LOGINSaat pintu dibuka tentu saja Senopati Daksa yang parasnya sudah serupa serigala liar yang amat lapar langsung menyerbu Setho Gentala dan Ki Singojadi. Dengan cekatan, Ki Singojadi segera menotok dua bahu Senopati Daksa dengan tongkat kayu galihnya, hingga kedua tangan senopati itu tidak mampu digerakkan. Tapi, itu hanya sementara dan tampaknya senopati Majapahit itu semakin buas tatkala Ki Singojadi berjarak cukup dekat dengannya.
Lelaki itu sudah kehilangan kemanusiaannya. Ia telah melihat lelaki tua itu sebagai makanan empuk yang harus mengisi lambungnya. Lihat saja bagaimana taring itu tetap tumbuh dan berusaha menggeram ke arah lelaki tua itu. Seraya itu pula, air liurnya makin membanjir dari celah-celah gigi Senopati Daksa, yang hampir seluruhnya berubah menjadi taring.
“Tak lama lagi dia akan pulih... regenerasinya cepat,” kata Setho Gentala yang tengah bersiap untuk memukul tengkuknya agar lelaki yang sehari sebelumnya masihlah manusia itu tak sadarkan diri.
“Dengar, titik saraf dan peredaran darah dari seorang siluman agak berbeda daripada manusia biasa. Kau salah menotoknya, malah akan berakibat fatal pada dirimu. Dia bisa menyerangmu dan mencabikmu... perlu diingat juga, Setho. Meski kau memiliki darah siluman, yang membuatmu bisa regenerasi kendati sudah ditusuk atau bahkan tubuhmu dipisahkan, kau tetap bisa mati bila sampai siluman yang jauh lebih kuat darimu menerkammu...”
“Aku sudah mengerti, Ki. Kau cerewet sekali. Ini aku sedang berkonsentrasi untuk menotoknya! Lagipula aku sudah mempelajari hal itu berkali-kali!” ujar Setho Gentala berusaha fokus pada titik yang akan ia serang. “Dia sudah akan pulih... brengsek. Cepat juga pemulihannya.”
Di saat Senopati Daksa akan meloncat ke arah Setho Gentala karena menurut insting liar Daksa kini, Setho Gentala merupakan ancaman terbesar, Setho langsung menotok tengkuknya sehingga lelaki itu kini tak sadarkan diri. Meski Setho dianggap ancaman, sejatinya Daksa tidak menganggap Setho Gentala sebagai makanan, sebab sepertihalnya yang terjadi pada Nyi Jetayu, para siluman sejatinya memiliki kemampuan mendeteksi siluman lainnya melalui indera penciumannya yang spesial. Penglihatannya pun jadi ganda, antara penglihatan yang alamiah, dan gaib. Memang secara alamiah, atau nyata, sosok Setho Gentala yang sangat terlihat serupa dengan manusia itu—bisa menjadi target empuk bagi siluman manapun. Siluman kelas rendah yang memiliki penglihatan gaib lemah pasti akan menganggap Setho Gentala manusia biasa, namun bagi siluman—baik Butokala atau Butodurga—yang peka terhadap indera gaib, pasti menganggap Setho Gentala bagian dari mereka.
Yang membedakan hanyalah wangsa siluman itu, apakah dari garis Ratu Kalacitra, Ratu Dewi Blorong, Eyang Suthala, juga Pandhita Calon Arang, dan dari empat sumber wangsa seluruh siluman atau raksasa yang ada, Pandhita Calon Arang-lah yang memiliki darah terkuat, yang mana siapapun yang memiliki darah kental dan langsung memiliki kaitan dengan tokoh legendaris yang paling ditakuti tersebut, siluman-siluman itu biasanya kebal dengan cahaya matahari, dan kini keturunan langsung Pandhita Calon Arang sudah langka sekali.
Setho Gentala merupakan bagian dari wangsa Calon Arang, yang lebih dominan berperawakan manusia, sehingga ia tidak dicurigai. Lebih dari itu, Setho Gentala pun mampu memakan makanan manusia. Ia sama sekali jarang memakan daging manusia. Sudah cukup lama ia mampu mengendalikan hasrat raksasanya, setelah berguru pada Ki Singojadi dan seorang resi di Gunung Penanggungan, bernama Resi Arthamajaya.
Oleh sebab itu, saat Setho Gentala berhadapan dengan Senopati Daksa, manusia yang telah menjadi siluman itu tampak tidak terlalu beringas dan mudah ditaklukkan.
