LOGINRaditya terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara datar. "Bukan sekadar melampaui. Jarak kekuatannya sudah terlalu jauh."Seandainya mendengar ucapan itu beberapa saat sebelumnya, Dion pasti akan menganggap Raditya sedang melebih-lebihkan. Namun setelah menyaksikan sendiri apa yang baru saja terjadi, ia benar-benar tidak memiliki alasan untuk membantah.Di atas arena, Harris sama sekali tidak memedulikan Arkan beserta tiga rekannya yang terkapar di luar arena. Seusai melepaskan cengkeramannya dari kepala Bastian, ia perlahan berdiri dengan ekspresi tetap setenang sebelumnya.Keadaan Bastian saat itu sudah mengenaskan. Seluruh wajahnya dipenuhi darah hingga bentuk hidung dan matanya nyaris tak lagi bisa dikenali, sementara setiap erangan yang keluar terdengar begitu lemah seolah nyawanya dapat putus kapan saja.Meski begitu, ketika Harris akhirnya melepaskan tangannya, Bastian tetap merasakan secercah kelegaan karena siksaan yang baru saja dialaminya akhirnya berhenti.Meski kondisin
Sementara itu, para penonton hanya bisa menggeleng pelan. Keempat orang yang menyerbu merupakan petarung papan atas Universitas Arcapura, sehingga serangan gabungan mereka nyaris mustahil dihindari.Dalam pandangan mereka, sekalipun Harris mampu bereaksi, hasil akhirnya tetap tidak akan berubah. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik.Tepat ketika empat serangan itu hampir mencapai sasaran, Harris akhirnya bergerak. Bahkan tanpa mengangkat pandangan sedikit pun, ia hanya mengangkat sebelah tangan lalu mengibaskannya dengan santai ke arah mereka."Enyahlah!"WHOOSSHH!Gelombang energi yang mengerikan langsung meledak dari telapak tangannya dan menyapu keempat orang itu tanpa ampun.Ekspresi Arkan beserta tiga rekannya seketika berubah drastis. Sebelum sempat melakukan apa pun, tubuh mereka sudah terpental keluar arena seperti dedaunan yang diterjang badai, lalu menghantam tanah dengan keras."Ugh—!"Keempatnya memuntahkan darah hampir bersamaan. Wajah mereka memucat, napas menj
Selesai berteriak, Kayla menoleh ke arah Vina Lestari dengan senyum penuh kemenangan. "Bagaimana? Masih mau bilang Harris cuma omong besar?"Wajah Vina langsung memucat. Meski begitu, ia tetap menggertakkan gigi dan mendengus sinis. "Huh! Apa yang bisa dibanggakan? Bastian memang yang paling lemah di antara lima petarung terkuat Sentra Bela Diri Garuda Merah. Kalaupun Harris bisa mengalahkannya, bukan berarti dia sanggup menghadapi yang lain."Kayla hanya membalas dengan senyum mengejek. "Kalau begitu, buka matamu lebar-lebar dan lihat sendiri sampai akhir!"Di atas arena, kondisi Bastian kini benar-benar mengenaskan. Hidungnya remuk, seluruh giginya tanggal, wajahnya dipenuhi darah dan luka, bahkan beberapa bagian kulitnya telah robek akibat benturan bertubi-tubi.Kesombongan yang tadi memenuhi wajahnya telah lenyap tanpa bekas."Aaargh! Wajahku! Sakit... sakit sekali!"Bastian menjerit histeris. Darah terus mengucur dari wajahnya yang sudah nyaris tak berbentuk, sementara rasa takut
"Wah, masih berani banyak bicara?" bentak Kayla penuh amarah. "Harris sangat kuat! Dia pasti akan menghancurkan Sentra Bela Diri Garuda Merah!""Kuat?" Vina mendengus sambil menyilangkan tangan. "Kalau memang sehebat itu, kenapa baru muncul sekarang? Menurutku semua rumor tentang dia cuma dibesar-besarkan. Datang di saat seperti ini hanya supaya terlihat hebat di depan semua orang."“Dia hanya cari perhatian!” Vina mendengus jijik.Meski kemunculan Harris Gunawan sempat mengejutkannya, ia sama sekali tidak percaya pria itu mampu menghadapi Sentra Bela Diri Garuda Merah.Mengalahkan klub bela diri nomor satu di Universitas Arcapura? Baginya, itu hanyalah lelucon.Sebagian besar mahasiswa di sekitar pun memiliki pemikiran serupa. Mereka tahu betapa mengerikannya kekuatan Sentra Bela Diri Garuda Merah, sedangkan nama Harris hanya terkenal karena berbagai rumor yang semakin lama semakin dibesar-besarkan. Di mata mereka, semua cerita itu tak lebih dari bualan yang terus berkembang hingga t
