Home / All / Balas Dendam Istri Palsu / Tak Ada Harapan

Share

Tak Ada Harapan

Author: NasaNasa
last update publish date: 2026-03-17 18:23:07

Milea hanya bisa mengumpat sang teman yang ternyata sedang melakukan hal terlarang bersama sang kekasih–Elias. Ponsel sudah tak lagi melekat di telinga, dan panggilan sudah tak lagi tersambung. Milea sudah mematikan sambungan tersebut.

Wanita itu berkali-kali menghentak keras napasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Siapa yang bisa ia mintai pertolongan, selain dua orang yang masih bergumul di atas ranjang itu?

Milea memukul-mukulkan pelan ponsel di tangan kanan ke telapak tangan kirinya, sementara isi di dalam kepala wanita itu sedang bekerja keras. Haruskah dia menghubungi Zayn? Milea mendesah. Hubungannya dengan Zayn sudah putus satu tahun lalu. Apa yang akan Zayn pikirkan jika ia tiba-tiba menghubungi pria tersebut?

Milea resah. Saat ini waktu yang tepat untuk berusaha pergi karena Ardito sedang tidak ada di rumah. Milea tidak tahu bagaimana cara melarikan diri jika pria itu sudah kembali nanti. Jadi, tidak ada pilihan lain. Lupakan prasangka Zayn saat ia menghubungi pria itu. Sekarang dia harus berdoa supaya pria itu bersedia membantunya.

Beruntung ia tidak memblokir nomor Zayn. Dia tidak pernah membenci pria itu. Hubungannya kandas bukan karena Zayn berkhianat. Bukan karena tidak ada cinta lagi. Hubungan itu harus berakhir karena status yang berbeda.

Orang tua mana yang akan membiarkan putra kesayangannya berhubungan dengan anak pelakor. Ya, itu adalah cap yang melekat di dirinya. Anak pelakor.

Milea merasa perlu untuk memenuhi paru-parunya dengan stok oksigen sebanyak mungkin, sebelum memberanikan diri menggulir layar ponsel kemudian menekan nomor kontak Zayn.

Milea memutar langkah lalu mengayunnya. Tidak seperti ketika ia menghubungi Aurora, kali ini Milea berjalan mondar mandir sambil menunggu orang yang dihubungi menjawab. Berkali-kali wanita itu bahkan harus menarik napas panjang, seolah sedang berusaha untuk menenangkan hatinya.

Ayunan kaki wanita itu baru berhenti ketika suara yang sudah sangat lama tidak pernah menyapa gendang telinganya itu terdengar.

“Milea?” Suara Zayn terdengar dengan nada terkejut.

“I-iya. Ini aku.” Mile terbata. Rasanya sudah begitu lama dia merindukan suara itu. Akan tetapi, Milea tahu rasa rindu itu tidak seharusnya ia pelihara. 

“Hei, apa kabar? Aku dengar usahamu dan Ara berkembang pesat.”

“Oh … itu? Um … alhamdulillah, lumayan. Um … kalau kamu butuh WO, kamu bisa kontak aku.”

“Hmm … begitu, ya?” Lalu Zayn terdiam beberapa saat. Membuat ruang hening tercipta sejauh dua negara berbeda Jakarta dan Singapura. Sampai kemudian Milea bersuara terlebih dahulu.

“Zayn,” panggil Milea dengan suara yang sanggup menggetarkan hati pria yang mendengarnya.

Di tempatnya berada, Zayn terdiam merasakan sesuatu di dalam d*da. Rasa sakit, luka yang masih belum mengering bahkan setelah satu tahun terlewat. Zayn mencintai Milea dengan tulus.

Sayangnya semua masa indah selama tiga tahun bersama itu, Milea akhiri begitu saja. Zayn tidak pernah benar-benar tahu kenapa Milea mengakhiri hubungan mereka, padahal ia merasa semua baik-baik saja. Hubungannya dengan Milea berjalan lancar tanpa kendala.

Milea memberikan dampak positif di hidupnya. Lalu wanita itu membuatnya hancur terpuruk. Anehnya, dia tidak bisa membenci Milea. Yang dia tahu, setelah putus dengannya, Milea belum pernah berhubungan dengan pria lain. Hal itu membuat Zayn menolak selentingan dari teman-temannya jika bisa jadi Milea berselingkuh darinya.

