LOGINTiara masih membeku di depan ruangan Shalsa. Masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Hamil? Shalsa sempat hamil dan keguguran.
Rasanya benar-benar runtuh seketika dunia impian Tiara. Dia masih memegang ponsel Naren yang ditemukannya di koper.
Wanita itu terduduk di lobi rumah sakit. Menikah dengan Naren adalah impiannya, menjadi istri dan membangun keluarga kecil adalah sesuatu yang selalu diimpikan Tiara.
Tapi kenapa, kenapa nasibnya selalu seperti ini. Kesepian dan ditinggalkan.
Tiara tidak tahu sudah berapa lama dia duduk sendirian di sana. Sampai sebuah minuman muncul di dekat wajahnya. Tiara mendongak.
Dokter Rafka sudah tersenyum padanya sambil memberikan segelas minuman pada Tiara.
“Caramel Macchiato. Saya rasa minuman manis lebih baik dari kata-kata semangat. Silahkan..” katanya menyodorkan minuman.
Tiara tidak langsung menerimanya. “Tidak usah dokter,” katanya sungkan. Tapi Dokter Rafka memaksa dan akhirnya Tiara menerimanya.
“Apa anda masih sedih?”
Tiara menggeleng, dia merasa tidak perlu menceritakan kisahnya pada orang asing.
“Sebenarnya saya penasaran sama anda…” ujar Dokter Rafka sambil menoleh ke arah Tiara.
“Penasaran?” Tiara mengulang pertanyaan pria itu sambil mengerutkan dahinya.
“Kenapa anda terlihat sangat sedih? Apa hubungan anda dengan Pak Naren? Adik? Saudara? Sahabat?”
Kenapa dari semua pilihan yang dilontarkan dokter itu pada Tiara, tidak disebutkan ‘Istri’. Tiara terdiam, mengingat apa yang dokter itu lakukan di ruangan Shalsa. Sepertinya dia berpikir istri Naren adalah Shalsa dan bukan Tiara.
“Secara hukum tertulis saya adalah istrinya. Tapi, sepertinya sebentar lagi posisi itu digantikan seseorang.” Tiara tersenyum getir, mencoba tenang saat menjawab pertanyaan Dokter Rafka.
Spontan mendengar jawaban Tiara, alis Rafka terangkat sempurna. “Jadi, anda…”
“Iya saya istrinya.”
“Ah, maaf. Saya pikir…” Rafka merasa tidak enak karena salah paham.
“Siapapun pasti berpikir seperti anda.” Tiara berdiri setelahnya. “Saya harus kembali ke kamar suami saya. Terima kasih atas minumannya.” Dia mengangkat cup minumannya lalu berjalan menjauh.
Rafka melihat punggung kecil Tiara yang mulai menjauh. Ada perasaan kasihan yang hinggap di benaknya.
“Jadi, selama ini aku salah mengira. Kupikir pasien wanita itu adalah istrinya. Tapi, ternyata…” Rafka memejamkan mata sambil menggaruk tengkuknya sendiri.
Tapi bagaimana bisa, seseorang yang bukan istrinya malah lebih dekat dengan keluarga pasien itu? Apalagi mereka terlihat sangat perhatian dengan pasien wanita itu.
“Apa ini kasus perselingkuhan yang didukung…” gumam Rafka.
“Hei!” panggil seseorang dari belakang Rafka.
Pria itu menoleh dan menemukan seorang pria berjas dokter sama sepertinya. “Ada apa Le? Huh, ngagetin aja kau!” dengus Rafka pada Leo.
“Liatin apa sih? Serius amat.”
“Bukan apa-apa. Kenapa nyariin aku?” tanya Rafka sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
“Kau dipanggil Dokter Danu suruh ke ruangannya,” ujar Leo.
“Dokter Danu?”
Leo mengangguk.
Dokter Danu adalah dokter senior yang membimbing Rafka dan dokter muda lainnya.
“Yaudah aku kesana.” Rafka berjalan melewati Leo sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
“Hati-hati bro, Dokter Danu kayaknya lagi muncul tanduknya.”
Rafka hanya menyunggingkan senyum. Danu memang terkenal sebagai senior yang galak. Jadi wajar kalau Leo berkata begitu.
***
Tok! Tok! Tok!
Rafka mengetuk pintu ruangan Dokter Danu.
