Share

7. Raksasa Bajingan

Author: Ardianda K
last update publish date: 2026-05-12 13:58:04

Letupan energi gelap semakin lama, semakin menyeruak dari tubuh Senopati Daksa. Sementara ajian untuk mengikat kekuatan gelap dari diri Butokala belum juga selesai disemburkan oleh Ki Singojadi pada tongkat kayu galihnya.

“Cepat, Ki! Kekuatan gelap mulai menyerap ke dalam diriku...” kata Setho Gentala yang setengah tubuhnya terlihat mulai berubah jadi sesosok Butokala. Taring pun tampak tumbuh di sebagian gigi sebelah kirinya. “Urrhh....”

“Fokuslah...”

“Aku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   69. Bara Sisa di Perapian Agung

    Asap hitam mengepul tebal dari cerobong tinggi bengkel pandai besi pusat di sektor selatan keraton Trowulan, membawa serta bau belerang yang menusuk hidung dan hawa panas yang seolah sanggup memanggang kulit.Udara malam yang dingin di luar ruangan sama sekali tidak berdaya meredam gelegar bara api jati yang terus ditiup oleh dua buah ububan raksasa di samping tungku utama.Setho Gentala berdiri bersedekap, zirah tembaganya memantulkan kilatan cahaya jingga yang melonjak-lonjak dari balik dinding bata pembakaran yang membara merah.Di sampingnya, Kalacitra mengawasi dengan pandangan mata yang tak berkedip, membiarkan jemarinya meraba seeping logam perunggu berlambang naga kembar yang kini terasa hangat akibat rambatan radiasi panas tungku agung. Langkah para pandai besi senior yang bertubuh kekar bergerak ritmis, menyendok pecahan-pecahan belati Manyar Widang yang telah retak ke dalam cawan lebur terbuat dari tanah liat hitam pilihan.Kehadiran sepasang pemburu ghaib di dalam bengkel

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   68. Jejak Sungsang di Pasar Tengah

    Matahari merayap tepat di atas bubungan atap pasar tengah Trowulan, menyengat permukaan tanah berdebu yang mulai dipadati oleh hiruk-pikuk kawula alit. Aroma ikan asin, rempah-rempah kapulaga, dan keringat kuli panggul berbaur menjadi satu di bawah naungan tenda-tenda kain goni yang bergoyang pelan ditiup angin siang yang kering.Di tengah keriuhan para pedagang kain yang menawarkan barang dagangan dari tanah seberang, Kalacitra berjalan dengan langkah yang seringan kapas, menyamar di balik kerudung usang berwarna jingga pudar.Logam perunggu berlambang naga kembar pemberian Setho Gentala tersimpan rapat di balik lipatan kemben hitamnya, sesekali bergesekan dengan belati perak yang siap dicabut dalam sekejap mata.Sepasang mata Kalacitra yang tajam terus menyisir sela-sela los pasar loak yang memajang sisa-sisa perkakas besi tua dan jimat-jimat tembaga murahan.Indra penciuman mistisnya yang terlatih sejak masa kejayaan faksi malam menangkap adanya sebersit aroma wangi pandan busuk be

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   67. Riak Senyap di Selasar Utara

    Angin muson barat bertiup membawa aroma tanah basah dari arah lereng Gunung Kelud, menerpa deretan pilar jati bertoreh emas yang menyangga selasar utara Sasana Wilwatikta. Semburat fajar yang baru terbit menyinari lantai batu hitam, mempertegas barisan prajurit Bhayangkara baru yang berdiri tegak memegang tombak berpanji naga kembar.Setho Gentala melangkah dengan jubah Senopati Pengawal Dalam yang masih kaku, sesekali meraba hulu pedang pusakanya yang kini tergantung tenang di pinggang kiri. Guratan sewarna tembaga bakar di lengan kanannya terasa berdenyut halus, bukan sebagai luapan energi ghaib purba yang liar, melainkan sebagai getaran sisa kekuatan yang telah sepenuhnya tunduk di bawah kendali batin manusianya yang matang. Setiap ketukan langkah laras kulitnya memecah kesunyian selasar, mengusir sisa-sisa bayangan kecemasan politik yang sempat mengendap di sudut-sudut keraton selama berbulan-bulan.Di ujung selasar yang berbatasan langsung dengan taman keputrian, tampak berdiri s

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   66. Kidung Damai di Ujung Pasisir

