LOGINFiona Terpaksa menikah dengan Darren, pacar sang adik, karena sang adik kabur di hari pernikahannya. Sifat kasar Darren membuat Fiona berkali-kali merasakan trigger. Namun, saat mendengar langsung dari Helen mengenai alasannya membuat Fiona menikah, menjadikan Fiona semakin penuh dendam. Hubungan pernikahan yang berjalan atas dasar kebencian menjadi terjalin berkat malam yang panas, di mana mereka berdua sama-sama emosi dengan Helen. Akankah ini menjadi pernikahan yang harmonis? Atau sekedar teman tidur?
View MoreDengan dress putih tema yang dipilih keluarganya, Fiona datang ke pernikahan sang adik yang sudah direncanakan dengan baik.
Fiona tersenyum lebar. Bukan menandakan kebahagiaan. Namun, kebebasan. Kebebasan menjadi bayang-bayang negatif sang adik yang selama ini selalu diberikan kepadanya. Hendak melangkah menuju ruang pengantin wanita, Fiona dibuat tersentak melihat mamanya tengah menangis tersedu di dalam sana. Badannya membeku seketika. Hanna, ibunya- menoleh ke arah Fiona yang baru datang. Sambil berderai air mata, Hanna memegang kedua lengan Fiona dengan kuat sambil berucap dengan nada menyakitkan. “Nak! Fiona! Ibu mohon… bantu ibu Nak!” serunya seraya menangis. Dari tatapannya, Fiona mendapatkan sinyal negatif yang menembus akal sehatnya. “Hazel kabur. Ibu kira, yang tadi pagi menjemputnya itu Darren, Tetapi, ternyata ia kabur dengan pria lain,” jelas Hanna, singkat. DEGHHH. Jantung Fiona langsung terasa sakit. Ia sudah memungkinkan kemungkinan terburuk yang akan ditujukan kepadanya. Tetapi, ingatan sehari sebelumnya kembali menggema di dalam kepala. itu bukan ucapan tersirat atau sekedar kalimat yang terlontar. Melainkan, itu adalah fakta yang diberitahukan Hazel. “Kalau aku tak datang, kamu yang gantikan aku.” Ibunya masih tersedu di depan matanya. Namun, tatapan Hanna yang semula meringis sakit, kini tertuju kembali pada Fiona dengan penuh ambisi. “Nak! Bagaimana kalau kamu yang gantikan Hazel untuk jadi pengantin Darren?!” seru Hanna. Permintaan di luar akal itu membuat Fiona hendak menepis kedua tangan Hanna yang memegangnya. Namun, justru tangan itu semakin memegangnya dengan kuat, bahkan terkesan mencengkram dirinya dengan begitu menyakitkan. Kini hanya menatap Fiona dengan nanar. Ia seperti tengah mengancam Fiona untuk tak menolak. “Jangan membantah, Fiona. Ini perintah, bukan permintaan!” “Kalian! Cepat riasi dia!” perintah Hanna pada para perias yang ada di sana. Fiona tak bisa mengelak. Pintu keluar mendadak dijaga oleh para bodyguard, yang membuatnya tak mungkin bisa kabur. Pakaian putih yang seharusnya membuat dirinya menjadi pendamping pengantin, kini berubah menjadi gaun yang membuat Fiona merasa tak nyaman. Ia disiapkan secara paksa untuk menikah, tanpa diberi kesempatan untuk memberikan perlawanan. Ketika pintu altar terbuka, terlihat jelas bahwa orang-orang kaget melihat sosok pengantin tak seperti yang tersebar di undangan. Bahkan, Darren menatap Fiona dengan tatapan yang nanar. Ketika mengucap janji suci, terlihat bahwa Darren jijik memegangi tangannya. Kalau bukan karena mereka menjadi pusat, Darren sudah pasti akan menepisnya. Semua