Share

Putus Asa

Penulis: NasaNasa
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 14:04:27

“Pak Ardito yang meminta saya untuk tetap tinggal dan menemani anda.”

“Tolong bicara biasa saja. Jangan memanggilku nyonya. Jangan memakai kata anda.”

“Anda istri bos saya.”

“Aku bukan perempuan yang diinginkan bosmu.”

Kai tidak menyahut. Pria yang duduk di depan Milea itu hanya menatap datar istri atasannya. Kai menghembus pelan napasnya. Dia diminta sang atasan untuk mengajak keluar wanita itu supaya terhibur.

“Namaku Milea. Aku sahabat Aurora. Kalau kamu tidak percaya, coba cari media sosial Aurora. Kamu akan tahu jika aku tidak berbohong.” Milea menatap serius Kai.

“Tolong bantu aku. Aku harus kembali ke Jakarta.” Tatapan Milea berubah. Penuh harap.

Kai mengambil ponsel di atas meja lalu fokus menggulir layarnya. Beberapa saat kemudian, tanpa mengatakan apapun–Kai meletakkan ponsel miliknya ke depan Milea.

Dengan kening mengernyit, Milea menatap Kai sebelum menurunkan pandangan mata. Semula Milea menatap biasa layar benda di depannya, namun dua detik kemudian Milea dengan cepat mengambil ponsel itu. Mendekatkan benda tersebut seakan dia tidak bisa melihat dengan jelas.

Mulut Milea menganga. Beberapa detik yang wanita itu lakukan hanya menatap layar telepon genggam milik Kai. Ekspresi wajahnya seperti seseorang yang sedang kebingungan. Tampak tidak percaya melihat apa yang dilihatnya.

Kai menarik punggung ke belakang. Duduk menyandar lalu melipat dua tangan di depan dada. Sepasang mata pria itu menatap lurus wanita yang masih tampak kebingungan. Kai mendengkus pelan. Heran pada apa yang dipikirkan oleh istri bosnya.

“Anda adalah wanita pilihan bos. Seharusnya anda bersyukur.”

Milea masih syok melihat media sosial atas nama Aurora berisi foto-fotonya. Milea tidak habis pikir. Bagaimana bisa? Milea menggulir layar benda di tangannya. Mencoba mencari ada tidak foto Aurora yang asli.

Dan yang membuat Milea tercengang adalah tak satu pun foto Aurora yang asli tertampil di media sosial dengan nama Aurora Kaya Abimanyu. Sama sekali tidak ada. SATUPUN!

Tangan Milea bergetar. Wanita itu meletakkan ponsel milik Kai ke atas meja. Wanita itu menggulir bola mata. Kepalanya menggeleng. “Ini salah. Ini salah,” kata Milea dengan suara bergetar. Sementara Kai menatap wanita itu dengan sepasang alis yang mengerut.

Mengingat sesuatu, Milea membuka tas lalu mengeluarkan ponselnya sendiri. Milea menyalakan layar ponsel sebelum mulai menggerakkan jari di atas layar. Dia akan membuktikannya.

Milea mencari nama kontak Aurora yang tertulis ‘My Best’ sama seperti nama kontaknya di ponsel Aurora. Ya, karena mereka memang sedekat itu. Milea menekan tombol panggil kemudian mengulurkan ponsel miliknya kepada Kai.

“Silahkan buktikan sendiri. Ini Aurora yang asli.”

Meskipun dengan kening berlipat, Kai mengurai lipatan tangan lalu menarik tubuhnya ke depan. Kai mengambil ponsel di tangan Milea. Pria itu menatap layar sebelum membawa ponsel ke telinga kanan. Pria itu menatap Milea dengan lipatan di kening yang semakin dalam.

Milea mengangkat kedua alis. Tatapan wanita itu seolah mengatakan, ‘Aku tidak bohong. Itu Aurora yang asli.’ Harapan Milea muncul. Wanita itu tersenyum. Sayangnya, senyum itu tidak bertahan lama ketika mendengar apa yang Kai katakan.

“Tidak diangkat.”