“Masuk!” suara Danu terdengar dari dalam.
Tanpa menunggu lama, Rafka langsung membuka pintu ruangan dan melangkah masuk. “Ada apa kak?” ujar Rafka tenang sambil mendudukkan ke sofa ruangan.
Hanya dia yang bersikap santai pada Danu. Karena Danu adalah kakak kandungnya. Yah, mereka bersaudara.
“Kenapa harus mulai jadi Dokter umum sih? Kenapa kau nggak langsung ambil spesialis aja Raf? Kan kamu bisa naik lebih cepat,” ucap Danu meletakkan segelas teh ke meja untuk Rafka.
Danu tidak setuju kalau adiknya itu menjadi dokter umum. Padahal dia bisa mengambil posisi lebih tinggi di sana. Secara rumah sakit ini adalah milik ayah mereka.
“Terus… Jadi direktur seperti kakak? Aku nggak minat kak.”
“Lalu, apa minatmu? Ayolah Raf, jangan bermain-main terus. Setelah aku pergi ke luar negeri. Rumah Sakit ini harus ada yang mengurus. Dan, itu adalah tugasmu!” tutur Danu.
Rafka menghela nafas panjang. Setelah kepergian sang ayah mereka memiliki tanggung jawab yang besar sebagai penerus. Winatra, ayah mereka memiliki banyak jaringan rumah sakit di dunia.
Salah satunya yang terbesar ada di Singapore dan Indonesia.
Danu memilih mengurus Rumah Sakit yang ada di Singapore. Sedangkan, Rafka mau tidak mau harus mengambil alih rumah sakit di Indonesia.
Sayangnya, Rafka tidak pernah berniat menjadi Direktur Utama. Dia lebih menyukai pekerjaannya sebagai dokter.
“Kak, apa kau nggak bisa mengurus keduanya saja. Biarkan aku bekerja dengan tenang,” sahut Rafka santai.
“Raf,” sela kakak Rafka sambil mengernyit, Danu tidak setuju dengan usulan adiknya.
“Apa kau nggak kasihan dengan kakakmu ini? Kepalaku hampir pecah mengurus semua cabang rumah sakit sendirian. Tolonglah, bantu aku juga!” keluh Danu.
Rafka mendesah.
Dia tidak suka bekerja di bagian manajemen rumah sakit. Pria itu lebih senang bertemu pasien daripada harus berlama-lama mengikuti rapat dengan orang-orang berjas putih.
“Aku nggak mau tahu. Kuberi waktu 3 bulan untuk menyelesaikan semua tugasmu sebagai dokter umum. Setelah itu kau harus naik dan mulai mengurus rumah sakit ini,” tukas Danu tak mau dibantah.
Rafka pun kehabisan kata-kata untuk menjawab kakaknya.
Setelah perdebatan itu Rafka meninggalkan ruangan Danu. Pria itu melangkah gontai menuju ruangan dokter umum.
Sebelum itu dia berinisiatif untuk berkunjung ke ruang VIP untuk melihat wanita itu. Entah kenapa dia penasaran dia sedang apa. “Apa dia menyukai kopiku?” gumam Rafka.
Pria itu berjalan cepat ingin bertemu Tiara.
***
Plak!
Sebuah tamparan mendarat ke pipi Tiara. Rasa panas langsung menjalar di wajahnya.
“Bagus ya kamu! Bukannya nungguin suami yang lagi koma. Malah enak-enakan jajan kopi! Dasar istri tidak berguna!” umpat Rosa mertua Tiara.
Direbutnya kopi dari tangan Tiara kasar.
Belum juga rasa panas di pipinya mereda. Dia kembali tersentak karena siraman es kopi yang ke wajahnya. Rosa memang selalu mencari-cari alasan untuk menyalahkan Tiara.
Rafka yang melihat perlakuan Rosa pada Tiara dari jauh langsung berlari mendekat. “Maaf, ada apa ini?” tanyanya langsung menempatkan diri di depan Tiara seakan melindungi wanita itu.
“Ini bukan urusan dokter. Saya sedang mendisiplinkan menantu saya,” sahut Rosa santai, wanita paruh baya itu juga sempat tersenyum tipis ke arah Rafka.
Rafka tak habis pikir, mendisiplinkan? Apa maksudnya coba?
