MasukTiara masih mematung melihat isi dalam koper itu. Kenapa ada baju wanita di dalam koper Naren.
Dia meraih satu ponsel yang asing di dalam koper itu. “Apa ini milik Kak Naren?” gumam Tiara. Dia tidak yakin, tapi beberapa stel baju itu benar milik Naren, lalu laptop, dan kamera sekali pakai. Apa mungkin Kak Naren menggunakan semua ini untuk perjalanan bisnis?
Semua yang ada di dalam koper itu lebih mirip perlengkapan liburan daripada sebuah pekerjaan resmi perusahaan.
Akhirnya, Tiara memberanikan dirinya untuk membongkar semua isi koper Naren. Dadanya berdenyut ketika menemukan beberapa foto polaroid di dalam koper itu.
Tubuh wanita itu membeku di tempat dan nafasnya seolah tercekat di tenggorokan. Mata Tiara membelalak ketika melihat foto Naren dan Shalsa yang berada di pinggiran pantai.
Tidak hanya satu foto, ada beberapa lainnya yang jelas memperlihatkan betapa dekatnya hubungan mereka. Tiara menutup mulutnya, ketika ada satu foto yang tampak sangat mesra.
Foto itu memperlihatkan suaminya yang mencium mesra kening Shalsa. Dan, ada sebuah foto yang memperlihatkan suaminya berlutut memasangkan cincin di jari wanita itu.
“Apa maksudnya semua ini?” ucap Tiara dengan suara lirih. Matanya bergetar tak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya.
Sebenarnya apa hubungan Naren dengan Shalsa? Bukankah mereka hanyalah sepupu jauh. Tapi, kenapa? Kenapa? Kenapa mereka…
Deg!
Jantung Tiara seolah berhenti berdetak saking kagetnya. Apa mungkin sikap dingin Naren padanya adalah karena Shalsa?
***
“Kak Naren, menikahlah denganku.” Tiara dengan putus asa mengajak Naren menikah dengannya, di depan kantor JTech.
Saat itu Tiara adalah seorang penyiar berita yang mendapat tugas wawancara dengan CEO JTech. Tiara senang sekali karena dia akan bertemu dengan Narendra Pratama, kakak tingkatnya saat kuliah dulu.
Sejak dulu Tiara sudah menyukai Naren. Karena itu, saat mendapat tawaran wawancara dengan CEO JTech Tiara tidak menolaknya.
Namun, sebelum hari H wawancara, orang tua Tiara mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal. Sebagai pewaris saham utama perusahaan Santika, semua orang memburunya berusaha menjatuhkan Tiara dan merebut saham miliknya.
Tiara yang saat itu tidak mempunyai kemampuan mengelola perusahaan hampir kehilangan perusahaannya di rapat dewan direksi. Karena keluarga pamannya hendak merebut semua milik Tiara. Di rapat dewan Tiara harus menyerahkan semua sahamnya untuk mereka karena dirasa tidak sanggup memimpin.
Itulah yang membuat Tiara dengan putus asa meminta Naren menikahinya. Awalnya Naren menolak, tapi JTech mengalami kerugian besar akibat ada pengkhianat yang menjiplak produk mereka dan merilisnya lebih dulu.
Saat itulah, kredibilitas JTech dipertanyakan. Tiara datang di waktu yang tepat dan mulai memanfaatkan hal itu untuk meminta Naren menikahinya.
“Aku akan membantu Kak Naren dengan memberikan sahamku. Asal Kak Naren mau menikahiku dan menggantikanku mengurus Santika Group.”
Tawaran itu tentu sangat menarik, tapi Naren bimbang karena dia sudah memiliki kekasih yaitu Shalsa.
Tapi, menyelamatkan JTech adalah tanggung jawabnya, banyak nasib karyawan yang harus diselamatkan. Makanya pria itu mengiyakan.
Tiara masih tidak menyangka bisa menikah dengan pria idamannya. Narendra Pratama akhirnya menjadi suaminya dan dia juga yang mewakili Tiara dalam memimpin Santika Group.
