Home / All / Balas Dendam Istri Palsu / Pertemuan Pertama

Share

Balas Dendam Istri Palsu
Balas Dendam Istri Palsu
Author: NasaNasa

Pertemuan Pertama

Author: NasaNasa
last update publish date: 2026-03-17 18:11:01

Milea buru-buru masuk ke dalam sebuah kafe. Dia terlambat 5 menit. Wanita itu mengedarkan pandangan mata–mencari keberadaan seorang pria yang memakai kemeja navy garis-garis. Menurut Aurora–sahabatnya, pria itu kemungkinan berkepala botak, dan perut buncit. Mukanya mungkin dipenuhi jambang dan kumis.

Milea bergidik membayangkannya. Langkah kaki wanita itu memelan ketika melihat seorang pria dengan kemeja berwarna navy garis-garis duduk sendirian di sebuah meja. Pria itu sedang menikmati isi di dalam cangkir sambil memperhatikan layar ponsel.

Milea menarik napas panjang. Kalau bukan karena Aurora sudah banyak membantunya, dia tidak akan sudi menemui siapapun pria yang dijodohkan dengan sahabatnya itu.

“Kamu harus membantuku, Milea. Aku tidak mau menikah dengan pria pilihan papa. Kamu tahu aku sudah punya Elias. Aku hanya akan menikah dengan Elias.”

“Lalu aku harus apa?”

“Temui laki-laki itu atas namaku. Buat dia ilfeel sama kamu, supaya dia menggagalkan perjodohan itu.”

“Kenapa tidak kamu saja?”

“Aku tidak mau. Kamu saja. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Bukankah dulu kamu pernah ikut kelas drama?”

“Milea, demi persahabatan kita, kamu harus menolongku kali ini.”

“Kamu gila. Memangnya dia tidak akan mengenaliku?” Milea berdecak.

“Yang gila bukan aku, tapi papa. Kami belum pernah bertemu.” Aurora menjawab. “Aku dan Ardito … kamu belum pernah sekalipun bertemu. Aku bahkan tidak tahu siapa Ardito dan seperti apa dia.“

“Papa membuat keputusan tanpa berbicara denganku. Yang papa pikirkan hanya masalah bisnis. Pernikahan ini juga hanya tentang bisnis.” Aurora menambahkan. “Aku yakin, papa bahkan tidak akan peduli dengan penampilan Ardito, selama pria itu menguntungkan bisnisnya. Sekalipun dia sudah tua, kepala botak dan perut buncit.”

Sekelumit percakapannya dengan Aurora berputar di dalam kepala Milea. Wanita itu menarik napas panjang. Memantapkan hatinya untuk melakukan peran seperti yang diminta oleh sahabatnya.

Milea kembali mengayun langkah lebih lebar. Wanita yang malam ini memakai dres span sepanjang di bawah lutut, berwarna hitam itu berdehem kala tiba di samping meja yang dihuni oleh seorang pria dengan kemeja warna navy garis-garis.

Milea mengerjap begitu pria yang semula masih menunduk–tampak fokus dengan benda di tangannya itu akhirnya mendongak.

‘Sh*t,’ umpat Milea dalam hati. Aurora pasti menyesal kalau tahu pria yang dijodohkan dengannya bukanlah pria dengan kepala botak dan perut buncit. Sebaliknya, pria ini sangat tampan dengan tubuh menggiurkan. Elias pun lewat. Milea menatap kagum pria yang juga sedang menatapnya.

“Kamu … kamu Aurora?”

Milea kembali mengerjap. Suaranya sudah bisa membuat perempuan terbang ke awang-awang. Milea berdehem.

Melupakan sejenak kekagumannya pada pria yang ternyata memiliki spek para CEO muda seperti yang ada di dalam film-film yang pernah ditonton olehnya, Milea memasang ekspresi wajah keras. Dia tidak boleh melupakan tujuannya. Menolak perjodohan.

“Benar. Saya … Aurora. Anda … Pak Ardito, bukan?” tanya Milea memastikan. Jangan sampai dia salah orang.

Milea yang masih berdiri di samping meja menatap mengernyit pria yang kini justru menggulir layar ponselnya. Mengarahkan kamera padanya, lalu tak lama kemudian pria itu berbicara dengan seseorang.

“Nona Aurora sudah datang, Pak.”

