LOGIN“Maaf,” ucap pria itu setelah bertemu tatap dengan Tiara.
“Huh?” Tiara yang mulai sadar bahwa dia sedang menangis. Cepat-cepat dia menunduk menyembunyikan wajahnya. Cepat-cepat dia mengusap jejak air mata di pipi yang bawah mata sebelum berdiri.
“Maaf, saya akan datang lagi nanti.” Pria itu hampir berbalik.
Tapi, Tiara menghentikannya. “Ada urusan apa ya?” tanya wanita itu dengan suara yang tercekat.
“Saya Rafka dokter jaga. Ini jadwal saya memeriksa pasien.” Pria yang bernama Rafka itu melihat ke arah Naren.
“Ah, jadi anda dokter. Silahkan dok,” Tiara membuka jalan untuk Rafka.
Rafka dengan menangguk sesaat setelah itu berjalan mendekat ke ranjang Naren. Pria itu melakukan tugasnya sebagai dokter, yaitu memeriksa pasien.
Namun sesekali Tiara memergoki Rafka mencuri pandang padanya. Membuat dia tidak nyaman, dan memilih sedikit menjauh dari Dokter muda itu.
Melihat Tiara yang menggeser posisinya, Rafka menjadi paham kalau Tiara tidak nyaman, apalagi di ruang perawatan VIP itu hanya ada mereka berdua dan Naren yang masih dalam keadaan koma.
“Anda tenang saja, pasien akan segera sembuh dan sadar. Jadi, anda tidak usah khawatir,” ucap Rafka mencoba menghibur Tiara.
Tiara sedikit tersentak mendengar kalimat penghiburan dari dokter itu. Sepertinya dia berpikir kalau Tiara menangis karena Naren yang terbaring koma.
Entah kenapa Tiara merasa lega karena dokter itu mungkin berpikir dia menangis karena khawatir dengan keadaan Naren. Alhasil, Tiara tersenyum tipis membalas kata-kata penghiburan yang diberikan dokter itu.
Padahal alasan sebenarnya adalah lebih buruk. Tiara menangis karena menemukan bukti perselingkuhan suaminya di dalam koper. “Terima kasih, dok. Lalu, bagaimana keadaannya?” tanya Tiara mencoba mengalihkan topik.
Suara wanita itu sudah lebih baik dan tenang.
“Keadaan pasien sudah stabil. Tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan sejauh ini,” ujar Dokter Rafka.
Setelah itu percakapan singkat itu Dokter Rafka meninggalkan Tiara, dan melanjutkan tugas lainnya sebagai dokter.
Sepeninggal Dokter Rafka, Tiara memandangi wajah Naren yang masih terpejam. Wajahnya begitu damai, tidak ada sedikitpun aura dingin dari wajah itu.
Namun, entah kenapa melihatnya seperti ini dan mengingat apa yang ditemukan di dalam koper suaminya membuat hatinya perih.
Tatapan mata Tiara sendu. Jejak sembab akibat air mata sebelumnya masih membekas.
“Aku akan mencari tahu kebenarannya. Apa kamu memang berhubungan dengan Shalsa atau tidak, Kak.”
Tiara bertekad mencari kebenaran yang terjadi antara suaminya dan Shalsa. Meski dia tahu, kalau ini mungkin saja menyakitinya lebih dalam.
Dengan langkah mantab, Tiara keluar dari ruang perawatan Naren menuju ruangan Shalsa.
Tepat di ruangan tempat Shalsa terbaring, langkah Tiara terhenti. Shalsa dirawat di ruang rawat kelas 1. Tidak semewah Naren, tapi tetap saja wanita itu mendapat kamarnya sendiri.
Tangan Tiara meraih gagang pintu dengan ragu-ragu. Dia menarik nafas panjang sebelum membukanya.
Satu, dua, tiga detik kemudian Tiara mantap membuka pintu itu. Dan, matanya terbuka lebar saat melihat Lucy dan mertuanya ada di dalam ruangan itu.
Di tengah mereka seorang wanita berpakaian pasien rumah sakit sedang duduk di atas ranjang. Dia adalah Shalsa. Jadi, wanita itu sudah sadar dari koma? Secepat ini?
