LOGIN
Milea buru-buru masuk ke dalam sebuah kafe. Dia terlambat 5 menit. Wanita itu mengedarkan pandangan mata–mencari keberadaan seorang pria yang memakai kemeja navy garis-garis. Menurut Aurora–sahabatnya, pria itu kemungkinan berkepala botak, dan perut buncit. Mukanya mungkin dipenuhi jambang dan kumis.
Milea bergidik membayangkannya. Langkah kaki wanita itu memelan ketika melihat seorang pria dengan kemeja berwarna navy garis-garis duduk sendirian di sebuah meja. Pria itu sedang menikmati isi di dalam cangkir sambil memperhatikan layar ponsel.
Milea menarik napas panjang. Kalau bukan karena Aurora sudah banyak membantunya, dia tidak akan sudi menemui siapapun pria yang dijodohkan dengan sahabatnya itu.
“Kamu harus membantuku, Milea. Aku tidak mau menikah dengan pria pilihan papa. Kamu tahu aku sudah punya Elias. Aku hanya akan menikah dengan Elias.”
“Lalu aku harus apa?”
“Temui laki-laki itu atas namaku. Buat dia ilfeel sama kamu, supaya dia menggagalkan perjodohan itu.”
“Kenapa tidak kamu saja?”
“Aku tidak mau. Kamu saja. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Bukankah dulu kamu pernah ikut kelas drama?”
“Milea, demi persahabatan kita, kamu harus menolongku kali ini.”
“Kamu gila. Memangnya dia tidak akan mengenaliku?” Milea berdecak.
“Yang gila bukan aku, tapi papa. Kami belum pernah bertemu.” Aurora menjawab. “Aku dan Ardito … kamu belum pernah sekalipun bertemu. Aku bahkan tidak tahu siapa Ardito dan seperti apa dia.“
“Papa membuat keputusan tanpa berbicara denganku. Yang papa pikirkan hanya masalah bisnis. Pernikahan ini juga hanya tentang bisnis.” Aurora menambahkan. “Aku yakin, papa bahkan tidak akan peduli dengan penampilan Ardito, selama pria itu menguntungkan bisnisnya. Sekalipun dia sudah tua, kepala botak dan perut buncit.”
Sekelumit percakapannya dengan Aurora berputar di dalam kepala Milea. Wanita itu menarik napas panjang. Memantapkan hatinya untuk melakukan peran seperti yang diminta oleh sahabatnya.
Milea kembali mengayun langkah lebih lebar. Wanita yang malam ini memakai dres span sepanjang di bawah lutut, berwarna hitam itu berdehem kala tiba di samping meja yang dihuni oleh seorang pria dengan kemeja warna navy garis-garis.
Milea mengerjap begitu pria yang semula masih menunduk–tampak fokus dengan benda di tangannya itu akhirnya mendongak.
‘Sh*t,’ umpat Milea dalam hati. Aurora pasti menyesal kalau tahu pria yang dijodohkan dengannya bukanlah pria dengan kepala botak dan perut buncit. Sebaliknya, pria ini sangat tampan dengan tubuh menggiurkan. Elias pun lewat. Milea menatap kagum pria yang juga sedang menatapnya.
“Kamu … kamu Aurora?”
Milea kembali mengerjap. Suaranya sudah bisa membuat perempuan terbang ke awang-awang. Milea berdehem.
Melupakan sejenak kekagumannya pada pria yang ternyata memiliki spek para CEO muda seperti yang ada di dalam film-film yang pernah ditonton olehnya, Milea memasang ekspresi wajah keras. Dia tidak boleh melupakan tujuannya. Menolak perjodohan.
“Benar. Saya … Aurora. Anda … Pak Ardito, bukan?” tanya Milea memastikan. Jangan sampai dia salah orang.
Milea yang masih berdiri di samping meja menatap mengernyit pria yang kini justru menggulir layar ponselnya. Mengarahkan kamera padanya, lalu tak lama kemudian pria itu berbicara dengan seseorang.
“Nona Aurora sudah datang, Pak.”
Sepasang mata Milea sontak membesar. Jadi, bukan pria ini yang bernama Ardito? Jangan-jangan memang benar tebakan Aurora. Pria yang hendak dijodohkan dengan Aurora itu pria berkepala botak, dan perut buncit.
“Baik, Pak. Saya akan membawanya ke bandara sekarang.”
“A-apa?” Milea terkejut setengah mati. Wanita itu menatap bingung pria yang kini beranjak dari tempat duduknya.
“Mari ikut saya. Pak Ardito sudah menunggu anda di bandara.”