Dan karena itu, Zayn sama sekali tidak pernah memblokir nomor Milea. Berharap hari seperti hari ini akan datang.

Lalu ketika tiba-tiba melihat nama kontak Milea di layar ponsel yang menyala, Zayn tidak bisa tidak merasa senang. Dia senang sekali. Akhirnya keinginannya terwujud.

“Boleh aku minta bantuanmu?”

Zayn mengedip. Baru saja dia melamun, mengenang masa lalunya saat bersama Milea. “Apa yang bisa aku bantu? Kamu sekarang dimana? Ayo kita ketemu,” ajak Zayn. Bunga-bunga di dalam hatinya mengembang. Memikirkan kesempatan bertemu lagi dengan Milea.

“Um, aku sekarang sedang di Singapura.”

“Singapura? Kamu ada proyek di sana?” tany Zayn sedikit terkejut mengetahui dimana saat ini Milea berada.

“Bukan. Aku … um aku–”

“Zayn, ada Ina di bawah. Ayo, Turun!”

‘Tok! Tok! Tok!'

Milea menghentikan kalimatnya. Dia mendengar suara itu. Milea menelan saliva susah payah. Ina. Siapa Ina? Yang pasti itu nama perempuan, dan bukan nama adik Zayn. Milea menarik napas dalam-dalam.

“Zayn!”

“Iya, Ma. Sebentar.” Zayn menutup speaker ponsel saat menyahut sang mama. Meskipun begitu, Milea yang masih tersambung dengan pria itu masih bisa mendengar suaranya meskipun tidak keras.

“Milea ….”

“It’s okay, Zayn. Lupakan saja. Maaf sudah mengganggu. Aku–”

“Tunggu, Milea. Katakan saja apa yang kamu butuhkan dariku. Kalau aku bisa bantu, aku pasti bantu. Aku senang kamu menghubungiku saat kamu kesulitan. Katakan saja apa yang–”

“Zayn! Kamu sedang apa di dalam? Kenapa pintunya di kunci?” Suara mama Zayn kembali terdengar.

“Zayn, sebaiknya kamu keluar dulu. Nanti mamamu marah. Aku tutup. Maaf mengganggumu.” 

“Milea … Mila!” Di tempatnya, Zayn menghentak keras napasnya. Milea sudah memutus sambungan mereka. Zayn menurunkan ponsel dengan kesal.

Pria itu kemudian bergegas mengayun langkah ke arah pintu kamarnya. Kesal pada sang mama, namun saat pria itu membuka pintu, Zayn hanya bisa menatap datar mamanya, lalu berjalan melewati wanita tersebut.

Sementara Milea dengan perasaan kecewa memupus harapan meminta bantuan pada Zayn. Milea mengayun kaki ke arah ranjang, lalu menghempas pantat ke tepi ranjang. Putus sudah harapannya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang?

‘Tok! Tok!’

Suara ketukan membuat Milea menegakkan punggung yang semula melengkung ke depan. Wanita itu memutar kepala ke arah daun pintu yang masih tertutup.

“Nyonya.”

Sepasang mata Milea langsung mengerjap. Dia mengenali suara itu. Apa … Ardito tidak jadi pergi? Mendadak Milea merinding. Apa sekarang dia harus tidur satu ranjang dengan pria itu? Milea menelan susah payah salivanya.

“Nyonya, silahkan keluar. Saya menunggu anda di sini.”

Milea masih menatap daun pintu yang tertutup itu. Masih belum bergerak dari posisinya duduk di tepi ranjang. Tarikan dan hembusan napas wanita itu semakin cepat ketika melihat pergerakan gagang pintu. Sekali lagi Milea menelan saliva.

“Saya akan buka dengan kunci cadangan, jika dalam hitungan tiga anda belum keluar.”

Sepasang mata Milea langsung membesar. Orang itu memang gila. Dasar pemaksa. Hobinya hanya mengancam, batin kesal Milea sambil beranjak berdiri.