Selama menjadi istri Naren, Tiara memutuskan berhenti menjadi penyiar berita. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengurus suaminya. Berharap Naren akan membalas cintanya.
Namun, sepertinya pernikahan ini hanya sebatas perjanjian untuk Naren. Karena sikapnya dingin pada Tiara. Meski pria itu tidak pernah kasar, tapi mereka lebih mirip orang asing yang tinggal dalam satu rumah.
Naren jarang sekali mengajak bicara Tiara. Tidak ada komunikasi apapun, hanya hal penting-penting saja.
Meski begitu, Tiara selalu bersikap layaknya istri yang baik. Dia selalu menyiapkan makan malam, pakaian dan semua keperluan Naren.
Naren sering melarangnya melakukan itu. “Jangan sembarangan menyentuh barangku!” katanya tajam setiap kali Tiara mencoba membantunya.
“Berhentilah bersikap baik, kau tidak perlu melakukannya! Pernikahan ini hanya kontrak pekerjaan. Aku tidak menikahimu karena aku mencintaimu, jadi bersikaplah sewajarnya!” ujar Naren saat Tiara ingin memasangkan dasi di kemeja pria itu.
Alhasil, Tiara mundur. Kontrak pernikahan ya? Padahal Tiara selalu menganggap pernikahan ini sebuah ikatan suci dan sakral. Ternyata tidak bagi Naren.
Meski selalu diperlakukan dingin oleh Naren, Tiara tetap saja mencintai suaminya itu. “Mau kontrak atau tidak, yang pasti aku adalah seorang istri. Istri Narendra Pratama, jadi aku harus melakukan tugasku sebagai istrinya,” gumamnya menghibur diri sendiri.
Tiara berharap suatu hari Naren akan bisa membuka hati untuknya. Mungkin jika Tiara lebih bersikap baik pada pria itu, tembok pembatas itu akan runtuh juga.
Namun, sekarang Tiara tahu alasan kenapa Naren tidak pernah melihatnya. Itu karena Shalsa, wanita yang selama ini tinggal di hati suaminya.
Wanita itu masih terduduk lemas di samping koper suaminya. Meremas kuat lembar foto polaroid di tangannya, rasa pedih di hatinya semakin menjalar. Seolah dia sedang menggenggam bara api yang panas.
Di dalam koper itu Tiara menemukan ponsel Naren, ponsel kedua suaminya. Dia tahu betul, ini bukan ponsel yang setiap hari dipakainya. Karena saat kecelakaan, petugas rumah sakit memberikan ponsel dan dompet pria itu padanya.
Dengan tangan gemetar dia mengambil ponsel itu. Terkunci. Hanya bisa dibuka dengan sidik jari.
Tiara menoleh ke ranjang tempat suaminya terbaring koma. Hatinya terombang-ambil antara mencari tahu apa yang terjadi atau tetap membiarkannya seperti ini.
Ada rasa takut yang muncul di dalam hatinya. Takut kalau semua ini adalah kenyataan. Takut kalau Naren memang ada hubungan dengan Shalsa.
Apa Tiara sudah siap menerima kenyataan pahit?
Dia menunduk menatap kosong lantai marmer di bawahnya. Sejenak memejamkan matanya.
“Tiara… Apa kau bodoh?!” umpatnya dalam hati.
Seolah ingin menyadarkan dirinya sendiri untuk stop bersikap bodoh. Meski sikap pria itu dingin, tapi besar harapannya bahwa Naren bukan pria brengsek yang berselingkuh.
Tapi jika benar pria itu berselingkuh, apa yang akan dilakukan Tiara? Apa dia harus marah? Atau bercerai?
Tiara tidak mau bercerai.
Tapi kenapa rasanya ada lubang menganga di hatinya sekarang. Rasanya dia ingin marah, namun merasa tidak pantas untuk marah begitu mengetahui posisinya di sisi Naren.
Wanita itu menunduk, bahunya bergetar hebat. Air mata sudah mengalir deras, membasahi wajah putih pucat itu.
