea kini sadar ia sedang berada di dalam alat transportasi udara.Milea kemudian memutar lagi langkah kakinya. Wanita itu kini berdiri

  • Balas Dendam Istri Palsu   Pertemuan Pertama

    Milea buru-buru masuk ke dalam sebuah kafe. Dia terlambat 5 menit. Wanita itu mengedarkan pandangan mata–mencari keberadaan seorang pria yang memakai kemeja navy garis-garis. Menurut Aurora–sahabatnya, pria itu kemungkinan berkepala botak, dan perut buncit. Mukanya mungkin dipenuhi jambang dan kumis.Milea bergidik membayangkannya. Langkah kaki wanita itu memelan ketika melihat seorang pria dengan kemeja berwarna navy garis-garis duduk sendirian di sebuah meja. Pria itu sedang menikmati isi di dalam cangkir sambil memperhatikan layar ponsel.Milea menarik napas panjang. Kalau bukan karena Aurora sudah banyak membantunya, dia tidak akan sudi menemui siapapun pria yang dijodohkan dengan sahabatnya itu.“Kamu harus membantuku, Milea. Aku tidak mau menikah dengan pria pilihan papa. Kamu tahu aku sudah punya Elias. Aku hanya akan menikah dengan Elias.”“Lalu aku harus apa?”“Temui laki-laki itu atas namaku. Buat dia ilfeel sama kamu, supaya dia menggagalkan perjodohan itu.”“Kenapa tidak k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status