“Tunggu, apa maksudnya ini? Saya bukan. Maksud saya, saya datang untuk bertemu dengan pak Ardito.”
“Pak Ardito sudah menunggu anda di bandara, Nona. Mari.”
Milea menggeleng keras. “Kenapa harus di bandara? Bukannya kami harus bertemu di sini?”
“Rencananya berubah, Nona. Sekarang beliau sudah menunggu anda. Jadi, silahkan jalan sendiri, atau dengan terpaksa saya akan membopong anda.”
Sepasang mata Milea terbelalak. Sekali lagi Milea menggeleng keras.
“Maaf, saya akan pulang saja. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada pak Ardito. Saya datang hanya untuk bilang, saya tidak mau menikah dengannya.” Milea langsung berbalik, berniat untuk segera pergi. Namun, kakinya urung melangkah ketika merasakan tarikan lalu tiba-tiba tubuhnya sudah tersampir di bahu pria yang belum ia ketahui namanya.
Milea memekik. “Turunkan saya! Turunkan. Saya … saya bukan Aurora. Saya … saya Milea.” Karena ketakutan, Milea membuka penyamarannya. Mengakui dirinya bukan Aurora. Namun sayang, pria asing itu tidak percaya. Aurora dibawa keluar dari dalam kafe, lalu dimasukkan ke dalam sebuah mobil.
Milea berusaha berontak, akan tetapi, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria asing tampan yang sayangnya jahat. Karena dua tangan Milea dipegang oleh pria asing itu, Milea menggunakan kakinya, berusaha menendang sekenanya, namun lagi-lagi usahanya tidak berhasil.
Mobil melaju meninggalkan parkiran. Sepasang mata Milea membesar saat pria di sebelahnya membekap hidung dan mulutnya dengan sapu tangan. Beberapa detik kemudian, Milea tak sadarkan diri.
Kai, pria itu menghembus napas lega. “Ganas juga dia,” ujarnya sebelum memperbaiki posisi duduk Milea. Pria itu menatap wajah perempuan yang akan menikah dengan atasannya. Kai meluruskan pandangan mata, lalu menarik punggung ke belakang.
"Jalan lebih cepat lagi," perintah Kai pada pria yang duduk di belakang kemudi. Kai mengangkat tangan kiri, memperhatikan benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu menggumam.
Mobil melaju lebih cepat menuju bandara.
****
Dua jam kemudian ....
Milea membuka mata, dan mendapati dirinya berada di tempat asing. Otaknya masih belum benar-benar kembali bekerja. Milea mendengar suara orang sedang berbincang. Wanita itu memijat kepala sambil meringis. Apa yang sudah terjadi padanya?
“Apa persiapannya sudah selesai?”
“Sudah, Pak. Semua sudah siap. Tinggal menunggu calon pengantin tiba.”
Milea mengerjap. Wanita yang masih berbaring itu memutar kepala. Sepasang kelopak mata dengan bulu-bulu lentik itu kembali bergerak.
“Kamu sudah bangun, Ara?”
‘Ara?’ Sepasang mata Milea mengecil ketika kening wanita itu berkerut. Milea meminta otaknya untuk segera bekerja. Mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Siapa pria tampan yang sedang menatapnya ini? Dan kenapa pria itu memanggilnya Ara?
“Syukurlah kamu sudah bangun. Maafkan Kai yang membuatmu tidak sadar.”
Milea terbelalak begitu mendengar dua kata terakhir yang diucapkan oleh pria yang berdiri di sebelahnya. Otaknya mulai bekerja dengan cepat. Sekarang dia sudah mulai mengingat apa yang terjadi.
“Pak … Ar-dito?”
“Panggil saja Ardito. Senang bertemu denganmu, Ara. Seperti dugaanku, kamu sesuai dengan kriteriaku. Sebentar lagi kita akan sampai. Semua orang sudah menunggu kita.”
“Tunggu.” Milea mengangkat tubuhnya. Wanita itu memutar kepala. Mengedip saat melihat pria yang ditemuinya di sebuah kafe. Untuk beberapa detik tatapannya bertemu dengan sepasang manik berwarna coklat itu. Sialan, batinnya marah.
“Jangan marah padanya. Dia hanya menjalankan perintah dariku.”
Milea menoleh. Wanita itu mengatur tarikan dan hembusan napasnya. Jadi, ini pria yang dijodohkan dengan Aurora? Apa Aurora tidak akan menyesal menolak pria seperti ini?
Ardito tersenyum. “Kamu pasti masih terkejut.” Pria itu mendesah. “Jangan khawatirkan apapun. Aku sudah menghubungi papamu. Orang tuamu masih di Eropa. Mereka tidak bisa datang menghadiri pernikahan kita. Tapi, papamu sudah menyerahkan pada wali hakim untuk menikahkan kita.”