Tiara menangis sendirian sambil meremas ponsel dan foto yang dia temukan di koper Naren. “Kalau kamu berselingkuh dengan wanita itu. Lalu, bagaimana denganku, Kak?” gumam Tiara lirih dan terisak.
Cintanya begitu dalam untuk Naren. Tapi, apa dia sanggup bertahan jika mengetahui hal seperti ini. Perselingkuhan... tidak pernah terbayangkan di benaknya.
Saat wanita itu tenggelam dalam kesedihan. Pintu ruang rawat terbuka, Tiara yang masih bersimpuh di lantai mendongak, melihat siapa yang membuka pintu.
Seorang pria, dengan jas putih tampak seperti dokter, ia terkejut melihat Tiara yang duduk di lantai. Matanya bertemu dengan mata Tiara yang sudah penuh genangan air.
Hening.
***
Langkah Tiara terhenti begitu keluar dari lift. Gelombang kepanikan merembes di dalam tubuhnya. Napasnya tercekat. Rafka berdiri di dekat pintu masuk sambil memegang kunci mobil. Kehadirannya normal, karena mereka memang punya janji malam ini. Yang membuat Tiara panik adalah keberadaan dua pria lain di sana. Andreas berdiri beberapa meter di belakang Rafka. Tepat di samping pilar lobi, Naren menatap ke arahnya. Untuk sesaat, Tiara mematung, otaknya seolah berhenti bekerja. Sebenarnya dia sedikit khawatir soal Andreas dan Naren. Mereka berdua tidak pernah bisa akur. Apalagi setelah pengakuan cinta Andreas pada Tiara, semuanya terasa jelas sekarang bagi Tiara. Sekarang dia harus bagaimana?Jantung Tiara berdetak lebih cepat. Pandangannya berpindah dari Rafa ke Andreas, Naren, lalu kembali ke Rafka. Tiara menghela napas kemudian berjalan ke arah Rafka. Dia memutuskan untuk menyapa Rafka lebih dulu.Tatapan mata Andreas dan Naren mengikuti kemana langkah Tiara berakhir. Ekspresi m
“Kakek bilang hanya makan siang?” ucap Tiara pada Aditama. Pria paruh baya itu ternyata tidak sendirian. Lagi dan lagi dia bersama Rafka, dokter pribadinya. Ah, bukan. Mungkin Rafka sudah menjadi kandidat utama sebagai cucu menantu Aditama.“Ya, kita memang hanya makan siang Tiara,” balas Aditama. “Kita bertiga,” jelasnya. Namun, Tiara jelas tahu maksud kakeknya apa. Lihat saja sudut matanya mengarah kemana kalau bukan kepada Rafka. Tiara memutar bola matanya sebelum akhirnya menyerah dan duduk. “Apa kabar Ra?” tanya Rafka basa basi dengan senyum manisnya yang khas. Dokter itu selalu ramah padanya, dia juga lumayan secara tampang dan fisiknya. Meski begitu, Tiara tidak tertarik dengan ide kakeknya yang menyuruhnya menikah dengan Rafka. Bukan berarti Rafka membencinya. Tiara hanya belum tertarik, lagipula dia tidak begitu dekat dengan Rafka. Mereka benar-benar orang asing. Satu-satunya hubungan mereka adalah seorang dokter dan pasien. Tidak lebih. “Baik, anda sendiri?” Rafka me
Terkadang orang yang memiliki luka tidak butuh diselamatkan oleh siapapun. Dia hanya perlu menemukan dirinya lagi. Karena orang yang terluka kadang tidak takut dengan rasa sakit itu sendiri tapi mereka lebih takut kehilangan kontrol atas dirinya lagi. Tiara sangat paham bagaimana rasanya. Naren benar-benar membunuh dirinya dari dalam, menghilangkan jati dirinya. Tiara tidak pernah membenci perannya sebagai istri di dalam rumah tangganya bersama Naren. Tapi, apa yang dilakukan Naren sungguh keterlaluan. Tak pernah sekalipun Tiara mendapat sikap hangat pria itu dulu. Dia dingin, dan sulit diraih. Padahal Tiara sudah mengusahakan semuanya untuk Naren. Bahkan dia rela kehilangan dirinya hanya demi menikah dengan Naren. Itu keputusan yang tidak akan Tiara ambil lagi. Jadi, saat pria itu memohon padanya bahkan rela berlutut. Tiara tidak bisa menerimanya lagi. Ini bukan lagi soal Sheila. Perempuan yang dulu Tiara pikir adalah satu-satunya yang Naren cintai. Bukan lagi soal mertua dan