“Anda tidak bisa berbuat seperti ini di rumah sakit Nyonya.” Tegur Rafka. “Lebih baik anda segera pergi atau saya akan panggil satpam.”
“Hei! Apa-apaan itu… Saya ini orang tua pasien VIP Narendra Pratama. Kenapa saya yang harus pergi?” Rosa tak terima dengan ucapan Rafka. Kenapa dia malah diusir?
“Anda menyebabkan keributan, tentu anda yang harus pergi.”
“Saya kan sudah bilang, saya hanya mendisiplinkan menantu saya. Mana ada keributan?” Rosa masih berkilah.
Sayangnya Rafka tidak peduli dengan semua ucapan Rosa. Dia mengeluarkan ponselnya dan memanggil keamanan. Tak lama kemudian dua orang petugas keamanan datang langsung menyeret Rosa pergi.
“Hei! Kenapa aku yang diseret! Hei! Lepaskan!” Rosa teriak histeris karena tak terima diperlakukan seperti itu.
Rafka tidak peduli. Dia langsung beralih ke Tiara yang hanya terdiam menunduk dengan wajah yang sudah basah karena cairan kopi.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Rafka khawatir.
Tiara mendongak melihat ke arah Rafka. “Kenapa… kenapa anda peduli?”
***
Andreas menemui Tiara di apartemennya, wanita itu menyambutnya dengan senyum tenang dan ramah. “Bagaimana kabarmu?” “Aku? Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Tiara sambil meletakkan segelas minum untuk Andreas. Pria di depannya mengangguk lega. Dia langsung memberikan dokumen yang dia bawa sebelumnya. Menyerahkannya pada Tiara. “Kamu yakin akan masuk ke perusahaan?” tanyanya, ada nada keraguan di sana. Tiara mengangguk mantap. “Aku harus melakukannya, Kak.”Andreas sudah tahu Tiara akan berkata seperti itu, dia memang harus melakukannya. Kembali ke perusahaan tempatnya seharusnya berada.Akan tetapi, kehadirannya di perusahaan tentu tidak akan membuat senang beberapa orang. Raut kecemasan Andreas tertangkap jelas di mata Tiara. Wanita itu meletakkan dokumen tadi ke atas meja. Menatap lurus ke arah Kakak sepupunya itu. “Tenang saja, Kak. Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku hanya mau Naren keluar dari hidupku. Aku tidak mau lagi berhubungan dengannya ataupun keluar
Langit gelap menggantung rendah, seolah menekan kota pagi itu. Tiara menuangkan air panas ke dalam cangkir tehnya. Tak sedikitpun terpengaruh dengan kilat petir yang sesekali muncul. Sudut bibirnya terangkat, menikmati setiap momen kemenangan kecilnya. Di dalam layar televisi, terlihat seseorang yang dikenalnya sedang dikerumuni banyak kamera interogasi. Meski tertutup masker, Tiara mengenal jelas itu adalah Shalsa. Setelah kejadian di kantor penyiaran, Shalsa ditangkap oleh polisi karena Tiara yang melaporkannya.Tuntutan rencana pembunuhan, dan juga perselingkuhan. Tiara mengajukan tuntutan itu pada polisi. Dan, lihatlah sekarang wanita itu berjalan tertunduk tak sanggup menatap kamera. Tiara dengan santai meneguk tehnya, setelah menikmati aroma yang menenangkan. “Selama ini aku sudah mencoba sabar denganmu. Tapi, kau selalu memancingku.” Senyum menyeringai muncul di bibir mungil Tiara. Sekarang saatnya dia memberitahu dunia kalau dia tidak bisa diremehkan. Seorang Tiara Santik
