Masuk“Kirana, ini pertama kalinya Harris datang ke Kota Puspadana. Kenapa tidak kamu ajak dia berkeliling saja? Kondisi keluarga kita sekarang kurang pantas untuk menjamu tamu.”Suara Reynan terdengar santai, tapi mengandung dorongan halus yang sulit ditolak.Di sampingnya, Bianca segera menimpali dengan senyum lembut. “Betul itu, Kirana. Kamu pasti punya banyak hal untuk diceritakan ke Harris.” Ia melirik sekilas ke arah pemuda itu, lalu melanjutkan, “Pergilah kalian berdua. Kami sudah cukup puas melihatnya. Tidak perlu menemani kami di sini.”Nada bicaranya ringan. Namun arah kalimat berikutnya berubah.Tatapan Bianca yang tenang dan tegas beralih lurus ke Harris Gunawan. “Jaga Kirana baik-baik.”Kalimat itu sederhana, tapi maknanya berat. Restu yang diucapkan tanpa perlu diperjelas lagi.Untuk sesaat, ekspresi Harris berubah tipis. Bukan karena gugup, tapi karena situasi ini jelas melenceng dari rencana awalnya.Ia datang dengan tujuan jelas, berperan, menyelesaikan masalah, lalu pergi.
Atmosfer di sekitar runtuhan itu berubah hening, tapi menekan. Seolah udara ikut menahan napas.Para elit dari keluarga Arkana berdiri kaku, wajah mereka kehilangan warna. Ketakutan merayap tanpa ampun, menyusup ke dalam tulang, membekukan nalar. Tak ada lagi sisa kesombongan yang tadi sempat mereka pamerkan.Lalu—Bruk!Seseorang ambruk lebih dulu.Duk! Duk! Duk!Tanpa banyak bicara, pria itu langsung berlutut, dahinya menghantam tanah berkali-kali, tanpa peduli kulitnya mulai terkelupas.“T-Tuan muda… ampuni aku! Tolong… jangan bunuh aku!”Suara itu terdengar serak.Pemandangan itu seperti pemicu.Satu… dua… lalu semuanya.Bruk! Bruk! Bruk!Orang-orang lain ikut berjatuhan, berlutut tanpa harga diri, tanpa jeda. Kepala mereka menghantam tanah berulang kali, seolah berharap setiap benturan bisa membeli sedikit belas kasihan.“Tuan muda, selamatkan kami!”“Kami salah! Kami tidak akan berani lagi!”“Tolong, anggap saja kami tidak pernah ada! Lepaskan kami!”Bahkan ada yang menghantamka
Namun Harris menjawab datar. “Tidak bisa.”Senyum itu membeku, mata Arman langsung menggelap. “Aku sudah berlutut, aku sudah membunuh. Mengapa kau tak menyembuhkanku? Atau kau sebenarnya tak mampu?”Nada suaranya mengandung ancaman.Harris mencibir. “Luka sepele seperti itu? Aku bisa menyembuhkannya dalam setengah jam.”“Lalu kenapa kau tidak melakukannya?” Arman bertanya dengan kesal.Harris berkata datar, namun sorot matanya semakin dingin. “Karena aku tidak mau.”Arman tertegun, wajahnya berubah merah.Harris tersenyum tipis. “Aku hanya bilang bisa menyembuhkan. Aku tak pernah berjanji akan melakukannya. Semua yang kau lakukan hanya anganmu sendiri.”BAAM!Arman membeku, kemarahan meledak di matanya. “Kau… mempermainkanku?!”Harris menatapnya dingin. “Ya, bisa dibilang begitu.”Semua orang tersedak.Ia mempermainkan Grandmaster setengah langkah secara terang-terangan?!Benar-benar gila!Namun Harris sudah memutuskan sejak awal. Ia melihat niat membunuh tersembunyi di mata Arman. Ti
Namun Arman mengabaikan mereka, fokusnya kembali pada Harris. Ekspresinya berubah. “Hah?” Ia menatap tajam. “Menarik… bocah, kau bahkan tidak mundur selangkah pun menghadapi auraku. Kau punya kemampuan.”Aura menekan Arman Arkana sama sekali tidak menggoyahkan Harris.Tubuhnya berdiri tegak seperti tiang baja, tak bergeser setapak pun. Namun sorot matanya berubah dingin.Ia menoleh ke arah Reynard yang pucat, masih ditopang Kirana dan Bianca. Raut wajahnya mengeras. Upaya Reynard tadi untuk melindunginya jelas menambah rasa hormat Harris. Kini pria itu justru terluka akibat tekanan Arman.Harris tidak akan mengabaikan ini. Hari ini, Arman sudah masuk daftar targetnya.Sementara itu Arman tidak menyadari perubahan suasana. Melihat Harris diam saja, amarahnya melonjak. “Bocah! Aku bicara padamu! Kau tuli?!”Harris akhirnya menoleh. Ia menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara datar. “Dalam satu menit, kau akan berlutut di hadapanku, meminta maaf pada Paman Reynard. Dalam tiga menit