“Mungkin wangsamu mengacu pada darah ratu yang lebih tinggi,” kata Ki Singojadi tampak mengecek keadaan Senopati Daksa.
“Mungkin.”
“Hm... dia sudah sepenuhnya tidur. Kita bangunkan dia malam nanti. Untuk sementara kita ikat saja... kita tidak boleh membiarkan dia bebas, karena dia akan memakan daging manusia. Satu saja manusia telah menjadi korbannya, kita akan terlambat. Sekali saja dia menerkam manusia, dia akan terus menerkam tanpa henti. Dan itu akan membuat dia menjadi lebih kuat. Kau melawan salah satu siluman yang kuat.. lihat saja bagaimana pria ini bisa memulihkan diri cepat.”
Setho Gentala mengangguk.
“Perempuan bernama Nyi Jetayu itu bahkan bisa menumbuhkan kedua tangan yang sudah kupotong oleh golokku. Padahal kau tahu, siluman biasa tidak akan beregenerasi lagi setelah terpotong dengan golokku. Tapi, aku membutuhkan dua kali serangan baru bisa berhasil... jelas, Nyi Jetayu bukan siluman biasa.”
“Siapa dia?”
“Entah, tapi dia mengaku memiliki kedekatan dengan ratu siluman saat ini. Ratu Kalacitra. Kalau itu benar, pasti dia ada hubungannya dengan perang membosankan yang terjadi di Majapahit ini... mungkin tak lama lagi...”
“Apanya?”
“Kerajaan ini... akan binasa...”
“Kau berbicara macam-macam... kalau sampai telik sandi mengetahuinya, kau akan diculik.”
“Aku tidak takut. Berapa kalipun mereka membunuhku... pada akhirnya aku akan kembali ke sini, seolah bumi mengutukku. Menolakku...” ujar Setho Gentala sembari mengikat Senopati Daksa ke sebuah tiang.
“Lagipula, apa yang sebenarnya kau lakukan di peperangan itu. Kau sama sekali tidak terlibat dengan peperangan ini, kan? Kau bahkan pernah bilang, kalau kau tidak ingin terjun lagi ke perpolitikan kerajaan yang membosankan,” kata Ki Singojadi lantas mengajak Setho Gentala keluar dari kamar gubuk tersebut.
“Ada seorang perempuan membayarku sekantung perak... suaminya tewas di perang, dan melihat aku membunuh siluman yang hampir saja memakannya, ia menginginkan aku membalas dendamnya. Sial, aku malah dikeroyok oleh mereka. Meski aku berhasil menusuk jantung seorang senopati tertinggi itu, antek-anteknya terlalu setia padanya. Aku kalah jumlah tentu saja, dan mereka langsung menusukkan tombak, keris, pedang, golok, parang ke tubuhku.”
“Lalu?” katanya sembari terkekeh-kekeh.
“Mereka kira aku mati. Tentu saja, aku memang mati. Tapi, setelah mengendus aroma siluman, tiba-tiba aku sudah berada di tumpukan mayat-mayat prajurit.”
Mereka lalu duduk bersama di selasar depan gubuk milik tabib tekenal di Dusun Turen itu. Keduanya tampak meminum arak dari kendi tanah liat sembari melihat warga tetap menjalankan aktivitasnya. Yang pandai besi tetap bekerja membuat senjata untuk keperluan prajurit kerajaan; yang petani tampak pergi meladang, dan membawa hasil taninya ke lumbung pangan mereka; yang pedagang tetap berdagang di pasar kecil yang tak jauh dari tempat mereka; yang mengurus rumah tetap menjaga rumah mereka sembari menjual kain batik di depan rumah.
“Jelas sekali dari raut wajah warga Turen... mereka takut dengan keberadaan Senopati Daksa... agaknya sebagian dari mereka mulai curiga kau membawa raksasa ke sini... kita tidak bisa berlama-lama menempatkan dia di sini, Setho... kau harus membawanya ke suatu tempat. Apakah kau memiliki rencana, Anakmas?”
Setho tampak menenggak araknya, lalu melihat lima bocah berlarian main kucing-kucingan. Yang kalah tampak berpura-pura menjadi ‘siluman’ untuk memburu kawan-kawannya.
“Entahlah, Paman. Tapi, aku akan membawanya.”
“Bagaimana bisa?! Dia akan tewas terkena matahari! Percuma saja kau menyelamatkannya! Sudah benar kau tinggalkan dia dalam keadaan sekarat. Aneh sekali kau... makin ke sini, kau makin seperti manusia.”
Mendengar hal itu, Setho Gentala terkekeh.
“Aku baru ingat, Paman...”