Mata mereka memicing menatap ke arah Tiara seolah tak suka dengan kehadirannya.
“Mau apa kau kemari?” ucap Rosa sinis.
Ditanya langsung seperti itu membuat Tiara ciut, seolah dia sedang mengganggu kesenangan mereka. “Mmm, itu ma…” suara Tiara tercekat di tenggorokan, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Cih, nggak jelas! Udah sana! Urusin Kak Naren aja, tugasmu itu cuma merawat kak Naren, kenapa malah jalan-jalan sih,” timpal Lucy dengan nada merendahkan.
Padahal tujuan Tiara kesini adalah melihat langsung wanita yang ada di foto yang dia temukan di koper Naren, suaminya. Tapi, sepertinya waktunya tidak tepat.
Tiara menunduk, dan melangkah pergi dari ruang perawatan Shalsa. Entah kenapa rasanya sakit sekali saat diusir oleh mertua dan adik iparnya sendiri. Seolah dia tidak dihargai dan hanya seorang pembantu yang merawat Naren.
Tanpa Tiara ketahui, saat dia melangkah pergi seulas senyum tipis muncul di wajah Shalsa.
***
Tiara tidak tahu apa salahnya sehingga mertua dan iparnya bisa sangat membencinya. Padahal selama menikah dengan Naren, Tiara selalu memperlakukan mereka dengan baik.
Dengan kepala yang masih menunduk, Tiara berjalan melewati lorong rumah sakit menuju kamar perawatan suaminya.
Namun, saat di jalan tak sengaja dia berpapasan dengan Rafka. Sayangnya, hanya Rafka yang melihat Tiara berjalan dengan langkah berat dan bahu yang turun.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Rafka sambil mencondongkan badannya agar sejajar dengan Tiara.
Tiara yang merasa diajak bicara langsung mendongak. Wajah mereka saling berdekatan, begitu terkejutnya Tiara sampai dia memundurkan tubuhnya dan hampir oleng.
“Oh,” pekik Tiara yang sudah hampir jatuh ke belakang.
Dengan sigap, Rafka menangkapnya. Beruntung, Tiara tidak jadi terjatuh, tapi posisi mereka sungguh ambigu sekarang.
Keduanya membeku beberapa detik, sampai akhirnya Tiara mendorong tubuh Rafka.
“Maaf, saya hanya…” ujar Rafka ingin menjelaskan tapi langsung dipotong dengan gelengan kepala Tiara.
“Saya yang tidak memperhatikan jalan. Ada apa dok?” ujar Tiara.
Rafka malah terkekeh geli dengan situasi ini. “Tidak, tadi saya cuma tanya apa anda baik-baik saja? Soalnya tadi saya melihat anda begitu suram.”
Ah, bahkan orang lain pun bisa membaca suasana hatinya. Tiara jadi malu sendiri. “Tidak apa-apa dok. Saya hanya banyak memikirkan sesuatu,” ujar Tiara.
Rafka mengangguk paham, lalu dia terpikirkan sesuatu. “Rumah sakit ini ada taman rooftop dengan pemandangan yang indah lho… Cocok sekali untuk mendapatkan angin segar.”
Tiara menaikkan alisnya. “Rooftop?” tanyanya.
Rafka mengangguk sambil tersenyum ramah. “Oh iya, Caramel Macchiato di kafetaria kami juga enak kok. Menikmati kopi sambil duduk di taman mungkin bisa membantu menyegarkan pikiran anda.”
Tiara tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis lalu mengucapkan terima kasih pada Rafka.
Setelah itu mereka berpisah. Entah kenapa setiap kali Rafka melihat Tiara dia merasa ingin menghibur wanita itu.
Wajahnya terlihat sangat sedih dan murung. “Kenapa dia sedih sekali ya, padahal kan istri pasien itu yang harusnya sedih. Dia kecelakaan dan keguguran saat pergi bersama suaminya.”
Rafka menuju ruangan Shalsa, dan mulai memeriksa keadaan wanita itu.
“Apa anda merasa pusing atau mual?” tanya Rafka pada Shalsa.
“Tidak dok, hanya perut saya sedikit sakit dan perih,” ucap Shalsa sambil memegangi perutnya.