“Oh … coba lagi. Mungkin tadi dia tidak dengar.”

Kai menuruti saran Milea. Pria itu menurunkan ponsel lalu menekan tombol redial. Kali ini Kai tidak membawa ponsel ke telinga. Pria itu justru menyalakan loudspeaker kemudian meletakkan ponsel ke atas meja.

Nada sambung terdengar cukup keras. Milea menunggu dengan tidak sabar. Berharap agar Aurora segera menerima panggilan itu. Ayo, Aurora … angkat. Angkat, Ara.

Milea menarik punggung ke depan begitu terdengar nada panggil itu diterima. Jantungnya berdegup cepat. Menunggu suara Aurora terdengar.

“Halo.”

Sayangnya, bukan suara Aurora yang terdengar. Bukan suara perempuan, tapi suara seorang laki-laki. Membuat Kai menatap Milea dengan sorot mata aneh.

“Elias?” tanya Milea. “Dimana Aurora?” tanya Milea heran kenapa selalu saja Elias yang menjawab panggilan darinya.

“Aurora? Ada apa denganmu, Ara?”

Sepasang mata Milea membesar. “Elias … jangan main-main. Aku sedang punya masalah. Panggil Ara, aku butuh bicara dengannya.”

“Ara, ada apa denganmu? Siapa yang kamu cari?”

“Jangan bercanda. Sekarang bukan waktunya bercanda, Elias. Tolong berikan ponsel itu pada Aurora. Pacar kamu.” Milea mengepal dua telapak tangan di atas meja. Degup jantungnya semakin menggila.

Pria yang masih tersambung dengan Milea tertawa cukup keras. “Ya ampun, Ara. Aku tahu kamu menyukaiku. Tapi, aku pacarnya Milea. Aku tidak mungkin mengkhianati Milea, meskipun kamu lebih kaya dan lebih cantik darinya."

Bola mata Milea nyaris meloncat dari kelopaknya. Kepalan tangannya menguat.

"Kalian juga bersahabat. Please, jangan rusak kepercayaan Milea padamu. Aku bisa mengenalkanmu pada temanku kalau kamu mau.”

Milea menganga. Kepalanya menggeleng berkali-kali. Dia tidak percaya dengan fungsi telinganya sendiri. Dia berharap telinganya lah yang bermasalah. Dia ingin saat ini dia hanya sedang berada di dalam alam mimpi, dan setelah membuka mata nanti–semua kembali seperti semula.

“Halo, Ara … bagaimana? Kalau kamu mau, aku akan mengatur pertemuanmu dengan temanku.”

Milea meremas kepalan telapak tangannya. Degup jantungnya menggila. Sungguh, Milea kehabisan kata-kata. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Elias justru memanggilnya Ara?

Elias membalik kenyataan. Milea adalah Aurora, dan Aurora adalah Milea. Apa sebenarnya yang Elias rencanakan?

“Saya rasa sudah cukup.” Kai mengambil ponsel tersebut lalu menekan tombol bergambar gagang telepon warna merah. Pria itu menarik napas pelan, namun panjang. Pria itu menatap Milea.

“Saya tidak tahu kenapa anda berusaha keras untuk lepas dari pak Ardito. Kenapa anda sampai tidak ingin mengakui diri anda sendiri?”

“Bukan … bukan.” Milea menggeleng, menatap Kai dengan sorot mata memohon. “Aku benar-benar bukan Aurora. Aku Milea. Harus berapa kali kukatakan kalau aku Milea?! Aku bukan Aurora.” Milea semakin emosi. Dia tidak paham. Bagaimana bisa semua berbalik menyerangnya?

Melihat tatapan Kai, Milea kembali menggeleng. Pria itu jelas tidak mempercayai kata-katanya. Milea semakin putus asa, dan juga marah. Semua jalan terputus. Bahkan Aurora pun sekarang berpaling darinya. Milea yakin, Aurora berperan pada apa yang baru saja terjadi. Tidak mungkin Elias tahu tentang apa yang sedang terjadi jika bukan dari Aurora.