“Saya hitung dari tiga. Tiga … dua–”

“Iya … iya! Aku juga perlu jalan.” Milea benar-benar kesal setengah mati. Wanita itu melangkah lebih cepat. Tiba di depan pintu, Milea segera memutar kunci lalu menarik gagang pintu. Milea mendongak menatap kesal pria yang berdiri di depannya.

Milea menghentak keras napasnya. “Ada apa? Bukannya kamu pergi dengan … Pak Ardito?” Milea menarik napasnya. Rasanya aneh sekali memanggil pria itu. Pria asing yang tiba-tiba berstatus sebagai suaminya.

“Ini … untuk anda.”

Milea menurunkan pandangan mata. Menatap buket bunga di depannya. Wanita itu terdiam dengan sepasang kelopak mata bergerak turun naik.

“Pak Ardito sudah berangkat. Saya datang untuk mengajak anda menikmati malam di kota ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Palsu   Saatnya Malam Pertama

    Hidup Milea yang sedang menyamar sebagai Auora–anak seorang pengusaha kaya itu seketika berubah 180 derajat. Dari seorang anak single parent miskin yang untuk kuliah saja bergantung pada bea siswa, kini menjadi seorang istri komisaris perusahan besar. Tinggal di Singapura. Di sebuah rumah super mewah yang lokasinya tidak jauh dari pantai.Tidak seperti yang ditakutkan oleh Milea, Ardito memperlakukannya dengan baik. Malam pertama mereka tidur satu ranjang, Milea bangun di pagi hari dalam pelukan Ardito. Milea pikir Ardito akan memaksakan keinginan sebagai seorang suami, namun nyatanya tidak. Malam berikutnya, Milea membuat alasan sedang datang bulan hingga ia selamat selama 10 hari setelahnya. Yang Ardito lakukan hanya memeluk saat tidur.Pria itu juga tidak memaksa pergi berbulan madu ketika Milea memilih berada di rumah. Ardito menyiapkan semua kebutuhan Milea. Dari pakaian-pakaian branded, sepatu, perhiasan, jam tangan, make up. Semua kebutuhan perempuan Ardito siapkan. Bukan yang

  • Balas Dendam Istri Palsu   Tidur Satu Ranjang

    Kai mengangkat tubuh Milea, kemudian membawanya ke tepi pantai. Pria itu menurunkan Milea di bangku batu di sekitaran pantai. Kai menghentak keras napasnya. Dengan wajah gusar, pria itu menatap tajam Milea.“Tolong jangan melakukan hal gila seperti itu lagi.” Kai berkacak pinggang. Dengan kulit wajah memerah, Kai menekan-nekan katupan rahangnya.Pria itu berusaha keras menahan emosi yang sudah akan meledak. Kai sampai membuang muka melihat wajah Milea. Kesal setengah mati, namun tidak tega melihat wajah memelas wanita itu.Sedangkan Milea menundukkan kepala. Dia tidak sadar sudah masuk ke dalam air. Pikirannya benar-benar sedang kacau. Dia sedang marah, kecewa, sakit hati.Dia sebenarnya tidak berencana untuk bunuh diri. Dia sadar Tuhan tidak akan mengampuni dirinya jika ia melakukan dosa besar itu. Sesulit apapun hidupnya selama ini, dia tidak pernah berpikir mati adalah jalan keluarnya. Milea meremas-remas jalinan tangan di pangkuan. Angin malam itu cukup kencang. Hawa dinginnya ki

  • Balas Dendam Istri Palsu   Putus Asa

    “Pak Ardito yang meminta saya untuk tetap tinggal dan menemani anda.”“Tolong bicara biasa saja. Jangan memanggilku nyonya. Jangan memakai kata anda.”“Anda istri bos saya.”“Aku bukan perempuan yang diinginkan bosmu.”Kai tidak menyahut. Pria yang duduk di depan Milea itu hanya menatap datar istri atasannya. Kai menghembus pelan napasnya. Dia diminta sang atasan untuk mengajak keluar wanita itu supaya terhibur.“Namaku Milea. Aku sahabat Aurora. Kalau kamu tidak percaya, coba cari media sosial Aurora. Kamu akan tahu jika aku tidak berbohong.” Milea menatap serius Kai.“Tolong bantu aku. Aku harus kembali ke Jakarta.” Tatapan Milea berubah. Penuh harap.Kai mengambil ponsel di atas meja lalu fokus menggulir layarnya. Beberapa saat kemudian, tanpa mengatakan apapun–Kai meletakkan ponsel miliknya ke depan Milea.Dengan kening mengernyit, Milea menatap Kai sebelum menurunkan pandangan mata. Semula Milea menatap biasa layar benda di depannya, namun dua detik kemudian Milea dengan cepat men