“Mmm, merasa perih di perut ya…” kata Rafka sambil membalik beberapa catatan di tangannya lalu berkata, “Itu wajar bu untuk wanita yang baru keguguran. Rasa perih dan mual terkadang masih muncul, tapi akan segera membaik”
Rosa dan Lucy yang juga berada di sana langsung memeluk Shalsa menenangkan. Rafka ikut tersenyum karena berpikir mereka adalah keluarga.
Tapi, siapa sangka kenyataan tidak seperti itu.
Di luar ruangan Tiara tak sengaja mendengar kalau Shalsa hamil. Matanya membelalak kaget. Anak siapa? Mungkinkah itu anak Kak Naren? Tiara bertanya-tanya dalam hatinya.
Melihat respon Rosa dan Lucy yang seperti itu membuat berpikiran jauh. Wanita itu berdiri di luar ruangan Shalsa, awalnya dia ingin kembali dan bertanya soal Naren. Tapi malah mendapat informasi mengejutkan.
“Apa mungkin itu anak Kak Naren?” gumam Tiara lirih.
***
Andreas menemui Tiara di apartemennya, wanita itu menyambutnya dengan senyum tenang dan ramah. “Bagaimana kabarmu?” “Aku? Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Tiara sambil meletakkan segelas minum untuk Andreas. Pria di depannya mengangguk lega. Dia langsung memberikan dokumen yang dia bawa sebelumnya. Menyerahkannya pada Tiara. “Kamu yakin akan masuk ke perusahaan?” tanyanya, ada nada keraguan di sana. Tiara mengangguk mantap. “Aku harus melakukannya, Kak.”Andreas sudah tahu Tiara akan berkata seperti itu, dia memang harus melakukannya. Kembali ke perusahaan tempatnya seharusnya berada.Akan tetapi, kehadirannya di perusahaan tentu tidak akan membuat senang beberapa orang. Raut kecemasan Andreas tertangkap jelas di mata Tiara. Wanita itu meletakkan dokumen tadi ke atas meja. Menatap lurus ke arah Kakak sepupunya itu. “Tenang saja, Kak. Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku hanya mau Naren keluar dari hidupku. Aku tidak mau lagi berhubungan dengannya ataupun keluar
Langit gelap menggantung rendah, seolah menekan kota pagi itu. Tiara menuangkan air panas ke dalam cangkir tehnya. Tak sedikitpun terpengaruh dengan kilat petir yang sesekali muncul. Sudut bibirnya terangkat, menikmati setiap momen kemenangan kecilnya. Di dalam layar televisi, terlihat seseorang yang dikenalnya sedang dikerumuni banyak kamera interogasi. Meski tertutup masker, Tiara mengenal jelas itu adalah Shalsa. Setelah kejadian di kantor penyiaran, Shalsa ditangkap oleh polisi karena Tiara yang melaporkannya.Tuntutan rencana pembunuhan, dan juga perselingkuhan. Tiara mengajukan tuntutan itu pada polisi. Dan, lihatlah sekarang wanita itu berjalan tertunduk tak sanggup menatap kamera. Tiara dengan santai meneguk tehnya, setelah menikmati aroma yang menenangkan. “Selama ini aku sudah mencoba sabar denganmu. Tapi, kau selalu memancingku.” Senyum menyeringai muncul di bibir mungil Tiara. Sekarang saatnya dia memberitahu dunia kalau dia tidak bisa diremehkan. Seorang Tiara Santik
Tiara kembali ke ruang siaran setelah cuti selama berdiam diri di dalam apartemennya selama sebulan.Wanita itu berjalan memasuki gedung siaran dengan langkah percaya diri. Matanya tajam seperti pedang yang siap menusuk musuhnya. Tujuannya hanya satu, kantor penyiaran. Satu tujuan Tiara, membalas rasa sakitnya sekarang juga. Banyak hal yang sudah ia persiapkan. Brak! Dentuman keras terdengar saat pintu kantor penyiaran dibuka paksa oleh Tiara. Semua orang tersentak melihat ke pintu. Tiara berdiri di sana dengan mata tajam menatap ke satu arah. Detik berikutnya bibir wanita itu mengulas senyum menyeringai. Shalsa yang sedang duduk di meja kerjanya menoleh ke arah Tiara. “Tiara,” katanya lirih nyaris tak terdengar. Dia berpikir Tiara tidak akan kembali karena kecelakaan itu. Apalagi dia sudah memperparahnya. Shalsa menarik sudut bibirnya. “Kak Tiara?” ucapnya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Rahang Tiara mengeras, muak sekali rasanya melihat senyuman rubah licik sepe