Milea yang benar-benar sudah tidak bisa menahan emosi, beranjak dari tempat duduk. Mengambil ponsel miliknya lalu pergi meninggalkan Kai. Milea berlari keluar Kafe yang berada tak jauh dari pantai. Wanita itu terus berlari menuju pantai. Dia butuh tempat yang bisa menampung amarahnya.

Sementara Kai langsung bergerak menyusul setelah menyelesaikan pembayaran. Pria itu berlari keluar. Menoleh ke sana kemari untuk mencari sang nyonya. Kai langsung berlari kencang begitu melihat dimana keberadaan istri bos nya itu.

Milea berteriak kencang sambil terus berlari. Kaki wanita itu sudah tak lagi beralaskan sepatu. Tak merasakan dinginnya air, Milea menerjang pasir yang terdorong ombak ke pantai.

“Arrggghhhhhhh!!!!!” Milea kembali berteriak. Sekeras yang ia bisa. Kakinya mulai terendam air seiring langkah kaki yang terus terayun. “Araaaaa!!!! Kenapa?!” 

“Kenapa kamu tega sama aku, Ara?!!” Milea berteriak semakin kencang. Berharap ombak akan membawa pertanyaan itu sampai ke telinga Aurora. “Aku mempercayaimu. Kenapa? Kenapa kamu tega, Ara?!!!”

Milea menangis. Meraung keras. Kecewa, marah, juga sakit hati berkumpul menjadi satu. Seumur hidup, Milea selalu merasakan itu. Saat kemudian bertemu dengan Aurora dan hidupnya mulai berubah, Milea memiliki harapan untuk bisa merasakan bahagia.

Memiliki seseorang yang mendukungnya. Namun ternyata, orang yang sangat ia percaya itu kini turut mengecewakannya. Menorehkan luka di dalam hati yang mungkin akan sulit untuk disembuhkan.

Terlalu sibuk dengan perasaannya, Milea tidak sadar jika langkah kakinya semakin jauh meninggalkan pantai. Air laut itu kini tidak hanya merendam betisnya. Air yang tampak tenang, namun di saat tertentu bisa jadi mematikan itu kini mulai naik hingga ke lutut.

Tangis Milea semakin pecah. Cairan bernama air mata itu turun dengan derasnya, membasahi wajah Milea. Suara raungannya terurai hembusan angin yang cukup kencang. Kakinya terus terayun tanpa sadar bahaya yang menunggunya.

Kai berlari semakin kencang. Tanpa peduli pada sepatu dan pakaiannya, pria itu menerjang ombak lalu menarik tubuh Milea. Membuat Milea terkejut, dan saat itu barulah Milea sadar jika ia sudah terlalu jauh meninggalkan pantai.

NasaNasa

Terima kasih sudah membaca. Tinggalkan jejak kalian di kolom komentar. Nasa

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Istri Palsu   Bab 34.

    Tubuh yang semula tampak sintal segar hingga tampak seksi itu, berubah menjadi kurus hanya dalam waktu satu bulan. Tak lagi tampak segar, wajah yang semula bersinar itu kini juga tampak seperti bunga yang layu. Penampilannya tak pernah terlihat rapi.Tubuh yang semakin terlihat kecil itu setiap hari hanya terbungkus daster lusuh. Entah berapa banyak bobot tubuh Milea yang hilang, luntur bersama keringat serta pikiran yang terkuras karena Aurora.Milea bukan hanya kurang istirahat, ia juga kurang makan dan minum. Aurora hanya memberinya makan satu kali dalam sehari. Hanya air putih pun, dia dijatah. Tidak diperbolehkan mengambil sesuka hati. Jangan harap dia mendapat makanan yang bergizi. Aurora benar-benar memenuhi ancamannya. Mantan sahabatnya itu menciptakan neraka untuknya.Aurora tidak memiliki kegiatan lain selain menyiksanya ketika Ardito tidak berada di dalam rumah.Ardito? Milea sungguh tidak tahu bagaimana hati seseorang bisa berubah dalam waktu sesingkat itu. Pria yang tadiny

  • Balas Dendam Istri Palsu   Bab 33.