Sepasang mata Milea sontak membesar. Jadi, bukan pria ini yang bernama Ardito? Jangan-jangan memang benar tebakan Aurora. Pria yang hendak dijodohkan dengan Aurora itu pria berkepala botak, dan perut buncit.

“Baik, Pak. Saya akan membawanya ke bandara sekarang.”

“A-apa?” Milea terkejut setengah mati. Wanita itu menatap bingung pria yang kini beranjak dari tempat duduknya.

“Mari ikut saya. Pak Ardito sudah menunggu anda di bandara.”

“Tunggu, apa maksudnya ini? Saya bukan. Maksud saya, saya datang untuk bertemu dengan pak Ardito.”

“Pak Ardito sudah menunggu anda di bandara, Nona. Mari.”

Milea menggeleng keras. “Kenapa harus di bandara? Bukannya kami harus bertemu di sini?”

“Rencananya berubah, Nona. Sekarang beliau sudah menunggu anda. Jadi, silahkan jalan sendiri, atau dengan terpaksa saya akan membopong anda.”

Sepasang mata Milea terbelalak. Sekali lagi Milea menggeleng keras. 

“Maaf, saya akan pulang saja. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada pak Ardito. Saya datang hanya untuk bilang, saya tidak mau menikah dengannya.” Milea langsung berbalik, berniat untuk segera pergi. Namun, kakinya urung melangkah ketika merasakan tarikan lalu tiba-tiba tubuhnya sudah tersampir di bahu pria yang belum ia ketahui namanya.

Milea memekik. “Turunkan saya! Turunkan. Saya … saya bukan Aurora. Saya … saya Milea.” Karena ketakutan, Milea membuka penyamarannya. Mengakui dirinya bukan Aurora. Namun sayang, pria asing itu tidak percaya. Aurora dibawa keluar dari dalam kafe, lalu dimasukkan ke dalam sebuah mobil. 

Milea berusaha berontak, akan tetapi, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria asing tampan yang sayangnya jahat. Karena dua tangan Milea dipegang oleh pria asing itu, Milea menggunakan kakinya, berusaha menendang sekenanya, namun lagi-lagi usahanya tidak berhasil.

Mobil melaju meninggalkan parkiran. Sepasang mata Milea membesar saat pria di sebelahnya membekap hidung dan mulutnya dengan sapu tangan. Beberapa detik kemudian, Milea tak sadarkan diri. 

Kai, pria itu menghembus napas lega. “Ganas juga dia,” ujarnya sebelum memperbaiki posisi duduk Milea. Pria itu menatap wajah perempuan yang akan menikah dengan atasannya. Kai meluruskan pandangan mata, lalu menarik punggung ke belakang.

"Jalan lebih cepat lagi," perintah Kai pada pria yang duduk di belakang kemudi. Kai mengangkat tangan kiri, memperhatikan benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu menggumam.

Mobil melaju lebih cepat menuju bandara.

****

Dua jam kemudian ....

Milea membuka mata, dan mendapati dirinya berada di tempat asing. Otaknya masih belum benar-benar kembali bekerja. Milea mendengar suara orang sedang berbincang. Wanita itu memijat kepala sambil meringis. Apa yang sudah terjadi padanya?

“Apa persiapannya sudah selesai?”

“Sudah, Pak. Semua sudah siap. Tinggal menunggu calon pengantin tiba.”

Milea mengerjap. Wanita yang masih berbaring itu memutar kepala. Sepasang kelopak mata dengan bulu-bulu lentik itu kembali bergerak.

“Kamu sudah bangun, Ara?”

‘Ara?’ Sepasang mata Milea mengecil ketika kening wanita itu berkerut. Milea meminta otaknya untuk segera bekerja. Mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Siapa pria tampan yang sedang menatapnya ini? Dan kenapa pria itu memanggilnya Ara?

“Syukurlah kamu sudah bangun. Maafkan Kai yang membuatmu tidak sadar.”

Milea terbelalak begitu mendengar dua kata terakhir yang diucapkan oleh pria yang berdiri di sebelahnya. Otaknya mulai bekerja dengan cepat. Sekarang dia sudah mulai mengingat apa yang terjadi.

“Pak … Ar-dito?”

“Panggil saja Ardito. Senang bertemu denganmu, Ara. Seperti dugaanku, kamu sesuai dengan kriteriaku. Sebentar lagi kita akan sampai. Semua orang sudah menunggu kita.”