“Menikah? Siapa?” bingung Milea.
“Kita. Kamu dan saya." Ardito membungkuk. Pria itu tersenyum sambil menatap perempuan yang masih tampak terkejut itu.
"Kita akan segera menikah, Ara.” Ardito menegakkan posisi berdiri. Pria itu mengangkat tangan kiri lalu memperhatikan benda mewah yang melingkari pergelangan tangannya.
“Tiga puluh menit lagi kita akan tiba, dan kita akan menikah.”
Tubuh yang semula tampak sintal segar hingga tampak seksi itu, berubah menjadi kurus hanya dalam waktu satu bulan. Tak lagi tampak segar, wajah yang semula bersinar itu kini juga tampak seperti bunga yang layu. Penampilannya tak pernah terlihat rapi.Tubuh yang semakin terlihat kecil itu setiap hari hanya terbungkus daster lusuh. Entah berapa banyak bobot tubuh Milea yang hilang, luntur bersama keringat serta pikiran yang terkuras karena Aurora.Milea bukan hanya kurang istirahat, ia juga kurang makan dan minum. Aurora hanya memberinya makan satu kali dalam sehari. Hanya air putih pun, dia dijatah. Tidak diperbolehkan mengambil sesuka hati. Jangan harap dia mendapat makanan yang bergizi. Aurora benar-benar memenuhi ancamannya. Mantan sahabatnya itu menciptakan neraka untuknya.Aurora tidak memiliki kegiatan lain selain menyiksanya ketika Ardito tidak berada di dalam rumah.Ardito? Milea sungguh tidak tahu bagaimana hati seseorang bisa berubah dalam waktu sesingkat itu. Pria yang tadiny
"Siapa kamu sebenarnya, Kai? Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kamu begitu membela perempuan miskin itu?”Kai menatap lurus wanita di depannya. “Hanya orang miskin yang berempati pada sesama orang miskin, Nyonya. Silahkan keluar. Saya khawatir suami Nyonya sekarang sedang mencari Nyonya.” Kai menjawab dengan ekspresi wajah datar.Aurora tidak menyahut. Sepasang bibir wanita itu masih terkatup rapat, namun ekspresi wajahnya menggambarkan rasa tidak percaya. Beberapa detik yang Aurora hanya menatap sang lawan bicara sebelum memutuskan untuk memutar tubuh. Kakinya baru satu kali terayun ketika wanita itu kembali berhenti lalu menoleh.“Kamu bukan seorang pewaris tunggal yang sedang menyamar, kan?”“Kalau iya, apa kamu akan berbalik mengejarku dan membiarkan Ardito bersama dengan Milea?”“Apa?” Mulut Aurora terbuka. “Tidak mungkin.”Kai menarik sebelah sudut bibirnya, sementara sepasang mata pria itu mengecil. Ekspresi wajah yang membuat Aurora menatap marah sebelum akhirnya benar-benar ber
“Sudah kukatakan dia tidak akan kemana-mana, Kai.” Ardito menatap tajam Kai. Mereka berdiri berhadapan tak jauh dari ranjang tempat Milea berbaring. Sang pelayan sudah keluar beberapa saat lalu. “Kamu melawanku?” tanya Ardito tidak suka.Kai tidak langsung menjawab. Pria itu memutar kepala ke arah ranjang. Dadanya bergerak kentara ke atas, lalu tertahan beberapa detik sebelum akhirnya kembali turun. Hembusan karbondioksida lolos dari sedikit celah mulut yang terbuka.“Aku tahu kamu tertarik pada perempuan itu.” Suara Ardito kembali terdengar. Dia masih mengingat betul kedekatan mereka berdua. Dan hal itu membuat hatinya sakit. Membayangkan mereka akan bersama, jujur saja ia marah. Namun, Ardito menahan sekuat tenaga.Kai belum meluruskan pandangannya. Pria itu hanya melirik Ardito dua detik lalu kembali memperhatikan perempuan yang masih berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam. Milea masih belum sadar."Benar, kan? Kamu tertarik padanya. Perempuan itu bekasku, Ka. Jangan pernah