    "Siapa kamu sebenarnya, Kai? Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kamu begitu membela perempuan miskin itu?”Kai menatap lurus wanita di depannya. “Hanya orang miskin yang berempati pada sesama orang miskin, Nyonya. Silahkan keluar. Saya khawatir suami Nyonya sekarang sedang mencari Nyonya.” Kai menjawab dengan ekspresi wajah datar.Aurora tidak menyahut. Sepasang bibir wanita itu masih terkatup rapat, namun ekspresi wajahnya menggambarkan rasa tidak percaya. Beberapa detik yang Aurora hanya menatap sang lawan bicara sebelum memutuskan untuk memutar tubuh. Kakinya baru satu kali terayun ketika wanita itu kembali berhenti lalu menoleh.“Kamu bukan seorang pewaris tunggal yang sedang menyamar, kan?”“Kalau iya, apa kamu akan berbalik mengejarku dan membiarkan Ardito bersama dengan Milea?”“Apa?” Mulut Aurora terbuka. “Tidak mungkin.”Kai menarik sebelah sudut bibirnya, sementara sepasang mata pria itu mengecil. Ekspresi wajah yang membuat Aurora menatap marah sebelum akhirnya benar-benar ber

  • Balas Dendam Istri Palsu   Bab 32.

    “Sudah kukatakan dia tidak akan kemana-mana, Kai.” Ardito menatap tajam Kai. Mereka berdiri berhadapan tak jauh dari ranjang tempat Milea berbaring. Sang pelayan sudah keluar beberapa saat lalu. “Kamu melawanku?” tanya Ardito tidak suka.Kai tidak langsung menjawab. Pria itu memutar kepala ke arah ranjang. Dadanya bergerak kentara ke atas, lalu tertahan beberapa detik sebelum akhirnya kembali turun. Hembusan karbondioksida lolos dari sedikit celah mulut yang terbuka.“Aku tahu kamu tertarik pada perempuan itu.” Suara Ardito kembali terdengar. Dia masih mengingat betul kedekatan mereka berdua. Dan hal itu membuat hatinya sakit. Membayangkan mereka akan bersama, jujur saja ia marah. Namun, Ardito menahan sekuat tenaga.Kai belum meluruskan pandangannya. Pria itu hanya melirik Ardito dua detik lalu kembali memperhatikan perempuan yang masih berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam. Milea masih belum sadar."Benar, kan? Kamu tertarik padanya. Perempuan itu bekasku, Ka. Jangan pernah

  • Balas Dendam Istri Palsu   Bab 31.

    Milea memutar langkah, berdiri kaku menatap Ardito yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah sambil merangkul Aurora. Bibir wanita itu bergetar. Tangannya meramas kain di dada. Sakit sekali melihat pria yang dicintai bersama dengan perempuan lain.Dia belum sempat meminta maaf. Lebih tepatnya tidak bisa meminta maaf disaat Aurora ada bersama Ardito. Melihat tatapan mata Ardito padanya tadi, harapan itu seakan luntur begitu saja. Ternyata cinta Ardito tidak sekuat yang pria itu katakan.Ardito menatapnya ... jijik. Milea merasakan patahan demi patahan di dalam hatinya. Ranting bunga itu satu per satu patah. Membuat mawar yang mekar perlahan menghitam lalu berjatuhan. Wanita itu memukul dadanya sendiki kala rasa sesak mulai terasa.Milea merasa pasokan di sekitarnya semakin menipis. Wanita itu kesulitan bernapas. Milea berusaha keras tetap tersadar. Memaksa kaki yang terasa semakin lemas untuk terus bertahan.Semula Milea masih bisa menahan kedua kakinya untuk tetap menyangga bobot tubuh

  • Balas Dendam Istri Palsu   Bab 30.