    Lembayung senja mulai turun mengulas warna keemasan yang redup di atas hamparan pasir basah Pantai Tuban, menghalau sisa-sisa ketegangan yang sempat mencengkeram rawa-rawa pesisir sejak fajar tadi. Ombak bergulung lambat, menyapu buih-buih putih ke tepian, seolah berupaya membersihkan sisa noda hitam yang sempat dimuntahkan oleh bangkai siluman rawa purba.Setho Gentala berdiri di atas gundukan batu karang yang menjorok ke laut, membiarkan angin pasat utara meniup jubah pelindungnya yang kini tampak koyak di beberapa bagian akibat sabetan senjata para bajak laut. Tangan kanannya tak lagi dibalut kain sutra, memperlihatkan garis simbol merah yang kini telah meredup sepenuhnya, menyisakan guratan sewarna tembaga bakar yang menyatu tenang di bawah pori-pori kulitnya.Dua perwira Bhayangkara tampak sibuk di bawah naungan dinding menara kuno, memastikan ruji-ruji besi yang mengikat tubuh si mata satu telah terkunci dengan paten pada pasak kereta tahanan darurat.Pimpinan kecu laut itu hany

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   65. Amuk Segara Kelabu

    Bau garam yang pekat bercampur aroma pembusukan akar bakau menusuk rongga hidung saat rombongan kecil itu menembus batas vegetasi Alas Tarik.Rawa-rawa pesisir utara membentang luas di hadapan mereka, rona kelabu air mati memantulkan sisa langit fajar yang pucat laksana pipi mayat. Menara pengawas kuno milik Kadipaten Tuban tua berdiri kaku di atas gundukan tanah cadas, fondasi batunya telah menghitam akibat kikisan air laut yang bergolak konstan selama ratusan tahun.Setho Gentala memperketat genggaman tangannya pada hulu pedang pusaka, merasakan rembesan hawa dingin lautan mencoba menyusup ke dalam sela-sela zirah tembaganya yang masih menyimpan sisa panas api purba.Dua perwira Bhayangkara yang tersisa segera mengambil posisi lambung, tameng besi mereka ditinggikan hingga sebatas dada untuk melindungi jalur tengah setapak yang kian becek oleh lumpur asin.Di tempat sesunyi ini, setiap deru kepakan sayap burung camar laut terdengar menyerupai kibasan jubah sutra para telik sandi yan

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   64. Bara Ghaib di Alas Tarik

    Rembulan yang terbebas dari gerhana kini bersinar teramat benderang, memantulkan cahaya perak yang dingin pada permukaan daun-daun jati yang meranggas di sepanjang jalur tikus menuju Alas Tarik.Sisa-sisa hawa pertempuran di menara air Trowulan masih meninggalkan bau sangit belerang yang samar pada jubah pelindung yang dikenakan oleh rombongan kecil ksatria Bhayangkara.Setho Gentala berjalan di sela kerapatan pohon purba dengan tangan kanan yang dibalut kain sutra putih, menahan denyutan ghaib dari simbol merah yang kian memanas pasca runtuhnya inti batin Malika Tantrayani.Langkah kakinya yang berbalut zirah tembaga tidak lagi sekencang biasanya, setiap pijakannya di atas ranting kering memicu getaran hawa hangat yang merembes langsung dari pori-pori kulitnya yang melepuh halus.Kalacitra berjalan dua tindak di sebelah kirinya, jemari lentiknya sesekali meraba batang-batang pohon jati yang mereka lewati, mendeteksi jalinan sisa mantra pelari yang sengaja ditinggalkan oleh sisa-sisa

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   1. Gunungan Mayat

    Gunung-gunung mayat bertebaran di sekitar Alas Kertasana. Hujan pun turun dari langit yang menggelap. Beberapa senopati Majapahit tampak melempar mayat-mayat prajurit ke gunungan mayat yang menggunduk di bawah pohon beringin dan pohon maja, untuk selanjutnya akan mereka bakar demi menghemat tempat.

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   5. Alasan Sebuah Pertolongan

    Saat pintu dibuka tentu saja Senopati Daksa yang parasnya sudah serupa serigala liar yang amat lapar langsung menyerbu Setho Gentala dan Ki Singojadi. Dengan cekatan, Ki Singojadi segera menotok dua bahu Senopati Daksa dengan tongkat kayu galihnya, hingga kedua tangan senopati itu tidak mampu diger

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   4. Menjadi Siluman Pemakan Manusia

    Senopati Daksa sama sekali tidak sadar sebelumnya, ketika lelaki asing bernama Setho Gentala itu menggotongnya, dan kini membawanya ke sebuah gubuk tua yang entah milik siapa. Ia terbangun dalam keadaan yang amat lapar. Bahkan air liurnya hingga menetes-netes ketika mendengar suara manusia. Ia sama

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   2. Lelaki Pengacung Golok

    Mata Senopati Daksa sungguh membelalak ketika melihat kedua kawannya tercerai berai. Terutama bagian atas tubuhnya. Kepala dua kawannya—yang beberapa menit lalu masih mengobrol dengannya, kini sudah hancur diremuk oleh kedua tangan siluman perempuan itu. Tentu saja, ini pertama kalinya bagi Senopat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status