Milea memutar langkah, berdiri kaku menatap Ardito yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah sambil merangkul Aurora. Bibir wanita itu bergetar. Tangannya meramas kain di dada. Sakit sekali melihat pria yang dicintai bersama dengan perempuan lain.Dia belum sempat meminta maaf. Lebih tepatnya tidak bisa meminta maaf disaat Aurora ada bersama Ardito. Melihat tatapan mata Ardito padanya tadi, harapan itu seakan luntur begitu saja. Ternyata cinta Ardito tidak sekuat yang pria itu katakan.Ardito menatapnya ... jijik. Milea merasakan patahan demi patahan di dalam hatinya. Ranting bunga itu satu per satu patah. Membuat mawar yang mekar perlahan menghitam lalu berjatuhan. Wanita itu memukul dadanya sendiki kala rasa sesak mulai terasa.Milea merasa pasokan di sekitarnya semakin menipis. Wanita itu kesulitan bernapas. Milea berusaha keras tetap tersadar. Memaksa kaki yang terasa semakin lemas untuk terus bertahan.Semula Milea masih bisa menahan kedua kakinya untuk tetap menyangga bobot tubuh
“Tidak. Aku tidak akan meninggalkan rumah ini. Di sini tempatku tinggal. Bersama suamiku.”“Bodoh!” umpat Kai kesal. Pria itu hampir saja membanting ponselnya sendiri setelah Milea mengakhiri panggilan secara sepihak. Kai menghentak keras napasnya. Pria itu mengancingkan jas ketika mendengar suara hentakan heels di belakangnya. Kai memutar tubuh. Bola matanya bergerak hingga bertemu tatap dengan sepasang mata perempuan yang kini melangkah ke arahnya sambil tersenyum miring.Kai menekan katupan rahangnya kuat-kuat. Berusaha untuk mempertahankan ekspresi wajah datar. Kai mengalihkan pandangan ke belakang tubuh wanita itu. Ardito belum terlihat.“Aku belum sempat bicara denganmu.”Dengan terpaksa Kai mengembalikan pandangan pada seorang perempuan yang kini sudah menghentikan ayunan kakinya. Pria itu menatap datar tanpa mengatakan apapun.“Ardito sedang ke toilet.” Aurora menahan rambut yang terbang karena angin malam itu cukup kencang. Menyelipkan ke belakang telinga, meskipun tidak bert
Milea tidak bisa tenang. Sudah malam, dan Ardito masih juga belum kembali. Nomor ponsel pria itu pun tidak bisa dihubungi. Sejak Ardito memilih pergi ke kantor bahkan sebelum turun dari dalam mobil, apalagi masuk ke dalam rumah–mereka belum berkomunikasi.Seakan Ardito sengaja memutus semua jalan komunikasi, Kai pun tidak bisa dihubungi.Wanita itu berjalan mondar mandir di ruang tamu sambil menggigiti kuku tangan. Sesekali memutar kepala ke arah pintu yang dibiarkan terbuka. Berharap seseorang yang ditunggu muncul. Namun tidak. Ardito tak kunjung muncul. Membuat Milea semakin kalut.Wanita itu berjalan keluar dari dalam rumah. Berdiri di teras, Milea menggulir layar ponsel kemudian membawa benda tersebut ke telinga kanan. Untuk yang sekian kali wanita itu berusaha agar bisa terhubung dengan Ardito.Milea menggigit bibir bawahnya. Sedikit napas lega lolos dari celah bibir wanita itu ketika mendengar nada sambung. Setelah dari tadi nomor Ardito tidak aktif, sekarang akhirnya nomor itu
“Katakan pada perempuan gila itu, Ara. Siapa kamu yang sebenarnya.”Tubuh Milea membeku seketika, begitu mendengar kalimat yang meluncur dari mulut suaminya. Bulu kuduknya meremang. Wanita yang masih berada di dalam pelukan sang suami itu meremas kuat dua telapak tangan yang masih berada di atas pan
Aurora benar-benar gusar, ketika panggilannya juga berakhir tanpa jawaban dari seseorang yang entah saat ini sedang berada di belahan bumi bagian mana. Pekerjaan orang tuanya hanya berkeliling dunia.Aurora menggeram tertahan. Bola mata wanita itu bergerak tidak lebih dari 2 detik, menatap pria yang
Tidak ingin membuat papa mertuanya menunggu terlalu lama, Ardito segera mengambil ponsel, lalu menekan tombol terima. Bola mata pria itu bergerak cepat ketika tangannya berakhir menggantung. Ponselnya sudah berpindah tangan. Ardito menatap tak biasa sang istri yang baru saja mengambil ponsel dari ta
Ardito duduk menyandar seraya memperhatikan sang istri yang duduk di depannya dengan tatapan kosong. Istrinya tampak sedang melamun, sementara piring di depannya dibiarkan tak tersentuh.Mereka sudah kembali ke hotel. Ardito meminta istrinya mandi, kemudian memakai pakaian yang pantas sebelum mengaj