Sayangnya, cinta itu datang di waktu yang belum tepat. ***Kata-kata Andreas membuat Tiara tertegun dalam beberapa saat. Kemudian tawa kecil keluar dari bibir mungil Tiara. “Apa sih, Kak. Jangan terbawa suasana deh. Mentang-mentang yang ada di kafe ini semua pasangan. Kakak jadi ngomongnya ngelantur.” Setelah mengatakan itu, Tiara memilih sibuk menyendok es krim di depannya. Dia tidak mengambil serius kata-kata Andreas. Membuat pria di depannya itu sedikit kecewa. Meski dia bisa mengendalikan raut wajahnya agar tetap terlihat biasa saja di depan Tiara. Andreas memaksakan tawa kecil yang sedikit canggung. “Ha ha, mungkin iya.”Tiara mengangkat matanya. “Mungkin sudah waktunya kakak mencari pasangan,” usulnya. “Sedang ku usahakan,” jawab Andreas tanpa melihat Tiara. “Tapi sepertinya belum berhasil.”Tiara terdiam, entah kenapa jawaban itu terdengar begitu ambigu di telinganya. Dia memilih menutup mulutnya dan tidak bereaksi apa-apa. Kalaupun memang Andreas menyukainya, Tiara teta
Tiara membelalakan matanya ketika melihat seseorang sudah duduk di ruang kerjanya. “Kak Andreas? Kakak di sini?” serunya tak percaya. Sudah lama sekali dia tak bertemu dengan Andreas. Pria itu sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri. Siapa sangka pria itu tiba-tiba muncul di sini. “Hmm, aku baru saja kembali dan langsung ingin menemuimu. Apa kabar, Ra?” ucap Andreas ketika melihat Tiara. “Aku baik. Kakak bagaimana? Kenapa pulang tidak mengabari dulu? Aku kan bisa jemput di Bandara.” Tiara langsung mendekat ke arah pria yang membantunya kabur dari Naren itu. “Sedikit jet lag, tapi nggak apa-apa,” jawab Andreas sambil menyentuh pelipisnya dengan jari dan tersenyum miring. “Sebentar aku telepon Jimmy dulu buat bikinin kakak minum.” Tiara menelpon asistennya itu melalui telepon kantornya. Andreas tersenyum kecil. Melihat Tiara yang antusias melihatnya entah kenapa membuat hatinya lega. Wanita itu tidak lagi murung seperti pertama kali menghubunginya. Sepertinya Tiara sudah benar
Hatinya tidak mati rasa, hanya Tiara sudah tidak percaya apa itu cinta. Apalagi kalimat itu datang dari bibir seorang Narendra. Pria yang membuatnya seperti ini. Dulu dia adalah perempuan yang penuh cinta. Bahkan membaginya dengan senang hati untuk semua orang.Tumbuh sebagai yatim piatu, Tiara cenderung haus akan kasih sayang. Mungkin itu yang membuatnya salah paham dengan sikap baik Narendra. Narendra Pratama, senior di kampus Tiara. Pria yang sangat populer di kalangan mahasiswa Universitas Nusantara. Pria tampan itu selalu dikagumi banyak orang. Bukan cuma karena parasnya, tapi pria itu terkenal dengan kecerdasannya. Terlebih lagi Narendra berasal dari keluarga terhormat. Pratama Wijaya, pemilik JTech perusahaan teknologi yang sangat berkembang pesat. Narendra semakin dikenal namanya saat sang ayah meninggal dunia. Otomatis dialah yang menjadi pewaris dari JTech sebagai pengganti ayahnya. Tiara semakin kagum dengan Narendra. Setiap pagi perempuan itu rela menunggu Narendra d