berjalan begitu cepat, membuat Fiona tak sempat memproses kejadian barusan. Bajunya yang sudah dikemasi, disiapkan untuk dibawa ke kediaman Darren. Seolah Fiona sudah siap diusir dari rumahnya. ‘Apa pria ini sungguh menerima pernikahan kita hari ini?’ batin Fiona, sembari menarik kopernya dan berjalan di belakang Darren. Ketika sudah masuk ke dalam apartemen pria di depannya, mendadak saja dia berhenti, membuat Fiona ikut berhenti melangkah. “Dimana Hazel? Kenapa justru kamu yang muncul dengan gaun itu?” tanya Darren, tanpa menoleh ke belakang. Suaranya terdengar tegas dan mengancam. Fiona sempat gugup selama beberapa saat, sampai akhirnya Fiona memberanikan diri menjawab. “A- Aku tak tahu. Saat aku datang tadi, aku melihat ibu menangis. Ibu bilang, ada seorang pria yang menjemputnya pagi ini, dan ibu mengira itu kamu,” jelas Fiona dengan sedikit gagap. Suasana yang kembali hening, membuat Fiona menelan salivanya dengan kasar. Tiba-tiba… PRYANGGG…. BUAGHHH…. BUGH…. CTANGGG…. Di depan matanya, Fiona melihat Darren mengamuk dan memecahkan barang-barang yang ada di dekatnya. Badan Fiona bergetar hebat. ‘Ini lagi? Kejadian seperti ini lagi?!’ batinnya. Tangannya mengepal di depan dada menahan diri. Tepat saat itu, Darren menoleh ke arah Fiona dengan tatapan nanar, emosi besar yang tak terkendali. Dengan begitu kasar, Darren menarik kerah bajunya, membuat Fiona kesulitan bernapas. “Aku takkan membiarkan wanita sialan itu hidup bebas! Sudah kuberikan semuanya, tapi dia memilih kabur?” “A- Aku tak bisa bernapas,” ucap Fiona sambil mencoba melepaskan tangan Darren yang menariknya. Senyum seringai liciknya terlihat jelas. “Yah, memang. Aku akan selalu membuatmu kesulitan bernapas.” Cengkeraman Darren mulanya makin lama makin kuat. Namun, saat melihat Fiona semakin tak bisa menarik napasnya, Darren melepaskan kerah baju Fiona, membuat wanita itu terjatuh. Fiona menarik napas dengan segera, mengaturnya terengah-engah. Kepalanya mendongak ke atas, wajah Darren tampak menyeramkan dari tempatnya duduk. “Tidur di kamar bawah tangga! Jangan berani naik ke atas! Kupatahkan kakimu kalau sampai berani naik!” pekik Darren, seraya naik ke atas meninggalkan Fiona. Fiona hanya menatap nanar kepergian Darren. Isi pikirannya kacau, membayangkan bahwa ia akan menjadi istri dari pria gila yang berani mencekik wanita yang baru saja dinikahi. ‘Lalu kenapa Helen mau dengannya? Apa selama ini dia selalu diperlakukan seperti ini juga?’ batin Fiona. Ia hiraukan pikiran kacaunya. Fiona menuju kamar bawah yang ditunjuk oleh Darren. Betapa hinanya ini. yang dia dapatkan adalah sebuah gudang dengan kasur kecil di dalamnya. Debu yang tebal, bahkan barang-barang tak berguna dikumpulkan menjadi satu. Jantungnya berdegup semakin kencang, napasnya memburu merasa sakit yang tak terkira. Fiona tak menyangka, nasib hidupnya semakin memburuk seiring waktu. Malam yang sunyi terasa akrab bagi Fiona. Ia memilih merapikan gudang itu, membuatnya menjadi tempat layak baginya tertidur. Barang-barang tak tertata ia letakkan pada sudut ruangan, dan tak lupa membuat kamar tersebut sebagai tempat perlindungan. Keringat