Tiara kembali ke ruang siaran setelah cuti selama berdiam diri di dalam apartemennya selama sebulan.Wanita itu berjalan memasuki gedung siaran dengan langkah percaya diri. Matanya tajam seperti pedang yang siap menusuk musuhnya. Tujuannya hanya satu, kantor penyiaran. Satu tujuan Tiara, membalas rasa sakitnya sekarang juga. Banyak hal yang sudah ia persiapkan. Brak! Dentuman keras terdengar saat pintu kantor penyiaran dibuka paksa oleh Tiara. Semua orang tersentak melihat ke pintu. Tiara berdiri di sana dengan mata tajam menatap ke satu arah. Detik berikutnya bibir wanita itu mengulas senyum menyeringai. Shalsa yang sedang duduk di meja kerjanya menoleh ke arah Tiara. “Tiara,” katanya lirih nyaris tak terdengar. Dia berpikir Tiara tidak akan kembali karena kecelakaan itu. Apalagi dia sudah memperparahnya. Shalsa menarik sudut bibirnya. “Kak Tiara?” ucapnya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Rahang Tiara mengeras, muak sekali rasanya melihat senyuman rubah licik sepe
Tiara masih menatap sinis pria di depannya. Naren. “Jangan pergi, kumohon!” pinta Naren memelas. Tiara melepaskan tangannya dari Naren. Melihat pria itu memohon membuat hatinya bergetar, baru pertama kali dia melihat Naren dengan ekspresi seperti itu. Naren melihat Tiara dengan mata sendu. “Ra, aku minta maaf soal apapun itu. Tapi, sekarang kita harus memeriksakan kakimu,” kata Naren melirik ke arah kaki Tiara yang sudah membengkak dan mulai membiru. Tiara mengikuti arah pandang Naren, kakinya memang sakit tapi entah kenapa melihat Naren mengkhawatirkannya membuatnya bahagia. Mungkinkah Tiara masih mencintai pria itu setelah apa yang dilakukannya? Cepat-cepat dia mengenyahkan pikiran ngawurnya itu. Tiara memposisikan duduknya lagi, tatapannya lurus ke depan. “Ok, kita ke rumah sakit,” ucapnya tanpa menoleh ke arah Naren. Meski Tiara bersikap begitu, Naren tidak tersinggung sama sekali. Dia langsung menyalakan mobilnya kembali, sebelum itu dia menoleh ke arah Tiara. Dan, tiba
“Awh,” Tiara meringis ngilu melihat Rafka membuka perban di kakinya.“Apa rasanya masih sakit?” tanya Rafka mendongak melihat Tiara yang duduk di atas bed hospital. Dia khawatir membuat Tiara kesakitan karena tidak hati-hati saat membuka perban kaki wanita itu. Tiara menggeleng, bibirnya terlihat bergetar tipis. “Sedikit, dok. Rasanya agak ngilu, ya,” candanya menanggapi pertanyaan Rafka. Lalu setelah itu Tiara tertawa kecil. Rafka juga ikut tersenyum jelas senyuman yang disertai rasa bersalah. Pria itu melanjutkan membuka perban di kaki Tiara, kali ini lebih hati-hati.Suhu ruangan itu berubah menjadi dingin, hening, dan hanya suara napas mereka yang terdengar. Begitu perban terakhir terlepas, Rafka menatap luka itu dengan dahi berkerut. “Masih sedikit bengkak,” dahi Rafka berkerut menatap luka di kaki Tiara. “Apa kamu benar-benar beristirahat beberapa hari ini?” tanyanya serius. Tiara menyunggingkan senyum tak bersalah. Dia memang tidak beristirahat dengan baik. Beberapa hari
“Sebenarnya apa yang mama lakukan di apartemen Tiara?” tanya Naren di dalam mobil pada Rosa yang sudah duduk di sampingnya. “Harusnya mama yang tanya itu padamu! Apa yang kamu lakukan Naren? Jangan bilang kamu mau menemui Tiara. Ren, kalian sudah akan bercerai!” tukas Rosa dengan suara meninggi. Naren mengetatkan rahangnya. “Kalau aku tidak mau bercerai dengan Tiara bagaimana? Ma! Sudah kukatakan aku tidak akan melepaskan Tiara.”Suasana menjadi tegang seketika. Rosa tidak habis pikir dengan Naren. Bisa-bisanya dia berbicara dengan nada tinggi pada ibunya sendiri. “Kau mulai berani dengan mama Ren? Lihat, ini semua adalah pengaruh buruk dari wanita itu. Tiara tidak baik buatmu,” Rosa mencoba meraih tangan anaknya dan berusaha mengambil hati Naren lagi. “Kuharap mama tidak ikut campur dengan rumah tanggaku lagi.” Suara Naren terdengar dingin, pria itu menoleh ke Rosa dengan tatapan tajamnya. “Kalau sampai aku nggak bisa membuat Tiara kembali karena mama. Aku bersumpah, tidak akan