“Ingat apa?”
“Aku berempati padanya... karena kilasan memoriku di masa kehidupan lamaku muncul seketika, tatkala melihat lelaki itu sekarat karena dikhianati kawan-kawannya... atau lebih tepatnya, mereka lari mengurusi hidupnya masing-masing karena terlalu pengecut untuk menyelamatkan kawannya... padahal, dia yang paling berani menentang Nyi Jetayu, tak lain untuk melindungi dua kawannya...”
Ki Singojadi, tampak mengangguk-angguk.
“Ini mengingatkanku pada masa laluku, Paman... ya ... kau bertanya alasannya, inilah alasannya. Sangat sepele dan terlalu emosional.”
Asap hitam mengepul tebal dari cerobong tinggi bengkel pandai besi pusat di sektor selatan keraton Trowulan, membawa serta bau belerang yang menusuk hidung dan hawa panas yang seolah sanggup memanggang kulit.Udara malam yang dingin di luar ruangan sama sekali tidak berdaya meredam gelegar bara api jati yang terus ditiup oleh dua buah ububan raksasa di samping tungku utama.Setho Gentala berdiri bersedekap, zirah tembaganya memantulkan kilatan cahaya jingga yang melonjak-lonjak dari balik dinding bata pembakaran yang membara merah.Di sampingnya, Kalacitra mengawasi dengan pandangan mata yang tak berkedip, membiarkan jemarinya meraba seeping logam perunggu berlambang naga kembar yang kini terasa hangat akibat rambatan radiasi panas tungku agung. Langkah para pandai besi senior yang bertubuh kekar bergerak ritmis, menyendok pecahan-pecahan belati Manyar Widang yang telah retak ke dalam cawan lebur terbuat dari tanah liat hitam pilihan.Kehadiran sepasang pemburu ghaib di dalam bengkel
Matahari merayap tepat di atas bubungan atap pasar tengah Trowulan, menyengat permukaan tanah berdebu yang mulai dipadati oleh hiruk-pikuk kawula alit. Aroma ikan asin, rempah-rempah kapulaga, dan keringat kuli panggul berbaur menjadi satu di bawah naungan tenda-tenda kain goni yang bergoyang pelan ditiup angin siang yang kering.Di tengah keriuhan para pedagang kain yang menawarkan barang dagangan dari tanah seberang, Kalacitra berjalan dengan langkah yang seringan kapas, menyamar di balik kerudung usang berwarna jingga pudar.Logam perunggu berlambang naga kembar pemberian Setho Gentala tersimpan rapat di balik lipatan kemben hitamnya, sesekali bergesekan dengan belati perak yang siap dicabut dalam sekejap mata.Sepasang mata Kalacitra yang tajam terus menyisir sela-sela los pasar loak yang memajang sisa-sisa perkakas besi tua dan jimat-jimat tembaga murahan.Indra penciuman mistisnya yang terlatih sejak masa kejayaan faksi malam menangkap adanya sebersit aroma wangi pandan busuk be
Angin muson barat bertiup membawa aroma tanah basah dari arah lereng Gunung Kelud, menerpa deretan pilar jati bertoreh emas yang menyangga selasar utara Sasana Wilwatikta. Semburat fajar yang baru terbit menyinari lantai batu hitam, mempertegas barisan prajurit Bhayangkara baru yang berdiri tegak memegang tombak berpanji naga kembar.Setho Gentala melangkah dengan jubah Senopati Pengawal Dalam yang masih kaku, sesekali meraba hulu pedang pusakanya yang kini tergantung tenang di pinggang kiri. Guratan sewarna tembaga bakar di lengan kanannya terasa berdenyut halus, bukan sebagai luapan energi ghaib purba yang liar, melainkan sebagai getaran sisa kekuatan yang telah sepenuhnya tunduk di bawah kendali batin manusianya yang matang. Setiap ketukan langkah laras kulitnya memecah kesunyian selasar, mengusir sisa-sisa bayangan kecemasan politik yang sempat mengendap di sudut-sudut keraton selama berbulan-bulan.Di ujung selasar yang berbatasan langsung dengan taman keputrian, tampak berdiri s