Fiona menggucur begitu deras, ia pakai celana pendek serta baju lengan pendek untuk mengurangi rasa gerahnya. JDUGHHH. Tanpa sadar, Fiona yang sedang keluar berjalan mundur membawa kardus itu menabrak satu-satunya orang yang satu rumah dengannya. “Ah, Ma- Maaf,” Fiona sontak berucap sambil menjauh. Pria itu menatap dingin pada Fiona. Dipandanginya dari atas sampai bawah tubuh wanita mungil yang tengah ketakutan. Dengan sekali helaan napas, Darren berjalan, sengaja menyenggol Fiona. Kardus yang dibawanya langsung terjatuh, berserakan di mana-mana isinya. Fiona hanya bisa menahan rasa kaget. Ia menoleh, dan melihat pria itu berjalan tanpa rasa bersalah. ‘Apa sih! Aku kan sudah minta maaf!’ kesalnya. Fiona kembali memungut barang-barang yang terjatuh. Ia mencoba melebarkan kesabarannya. Sadar bahwa dia sudah masuk ke jenjang pernikahan yang membuatnya terjerat. Esok paginya, Fiona berusaha melupakan kejadian kemarin, meski masih merasa takut. Dengan dapur yang luas, dan hanya ia seorang yang berada di sini, membuat Fiona merasa leluasa memasak. Ia buat sarapan seraya bersenandung, membuat Fiona merasa punya rumah. “Ahhhhh, ini aroma yang kusuka,” ucap Fiona seorang diri, sambil menghirup manisnya bau sup buatannya. “Apa yang kamu lakukan?” Suara dingin itu memecah kesenangan Fiona sesaat. Fiona segera berbalik badan dengan mangkuk besar di tangannya. Ia lihat pria itu sudah berpakain rapi dengan jasnya. “Sup. Kamu… mau?” Fiona menawarkan dengan ragu. Langkah Darren seperti sebuah ancaman bagi Fiona. Darren berhenti di meja makan, melihat lauk yang ada di atasnya. Fiona merasa berdebar. Bahkan keringat dingin memenuhi tubuhnya karena merasa seperti disidang. Hanya dengan satu kali lirikan dari Darren, semuanya berubah menjadi kekacauan tak terduga. PRYANGGGGGG. Lauk yang ada di atas meja dilemparkan ke arah Fiona, mengenai mangkuk yang dipegang, dan membuat semua berjatuhan Wajah Fiona penuh dengan lauk buatannya. Supnya jatuh ke lantai, nyaris mengenai kaki Fiona. Beruntungnya, ia bisa menghindari, meski masih tetap terkena kuahnya. “ARGHHH!” kaget Fiona. “Jangan hidangkan makanan sampahmu di atas meja! Sampahpun tak sudi disandikan dengan makananmu!”Bagaimanapun Darren memperlakukannya, Fiona sudah merasa biasa saja. Ia sudah mulai terbiasa dengan apa yang dipinta sang suami. Bahkan, Fiona merasa bahwa nyaman dengan semua yang dilakukan Darren kepadanya.Siang ini, Darren meminta Fiona untuk ikut pergi ke suatu tempat yang diminta oleh sang suami. Ia kenakan pakaian yang cantik, dan pastinya tidak memalukan bagi Fiona.Selama perjalanan, Fiona melihat ke sekeliling jalanan, memperhatikan bagaimana semuanya masih tetap sama.“Kamu tak mau tahu kemana aku ingin mengajakmu?” tanya Darren.“Hmmm? Selama itu sama kamu, aku tak masalah,” balas Fiona.Darren tersenyum tipis membalasnya, lalu kembali melajukan mobil ke arah yang seharusnya. Tak lama kemudian, Fiona sampai ke tempat yang dituju oleh Darren. Pinggiran danau yang benar-benar hijau. Banyak orang di sana menikmati bagaimana danau yang begitu asri dan juga suasana yang nyaman.Fiona yang baru turun dari mobil sudah senyum sumringah. Dia menyukai tempat yang ditunjukkan kepada