Belati di tangannya kembali terangkat, memantulkan cahaya dingin yang membuat banyak penonton bergidik. Jelas sekali, sasaran serangan berikutnya adalah lengan Kayla.Peraturan kampus memang melarang pembunuhan, tetapi tidak ada yang bisa menjamin seseorang akan pulang dengan anggota tubuh lengkap. Dalam duel seperti ini, tangan atau kaki yang putus bukanlah kejadian langka.Kayla sudah sepenuhnya dikuasai amarah. Bukannya menghindar atau mencari celah, ia justru terus menerjang lurus ke depan tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan."Tidak—!" Jeritan Nadira menggema di seluruh arena.Selama pertarungan tadi ia tidak pernah gentar menghadapi lawan yang jauh lebih kuat, tidak pernah menyerah meski tubuhnya dipenuhi luka, bahkan tetap tegar ketika banyak anggota perguruannya memilih meninggalkan mereka. Namun, saat melihat sahabatnya berlari menuju belati Bastian, rasa takut yang selama ini berhasil ditekan akhirnya runtuh sepenuhnya.Dalam hati, Nadira hanya memiliki satu harapan.Harri
"AARRRGHHH!"Raungan kemarahan yang nyaris terdengar seperti binatang buas langsung mengguncang arena.Bastian bangkit dengan gerakan kasar, urat-urat di lehernya menonjol akibat amarah yang meledak tanpa kendali. Wajahnya memerah, sementara pipi kanan yang terkena pukulan mulai membengkak dengan jelas.Ia menyentuh bagian wajahnya yang sakit, lalu perlahan mengangkat kepala. Tatapan matanya berubah. Jika sebelumnya ia hanya mempermainkan Nadira, sekarang sorot itu dipenuhi niat membunuh yang nyata."Wanita jalang!" Suaranya terdengar serak dan penuh kebencian. "Berani-beraninya kau memukulku?!"Tangannya mencengkeram belati hingga buku-buku jarinya memutih, sementara aura ganas yang jauh lebih mengerikan mulai menyelimuti tubuhnya. "Aku akan membunuhmu!""Aku bersumpah akan membunuhmu!"Pukulan yang mendarat di wajahnya benar-benar membakar amarah Bastian. Ia sama sekali tidak menyangka Nadira, yang sejak awal hanya bertahan, justru mampu menemukan celah dan melukainya. Bagi seseoran
Namun, tepat sebelum kegelapan merenggutnya total—Tap!Sebuah tangan yang terasa hangat tiba-tiba mendarat di pundaknya. Gerakan itu begitu ringan dan tenang. Tetapi di detik berikutnya, seluruh gelombang tekanan yang nyaris menghancurkan tubuh Arman mendadak sirna tanpa bekas, seolah badai besar
Suasana di aula mendadak mencekam. Wajah para tamu berubah pias, memancarkan kombinasi rasa muak dan kemarahan yang jauh melampaui keterkejutan mereka sebelumnya.Ucapan Evander terlalu kejam. Pria itu tidak hanya ingin menghabisi Sebastian, tetapi juga berniat menginjak-injak harga diri Elvina tep
Suaranya pecah. “Kau bilang kedua orang tuamu sudah meninggal! Kau bilang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini!”Emosinya meledak begitu saja. “Dan sekarang kau bilang semua itu palsu?!” Tatapan Sebastian mulai memerah. “Kau juga bilang kau mencintaiku…” Suaranya bergetar. “Kau bilang ingin me
Evander, nama itu sendiri sebenarnya sudah cukup membuat suasana pesta berubah total. Namun setelah mengetahui bahwa pria tersebut adalah tuan muda Keluarga Viresta dari Kota Adhirajasa, keterkejutan semua orang langsung mencapai puncaknya.Wajah para tamu berubah drastis, beberapa bahkan mulai ter