  • Balas Dendam Istri Palsu   Tak Ada Harapan

    Milea hanya bisa mengumpat sang teman yang ternyata sedang melakukan hal terlarang bersama sang kekasih–Elias. Ponsel sudah tak lagi melekat di telinga, dan panggilan sudah tak lagi tersambung. Milea sudah mematikan sambungan tersebut.Wanita itu berkali-kali menghentak keras napasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Siapa yang bisa ia mintai pertolongan, selain dua orang yang masih bergumul di atas ranjang itu? Milea memukul-mukulkan pelan ponsel di tangan kanan ke telapak tangan kirinya, sementara isi di dalam kepala wanita itu sedang bekerja keras. Haruskah dia menghubungi Zayn? Milea mendesah. Hubungannya dengan Zayn sudah putus satu tahun lalu. Apa yang akan Zayn pikirkan jika ia tiba-tiba menghubungi pria tersebut?Milea resah. Saat ini waktu yang tepat untuk berusaha pergi karena Ardito sedang tidak ada di rumah. Milea tidak tahu bagaimana cara melarikan diri jika pria itu sudah kembali nanti. Jadi, tidak ada pilihan lain. Lupakan prasangka Zayn saat ia menghubungi pr

  • Balas Dendam Istri Palsu   Resmi Menikahi Calon Suami Sahabat

    Milea tak punya kuasa menolak pernikahan tersebut. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi hingga kata ‘SAH’ itu terdengar. Semua terjadi begitu cepat. Pernikahan yang digelar hanya di halaman rumah dan dihadiri oleh tidak lebih dari 50 orang itu benar-benar terjadi. Kilat foto menghujani sang pengantin baru.Semua orang tersenyum. Mereka terlihat ikut berbahagia setelah menjadi saksi pernikahan seorang pengusaha sukses asal Indonesia yang kini menetap di Singapura.Meskipun acara itu tampak sederhana, namun semua makanan mewah yang tersaji, serta dekorasi elegan di tempat berlangsungnya acara, memperlihatkan nilai sang pengantin. “Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian segera mendapatkan momongan.”“Terima kasih.” Ardito mengangguk sambil tersenyum. Pria itu memegang tangan sang istri yang melingkar di lengan kirinya. Ardito mengayun langkah bersama Auroranya. Menyapa tamu di tiap meja sebelum kemudian duduk di meja yang memang disiapkan untuk mereka berdua."Ayo k

  • Balas Dendam Istri Palsu   Pengakuan Milea

    “Saya bukan Aurora. Tolong hentikan semua ini. Saya bukan perempuan yang anda inginkan.”“Sebenar lagi kita menikah. Bicaralah lebih non formal. Rasanya telingaku panas mendengar cara bicaramu yang seperti bawahanku.”Milea menelan ludah susah payah.****Mereka tiba 2 jam lalu di sebuah rumah besar milik Ardito. Yang membuat Milea terkejut adalah ketika melihat halaman rumah itu sudah didekorasi untuk sebuah acara. Lalu, saat masuk ke dalam rumah, sudah ada banyak orang yang sedang sibuk mengatur ini itu. Lalu ia dibawa ke sebuah kamar.Di dalam kamar itu dua orang perempuan berusia sekitar 30 tahun sudah menunggunya. Perempuan itu langsung memintanya untuk membersihkan tubuh. Setelah mandi, Milea harus memakai gaun pengantin. Semua berjalan begitu cepat. Waktu seolah tidak memberi tempat bagi Milea untuk sekedar memikirkan apa yang terjadi. Dalam sekejap ia sudah dimake up sedemikian rupa, dan siap dengan penampilan sebagai seorang calon pengantin.Milea yang sedang berada di tempa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status