Paggilan dimatikan oleh Darren. Fiona hanya memaku sejenak memandangi pakaian-pakaian tersebut. Ia tak tahu, kalau Darren menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuannya.‘Yang diberikan mamanya dulu, belum pernah kucoba. Dan sekarang, dia mau aku tampil menggunakan ini semua?’Batinnya sempat bergemuruh karena merasa runtuh melihat Darren yang kini semakin memperlihatkan jelas perubahannya ke arah mana.Namun, saat pikiran Fiona beralih melihat bagaimana dia bisa bebas dari hidupnya yang penuh tekanan dan selalu dikorbankan, Fiona menemukan sebuah titik yang memperlihatkan tak seharusnya dia demikian.‘Iya juga…. kalau bukan karena Darren, tak mungkin aku bisa pergi dari rumah. Aku harus balas budi, kan? Paling tidak, aku harus senangkan dia.,Fiona ambil salah satu pakaian dinas yang ia rasa paling seksi. Ia pakai pakaian itu dengan begitu ketat di badannya. Ia pakai make up, dan juga buat rambutnya bergelombang untuk memancarkan aura seksi yang tidak pernah ia tunjukkan.Fiona muncul di
Fiona yang masih sibuk meratakan coklat pada rotinya, merasakan bahwa Darren tengah tersenyum. Terasa lewat dagunya yang naik.“Kamu takkan meninggalkanku, kan?” tanya Darren, berbisik di telinganya.“Tentu saja tidak,” balas Fiona. Ia kunyah terlebih dahulu roti yang baru ia buat, sembari menyahut kembali. “Aku sudah bilang, aku berhasil keluar rumah itu berkatmu. Meninggalkanm, sama saja mengmbalikanku ke rumah itu, kan?” Fiona.Mendengar jawaban Fiona, membuat Darren menarik wajah Fiona, lalu memberikan kecupan pada bibirnya secara tiba-tiba. Senyum smirk dari Darren terlihat tak memasang wajah bahagia biasanya. Itu adalah senyuman kepuasan yang baru kali ini Fiona lihat.“Kalau begitu…. aku ingin membuat berbagai aturan bersamamu, boleh?” Darren bertanya, sambil memandangi Fiona.Tanpa ragu dengan penawaranan, Fiona menganggukkan kepala, dengan terus melanjutkan makan roti yang ia bawa.Pelukan Darren yang mulanya begitu erat pada tubuh Fiona, kini beralih. Sebelah tangan Darren m
Darren mulai dengan gemas memainkan dada Fiona, dan juga meletakkan terlebih dahulu ponsel Fiona. Tak lama, Darren mulai menaikkan baju Fiona, dan melihat buah dada Fiona yang mengeras karena tegang.Fiona menerima perlakuan Darren, membiarkan Darren melepaskan semua pakaiannya, sampai membuat Fiona merasa malu karena tak mengenakan apapun di hadapannya.“Baby… you look sexy,” ucap Darren.Fiona malah makin merona mendengar ucapan Darren yang memujinya. Tangan Darren menyentuh pipinya dengan lembut, dan sedikit mencubit karena merasa gemas.“Tubuhmu benar-benar indah, Baby,” ucap Darren, yang semakin tak bisa menahan.Sembari malu-malu, Fiona berusaha memasang wajah paling menggoda untuk bisa merayu Darren. Ia suka, sangat menyukai bagaimana Darren menyentuhnya.“Kalau begitu, tunggu apa lagi, Sayang? Kemari,” ucap Fiona.Darren yang sudah bersiap, segera menyesap pucuk dada Fiona. Ia remas dengan keras, dan membuat Fiona mendesah dengan nikmat. Mendengarkan Fiona dengan suara indahny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.