“Tunggu.” Milea mengangkat tubuhnya. Wanita itu memutar kepala. Mengedip saat melihat pria yang ditemuinya di sebuah kafe. Untuk beberapa detik tatapannya bertemu dengan sepasang manik berwarna coklat itu. Sialan, batinnya marah.

“Jangan marah padanya. Dia hanya menjalankan perintah dariku.”

Milea menoleh. Wanita itu mengatur tarikan dan hembusan napasnya. Jadi, ini pria yang dijodohkan dengan Aurora? Apa Aurora tidak akan menyesal menolak pria seperti ini?

Ardito tersenyum. “Kamu pasti masih terkejut.” Pria itu mendesah. “Jangan khawatirkan apapun. Aku sudah menghubungi papamu. Orang tuamu masih di Eropa. Mereka tidak bisa datang menghadiri pernikahan kita. Tapi, papamu sudah menyerahkan pada wali hakim untuk menikahkan kita.”

“Menikah? Siapa?” bingung Milea.

“Kita. Kamu dan saya." Ardito membungkuk. Pria itu tersenyum sambil menatap perempuan yang masih tampak terkejut itu.

"Kita akan segera menikah, Ara.” Ardito menegakkan posisi berdiri. Pria itu mengangkat tangan kiri lalu memperhatikan benda mewah yang melingkari pergelangan tangannya. 

“Tiga puluh menit lagi kita akan tiba, dan kita akan menikah.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Palsu   Putus Asa

    “Pak Ardito yang meminta saya untuk tetap tinggal dan menemani anda.”“Tolong bicara biasa saja. Jangan memanggilku nyonya. Jangan memakai kata anda.”“Anda istri bos saya.”“Aku bukan perempuan yang diinginkan bosmu.”Kai tidak menyahut. Pria yang duduk di depan Milea itu hanya menatap datar istri atasannya. Kai menghembus pelan napasnya. Dia diminta sang atasan untuk mengajak keluar wanita itu supaya terhibur.“Namaku Milea. Aku sahabat Aurora. Kalau kamu tidak percaya, coba cari media sosial Aurora. Kamu akan tahu jika aku tidak berbohong.” Milea menatap serius Kai.“Tolong bantu aku. Aku harus kembali ke Jakarta.” Tatapan Milea berubah. Penuh harap.Kai mengambil ponsel di atas meja lalu fokus menggulir layarnya. Beberapa saat kemudian, tanpa mengatakan apapun–Kai meletakkan ponsel miliknya ke depan Milea.Dengan kening mengernyit, Milea menatap Kai sebelum menurunkan pandangan mata. Semula Milea menatap biasa layar benda di depannya, namun dua detik kemudian Milea dengan cepat men

  • Balas Dendam Istri Palsu   Tak Ada Harapan

    Milea hanya bisa mengumpat sang teman yang ternyata sedang melakukan hal terlarang bersama sang kekasih–Elias. Ponsel sudah tak lagi melekat di telinga, dan panggilan sudah tak lagi tersambung. Milea sudah mematikan sambungan tersebut.Wanita itu berkali-kali menghentak keras napasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Siapa yang bisa ia mintai pertolongan, selain dua orang yang masih bergumul di atas ranjang itu? Milea memukul-mukulkan pelan ponsel di tangan kanan ke telapak tangan kirinya, sementara isi di dalam kepala wanita itu sedang bekerja keras. Haruskah dia menghubungi Zayn? Milea mendesah. Hubungannya dengan Zayn sudah putus satu tahun lalu. Apa yang akan Zayn pikirkan jika ia tiba-tiba menghubungi pria tersebut?Milea resah. Saat ini waktu yang tepat untuk berusaha pergi karena Ardito sedang tidak ada di rumah. Milea tidak tahu bagaimana cara melarikan diri jika pria itu sudah kembali nanti. Jadi, tidak ada pilihan lain. Lupakan prasangka Zayn saat ia menghubungi pr

  • Balas Dendam Istri Palsu   Resmi Menikahi Calon Suami Sahabat

    Milea tak punya kuasa menolak pernikahan tersebut. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi hingga kata ‘SAH’ itu terdengar. Semua terjadi begitu cepat. Pernikahan yang digelar hanya di halaman rumah dan dihadiri oleh tidak lebih dari 50 orang itu benar-benar terjadi. Kilat foto menghujani sang pengantin baru.Semua orang tersenyum. Mereka terlihat ikut berbahagia setelah menjadi saksi pernikahan seorang pengusaha sukses asal Indonesia yang kini menetap di Singapura.Meskipun acara itu tampak sederhana, namun semua makanan mewah yang tersaji, serta dekorasi elegan di tempat berlangsungnya acara, memperlihatkan nilai sang pengantin. “Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian segera mendapatkan momongan.”“Terima kasih.” Ardito mengangguk sambil tersenyum. Pria itu memegang tangan sang istri yang melingkar di lengan kirinya. Ardito mengayun langkah bersama Auroranya. Menyapa tamu di tiap meja sebelum kemudian duduk di meja yang memang disiapkan untuk mereka berdua."Ayo k