Lembayung senja mulai turun mengulas warna keemasan yang redup di atas hamparan pasir basah Pantai Tuban, menghalau sisa-sisa ketegangan yang sempat mencengkeram rawa-rawa pesisir sejak fajar tadi. Ombak bergulung lambat, menyapu buih-buih putih ke tepian, seolah berupaya membersihkan sisa noda hitam yang sempat dimuntahkan oleh bangkai siluman rawa purba.Setho Gentala berdiri di atas gundukan batu karang yang menjorok ke laut, membiarkan angin pasat utara meniup jubah pelindungnya yang kini tampak koyak di beberapa bagian akibat sabetan senjata para bajak laut. Tangan kanannya tak lagi dibalut kain sutra, memperlihatkan garis simbol merah yang kini telah meredup sepenuhnya, menyisakan guratan sewarna tembaga bakar yang menyatu tenang di bawah pori-pori kulitnya.Dua perwira Bhayangkara tampak sibuk di bawah naungan dinding menara kuno, memastikan ruji-ruji besi yang mengikat tubuh si mata satu telah terkunci dengan paten pada pasak kereta tahanan darurat.Pimpinan kecu laut itu hany
Bau garam yang pekat bercampur aroma pembusukan akar bakau menusuk rongga hidung saat rombongan kecil itu menembus batas vegetasi Alas Tarik.Rawa-rawa pesisir utara membentang luas di hadapan mereka, rona kelabu air mati memantulkan sisa langit fajar yang pucat laksana pipi mayat. Menara pengawas kuno milik Kadipaten Tuban tua berdiri kaku di atas gundukan tanah cadas, fondasi batunya telah menghitam akibat kikisan air laut yang bergolak konstan selama ratusan tahun.Setho Gentala memperketat genggaman tangannya pada hulu pedang pusaka, merasakan rembesan hawa dingin lautan mencoba menyusup ke dalam sela-sela zirah tembaganya yang masih menyimpan sisa panas api purba.Dua perwira Bhayangkara yang tersisa segera mengambil posisi lambung, tameng besi mereka ditinggikan hingga sebatas dada untuk melindungi jalur tengah setapak yang kian becek oleh lumpur asin.Di tempat sesunyi ini, setiap deru kepakan sayap burung camar laut terdengar menyerupai kibasan jubah sutra para telik sandi yan
Rembulan yang terbebas dari gerhana kini bersinar teramat benderang, memantulkan cahaya perak yang dingin pada permukaan daun-daun jati yang meranggas di sepanjang jalur tikus menuju Alas Tarik.Sisa-sisa hawa pertempuran di menara air Trowulan masih meninggalkan bau sangit belerang yang samar pada jubah pelindung yang dikenakan oleh rombongan kecil ksatria Bhayangkara.Setho Gentala berjalan di sela kerapatan pohon purba dengan tangan kanan yang dibalut kain sutra putih, menahan denyutan ghaib dari simbol merah yang kian memanas pasca runtuhnya inti batin Malika Tantrayani.Langkah kakinya yang berbalut zirah tembaga tidak lagi sekencang biasanya, setiap pijakannya di atas ranting kering memicu getaran hawa hangat yang merembes langsung dari pori-pori kulitnya yang melepuh halus.Kalacitra berjalan dua tindak di sebelah kirinya, jemari lentiknya sesekali meraba batang-batang pohon jati yang mereka lewati, mendeteksi jalinan sisa mantra pelari yang sengaja ditinggalkan oleh sisa-sisa
Senopati Daksa sama sekali tidak sadar sebelumnya, ketika lelaki asing bernama Setho Gentala itu menggotongnya, dan kini membawanya ke sebuah gubuk tua yang entah milik siapa. Ia terbangun dalam keadaan yang amat lapar. Bahkan air liurnya hingga menetes-netes ketika mendengar suara manusia. Ia sama
“Setho Gentala?! Siapa itu! Aku tidak kenal!” pekik Nyi Jetayu sembari terkekeh-kekeh. Kini, luka terbuka di perut dan punggungnya sudah menutup, hal itu cukup membuat siluman perempuan itu percaya diri untuk melancarkan serangannya lagi ke arah Gentala. Dengan tanpa perhitungan perempuan itu berla
Mata Senopati Daksa sungguh membelalak ketika melihat kedua kawannya tercerai berai. Terutama bagian atas tubuhnya. Kepala dua kawannya—yang beberapa menit lalu masih mengobrol dengannya, kini sudah hancur diremuk oleh kedua tangan siluman perempuan itu. Tentu saja, ini pertama kalinya bagi Senopat
Gunung-gunung mayat bertebaran di sekitar Alas Kertasana. Hujan pun turun dari langit yang menggelap. Beberapa senopati Majapahit tampak melempar mayat-mayat prajurit ke gunungan mayat yang menggunduk di bawah pohon beringin dan pohon maja, untuk selanjutnya akan mereka bakar demi menghemat tempat.