    “Tidak. Aku tidak akan meninggalkan rumah ini. Di sini tempatku tinggal. Bersama suamiku.”“Bodoh!” umpat Kai kesal. Pria itu hampir saja membanting ponselnya sendiri setelah Milea mengakhiri panggilan secara sepihak. Kai menghentak keras napasnya. Pria itu mengancingkan jas ketika mendengar suara hentakan heels di belakangnya. Kai memutar tubuh. Bola matanya bergerak hingga bertemu tatap dengan sepasang mata perempuan yang kini melangkah ke arahnya sambil tersenyum miring.Kai menekan katupan rahangnya kuat-kuat. Berusaha untuk mempertahankan ekspresi wajah datar. Kai mengalihkan pandangan ke belakang tubuh wanita itu. Ardito belum terlihat.“Aku belum sempat bicara denganmu.”Dengan terpaksa Kai mengembalikan pandangan pada seorang perempuan yang kini sudah menghentikan ayunan kakinya. Pria itu menatap datar tanpa mengatakan apapun.“Ardito sedang ke toilet.” Aurora menahan rambut yang terbang karena angin malam itu cukup kencang. Menyelipkan ke belakang telinga, meskipun tidak bert

  • Balas Dendam Istri Palsu   Bab 29.

    Milea tidak bisa tenang. Sudah malam, dan Ardito masih juga belum kembali. Nomor ponsel pria itu pun tidak bisa dihubungi. Sejak Ardito memilih pergi ke kantor bahkan sebelum turun dari dalam mobil, apalagi masuk ke dalam rumah–mereka belum berkomunikasi.Seakan Ardito sengaja memutus semua jalan komunikasi, Kai pun tidak bisa dihubungi.Wanita itu berjalan mondar mandir di ruang tamu sambil menggigiti kuku tangan. Sesekali memutar kepala ke arah pintu yang dibiarkan terbuka. Berharap seseorang yang ditunggu muncul. Namun tidak. Ardito tak kunjung muncul. Membuat Milea semakin kalut.Wanita itu berjalan keluar dari dalam rumah. Berdiri di teras, Milea menggulir layar ponsel kemudian membawa benda tersebut ke telinga kanan. Untuk yang sekian kali wanita itu berusaha agar bisa terhubung dengan Ardito.Milea menggigit bibir bawahnya. Sedikit napas lega lolos dari celah bibir wanita itu ketika mendengar nada sambung. Setelah dari tadi nomor Ardito tidak aktif, sekarang akhirnya nomor itu

  • Balas Dendam Istri Palsu   Bab 27.

    Ardito duduk menyandar seraya memperhatikan sang istri yang duduk di depannya dengan tatapan kosong. Istrinya tampak sedang melamun, sementara piring di depannya dibiarkan tak tersentuh.Mereka sudah kembali ke hotel. Ardito meminta istrinya mandi, kemudian memakai pakaian yang pantas sebelum mengaj

  • Balas Dendam Istri Palsu   Bab 26.

    “Katakan pada perempuan gila itu, Ara. Siapa kamu yang sebenarnya.”Tubuh Milea membeku seketika, begitu mendengar kalimat yang meluncur dari mulut suaminya. Bulu kuduknya meremang. Wanita yang masih berada di dalam pelukan sang suami itu meremas kuat dua telapak tangan yang masih berada di atas pan

  • Balas Dendam Istri Palsu   16. Kedatangan Aurora

    Aurora menekan pedal gas lebih dalam, ketika tempat tujuannya sudah tak jauh lagi. Wanita itu refleks menoleh–memperhatikan sepintas mobil yang berpapasan dengannya. Setelah itu ia kembali fokus ke depan. Sesekali bola matanya bergerak memperhatikan sekelilingnya. Sudah jelas area yang ia masuki ada

  • Balas Dendam Istri Palsu   Tidur Satu Ranjang

    Kai mengangkat tubuh Milea, kemudian membawanya ke tepi pantai. Pria itu menurunkan Milea di bangku batu di sekitaran pantai. Kai menghentak keras napasnya. Dengan wajah gusar, pria itu menatap tajam Milea.“Tolong jangan melakukan hal gila seperti itu lagi.” Kai berkacak pinggang. Dengan kulit waj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status