  • Balas Dendam Istri Palsu   Pengakuan Milea

    “Saya bukan Aurora. Tolong hentikan semua ini. Saya bukan perempuan yang anda inginkan.”“Sebenar lagi kita menikah. Bicaralah lebih non formal. Rasanya telingaku panas mendengar cara bicaramu yang seperti bawahanku.”Milea menelan ludah susah payah.****Mereka tiba 2 jam lalu di sebuah rumah besar milik Ardito. Yang membuat Milea terkejut adalah ketika melihat halaman rumah itu sudah didekorasi untuk sebuah acara. Lalu, saat masuk ke dalam rumah, sudah ada banyak orang yang sedang sibuk mengatur ini itu. Lalu ia dibawa ke sebuah kamar.Di dalam kamar itu dua orang perempuan berusia sekitar 30 tahun sudah menunggunya. Perempuan itu langsung memintanya untuk membersihkan tubuh. Setelah mandi, Milea harus memakai gaun pengantin. Semua berjalan begitu cepat. Waktu seolah tidak memberi tempat bagi Milea untuk sekedar memikirkan apa yang terjadi. Dalam sekejap ia sudah dimake up sedemikian rupa, dan siap dengan penampilan sebagai seorang calon pengantin.Milea yang sedang berada di tempa

  • Balas Dendam Istri Palsu   Terjebak

    “Maaf, saya harus ke toilet.” Milea meremas telapak tangannya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Ardito, tangan wanita itu bergetar. Syok berat. Menikah? Kenapa jadi begini? Milea menurunkan kedua kakinya. Beranjak dari tempat berbaring sebelumnya, Milea memutar kepala, mencari keberadaan tas nya.“Mencari tasmu?” tanya Ardito, melihat Milea mencari-cari sesuatu. Melihat anggukan kepala Milea, Ardito menunjuk sebuah meja di depan Kai.Milea langsung berjalan menuju tempat Kai sedang duduk. Sampai di tempat tersebut, Melia menatap marah Kai, sebelum menyambar tali tasnya. Milea berbalik, hanya untuk kebingungan melihat sekitar. Sepasang mata wanita itu mengerjap saat menyadari sesuatu.Detik berikutnya, Milea terbelalak. Saat ini dia sedang berada di udara? Di atas pesawat? Milea melangkah ke jendela dan melihat awan-awan bertumpuk di luar sana. Fix, Milea kini sadar ia sedang berada di dalam alat transportasi udara.Milea kemudian memutar lagi langkah kakinya. Wanita itu kini berdiri

  • Balas Dendam Istri Palsu   Pertemuan Pertama

    Milea buru-buru masuk ke dalam sebuah kafe. Dia terlambat 5 menit. Wanita itu mengedarkan pandangan mata–mencari keberadaan seorang pria yang memakai kemeja navy garis-garis. Menurut Aurora–sahabatnya, pria itu kemungkinan berkepala botak, dan perut buncit. Mukanya mungkin dipenuhi jambang dan kumis.Milea bergidik membayangkannya. Langkah kaki wanita itu memelan ketika melihat seorang pria dengan kemeja berwarna navy garis-garis duduk sendirian di sebuah meja. Pria itu sedang menikmati isi di dalam cangkir sambil memperhatikan layar ponsel.Milea menarik napas panjang. Kalau bukan karena Aurora sudah banyak membantunya, dia tidak akan sudi menemui siapapun pria yang dijodohkan dengan sahabatnya itu.“Kamu harus membantuku, Milea. Aku tidak mau menikah dengan pria pilihan papa. Kamu tahu aku sudah punya Elias. Aku hanya akan menikah dengan Elias.”“Lalu aku harus apa?”“Temui laki-laki itu atas namaku. Buat dia ilfeel sama kamu, supaya dia menggagalkan perjodohan itu.”“Kenapa tidak k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status