Tiara masih menatap sinis pria di depannya. Naren. “Jangan pergi, kumohon!” pinta Naren memelas. Tiara melepaskan tangannya dari Naren. Melihat pria itu memohon membuat hatinya bergetar, baru pertama kali dia melihat Naren dengan ekspresi seperti itu. Naren melihat Tiara dengan mata sendu. “Ra, aku minta maaf soal apapun itu. Tapi, sekarang kita harus memeriksakan kakimu,” kata Naren melirik ke arah kaki Tiara yang sudah membengkak dan mulai membiru. Tiara mengikuti arah pandang Naren, kakinya memang sakit tapi entah kenapa melihat Naren mengkhawatirkannya membuatnya bahagia. Mungkinkah Tiara masih mencintai pria itu setelah apa yang dilakukannya? Cepat-cepat dia mengenyahkan pikiran ngawurnya itu. Tiara memposisikan duduknya lagi, tatapannya lurus ke depan. “Ok, kita ke rumah sakit,” ucapnya tanpa menoleh ke arah Naren. Meski Tiara bersikap begitu, Naren tidak tersinggung sama sekali. Dia langsung menyalakan mobilnya kembali, sebelum itu dia menoleh ke arah Tiara. Dan, tiba
“Awh,” Tiara meringis ngilu melihat Rafka membuka perban di kakinya.“Apa rasanya masih sakit?” tanya Rafka mendongak melihat Tiara yang duduk di atas bed hospital. Dia khawatir membuat Tiara kesakitan karena tidak hati-hati saat membuka perban kaki wanita itu. Tiara menggeleng, bibirnya terlihat bergetar tipis. “Sedikit, dok. Rasanya agak ngilu, ya,” candanya menanggapi pertanyaan Rafka. Lalu setelah itu Tiara tertawa kecil. Rafka juga ikut tersenyum jelas senyuman yang disertai rasa bersalah. Pria itu melanjutkan membuka perban di kaki Tiara, kali ini lebih hati-hati.Suhu ruangan itu berubah menjadi dingin, hening, dan hanya suara napas mereka yang terdengar. Begitu perban terakhir terlepas, Rafka menatap luka itu dengan dahi berkerut. “Masih sedikit bengkak,” dahi Rafka berkerut menatap luka di kaki Tiara. “Apa kamu benar-benar beristirahat beberapa hari ini?” tanyanya serius. Tiara menyunggingkan senyum tak bersalah. Dia memang tidak beristirahat dengan baik. Beberapa hari
“Sebenarnya apa yang mama lakukan di apartemen Tiara?” tanya Naren di dalam mobil pada Rosa yang sudah duduk di sampingnya. “Harusnya mama yang tanya itu padamu! Apa yang kamu lakukan Naren? Jangan bilang kamu mau menemui Tiara. Ren, kalian sudah akan bercerai!” tukas Rosa dengan suara meninggi. Naren mengetatkan rahangnya. “Kalau aku tidak mau bercerai dengan Tiara bagaimana? Ma! Sudah kukatakan aku tidak akan melepaskan Tiara.”Suasana menjadi tegang seketika. Rosa tidak habis pikir dengan Naren. Bisa-bisanya dia berbicara dengan nada tinggi pada ibunya sendiri. “Kau mulai berani dengan mama Ren? Lihat, ini semua adalah pengaruh buruk dari wanita itu. Tiara tidak baik buatmu,” Rosa mencoba meraih tangan anaknya dan berusaha mengambil hati Naren lagi. “Kuharap mama tidak ikut campur dengan rumah tanggaku lagi.” Suara Naren terdengar dingin, pria itu menoleh ke Rosa dengan tatapan tajamnya. “Kalau sampai aku nggak bisa membuat Tiara kembali karena mama. Aku bersumpah, tidak akan