Harris menjawab datar. “Benar.”Satu kata sederhana.Harris melangkah mendekat, Pedang Palung Merah menggantung di tangannya. “Barusan kau lolos. Aku ingin lihat, apakah keberuntunganmu ada di kedua kalinya?”Aura membunuh menguar dari tubuhnya.Wusss—Udara bergetar tipis. Semua orang merinding, jantung mereka seperti meloncat ke tenggorokan.Namun tepat saat itu, sebuah suara tua menggema keras di seluruh aula.“Beraninya kau, bocah!”Bentakan keras itu mengguncang seluruh aula.Brak!Pintu utama terbuka lebar. Para anggota keluarga Arkana otomatis menyingkir, membentuk jalur. Seorang lelaki tua berjubah abu-abu berjalan masuk perlahan. Wajahnya penuh keriput, namun sorot matanya tajam, napasnya stabil, aura yang dipancarkan begitu berat.Damian langsung tersentak. “Leluhur… Anda?”Reynan di sudut ruangan ikut gemetar, tubuhnya menegang tanpa sadar.Orang tua itu adalah Arman Arkana.Usianya lebih dari dua abad. Tingkat kultivasinya sudah menyentuh setengah langkah Grandmaster, jauh
Kartu tersembunyi keluarga Arkana akhirnya muncul.Pria berjubah gelap itu sejak awal dipelihara secara diam-diam oleh keluarga Arkana sebagai senjata pembunuh. Spesialisasinya jelas, menyelinap, menunggu, lalu menghabisi target dalam satu momen mematikan. Level kekuatannya bahkan tak kalah dari kepala keluarga sendiri.Dan yang paling mengerikan, mereka semua berada di Fase Fondasi tingkat akhir.Sejak awal, Damian memang tidak hanya membawa elit keluarga Arkana. Ia juga sudah menyiapkan kartu pamungkas ini untuk menunggu di balik bayangan.Artinya, keluarga Arkana tidak datang dengan lima ahli Fase Fondasi.Mereka membawa enam.Satu orang sudah bersembunyi lama di aula keluarga Adiwangsa, menunggu kesempatan. Inilah alasan Damian tetap memerintahkan lima ahli menyerang langsung meski tahu tiga puluh enam elit mereka tak mampu mengimbangi Harris.Semua itu hanya umpan.Tujuan sebenarnya membuka celah, lalu menghabisi Harris dalam satu tusukan fatal.Damian menyeringai puas dalam hati
Amarah Reno akhirnya meledak.Selama ini ia memang selalu mengalah, menuruti setiap keinginan Vina demi menjaga hubungan mereka. Namun kali ini berbeda. Menyangkut Harris, ia tidak mau mundur setapak pun.“Harris Gunawan adalah bosku,” ucapnya lantang. “Dia saudaraku seumur hidup. Dalam keadaan apa
“Bos,” kata Reno dengan mata berbinar, “Katanya kamu menghajar Damar, beneran?”Harris mengangguk ringan.“Bagus! Bajingan itu berani ngincer perempuan bos! Kalau aku nggak kalah kuat, pasti sudah kupukul sendiri!” Reno mengepalkan tinjunya, lalu bertanya dengan nada makin berapi-api, “Terus… kabar
“Tidak mungkin!” gumam Evan, matanya diliputi ketakutan. “Kau tidak mungkin sekuat ini!” Ia menatap Harris dengan mata merah.“Sentra Bela Diri Arkana tidak akan membiarkan ini!”Harris menatapnya sekilas, lalu berbalik. “Kalau begitu,” katanya dingin, “Siang ini, di arena duel.”Ia melangkah pergi
Ancaman itu menguap di udara.Bagi Harris, suara itu tak lebih dari dengung serangga.Di Universitas Arcapura, perkelahian pribadi bukan pelanggaran, selama tidak ada yang tewas. Aturan aneh itu bahkan dilengkapi dengan arena duel resmi di dalam kampus. Sesuatu yang tak mungkin ditemukan di univers







